Nadia Vega, gadis cantik yang mencintai pria yang tak di anggap oleh keluarga nya. terpisah karena ambisi sang kakak pria yang juga mengagumi nya. melakukan berbagai cara licik untuk memiliki nya.
banyak rintangan yang harus mereka hadapi, termasuk terhalang restu dari orang tua nya sendiri.
dapatkan Nadia memperjuangkan kebahagiaan nya dan melawan kakak dari pria tersebut?
apakah setelah berpisah mereka akan bertemu lagi?
yuk kepoin cerita nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun Nazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL PERJUANGAN
Part 13:
Ronal yang melihat kesedihan di wajah sahabat nya itu menjadi iba dan ikut merasa sedih, dengan perlahan Ronal menepuk pundak Daniel, mencoba menguatkan Daniel atas situasi rumit yang sedang Daniel alami.
Karena sebelumnya Ronal tidak pernah melihat Daniel sekacau ini, dia tidak pernah sesedih ini terhadap masalah apa pun, walau Ronal tau, Daniel memiliki penyakit kronis sejak lahir, itu pun tidak membuat nya sedih. Mungkin karena dia sudah terbiasa menderita sejak lahir, tapi tidak untuk saat ini, Daniel benar-benar terpukul dan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Nadia. Sebegitu berharga kah Nadia di mata Daniel ' batin Ronal.
" Lo, gak papa kan kawan?." Dengan hati-hati Ronal bertanya keadaan sahabat nya itu, agar tidak salah bicara dan membuat Daniel tersinggung.
Daniel hanya mengangguk dengan lesu, dengan wajah yang sangat berantakan.
" Mendingan kita ke kantin sekarang, dari pada Lo di sini tambah bikin pikiran Lo kacau. Mendingan kita minum kopi biar pikiran Lo bisa seger lagi, dan Lo bisa berpikir jernih buat nyelesain masalah Lo. Toh Lo gak bisa masuk juga kan!." Timpal Ronal.
Lagi-lagi Daniel hanya mengangguk dan mengikuti saran Ronal, dengan lunglai Daniel berdiri dari kursi dan melangkah menuju kantin rumah sakit.
******
Setelah mereka sampai di kantin, Ronal segera memanggil pelayan dan pelayan tersebut pun menghampiri mereka.
" Bu, saya pesen bakso sama jus jeruk, sama capuccino nya satu ya." Pinta Ronal kepada pelayan tersebut. Dia seakan faham dengan situasi sahabat nya sekarang, Ronal sengaja tidak memesankan makanan untuk Daniel, karena dia tau Daniel pasti akan menolak nya.
Pelayan tersebut mengaguk dan segera melakukan tugas nya.
Tak lama kemudian pesanan pun datang. Ronal yang kebetulan memang sangat lapar, segera melahap bakso yang di pesan nya, namun tidak demikian dengan Daniel, dia hanya menyeruput sedikit capuccino nya, lalu meletakkan nya lagi, pandangan nya kosong melihat ke arah gelas capuccino nya.
Ronal yang melihat, seketika menghentikan kegiatan makan nya. " Kalau boleh gue saran, Lo gak perlu segalau ini, Lo gak perlu sepenuhnya nyalahin diri Lo. Harus nya, lo anggap ini sebagai ujian cinta Lo berdua, supaya Lo lebih semangat buat perjuangin cinta Lo. Bukan nya malah letoy begini." Ejek Ronal.
" Jadi segitu doang perjuangan seorang Daniel yang biasa nya berwatak keras?." Ronal kembali menyantap baksonya, sedang kan Daniel diam-diam memikirkan perkataan Ronal.
Dia merasa apa yang di katakan oleh Ronal benar, mengapa dia harus bersedih berlarut-larut, mengapa dengan mudah dia menyerah dengan cobaan ini, padahal ini baru awal nya saja, seharusnya dia bisa meyakinkan ibu Nadia akan ketulusan cinta nya terhadap Nadia, bukan nya diam saja saat ibu Nadia menyalahkan nya, apa kah dia harus pasrah jika Nadia bersama Andre kakaknya, karena sudah jelas, Andre telah mendapatkan restu dari ibu Nadia, sedang kan diri nya malah di benci oleh ibu Nadia, apa lagi jika dia harus mundur, otomatis, Andre akan dengan mudah mendapatkan Nadia.
Pikiran nya saat ini semakin berkecamuk, akhirnya Daniel telah memutuskan bahwa dia harus berjuang untuk mendapatkan restu dari ibu Nadia.
