NovelToon NovelToon
Black Magic

Black Magic

Status: tamat
Genre:Fantasi / Petualangan / Supernatural / Chicklit / Tamat
Popularitas:32.6k
Nilai: 5
Nama Author: queenrexx

"Ini milikmu sekarang, jangan biarkan orang lain merenggutnya darimu."

Setelah kakek itu berkata demikian, bum! Tiba-tiba aku menjadi penyihir terkuat sedunia yang dibenci semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon queenrexx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman

Aku kehilangan hitungan perihal sudah berapa kali atap ruang makan bergemuruh.

Seperti yang sudah kuduga, sihir hitam (sangat) tidak membantu dalam hal perbaikan atau menyembuhkan. Malah menurutku sihir hitam hanya diciptakan khusus menghancurkan sesuatu sampai ke akarnya.

Dalam kasus ini, maksudku adalah atap langit-langit ruang makan.

"Varrel, apa kau betul-betul tidak bisa mengembalikan langit-langit ruangan ini seperti semula?" Pak Albert tampak putus asa. Janggut putihnya kusut, tak serapi biasanya.

Aku menggaruk kepala. Kucoba mengeluarkan energi hitam di tanganku lalu menembaknya ke arah langit-langit. Tidak ada yang terjadi kecuali munculnya bunyi gemuruh lain.

"Coba lagi." Zack duduk sambil bertopang dagu di salah satu kursi. "Masa harus pakai vectors, sih?"

"Nah!" seruku. "Tak bisakah kita pakai sihir Zack saja, seperti yang sudah-sudah?"

Pak Albert menggeleng. "Sudah kubilang: apa yang dihancurkan sihir hitam cuma bisa diperbaiki oleh sihir hitam pula. Atau ... oh, kau tidak berniat meminta Zack untuk memerintahkan wujud keduamu agar keluar, 'kan? Bisa-bisa tambah repot."

Aku mengumpat dalam hati. Harus kuakui Pak Albert benar. Lebih baik aku melanjutkan hukumanku.

Ayo, perbaiki langit-langit itu, sihir hitam! Masa begini saja tidak bisa? Batinku merutuk. Sekali lagi, kukumpulkan kekuatan lalu memusatkannya di tangan, sebelum menembakkannya ke langit-langit untuk kesekian kalinya hari itu.

Gemuruh kembali terdengar, kali ini dibarengi jatuhnya serpihan plester dan cat dari langit-langit.

Kegagalan yang terduga, asal tahu saja. Pada akhirnya, aku cuma bisa memberikan Pak Albert pandangan lesu, juga menunjukan telapak tanganku yang mulai melepuh karena kebanyakan menggunakan sihir hitam.

Zack menatapku prihatin. Namun, tentu saja ia tidak coba-coba menyuruhku berhenti menjalani hukuman. Kami tidak akan tahu apa yang bakal dilakukan Jim dan Kim saat mengetahui aku kabur dari tanggung jawab. Mereka, 'kan ... yah, hantu.

"Jangan berhenti." Pak Albert mengembuskan napas berat, kelihatan menyesal tetapi berusaha tegar. "Teruskan. Lampaui batasmu."

Mudah saja baginya berkata demikian.

Saat aku memejamkan mata, sebuah gambaran terlintas di benakku. Kehancuran. Gambaran itu menunjukkan sebuah kehancuran mahabesar di mana tidak ada lagi yang tersisa kecuali reruntuhan tak berbentuk, dan aku berdiri di tengah-tengahnya. Suara tangis memborbardirku dari segalah arah, tetapi sejauh mata memandang, aku tak menemukan satu tubuh pun yang bergelimpangan.

Gambaran itu hadir dan lenyap secepat kilat. Kendati demikian, aku paham makna terselubung nan menakutkan yang dibawa olehnya.

Bulu kudukku meremang, seluruh saraf menegang akibat penyangkalan atas gambaran tersebut.

Sekali lagi aku mengumpulkan tenaga dari sihir hitam, kini jauh lebih besar dari sebelumnya, mungkin setara dengan energi yang kukeluarkan ketika menyerang arwah Kevin.

Tak pelak, Pak Albert terkejut melihat tindakanku, dapat terlihat dari reaksinya yang langsung mundur beberapa langkah. "Varrel, bukankah itu terlalu---"

Besar. Aku tahu.

Terlambat. Aku meluncurkan energi sihir hitamku ke atas, tepat ke langit-langit.

Dan untuk beberapa detik pertama, gemuruh kembali muncul. Kupikir aku gagal. Kupikir yang barusan malah akan menambah kerusakan alih-alih memperbaikinya.

