Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu tidak berdaya
Aris dan Rangga langsung menyadari kehadiran Jingga di ruangan itu. Wajah Aris memerah, seperti menahan marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Melihat mata Jingga yang sudah penuh genangan air, satu kedipan saja bisa membuat air mata itu tumpah.
Jingga memutar kursi membelakangi semua orang. Menempelkan tisu di matanya. Menghela nafas dalam, menghembuskan perlahan. Berulang - ulang.
Bisa apa Aris sekarang ? luka itu sudah terlanjur Aris torehkan. Bagaimana rasanya mengurus catering untuk pesta pernikahan suami sendiri ? adakah yang lebih sakit dari yang Jingga rasakan saat ini. Bu Laura dan Irma tersenyum penuh kemenangan. Mereka memang sengaja mengiyakan tawaran WO untuk menggunakan jasa catering Jingga. Dengan begitu, mereka tidak perlu repot - repot memikirkan cara membuat Jingga membenci Aris.
Jingga mencoba bertahan, dia tidak mau terlihat lemah. Paling tidak, jangan lemah untuk saat ini. Irma dan bu Laura juga Aris harus tau kalau Jingga tidak mudah dipatahkan.
Reno memulai meetingnya. Jingga terus menunduk meremas kemeja bagian bawahnya hingga kusut. Aris tidak berani menatap Jingga. Dia hanya sesekali melirik, Hatinya ragu harus bersikap bagaimana.
Rangga keluar dari ruangan meeting. Dia tidak sampai hati melihat luka yang sangat dalam di mata Jingga. Sekuat apapun Jingga menyembunyikan, luka itu tetap terlihat jelas. Rangga mengutuk kebodohan Aris yang malah tetap diam di sana. Harusnya Aris membawa Jingga keluar dari sana.
" Saya percaya mau yang bagaimana konsep make up nya. Terserah mbak Hera saja. Irma sudah cantik mau didandani apapun juga cantik. Yang penting Irma satu - satunya Ratu di hati anak saya " ucap bu Laura penuh penekanan yang di sengaja.
" Aman bu kalau sama saya " jawab Hera.
" Untuk cateringnya saya mau menunya memang sebanyak itu. Tamu undangan saya banyak dan dari berbagai kalangan atas dengan asal daerah berbeda " ucap bu Laura sombong.
" Kami hanya mau semua sempurna " tambah Irma.
" Jika kalian melakukan resepsi di ballroom hotel dengan menu sebanyak itu, bisa saya jamin pesta kalian akan tampak seperti pasar malam. Meskipun undangan kalian dari kalangan pengusaha dari 34 provinsi di Indonesia atau dari 195 negara di dunia, bukan suatu keharusan untuk menyediakan makanan untuk tiap - tiap daerah asal undangan. Kesatuan konsep. Jika ingin menonjolkan kemewahan bukan kuantitas yang perlu dikejar tapi kualitas " ucap Jingga, begitu berani. Matanya dengan tajam melihat satu persatu wajah bu Laura, Irma dan Aris.
" Berani sekali kamu, kami yang lebih mengerti bagaimana menjamu tamu kami " ucao bu Laura, dengan emosi.
" Seharusnya kamu senang. Kami membeli banyak, maka uangmu akan semakin banyak " sahut Irma seenaknya.
" Maaf mbak, pencapaian saya dalam bekerja bukan hanya uang. Saya meletakkan jiwa dan pikiran saya dalam setiap pekerjaan yang saya lakukan. Jika saya hanya memikirkan soal uang, saya dengan senang hati menerima pesanan kalian yang tidak masuk akal. Silahkan mencari catering lain jika tidak berkenan, saya sama sekali tidak rugi. Percayalah, jika ada yang mau memenuhi permintaan kalian dengan menu sebanyak itu, saya pastikan gedung resepsi kalian akan penuh dengan sampah makanan yang tidak dihabiskan " Jingga dengan ketus mengakhiri keberadaannya di sana. Jingga melenggang keluar membawa luka yang luar biasa.
Aris hanya menatap punggung Jingga, andai Aris tidak membaca pesan dari maminya yang dikirim sesaat setelah dia duduk di ruangan ini, Aris ingin sekali menyusul Jingga. Tapi Aris takut maminya akan mempermalukan Jingga.