Dengan mantap dia berdiri dari kursi nya, karena sangking semangat nya, tak terasa Daniel mengebrak meja dengan keras, sontak membuat Ronal yang hendak mengunyah bakso nya terkejut, dan otomatis bakso yang masih bulat tersebut tertelan hingga tersangkut di tenggorokan, Sontak membuat Ronal sulit bernafas.
Ronal melambai-lambai kan tangan nya, isyarat meminta pertolongan karena bakso yang tersangkut di tenggorokan nya membuat nya sulit bernafas dan bersuara.
Paham, Daniel pun segera menepuk-nepuk punggung Ronal, hingga akhirnya bakso tersebut keluar juga. Dengan segera Daniel meraih gelas yang berisikan jus jeruk dan memberikan nya kepada Ronal, dengan ganas nya Ronal segera menenggak minuman tersebut hingga tandas.
Akhirnya Ronal bisa bernafas lega, setelah tadi hampir berkecimpung dengan maut.
" Gi*a Lo, Lo mau bunuh gue?. Galau, galau juga, tapi gak harus bunuh orang juga kale!." Sambil mengatur nafas nya yang masih tersengal.
" Ya sorry, gue kan ga sengaja." Namun sambil terkekeh.
" Gak sengaja- gak sengaja. Untung aja gue ga ko'id. Kalau gue mati, Lo bakal kehilangan temen paling bijaksana kaya gue." Cicit nya.
"Eleh, kalau Lo gak ada, gue jadi untung. Jadi gak ada lagi yang suka mintain gue duit terus." Ucap Daniel hanya sekedar mengejek.
" E buset, dasar temen gak ada akhlak Lo." Cibir Ronal kesal, sedangkan Daniel tertawa mengejek.
" Untung aja gak mangkuk nya yang ketelen." Lagi-lagi Daniel terkekeh karena berhasil membuat teman nya itu kesal.
" Lo pikir gue anakonda?." Mereka pun tertawa bersama. Tiba-tiba Ronal menatap sayu ke arah Daniel yang asyik menertawakan dirinya. Dia senang telah berhasil membuat sahabat nya itu tertawa kembali, meskipun hanya sesaat, karena setelah ini Daniel harus berjuang keras untuk mendapatkan restu dari ibu Nadia dan tentu nya tidak sedikit cobaan yang akan ia terima.
Daniel pun ingin melangkah meninggalkan kantin tersebut, dia berencana untuk kembali melihat keadaan Nadia, tak perduli jika masih ada ibu Nadia di sana. Dia akan menghadapi nya dengan hati mantap dan tanpa sedikitpun rasa ragu.
" Bro, Lo mau ke mana?" sambil berdiri dan mengejar Daniel.
" Gue mau berjuang, bukan nya elo yang nyuruh gue buat jadi tentara." Dengan terus berjalan tanpa menoleh ke arah Ronal.
Ronal pun jadi garuk-garuk kepala karena tidak mengerti maksud Daniel. " kapan gue nyuruh Lo jadi tentara?." Tanya Ronal yang terus mengikuti Daniel dari belakang.
" Kan elo yang nyuruh gue buat terus perjuangin cinta gue. Apa nama nya kalau bukan tentara?." Jelas nya dengan santai. Ronal kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.
" Maksud Lo tentara cinta?." Tebak Ronal yang di angguki kepala oleh Daniel, dan mereka pun tertawa bersama.
******
Setelah mereka sampai di depan ruangan Nadia di rawat. Nampak masih ada ibu Nadia di ruangan itu, namun Avi sudah tidak terlihat lagi di sana, mungkin dia sudah pulang.
Terdengar ibu Nadia seperti sedang menelepon seseorang, seperti nya terlihat serius.
Terdengar samar-samar, namun Daniel dapat mendengar percakapan antara ibu Nadia dan seseorang yang ada di seberang sana, tapi entah siapa.
" Nak, kamu bisa kan gantiin ibu buat jagain Nadia?." Diana terdengar seperti memohon dan terlihat sedang mendengarkan jawaban seseorang di seberang sana.
(*****)
" Tapi apa nda bisa sebentar,,,,, saja, kamu gantiin ibu, soalnya dari pagi toko bunga ibu gak ada yang jaga. Lagian ibu lagi banyak pesanan." Seketika wajah nya terlihat muram, entah apa yang di katakan orang di seberang sana, yang tidak tau siapa nama nya.
(****)
" Oh ya sudah, kalau nak Andre terlalu sibuk nda papa. Ibu titipin Nadia sama suster saja!" terdengar nada bicara nya agak sedikit kesal, dan ternyata orang itu Andre.
" Oh ternyata Andre. Bre*gsek banget dia, berani nolak ibunya Nadia. Gak punya sopan santun." Rutuk Daniel, dia begitu kesal hingga tangan nya mengepal dengan erat.