Namun, bencana yang kutunggu-tunggu tak kunjung muncul. Bahkan, atap ruang makan perlahan-lahan membentuk lagi. Kerangka lengkungan kubah muncul, langit-langit kembali utuh dengan kecepatan luar biasa.

Bedanya, langit-langit yang awalnya putih itu mewujud dengan warna baru: hitam, kelam. Kandelir yang awalnya anggun kini merupakan lampu gantung kelabu, mengingatkanku pada suasana di rumah-rumah angker berhantu.

Aku menelan ludah menonton perubahan itu. Dapat kupastikan bahwa lampu gantung bukanlah bagian yang paling menyeramkan.

Alih-alih, bagian paling menyeramkannya adalah ... sebuah sketsa. Sketsa wajah dari tinta berwarna semerah darah segar, melihat kami dari ketinggian sambil tersenyum horor.

Inilah yang bisa kulakukan. Inilah hasil perbaikan oleh sihir hitam. Usai sudah hukumanku. Aku bersumpah aku takkan terima kritik macam-macam.

"Agak horor, tapi keren," komentar Zack.

"Aku ragu Bu Walter bakal menyukainya." Pak Albert mengusap-usap janggut. Aku setuju sekali. Bahkan mungkin, sekalipun hasil karyaku bagus, Bu Walter takkan menyukainya.

"Guru-guru dan para murid akan melihat ruang makan saat jam makan malam," kata Pak Albert. "Semoga mereka maklum."

***

Jantungku berdebar mengetahui sekarang sudah memasuki jam makan malam. Aku tidak bisa berkonsentrasi di kelas terakhirku, pikiran melayang ke mana-mana, alhasil aku harus menerima barangkali dua atau tiga teguran dari guru yang mengajar.

Sebagaimana biasa, semua murid dan guru akan hadir di ruang makan. Bahkan Jim dan Kim ikut hadir karena kepingin melihat hasil kerjaku, padahal menurut informasi yang kudengar, biasanya mereka makan berdua di kuburan atau di bawah tanah. Romantis sekali.

Aku sengaja mengajak Sheila dan Fiora untuk datang lebih awal ke ruang makan.

"Wow." Sheila bengong menatap tampilan langit-langit baru kami.

"Aku tahu. Wow," ringisku, tidak sabar menunggu reaksi murid-murid lain.

Dua orang ... lima orang ... tujuh orang ... satu per satu penghuni asrama mulai berdatangan dengan kepala menengadah ke atas, berkomentar keras-keras seolah tidak tahu bahwa penggagas interior langit-langit ruang makan yang baru ada di antara mereka.

Atau, mereka memang betul-betul tidak tahu.

Tak lama, yang paling dikhawatirkan pun datang. Bu Walter masuk ke ruang makan bersama Pak Gurdyn di sisinya. Juga Jim dan Kim yang melayang di atas mereka. Mata keempatnya menelusuri sepenjuru ruangan, sebelum kemudian terpaku kepadaku.

"Ini menakjubkan!" Jim berseru sambil terbang kesana kemari. "Suasananya seperti di kuburan! Gelap dan suram!"

Aku tidak bisa mengartikan itu sebagai pujian atau hinaan. Kalau boleh jujur, aku lebih merasa tengah dihina.

Bu Walter menatap atap dengan tatapan setengah merendahkan setengah terkejut. Kesan di matanya menunjukan bahwa ia jelas-jelas tidak suka hasil kerjaku.

Sementara Pak Gurdyn hanya tersenyum miring, tampak seperti sedang menahan kata-kata. Kupikir ia tergoda untuk mengkritikku tetapi merasa bahwa percuma saja. Toh aku hanya disuruh memperbaiki, bukan memperindah. Jadi terima saja apa pun hasilnya.

"Aku suka, lho, senyum di atap," kata Fiora tiba-tiba, saat makan malam sudah dimulai.

Sheila mengangguk-angguk. "Tidak buruk, kok," tambahnya.

Harus kuakui, sikap mereka berdua setidaknya berhasil mengurangi kegelisahanku tentang dekorasi baru ini.

***

Sekarang, di mana aku?

Aku mendapati diriku berdiri di tengah-tengah kobaran api hitam.

"KAMI ADA BUKAN UNTUK MENOLONG SIAPA-SIAPA." Seseorang tanpa wujud berkata dengan suara menggelegar.

