Rina, pengusaha sukses berusia 28 tahun, tewas akibat pengkhianatan keluarga dan rekan bisnis. Saat sadar, dia regresi ke tubuhnya di kelas 11 SMA — tepat 10 tahun ke belakang.
Dulu Rina adalah gadis pemalu yang sering dibully geng cewek populer, dikhianati pacar pertamanya, dan diabaikan orang tuanya yang sibuk bisnis. Kini dengan semua pengetahuan masa depan, Rina berubah total.
Dia akan balas dendam di sekolah elit Harapan Elite International School, naik menjadi ratu sekolah yang ditakuti dan dikagumi, rebut prestasi akademik & ekstrakurikuler, perbaiki hubungan keluarga, serta hancurkan semua orang yang pernah menyakitinya.
Drama remaja SMA, revenge yang memuaskan, slice-of-life sekolah, intrik keluarga kaya, dan romansa slow-burn dengan Kai — ketua OSIS dingin keturunan konglomerat yang pernah menolongnya di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejatulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DETIK TERAKHIR DAN DETAK PERTAMA
Rasa besi yang anyir dan dingin menyengat lidah Rina.
Di dalam kegelapan gudang tua yang pengap, suara rintik hujan yang menghantam atap seng berkarat terdengar seperti sebuah lagu pemakaman yang monoton.
Tubuhnya tergeletak tak berdaya di atas lantai beton yang dingin, berselimutkan darahnya sendiri yang terus mengalir dari luka tusukan di perut.
Kesadarannya perlahan-lahan menipis, seringan helai rambut yang ditiup angin.
Namun, rasa sakit di dadanya jauh lebih hebat daripada luka fisik yang dideritanya.
Rasa sakit itu bersumber dari pengkhianatan.
Di depannya, berdiri dua orang yang sangat dia kenal.
Ardiansyah, sepupu kandungnya yang selama ini dia percaya untuk mengelola keuangan perusahaan, dan jajaran direksi bayangan yang telah dia anggap sebagai keluarga.
Di tangan Ardiansyah, sebuah map dokumen hitam berisi pengalihan seluruh aset korporasi
"Regina Group"
—perusahaan yang Rina bangun dengan darah, keringat, dan air mata selama sepuluh tahun terakhir—telah ditandatangani secara paksa.
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini, Rina," ucap Ardiansyah dengan seringai menjijikkan yang tidak pernah Rina bayangkan bisa keluar dari wajah sepupunya yang biasanya tampak santun.
"Kamu memang jenius dalam berbisnis. Tapi sayang, kamu terlalu naif. Di dunia ini, orang bodoh seperti orang tuamu dan gadis penurut sepertimu hanya diciptakan untuk dimanfaatkan."
Rina ingin berteriak. Dia ingin mencengkeram kerah baju Ardiansyah dan menuntut keadilan.
Mengapa? Mengapa semua orang dalam hidupnya selalu berakhir mengkhianatinya?
Pikiran Rina berputar ke belakang, melintasi garis waktu kehidupannya yang menyedihkan.
Di usia dua puluh delapan tahun, dia mengira telah mencapai puncak kesuksesan dan bisa melupakan masa lalunya yang kelam.
Namun ternyata, fondasi hidupnya dibangun di atas pasir hisap.
Ayah dan ibunya telah lama mengabaikannya demi mengejar ambisi bisnis mereka sendiri, hingga akhirnya mereka bangkrut dan tewas dalam kecelakaan yang mencurigakan beberapa tahun lalu.
Pacar pertamanya saat SMA, Kevin, mendekatinya hanya untuk mencuri rahasia dagang keluarganya.
Teman-teman sekolahnya menjadikannya keset kaki dan bahan tertawaan.
Dan sekarang, di detik-detik terakhir hidupnya, dia mati dalam kesendirian, dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Jika saja... jika saja aku diberikan satu lagi kesempatan, batin Rina di tengah kegelapan yang mulai merenggut pandangannya.
Aku bersumpah tidak akan menjadi domba yang penurut. Aku akan menjadi serigala yang mengoyak mereka semua.
Detak jantung Rina berhenti. Kegelapan menelan kesadarannya secara mutlak.
------------------------------
Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...
Sebuah suara berdengung yang sangat mengganggu menusuk gendang telinga Rina.
Suara itu berirama, monoton, dan sangat dekat.
Napas Rina mendadak memburu. Dia tersedak, seolah-olah paru-parunya baru saja dipompa kembali dengan oksigen secara paksa.
Dia langsung terduduk tegak, tangannya secara refleks mencengkeram perutnya sendiri, mencari luka tusukan yang beberapa saat lalu merenggut nyawanya.
Namun, tidak ada darah. Tidak ada rasa perih yang membakar. Kulit di balik selembar kain kaos tipis yang dipakainya terasa utuh dan halus.
Rina mengerjapkan matanya berulang kali. Pandangannya yang buram perlahan-lahan mulai fokus.
Bau anyir darah dan kayu lapuk di gudang tua berganti dengan aroma minyak telon yang samar dan wangi detergen yang familier.
Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden merah muda yang sedikit terbuka, menerangi sebuah ruangan yang sangat dia kenali.
Kamar tidur ini... Ini adalah kamarnya saat dia masih remaja.
Rina menatap sekeliling dengan jantung yang berdebar kencang. Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja belajar kayu yang dipenuhi dengan buku-buku pelajaran tebal, sebuah binder bermotif bunga, dan deretan pulpen warna-warni.
Di dinding, tertempel sebuah poster jadwal pelajaran dengan logo megah yang sangat dia benci: Harapan Elite International School.
"Tidak... Ini tidak mungkin. Apakah ini ilusi sebelum mati?" bisik Rina, suaranya terdengar berbeda.
