Rasa cinta dan janji pada teman angkatannya, Tommy memotivasi Tari untuk menurunkan berat badannya dan menjadi Jaksa.
Namun setelah ia menjadi Jaksa, Tommy menghilang. Setelah berhasil melupakannya selama bertahun-tahun, Tommy kembali sebagai Hakim dan mendekatinya lagi.
Campur tangan orang tua dalam hubungan mereka memaksa mereka menikah padahal Tommy masih berpacaran dengan Christie, pacar sejak ia kuliah.
Akankah ini menjadi kisah yang berujung manis?
Salam kenal
Betha 🙋
Semoga terhibur dengan cerita ini✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdana Belanja Berdua
"Pagi Tariku..."
Pesan dari Tommy yang membangunkan Tari pagi ini dengan penuh semangat.
Bahkan Tari sempat menyiapkan nasi goreng, telur ceplok serta kopi dan teh untuk sarapan kedua orang tuanya.
Setelah selesai, Tari duduk di meja makan. Senyum Tari mengembang mengingat yang dilaluinya malam tadi.
"Anak gadis pagi-pagi kok ngelamun?" Kata Bu Lusi sambil menepuk pundak Tari.
"Wah... Ini Tari yang masak? Kelihatannya enak nih." Sambung Pak Bara yang langsung duduk di meja makan.
"Ma... Pa... Pagi ini aku mau pergi sama Bang Tommy belanja keperluan buat antaran lamaran. Ada yang mau dititip?" Kata Tari sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
Tiba-Tiba air mata Bu Lusi mengalir.
Seketika Bu Lusi menangis semakin keras.
Pak Bara pun menepuk-nepuk pundak istrinya mencoba untuk menenangkannya.
"Mama kenapa?" Tanya Tari cemas.
"Mama gak nyangka, anak mama sebentar lagi jadi istri orang. Rasanya kemaren baru kamu ulang tahun dan kita cemas kalo kamu lambat menikah." Kata Bu Lusi sambil terisak.
"Mama gak usah khawatir, Tari pasti bahagiakan mama dan papa." Kata Tari sambil memeluk ibunya.
•••
Mobil Tommy memasuki halaman rumah Tari.
Ini pertama kalinya Tommy memencet bel di rumah Tari.
Tari membukakan pintu dan mempersilahkan Tommy masuk. Pak Bara dan Bu Lusi menyambut kedatangan Tommy di pintu masuk. Tommy pun mencium tangan kedua calon mertuanya itu.
"Nak Tommy ayo sini sarapan bareng. Tari yang masak loh." Ajak Bu Lusi.
"Iya mari ke ruang makan nak Tommy." Kata Pak Bara sambil menarik tangan Tommy.
Tommy pun mengikuti Pak Bara menuju ruang makan dan duduk di kursi yang tersedia.
Tari menyajikan nasi goreng ke piring Tommy.
Tommy pun mencicipi masakan calon istrinya untuk pertama kali.
"Gimana nak Tommy? Enak gak?" Tanya Bu Lusi.
"Enak banget Tante, bisa jualan nasi goreng kalau gini mah." Puji Tommy sambil tersenyum pada Tari.
"Kok Tante? biasakan panggil Mama mulai sekarang ya nak Tommy." Tegas Bu Lusi.
"Eh iya ma..." Jawab Tommy yang masih kaku.
Tari dan Pak Bara hanya tersenyum melihat interaksi Tommy dan Bu Lusi.
Selesai sarapan, Tommy dan Tari pun segera pamit untuk berangkat.
•••
Setibanya di Mall yang terletak di pusat kota, mereka menuju ke berbagai tempat untuk mencari kebutuhan lamaran.
Hampir 4 jam mereka berkutat di dalam mall tersebut, dan semua barang yang mereka cari sudah mereka dapatkan.
Tiba-Tiba Tari berhenti di depan sebuah Toko pakaian batik.
Tari mengajak Tommy masuk kedalamnya.
"Katanya udah semua, kok kita masuk ke sini?" Tanya Tommy.
"Mau beli baju dan rok batik. Buat kita pakai pas lamaran. Biar kompak." Jawab Tari sambil mengelus pipi Tommy.
"Kamu yang pilih deh yang. Aku percaya pilihan kamu bagus." Kata Tommy sambil mengusap kepala Tari.
"Apa? Yang? Aku gak salah dengar bang?"Tanya Tari memastikan apa yang didengarnya.
"Iya sayang. Kayak kata mama kamu tadi, latihan dari sekarang.haha." Jawab Tommy sambil Tertawa.
Tidak lupa juga Tari membelikan bahan batik dan bahan kebaya untuk para sahabatnya yang pastinya akan mendampinginya sebagai bridemaids.