Wajahku berkeringat dingin. Lidah api melalap habis segalanya, menciptakan kehancuran yang persis sama seperti gambaran mengerikan yang kuterima beberapa waktu lalu.

"KAMI DICIPTAKAN UNTUK MENGHANCURKAN." Suara seram itu terdengar lagi. Kali ini lebih menggelegar sampai-sampai aku merasa sesuatu mengalir dari telingaku.

Darah. Kusadari saat menyentuh telingaku.

"KAMI ADA BUKAN UNTUK MENOLONG SIAPA-SIAPA." Suara itu kini terdengar diucapkan beramai-ramai. Puluhan, ratusan jiwa.

Kobaran api terus memesar, menjilat-jilat semakin tinggi dan menodai udara dengan abu hitam pekat, merangkak cepat ke arahku yang sudah jatuh berlutut.

Sebuah wajah tersenyum di langit. Hasil 'karya'ku atas perbaikan ruang makan. Bedanya wajah ini nyata, bukan sekadar sketsa.

"KAMI DICIPTAKAN UNTUK MENGHANCURKAN."

Darah mengucur kian deras. Aku berteriak, berusaha menghalau keramaian suara tanpa wujud tersebut.

"KAMI ADA BUKAN UNTUK MENOLONG SIAPA-SIAPA. KAMI DICIPTAKAN UNTUK MENGHANCURKAN."

Aku terkulai ke tanah, api menari-nari di sekelilingku dan wajah di langit tersenyum menonton kemalanganku.

"BUKAN UNTUK MENOLONG TAPI UNTUK MENGHANCURKAN."

Hal terakhir yang kuingat, aku tenggelam dalam kubangan darahku sendiri. Senyuman di langit berubah menjadi tawa keji.[]

1
Rain Base
fyuh~ ending yang adil buat kedua penyihir, biasanya penyihir putih melambangkan kebijaksanaan ini malah ketamakan, alih-alih jadi penyihir hitam-putih macam yin-yang
Rain Base
kakek trigger
Rain Base
aku download noveltoon gegara ini novel ku tengok lewat apk wp, dan aku sepenasaran itu sama mejik mejik nya kak Rex
_adlencat
asli ini novelnya keren banget. terutama ending, ending yang gak bisa diprotes karena nyambung dari awal Ampe akhir
_adlencat
fyuh.... novel yang keren dengan ending dan penyelesaian yang apik

habis baca ini hatiku kosong serta berat

bener-bener ilang begitu aja ya, Varrel

huhu
_adlencat
plot twist
_adlencat
jadi keinget furry—solid solid soldi! /ggitu
hnis550: beb lu masih aktif kah
total 2 replies
Hasnah Siti
aku gak mau membayangkan cerita harry potter di sini guyssss..kerana aku masih menghormati karya nya kakak author yg telah berusaha untuk berkarya buat aku sebagai sang readersssss...


mau lanjut simak lagi thor....sepertinya seruuuuuu nih story..🔥🔥🔥❤
Hasnah Siti
owhhh noooo🔥🔥🔥
fathur rizkiula
bagus
fathur rizkiula
bagus
paiJah🍃
Verrel mati, Agatha mati
habis?😳
masa habis Thor 😳
★Ambil 5 Bayar 3★
weeeeh... sama sama mati.
terus? gimana lagi ini? 😂
queen rex: tunggu kelanjutannya yaaaa 😁
total 4 replies
paiJah🍃
astaga..tegang euy aku bacanya
tarik nafas panjang..

beneran mati Verrel nya Thor?
itu sihir hitamnya belom ilang gitu 😳
paiJah🍃: wokeeehhh...jangan ditamatin dulu thor 😐
total 2 replies
paiJah🍃
astagaaa..meterulo punya siapa?. Agatha apa punya Verrel 😳
queen rex: agatha yahhh
total 1 replies
paiJah🍃
sebenernya si penyihir putih itu ingin menyerang varel agar apa?
agar dia menjadi kuat sendiri begitu?
aslinya mah dia gak mau tersaingi kan Thor
kreji Napa Thor 😐
queen rex: sudah diupdate yaa :D
total 3 replies
★Ambil 5 Bayar 3★
langsung ketok... minta minum dulu ama makan... 😅😆
★Ambil 5 Bayar 3★
wah bakal terus ada gangguan sepanjang perjalanan
paiJah🍃
akhirnya mereka sampai juga di nevaddar
kreji up Thor
queen rex: akhirnya yaaaa😁
total 1 replies
paiJah🍃
lah habis ..

terjawab sudah siapa yang memberi Zack energi
queen rex: siappp😁👍🏼
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!