Suaranya terdengar lebih cempreng, lebih muda, dan bergetar penuh ketakutan.
Tangannya yang gemetar meraih sebuah benda kecil di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.
Itu adalah sebuah ponsel lipat jadul bermerek Samsung—benda yang sudah bertahun-tahun lalu dia museumkan.
Layar kecil ponsel itu menyala, menampilkan sebuah jam digital dan sebaris teks yang membuat seluruh darah di tubuh Rina mendadak membeku.
06.15 WIB – Senin, 14 Juni 2016.
"Dua ribu... enam belas?" Rina bergumam dengan napas yang tertahan.
Sepuluh tahun yang lalu.
Dia kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Tepat saat dia duduk di bangku kelas sebelas SMA.
Dengan rasa tidak percaya yang membuncah, Rina langsung melompat dari tempat tidur.
Langkah kakinya terasa agak canggung, seolah-olah tubuhnya belum terbiasa dengan proporsi yang lebih pendek dan kurus.
Dia berlari menuju cermin besar yang tergantung di balik pintu kamar mandinya.
Saat melihat refleksinya di cermin, Rina membekap mulutnya sendiri demi menahan jeritan syok.
Sosok wanita pengusaha berusia dua puluh delapan tahun yang dingin, tegas, dan selalu mengenakan pakaian formal bermerek telah lenyap.
Sebagai gantinya, di dalam cermin itu berdiri seorang gadis berusia enam belas tahun dengan tubuh yang kurus kurat akibat kurang gizi dan stres.
Rambut hitamnya yang panjang tampak acak-acak dan tidak terawat, dan yang paling parah, poni tebalnya dipotong dengan sangat buruk hingga menutupi hampir seluruh dahinya, menyembunyikan sepasang mata yang sebenarnya indah di balik kacamata bermata tebal dengan bingkai plastik hitam yang murah.
Ini adalah sosok Rina si "gadis kuper".
Rina si korban perundungan.
Rina yang selalu menundukkan kepala setiap kali berjalan di koridor sekolah karena takut ditertawakan.
Rina menyentuh permukaan kaca cermin dengan ujung jarinya. Kulit wajahnya terasa nyata.
Dinginnya kaca terasa nyata. Rasa panik dan adrenalin yang berpacu di dalam dadanya juga terasa sangat nyata.
Ini bukan mimpi.
Ini bukan halusinasi menjelang ajal.
Dia benar-benar telah mengalami regresi.
Tuhan—atau apa pun kekuatan di alam semesta ini—telah mendengarkan kutukan terakhirnya di gudang tua itu dan melemparkannya kembali ke masa lalu.
Perlahan, rasa syok di dalam diri Rina mencair, digantikan oleh sebuah gelombang emosi baru yang jauh lebih kuat: amarah yang membara dan kepuasan yang dingin.
Sebuah senyuman tipis, yang tampak sangat tidak selaras dengan wajah polos gadis remaja itu, perlahan terukir di bibirnya.
Dua ribu enam belas, batin Rina, matanya berkilat tajam di balik lensa kacamatanya yang tebal.
Tahun di mana semua kehancuranku dimulai.
Tahun di mana Sherly menginjak-injak harga diriku, tahun di mana Kevin mulai mendekatiku dengan senyum palsunya, dan tahun di mana keluargaku mulai runtuh karena keserakahan orang lain.
Rina mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sifatnya yang dulu penakut, pemalu, dan selalu ingin menyenangkan semua orang telah mati bersama tubuhnya yang bersimbah darah di masa depan.
Di dalam tubuh remaja ini, sekarang bersemayam jiwa seorang wanita dewasa yang telah mengecap asam garam dunia bisnis, yang tahu bagaimana cara membaca niat busuk manusia, dan yang paling penting: dia tahu semua hal yang akan terjadi di masa depan.
"Kehidupan kedua ini, aku bukan lagi korban," ucap Rina pada dirinya sendiri, suaranya kini terdengar penuh penekanan dan dingin menembus keheningan kamar.
"Kalian semua yang pernah meremihkanku, memanfaatkan ketulusanku, dan merampas apa yang menjadi milikku... bersiaplah. "
"Aku yang akan memimpin permainan ini sekarang."
Rina melirik jam di dinding.
Sudah pukul setengah tujuh pagi. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah di semester ganjil kelas sebelas.
Hari di mana geng Sherly akan menagih tugas musim panas yang sengaja mereka limpahkan padanya.
Dengan ketenangan yang menakutkan, Rina berjalan menuju lemari pakaiannya.
Dia mengambil seragam kotak-kotak khas Harapan Elite International School yang digantung dengan rapi.
Saat dia menyetrika seragam itu, setiap lipatan kain terasa seperti persiapan baju zirah sebelum menuju medan perang.
Dia tidak akan mengubah penampilannya secara drastis hari ini.
Tidak perlu terburu-buru. Musuh-musuhnya harus tetap menganggapnya sebagai Rina yang lemah, Rina yang bodoh, dan Rina yang bisa mereka kendalikan.
Kejutan terbesar adalah ketika seekor domba yang mereka giring ke bantai, mendadak berubah menjadi serigala yang siap merobek tenggorokan mereka saat mereka lengah.
Rina menyisir poninya yang tebal ke bawah, memastikan matanya tersembunyi dengan sempurna di balik kacamata besarnya.
Dia mengambil tas ranselnya, memasukkan beberapa buku catatan, dan melangkah keluar dari kamar.
Langkah pertamanya menuju takhta sekolah elite itu dimulai hari ini. Dan Rina memastikan bahwa kali ini, tidak akan ada satu pun pengkhianat yang lolos dari pembalasannya.