Tias tidak pernah menyangka kalau ternyata pilihannya untuk tinggal bersama neneknya malah membuatnya bertemu dengan orang paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Tias kira dengan jabatan yang cukup disegani di kampung membuat orang itu punya rasa malu untuk sekedar menggodanya di depan umum. Tapi bukannya merasa malu orang itu malah terang terangan berkata ingin menikahinya meskipun banyak warga yang melihatnya.
" Dek Tias mau nggak jadi calon ibu Kades di sini ? Enggak perlu daftar langsung saya terima."
" Nggak."
" Kalau nggak mau daftar langsung saya nikahi aja ya. Gimana ?"
" Ih ! Aku nggak mau punya suami Kepala Desa."
" Jadi dek Tias maunya dapat suami yang kayak mana ?"
" Kayak pemulung."
" Kalau gitu besok saya turun jabatan jadi pemulung. Biar bisa nikahi dek Tias terus kita mungut sampah bareng bareng. Bagus juga keinginannya dek Tias."
" Astaga !" Tias berteriak kencang merasa frustasi menghadapi sikap Kades muda yang sangat menyebalkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maysar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Risih
Tias menaruh buah yang sudah selesai dicucinya ke atas meja makan. Tidak seperti sebelumnya yang penuh dengan suasana hangat dan tawa. Sekarang entah mengapa hanya ada kecanggungan diantara mereka. Bahkan Sinta yang tadi begitu ramah kini pura pura tak menatap kearahnya. Neneknya juga diam saja dan Kades itu malah yang menatapnya dengan senyum ramah.
Tias menjadi risih melihatnya. Apa apaan dia ? Bukannya Tias merasa senang disenyumi seperti itu ia malah enggan melihatnya.
Merasa kedatangannya yang tidak menarik perhatian neneknya dan ibu dari Kades itu. Tias berdehem cukup kencang untuk menarik perhatian.
" Ehem ! Nek ini buahnya."
Ruwi memandang sekilas buah itu lalu mengangguk. " Ayo makan kalau begitu."
Tias menarik kursi lalu duduk di sebelah neneknya. Andai saja ia tidak mengedepankan sopan santun mungkin Tias tidak akan mau makan lagi.
" Tias biar bunda ambilkan ya makannya ?" Sinta menawarkan dengan senyumannya seperti semula. Mungkin karena melihat wajah Tias yang tidak terlihat kesal kepadanya.
Tias menggeleng pelan. " Tias udah kenyang bunda. Pengen makan buah apel aja."
Setelah mengatakan itu, suasana di meja makan kembali canggung. Apa ia salah bicara ? tanya Tias dalam hati.
" Em..., karena bunda tamu istimewa biar Tias yang ngambilkan bunda makanan ?"
Dari pada canggung kan ?.
Sinta tersenyum dan terlihat antusias. " Kamu memang pengertian banget sih."
Tias tersenyum meski dalam hati ia menjalani hal itu dengan sangat terpaksa. Beranjak bangun dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Sinta. " Bunda mau lauk apa ?"
" Asem sayur, tempe bacem, terus sama..., itu sambelnya sedikit aja ya." pinta Sinta.
Tias mengambilkan apa yang diminta Sinta. Benar benar sudah pantas dirinya ini menjadi pembantu. Dulu ia selalu dibantu dan sekarang malah menjadi pembantu. Mana dadakan lagi, itu pun terpaksa juga.
" Ini bunda."
" Terima kasih sayang."
Tias tersenyum lalu berjalan mendekati neneknya. " Biar Tias ambilkan Nek."
" Sayur asemnya aja." ucap Ruwi.
Tias mengangguk paham dan mengambilkannya. Selesai Tias meletakkannya hati hati di depan neneknya.
" Kamu makan juga walau sedikit. Nanti sakit perut." Ruwi menatap wajah cucunya yang datar. Kalau wajahnya sudah seperti ini alamat cucunya itu sedang marah sekarang.
" Udah nggak selera." Tias berucap pelan namun masih bisa didengar Ruwi.
Sekarang tinggal satu orang lagi yaitu Kades itu. Tias menatapnya ragu, mau ditawari mengambilkan makanan nanti dikira cari perhatian. Tidak ditawari terlihat sekali kalau ia menjauhkan diri dan sombong.
" Dek Tias saya juga mau." Risam menyodorkan piring kosongnya kearah Tias.
Tias tercengang melihatnya. Begitu pula dengan Sinta yang tidak pernah menyangka anaknya akan bertindak seperti itu. Apa ini tanda tanda anaknya itu terkena virus merah muda ?.
Risam tersenyum hingga membuat Tias tersadar dan segera mengambil piring Kades itu. Padahal mereka baru kenal tapi si Kades malah bertingkah seakan akan mereka sudah kenal lama. Apa dia tidak canggung dan malu seperti yang Tias rasakan saat ini ?.
