NovelToon NovelToon
Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Sibeban Keluarga Mendapatkan Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.

"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter: 16

Sisa hari di minggu kedua berjalan dengan dinamika yang cukup melelahkan bagi Kevin. Di satu sisi, dia harus mempertahankan persona sebagai Pak Kevin, guru honorer matematika yang karismatik dan digilai para siswi di SMA Garuda.

Di sisi lain, setiap sore dia harus memenuhi kontrak rahasianya menjadi supir pribadi Viola, yang kini tatapannya saat melihat Kevin sudah tidak lagi dingin, melainkan penuh dengan binar-binar kekaguman yang disembunyikan di balik sikap manja.

Namun, ketenangan itu runtuh tepat ketika jarum jam dinding di kamar Kevin bergeser ke angka 00:01 di hari Senin berikutnya.

Ding!

[Profesi Minggu 2: Guru Honorer Resmi Berakhir. Mengaktifkan Profesi Minggu 3: Chef Nasi Goreng Lidah Dewa.]

[Sinkronisasi Kemampuan Dimulai...]

Kemampuan: Resep Rahasia Kuliner Surgawi (Menguasai segala teknik memasak nasi goreng dari seluruh belahan dunia dengan cita rasa yang mampu memanipulasi hormon kebahagiaan penikmatnya).

Indra Pengecap Tingkat Dewa (Mampu mendeteksi kandungan bahan makanan hingga partikel terkecil hanya dengan sekali cium atau cicip).

Kecepatan Tangan Pengocok Wajan (Membuat Pengguna mampu memasak 5 porsi nasi goreng sekaligus dalam waktu 2 menit dengan kematangan yang sangat merata).

[Fasilitas yang Diberikan: Satu unit gerobak nasi goreng modern berbalut bodi stainless-steel anti-peluru (Disamarkan sebagai gerobak kayu biasa) dan pasokan bahan baku organik kualitas premium dari Sistem.]

[Misi Minggu 3: Jual 500 porsi Nasi Goreng dalam seminggu dan bersihkan nama baik Pengguna dari tuduhan "Pesugihan Babi Ngepet" yang disebarkan oleh warga komplek.]

[Hadiah Misi: Sertifikat Kepemilikan 1 Unit Vila Mewah di Puncak Bogor (Lengkap dengan kolam renang air hangat dan helipad).]

Kevin terlonjak dari kasur busanya.

Kepalanya mendadak dipenuhi oleh jutaan kombinasi bumbu, suhu ideal minyak goreng, hingga takaran kecap manis yang presisi.

Dia berjalan ke arah dapur rumahnya, mengambil sebutir bawang merah, lalu menghirup aromanya.

"Gila... gue bahkan bisa tahu ini bawang dipanen hari Rabu minggu lalu di daerah Brebes,"

gumam Kevin tak percaya. Indra penciumannya kini setajam anjing pelacak kuliner.

Pagi harinya, Kevin langsung menemui Cak Umar, pemilik Warkop Berkah sekaligus ayah dari Nabila.

Dengan modal diplomasi dan sedikit bantuan pesona Sistem yang tersisa, Kevin meminta izin untuk menyewa halaman depan warkop di malam hari untuk berjualan nasi goreng.

Cak Umar yang dasarnya sudah menganggap Kevin seperti anak sendiri langsung menyetujuinya tanpa meminta uang sewa.

"Aduh, Kak Kevin beneran mau jualan nasi goreng?"

"Gak sayang sama gelar sarjananya?"

tanya Nabila sore itu,

sambil membantu Kevin mengelap meja-meja kayu di depan warkop.

Nabila sore itu mengenakan kaos oblong santai dan rambutnya dicepol asal, namun di mata Kevin, kesederhanaan Nabila selalu menenangkan.

"Gelar sarjana kan gak bisa buat beli beras, Nab."

"Mending Mas jualan, yang penting halal dan bisa sering-sering liat kamu," goda Kevin spontan.

Pipi Nabila langsung merona merah sedalam tomat matang.

Dia memukulkan kain lapnya ke lengan Kevin dengan manja.

"Ih, Kak Kevin gombal mulu! Awas ya kalau gak enak, Nabila gak mau bantuin lagi!"

Tepat pukul 18:30, gerobak nasi goreng milik Kevin yang tampak sederhana namun berkilau bersih itu resmi beroperasi.

Kevin memasang papan kayu kecil bertuliskan: "Nasi Goreng Lidah Dewa Rasa Bintang Lima, Harga Warkop."

Malam pertama dimulai dengan agak sepi. Beberapa pemuda komplek yang sedang nongkrong di warkop memandang Kevin dengan tatapan sinis dan meremehkan.

"Lah, si beban keluarga sekarang alih profesi jadi tukang nasgor?"

"Palingan rasanya cuma rasa garam sama minyak jelantah,"

bisik salah satu pemuda komplek bernama joko yang terkenal hobi gibah.

Kevin hanya tersenyum tipis. Dia mulai mengambil sepiring nasi dingin, menyalakan kompor gasnya.

Begitu api biru besar menyala, tangan Kevin bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Dia mengiris bawang, menumbuk cabai, dan melemparkan bumbu-bumbu itu ke atas wajan panas dalam waktu kurang dari lima detik.

SREEEKKK! WUSH!

Aroma harum yang sangat pekat, gurih, dan menggugah selera langsung menguar, membalut seluruh area warkop bahkan terbang terbawa angin malam hingga ke rumah-rumah tetangga radius lima puluh meter. Aroma itu begitu magis,

seolah-olah perpaduan antara mentega premium, rempah-rempah rahasia nusantara, dan kelezatan daging yang terkunci sempurna.

Joko dan teman-temannya yang tadi mencibir mendadak berhenti bicara.

