NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Sumbu yang Terbakar Sore Hari

Tangisan histeris Risa masih menyisakan dengung yang menyakitkan di telinga Irmi saat janda kaya itu melangkah keluar dari lorong kosan putri. Di dalam mobilnya yang panas oleh sengatan sisa matahari sore, Irmi mencengkeram kemudi dengan tubuh yang bergetar hebat. Pengakuan polos dari mahasiswi yang ketakutan setengah mati di balik selimut semalam telah meruntuhkan seluruh sisa harapan yang ia gantungkan pada Hino. Pria yang ia beli dengan modal dua gerai minimarket itu bukan lagi sekadar suami siri yang berselingkuh, melainkan seekor binatang yang bergerak tanpa rasa takut pada hukum di bawah atap rumahnya sendiri.

"Tolong... tolong jangan lagi pernah mencariku, Mbak," bisikan lirih Risa sebelum pintu kosan itu tertutup rapat kembali terngiang, menegaskan bahwa mahasiswi itu benar-benar ingin menghilang dan bungkam dari lingkaran gila ini demi menyelamatkan draf skripsinya.

Irmi menyalakan mesin mobil dengan satu sentakan kasar. Rasa sedihnya kini telah menguap, digantikan oleh cairan racun cemburu dan harga diri seorang putri pilot yang tidak sudi diinjak-injak lagi oleh para benalu di rumah bawah. Mobilnya melesat membelah jalanan kompleks, menuju kembali ke kontrakan dua lantai yang kini terasa seperti neraka jahanam bagi batinnya.

Tepat pukul lima sore, pintu depan rumah bawah dihantam terbuka hingga membentur dinding keramik dengan suara dentuman yang nyaring. Erni yang sedang duduk santai di kursi meja makan tengah sambil mengagumi kunci laci kasir gerai toko kedua yang baru ia dapatkan, langsung tersentak kaget. Ia menoleh, mendapati wajah Irmi yang pucat dengan mata merah menyala penuh gairah membunuh.

"Apalagi yang kau mau, Jeng Irmi? Belum puas menangis di lantai atas tadi?" cibir Erni, ia sengaja menggoyangkan kunci toko di depan dada dasternya, mencoba memprovokasi janda kaya yang ia anggap sudah kalah telak itu.

Irmi melangkah lebar, memangkas jarak di antara mereka dalam tiga detik. Sebelum Erni sempat bangkit dari kursinya, Irmi merenggut kerah daster mahal Erni, memaksa istri sah Hino itu berdiri dengan wajah terkejut. Kehamilan dua bulan di dalam perut Irmi seolah memberikan kekuatan mistis yang membuat cengkeraman jarinya begitu menyiksa kulit leher Erni.

"Kembalikan kunciku, Erni!" desis Irmi, suaranya sangat rendah, serak, namun sarat akan intonasi tajam yang tidak lagi memiliki rasa takut pada ancaman digital ponsel Linda atau gertakan warga kampung.

Erni mencoba menepis tangan Irmi, namun tubuhnya yang sedang hamil tua membuatnya kehilangan ruang gerak. "Kau sudah gila, ya?! Lepaskan! Kau mau aku laporkan ke ketua RT karena mencoba menggugurkan kandungan istri sah?!"

"Laporkan saja! Biar seluruh kampung ini tahu sekalian kalau suamimu itu seekor binatang yang meniduri dosen di lantai dua semalam!" jerit Irmi, tawanya pecah menjadi tawa hambar yang mengerikan di tengah kesunyian ruang tengah. Irmi melepaskan cengkeramannya dengan satu sentakan kuat hingga Erni terhuyung kembali ke kursinya.

Irmi berdiri tegak, menatap Erni dari atas ke bawah dengan tatapan miring yang sarat akan kemuakan mutlak. Ego tinggi sebagai pemilik modal yang selama ini menahan diri karena takut digerebek warga mendadak hancur, membebaskan insting liarnya untuk menyerang balik posisi ekonomi Erni.

"Aku akui aku menggoda suamimu, Erni! Karena aku kaya dan aku punya segalanya untuk membeli pria miskin seperti Hino!" ucap Irmi, suaranya menggelegar memenuhi sudut-sudut plafon rumah bawah. Ia maju satu tahap, menekan mental Erni yang mulai goyah melihat kenekatan jandanya. "Sekarang coba kau pikir pakai otak pembantumu itu. Erni, aku posisikan bahwa aku ini janda miskin sore ini. Aku suka suamimu. Apa kau bakal tetap menuntut harta dariku?! Atau kau mau minta cerai?!"

Erni tertegun, mulutnya terkunci rapat saat melihat sorot mata Irmi yang benar-benar sudah tidak peduli lagi pada uang atau reputasi bisnisnya.

"Kau bisa berlagak garang dan memeras tokomu di bawah ini karena aku kaya, Erni! Kau bisa membeli daster mahal dan cincin emas itu karena uangku!" bisik Irmi tepat di depan wajah Erni yang mulai pucat menahan ngeri. "Ingat, jangan ngelunjak! Mulai malam ini, aku tidak akan lagi memberikan sepeser pun hartaku atau hasil toko kedua itu padamu. Biarkan suamimu mendekam di penjara karena laporan pemerkosaan dari Linda, dan kau... silakan kembali mengais sampah di jalanan bersama anak di dalam rahimmu itu!"

***

Di gerai minimarket depan, jarum jam seolah bergerak lambat menembus angka setengah enam sore. Hino masih berdiri terpaku di balik meja kasir utama, memegangi ponsel toko yang layarnya masih menyala menampilkan pesan teks bernada ancaman darah dari Erni beberapa menit lalu. Kulit wajahnya yang tampan kini berubah abu-abu, dan keringat dingin membasahi seluruh punggung jaket hitamnya.

Pikiran Hino pecah berantakan antara rasa takut pada amukan Erni malam nanti, bayangan noda leher Linda yang bocor, dan jerat dosa Bu Hina di rumah mewah seberang jalan yang baru ia kunci tadi pagi. Pria itu sadar, sumbu petasan di rumah kontrakannya sudah terbakar sore ini, dan begitu shift kerjanya selesai malam nanti, ia akan pulang menuju pecahan badai domestik yang siap menguliti seluruh hidupnya tanpa sisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!