Jingga membuka pintu mobilnya, masih dari jarak tiga meteran dari tempatnya berjalan. Rangga menyambar kontak mobil di tangan Jingga.
" Naiklah, aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik mengendarai mobil saat emosimu tidak stabil " ucap Rangga. Sedang malas berdebat, Jingga menerima begitu saja tawaran sahabat dari suaminya itu.
Rangga memundurkan jok mobil yang didudukinya, mencari posisi nyaman untuknya.
" ke rumah atau ke kafe Ngga ? " tanya Rangga.
" Ke kafe saja mas " jawab Jingga pelan.
Rangga perlahan menjalankan mobil Jingga menjauhi parkiran depan hotel yang menjadi saksi kehancuran hati Jingga.
Jingga membuang pandangannya ke arah kaca pintu mobil. Jadi inilah jawaban dari semua sikap aneh Aris selama ini. Jingga tidak menyangka pernikahan yang masih seumur jagung diterpa badai sekaligus tsunami sebesar ini.
Dada Jingga terasa sesak, ingin sekali dia berteriak dan menangis sekencang - kencangnya. Rangga membiarkan jingga menikmati sedihnya sesaat, Jingga harus menumpahkan perasaannya. Tidak baik menyimpannya sendiri.
Rangga melajukan kendaraan Jingga terus, seharusnya dia sudah berbelok jika memang tujuan mereka adalah kafe Jingga. Tapi tidak, Rangga ingin mengajak Jingga ke suatu tempat yang bisa membuat Jingga puas mengumpat dan berteriak.
Jingga paham Rangga membawanya ketempat lain dan agak pinggiran kota. Tapi Jingga memang sedang tidak ingin banyak bicara.
Rangga memperlambat laju mobilnya begitu memasuki kawasan danau buatan dengan pesona alamnya yang natural seperti danau asli. Rangga menghenikan mobilnya beberapa meter dari sisi kanan danau. Keduanya turun bersamaan. Melangkah menjauhi mobil untuk lebih dekat pada danau.
" Aku menunggu di sini, berteriaklah dan menangislah sepuasmu. Anggap aku tidak ada " ucap Rangga dengan senyum khasnya yang menawan.
Jingga berjalan mendekati danau, lalu menghempaskan bokongnya di atas hamparan rerumputan hijau. Tidak ada teriakan atau umpatan seperti yang diharapkan Rangga. Jingga memejamkan matanya, mengingat ekspresi Aris saat melihatnya tadi, Jingga melihat ketidakberdayaan di wajah suaminya. sikap yang seharusnya tidak ditunjukkan oleh seseorang yang sudah menikahi perempuan tanpa paksaan.
Jingga meringkuk, lututnya menekuk sampai menempel ke dada,Bahunya naik turun karena tangisnya. Tanpa suara, tapi air mata mengalir cukup deras tanpa henti.
" Ayah... Ibu... Jingga kangen kalian. Jingga butuh kalian... " rintih Jingga lirih.
Rangga menghampiri Jingga, duduk sejajar disamping Jingga.
" Menangislah Ngga, lepaskan sebentar bebanmu. Menangis bukanlah dosa, juga bukan berarti kamu lemah. Sesekali kita perlu menangisi hidup. Kadang Tuhan sengaja membuat kita menangis agar bisa membuat orang lain tertawa " ucap Rangga, dengan sedikit keberanian Rangga menatap mata Jingga.
" Kenapa mas Aris tega melakukan ini semua pada Jingga ? kalau mas Aris ingin menikahi perempuan pilihan maminya, mas Aris bisa bilang baik - baik, setidaknya Jingga tidak akan sesakit ini, dan pastinya kami akan berpisah dengan cara baik - baik " ucap Jingga dengan emosi.
" Seharusnya aku tidak mengatakan ini, tapi aku tidak ingin kamu semakin terluka jika tahu nanti. Hari ini saja lukamu sudah dalam, jika menunggu nanti, maka lukamu akan semakin dalam. Aris dan Irma sudah menikah beberapa waktu lalu Ngga. Mereka menikah resmi secara negara. Aris tidak tau apa - apa, Maminya yang mengatur semua "ucap Rangga, masih berusaha membela Aris.
Jingga sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi, langit runtuh tapat mengenai dirinya yang rapuh.Kepala Jingga serasa berputar. Semenit kemudian tubuh Jingga tersungkur di rerumputan.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.