" Sabar bro, Lo sendiri kan tau gimana kakak Lo sama perusahaan nya. Lagian untung dong buat Lo, Lo bisa nemenin Nadia dengan jarak dekat tanpa harus ada gangguan." Ucap Ronal dengan suara yang hampir tidak terdengar. Dia tidak ingin kedengaran oleh ibu Nadia yang masih berada di ruangan itu.
Tak lama ibu Nadia pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan menjaga toko bunga nya. Dia sudah lebih dulu berpesan kepada suster agar mengantikan nya untuk menjaga Nadia.
Saat ibu Nadia keluar, Daniel dan Ronal segera bersembunyi, karena kalau tidak, kalian tau sendiri lah!😀.
Setelah di rasa aman, Daniel dan Ronal, keluar dari persembunyiannya dan segera masuk ke dalam kamar Nadia. Namun tidak demikian dengan Ronal, karena merasa hari sudah semakin sore, Ronal pun berpamitan kepada Daniel untuk pulang.
Kini tinggal lah mereka berdua. Daniel menatap sayu ke arah Nadia yang masih belum siuman, dia lalu duduk disebelah pembaringan.
Daniel menggenggam lembut tangan Nadia yang lemah itu dan mencium nya berulang-ulang.
Aku pun tersadar. Ku rasakan sakit di sekujur tubuh ku, terasa ngilu sekali.
Perlahan ku buka mataku yang terasa agak berat, dan kurasakan ada hembusan angin di area punggung tangan ku. Ku coba membuka mata perlahan dan yang ku lihat pertama kali seperti langit-langit sebuah ruangan, dan aku pun melihat ke arah samping, karena aku ingin tau siapa yang memegangi tangan ku sedari tadi.
Aku pun tersenyum bahagia, karena menyadari yang menunggu ku adalah Daniel. Rasa sakit ini terasa berkurang begitu saja karena yang pertama kali ku lihat orang yang aku cintai.
Dia pun membalas senyum ku. Dia masih setia memegangi tangan ku, walaupun aku sudah sadar kan diri.
" Kamu udah lama di sini?." Tanya ku dengan suara parau.
" Baru aja kok sayang. Soalnya ibu kamu baru pulang." Kata nya sambil sesekali mengelus punggung tangan ku. Aku pun langsung paham apa yang dia maksud, aku pun tersenyum.
" Maaf ya sayang! gara-gara aku,,,,, kamu.....!." kalimat ku terjeda karena Daniel menempatkan jari telunjuk nya ke bibirku.
" Hussst,,,,,,, gak usah di lanjutin, kamu gak boleh nyalahin diri kamu. Awalnya ini memang salah aku juga kok, dan kamu harus tau, ini semua udah di atur sama sang pencipta, supaya aku lebih sabar lagi untuk berjuang dapetin kamu." Begitu bijak nya perkataan Daniel, sampai-sampai aku terharu mendengar ucapan nya, terlihat begitu tabah dan tulus. Kurasa siapa saja yang mendengar, pasti akan luluh, begitu juga aku.
"Oh iya, aku sampai lupa nyuapin kamu makan." Kata nya sambil meraih mangkuk yang berisi bubur ayam, dengan cekatan pula dia menyuapi ku makan.
Aku pun makan dengan lahap nya, hingga Habis tak tersisa. Kebetulan memang perut ku sudah sangat lapar karena sudah beberapa hari ini aku tidak mau makan.
******
Hari pun sudah mulai gelap, Daniel berencana menemani ku di rumah sakit malam ini, karena kebetulan, ibu malam ini tidak datang ke rumah sakit karena dia sangat sibuk dengan pesanan nya. Dia sudah menitipkan ku pada suster di rumah sakit ini untuk menjaga ku.
Karena sudah sangat lelah aku pun mengantuk, namun tidak dengan Daniel, dia masih setia berjaga di samping ku. Tapi tidak bisa di pungkiri bahwa Daniel sangat lelah dan mengantuk, namun dia tahan demi menjaga ku agar aku bisa istirahat dengan nyaman.
" Sayang, mending kamu tidur gih. Gak baik Lo buat kesehatan kamu kalau kamu begadang, kamu kan juga lagi sakit, jadi gak boleh dong begadang." Ucap ku meminta agar dia mau istirahat, dan sepertinya dia mempertimbangkan bujukan ku untuk menyuruh nya istirahat.
" Oke iya. Aku bakal tidur, tapi tidur di sini aja ya." Pinta nya agar dia tidur di samping ku saja, hanya dengan menggunakan satu kursi.
Karena tak mau berdebat lebih panjang lagi, aku pun mengiyakan permintaan nya, toh sama saja kan, yang penting Daniel bisa istirahat.