Air liur mereka tertahan di tenggorokan. Perut mereka berbunyi nyaring secara serentak.

"B-Bau apaan nih? Kok enak banget... Gila, cacing di perut gue langsung demo!"

gumam Joko, matanya melotot menatap wajan Kevin yang memercikkan api dramatis ala chef profesional di TV.

"Vin! Pesen satu, Vin! Gak pake lama!"

teriak salah seorang dari mereka, tidak tahan lagi dengan siksaan aroma tersebut.

"Siap, ditunggu dua menit,"

sahut Kevin tangkas.

Dengan Kecepatan Tangan Pengocok Wajan, Kevin mengayunkan wajannya ke atas dan ke bawah, membuat butiran-butiran nasi melompat di udara dengan estetika tingkat tinggi sebelum mendarat sempurna di atas piring pusaka.

Begitu piring pertama disajikan di depan Joko, pemuda itu langsung menyendok nasi goreng yang masih mengepul tersebut ke dalam mulutnya tanpa ditiup terlebih dahulu.

NYAM.

Seketika, mata Joko mendelik ke atas. Tubuhnya gemetar ringan.

Di dalam otaknya, Sistem Kevin berhasil memanipulasi hormon dopaminnya secara maksimal.

Joko merasa seolah-olah dirinya sedang terbang di atas awan, dikelilingi oleh bidadari yang menyuapinya makanan surgawi.

Tekstur nasinya pas tidak kelembekan dan tidak terlalu keras bumbunya meresap sampai ke serat terdalam, dan ada rasa gurih tersembunyi yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

"G-GILA! Ini bukan nasi goreng... ini mah mahakarya! Vin, lu pake campuran apa?! Enak banget sampai gue mau nangis!"

seru Joko histeris, langsung melahap sisa nasi gorengnya seperti orang yang tidak makan tiga hari.

Dalam waktu satu jam, berita tentang "Nasi Goreng Sakti" buatan Kevin menyebar dari mulut ke mulut di area komplek.

Warkop Berkah yang biasanya hanya ramai oleh bapak-bapak peronda kini diserbu oleh antrean panjang warga, mulai dari ibu-ibu dasteran sampai anak-anak kecil yang merengek kelaparan.

Nabila sampai kewalahan mencatat pesanan dan mengantarkan piring, sementara Kevin terus memasak dengan senyuman konstan, tangannya bergerak konstan bagai mesin robot yang tidak kenal lelah.

Ding!

[Progres Misi: 87/500 Porsi Terjual dalam Semalam! Rating Kepuasan Pelanggan: 200%.]

Namun, di tengah kesuksesan besar malam pertama itu, di ujung sudut jalan komplek yang agak gelap, sekelompok ibu-ibu paruh baya yang dipimpin oleh Mpok Lela tetangga sebelah rumah Kevin yang terkenal paling julid sedang berbisik-bisik sembari menatap keramaian warkop dengan pandangan penuh kecurigaan dan kedengkian.

"Eh, Jeng Lela, Jeng tengok itu si Kevin,"

 bisik Bu RT yang ikut nimbrung.

"Si Kevin itu kan dua minggu lalu masih luntang-lantung jadi beban ibunya."

"Minggu kemarin tiba-tiba pamer uang jutaan sama bawa sertifikat ruko Margonda."

"Terus sekarang, jualan nasi goreng aja langsung rame kayak dikerubutin laler begitu. Gak masuk akal!"

Mpok Lela melipat kedua tangannya di dada, wajahnya yang penuh bedak tebal itu mengeras.

"Nah! Itu dia yang dari kemarin saya curigain, Jeng! Jangan-jangan... si Kevin ini beneran melihara makhluk halus!"

"Gak salah lagi, ini pasti pesugihan babi ngepet! Mana ada nasi goreng biasa bisa bikin orang ngantre kayak nunggu sembako kalau gak dikasih air liur tuyul atau pesugihan?!"

"Iya bener! Pantesan beberapa malam lalu si Joko bilang liat ada bayangan hitam gede mondar-mandir di dekat rumah Kevin!"

sahut ibu-ibu lainnya mengompori, padahal bayangan hitam itu adalah NMAX Kevin yang sedang melaju cepat.

Mpok Lela menyeringai sinis.

"Kita liat aja nanti."

"Malam Jumat besok, kita jebak si Kevin. Kita gerebek rumahnya buat buktiin kalau dia beneran babi ngepet! Biar diusir dia dari komplek ini!"

Sementara itu, Kevin yang baru saja menyelesaikan porsi ke-88 malam itu mendadak merasakan hawa dingin menusuk tengkuknya.

Indra dewa miliknya menangkap getaran niat buruk dari kejauhan.

Kevin melirik ke arah kegelapan gang, lalu tersenyum dingin.

"Mau main tuduh-tuduhan mistis sama teknologi multidimensi? Oke, mari kita liat siapa yang bakal jadi babi guling nanti,"

batin Kevin sembari menuangkan kecap manis ke wajannya dengan gaya yang sangat santai.

1
Tri Wahyuni
iya maaf kak ada kesalahan untuk penamaan karakternya, Skrang sudah di perbaiki,makasih udah ngasih tau ya kak👍
ラマSkuy
wait bukannya di bab sebelumnya nama ayahnya Viola itu Herman ya kok dibab ini jadi Wijaya 🤔🤔
ラマSkuy
awalan yang menarik untuk di baca Thor semangat terus berkarya 👍
Hentri Gunawan
lanjut Thor walupun beda dr yg kemarin
Tri Wahyuni: iya maaf ya soalnya kak soalnya kena revisi total
total 1 replies
Tri Wahyuni
jangan lupa kasih likenya ya kak
Hentri Gunawan
lanjut lg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!