•••
"*Girls nanti malam jam 7 di cafe biasa ya. Ada yang mau aku sampaikan dan aku kasih ke kalian." Tulis Tari di grup chat geng-nya.
"Siap... Kasih tau apaan? Kepoo tingkat dewa nih." Jawab Gracia.
"Siap... Mau kasih hadiah? Kasih tau apa sih lu? Masih 7 jam lagi nih gue nahan kepo!" Balas Monic.
"Siap... See you!" Jawab Julie*.
•••
Siang ini Tommy dan Tari pertama kali belanja bersama.
Tangan kiri Tommy penuh dengan barang belanjaan.
Tangan Kanan Tommy menggandeng wanita yang akan menjadi istrinya.
Sungguh pandangan siapapun yang tertuju pada mereka akan berdecak kagum dan menyimpan rasa iri.
Aura pengantin baru melekat kuat pada diri mereka berdua.
•••
"Kamu lapar gak? Makan siang dulu yuk, ini udah hampir jam 1." Ajak Tommy.
"Ayo bang... Aku juga lapar nih." Jawab Tari bersemangat.
"Mau makan apa?" Tanya Tommy sambil memandang Tari.
"Gimana kalo nasi padang yang di depan mall sini? Sekalian masukin dulu barang-barang ke mobilmu." Ajak Tari.
"Oke... ayo ke sana." Jawab Tommy.
Mereka berjalan menuju parkiran mall untuk meletakan barang belanjaan mereka.
Lalu mereka menyebrang jalan untuk menuju ke restoran nasi padang tersebut.
Sesampainya disana, mereka memesan makanannya dan segera memilih tempat duduk.
"*Ayo dimakan bang..." Ajak Tari.
"Iya..." Jawab Tommy sambil makan makanannya*.
Tommy memandangi Tari yang sedang sibuk dengan makanannya.
"*Akhirnya kita bisa sedekat ini, Tariku...
Ini adalah kebaikan Tuhan yang paling aku syukuri saat ini...
Sebentar lagi kau akan jadi istriku...
Kita bisa bersama sepanjang hari...
Aku selalu membayangkan wajahmu saat tertidur...
Bahkan penampilanmu saat baru bangun tidur*...
*Hari ini kita sudah seperti pasangan suami-istri sungguhan yang pergi berbelanja, lalu makan siang bersama...
Aku benar-benar tidak sabar menjalani kehidupan pernikahan sesungguhnya...
Apakah nantinya kita tetap tidur terpisah sesuai persyaratanmu?
Aku benar-benar ingin menyentuhmu dan memilikimu seutuhnya...
Aku bahkan lebih takut jika kamu tetap ingin bercerai dalam 3 tahun...
Jangan lakukan itu sayangku...
Tariku... Aku ingin menua bersamamu...
Menyaksikan anak dan cucu kita tumbuh bersama dengan cinta kita...
Aku mungkin akan hancur jika kau meninggalkanku*." Gumam Tommy dalam hati.
"Bang... kenapa ngelamun? Ayo dimakan. Gak enak ya?" Tanya Tari pada Tommy yang sedang melamun.
"Iya ini aku makan kok." Jawab Tommy sambil tersenyum.
"*Habis makan, aku mau ajak kamu ke suatu tempat." Ajak Tommy.
"Kemana?" Tanya Tari sambil menyedot es jeruknya.
"Udah pokonya ikut aja." Tegas Tommy*.
Selesai makan, Mereka segera menuju Mobil dan berangkat ke tempat yang dijanjikan Tommy.
Mobil Tommy berhenti di sebuah perumahan elit yang terletak tidak jauh dari mall tersebut.
"*Ayo turun sayang..." Ajak Tommy sambil keluar dari mobilnya.
"Wah... gede banget. Ini rumah siapa bang?"Tanya Tari.
"Rumahku... Sebentar lagi jadi rumah kita."Jawab Tommy sambil merangkul tubuh Tari.
"Serius bang? Dibeliin orang tua kamu?"Tanya Tari tak percaya apa yang dilihatnya saat ini.
"Sorry ya... Ini hasil kerja abang murni.
Tinggal cicilan 4 tahun lagi. Gapapa kan sayang?" Jawab Tommy sambil mencubit hidung Tari.
"Gapapa bang, yang penting kita gak tinggal bareng orang tua kita. biar kita lebih mandiri." Kata Tari sambil mengusap pipi Tommy.
"Ayo Masuk." Ajak Tommy tanpa melepaskan rangkulannya.
•••
Selamat membaca😃
Mohon dukungannya✌️
Betha🙋*
Semangat update bab barunya thor😍
Salam dari
"Infinity" (romance)
"Ve" (mystery thriller)
"Aku (Bukan) Pelakor" (young-adult romance)