Jangan lupakan juga risih. Entah mengapa Tias tidak menyukai setiap kali Kades itu tersenyum ramah kepadanya. Senyumnya memang manis namun matanya seperti menyimpan sesuatu yang membuat insting Tias menjadi waspada.
Dari mana ia tahu ?.
Itu sudah hal biasa karena pengalamannya dalam dunia bisnis. Tias tidak mungkin bisa mengembangkan perusahaan papanya begitu saja jika ia tidak tahu cara membaca lawannya.
" Terima kasih dek." Risam menerima piring berisi makanan dengan senang hati.
" Sama sama." Tias berjalan kembali ke tempat duduknya.
Ruwi beranjak mengambil piring dan menempatkan nasi, sayur asem, tempe bacem, ayam goreng, dan sambal. Kemudian meletakkan piring berisi itu di hadapan Tias.
" Makan."
Tias terkejut melihatnya, ia menatap makanan di hadapannya lalu beralih memandang neneknya. " Tias nggak makan nek."
" Kamu dari tadi belum makan. Ingat kamu punya maag akut. Jadi diam dan makan, kalo nggak habis nggak apa apa yang penting perut kamu udah keisi nasi." ucap Ruwi.
Lagi, Tias harus terpaksa melakukan apa yang tidak ia inginkan. Perlahan Tias makan tanpa memperdulikan tiga pasang mata yang diam diam memperhatikannya.
" Hm.., sayur asemnya seger kali ini." ucap Sinta.
" Iya sayur asemnya memang seger. Tadikan asem jawanya dibanyakin." balas Ruwi.
" Oh, pantesan."
Tias pura pura tidak mendengar. Ia ingin cepat cepat pergi dan acara makan ini cepat selesai.
" Alhamdulillah, akhirnya kenyang juga." Sinta tersenyum melihat piringnya yang sudah kosong.
" Gimana Tias enak nggak sayur asem buatan bunda sama nenek ?" sambungnya bertanya.
Tias tersenyum lalu mengangguk. " Enak, enak banget malahan."
" Kamu suka ?" Sinta bertanya lagi.
Tentu saja tidak ! jawab Tias dalam hati.
Tias tidak mau makan bersama mereka lagi. Apalagi Kades itu, dia sudah termasuk ke dalam orang yang akan Tias jauhi. Karena tatapannya itu membuatnya risih dan juga tingkah sok akrabnya yang membuat Tias tidak suka.
" Iya." jawab Tias terpaksa.
Sinta tersenyum senang mendengarnya. " Kalau gitu kapan kapan kita makan bersama lagi ya ?"
Tias menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kalau seperti ini ibu dari Kades itu pasti akan banyak bertanya lagi. Tias beranjak dari tempat duduknya dan membawa piring kotornya ke dapur.
Di sanalah baru Tias bisa bernapas lega. Terbebas dari pertanyaan dan juga tatapan menyebalkan. Kades dan juga ibunya itu membuat Tias tidak suka. Keberadaan mereka membuat Tias merasa ini bukanlah rumahnya.
" Dek Tias sudah siap nyuci piringnya ?"
Nah kan ? Baru saja dipikirkan orangnya langsung muncul dengan sendirinya. Persis mirip setan.
" Dek Ti..."
" Udah pak, bapak mau ngapain ?" kesal melihat wajah Kades itu terus menerus sejak tadi. Tias memotong ucapannya agar cepat selesai.
" Ini saya mau nyuci piring." Risam menunjukkan tumpukkan barang kotor bekas mereka makan tadi.
" Biar saya saja." pinta Tias.
Risam menggeleng pelan sembari tersenyum menatap Tias. " Biasanya juga saya yang nyuci. Lagipula hitung hitung bayaran sudah makan ditempat orang kan ?"
Benar juga katanya, tapi kalau neneknya tahu bisa habis ia kena omelan seharian. " Kalau begitu biar saya yang nyuci. Terus pak Kades yang ngelap sama naruh ketempatnya lagi gimana ?"
" Iya." jawab Risam setuju.
Tias tersenyum tipis lalu mulai menyabuni barang barang kotor bekas mereka makan tadi. Mulai dari piring, gelas, mangkuk, sendok, dan yang terakhir wajan.
Dari samping Risam menatap Tias. Gadis itu melakukannya dengan cukup cekatan dan terlihat sudah terbiasa. Risam menebak Tias pasti gadis yang mandiri.
" Dek Tias saat ini apa kegiatannya ?" tanya Risam untuk memecahkan suasana yang canggung itu.
Tias meliriknya sekilas. " Makan, minum, tidur, jalan, duduk, terus mandi." jawabnya asal.
Risam tersenyum mendengarnya. " Bukan yang seperti itu maksud saya."
Thanks dah up,Kak..☺️
Lanjuttttt and ttp semangat!!💪
penuh Teka teki....
Semangat,Thor...
Calon adik????🤔
Astaghfirullah
Aq mikirnya apaaaaaa gitu yah Roti sumbu... ternyata ubi kayu...
aaaa Author Somplak!!!
Thanks infonya.....