NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.6k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sebelas

Perpisahan itu akhirnya datang juga. Ingin menolak ajakan Vino, tetapi tak memiliki kuasa. Seperti petuah sang ayah jika tanggung jawabnya kini telah berpindah penuh kepada suaminya.

“Olivia milik Vini. Tanggang jawabmu sekarang ada pada suamimu. Taati dan ikuti perintah Vino. Kalau dia mengajakmu pada keburukan baru bisa ditolak dan jika dia menyakitimu, Ayah menjadi orang pertama yang akan menghajarnya.” Begitu kalimat terkahir Amri untuk melepas anak bungsunya merantau.

Di sebelah Olivia, Aminah menangis sesunggukan. Sejujurnya, wanita paruh baya itu sangat berat melepaskan Olivia pergi. Terlebih, belum jelas ke mana mereka akan tinggal. Ingin mengantar, tetapi dilarang oleh sang suami.

“Enggak usah ikut. Nanti kalau mereka sudah ngontrak rumah baru kita ke sana.”

Ya. Vino memang akan mengajak Olivia tinggal di sebuah kamar indekos yang hanya sepetak saja. Luasnya bahkan hanya 2x2 meter saja. Sebuah ruangan yang dijadikan sebagai tempat serba guna. Ruang tamu, kamar tidr, dapur berada dalam satu ruangan. Untunglah masih memiliki ruangan tersendiri sebagai kamar mandi, walaupun berada dalamsatu ruangan itu.

Acara perpisahan akhirnya berakhir. Sebuah pelukan erat dari sang bunda dengan derai air mata sebagai tanda melepaskan kepergian Oliva dengan berat hati.

Olivia tidak kalah sedihnya. Air matanya pun terus mengalir sampai bayangan rumah tempatnya lahir dan tumbuh itu menghilang dari pandangan. Sampai-sampai, Vino harus menghentikan kendaraannya demi meredakan tangisan Olivia yang semakin menjadi-jadi. Seperti seekor anak ayam yang kehilangan induknya.

“Sudah, dong, nangisnya. Kita harus segera jalan lagi. Nanti enggak sampai-sampai. Apalagi harus beristirahat juga saat capek. Bisa-bisa besok pagi baru sampai.” Vino mulai merayu. Sayangnya bukan rayuan yang keluar dari lisannya melainkan keluhan diiringi dengkusan kesal.

Tadi memang Vino sempat merasa sedih melihat perpisahan Olivia dengan kedua orang tuanya. Namun, lambat laun kesedihannya itu berubah menjadi kejengkelan ketika Olivia terus saja menangis.

“Malu, dong, Oliv. Nanti dikira di apa-apain lagi.” Vino membuka helemnya. Wajahnya tampak murung dan serba salah. Ingin mengembalikan Olivia kepada orang tuanya, tetapi tidaklah mungkin.

Mana mungkin Vino bisa berpisah lama dengan Olivia? Sehari saja tidak bertemu hancur sudah harinya tersebut.

Vino mengembuskan napas kasar. “Ya sudah, nangis aja yang kenceng. Aku tungguin. Nanti kalau sudah selesai baru kita jalan. Sampai sore di sini juga enggak apa-apa. Aku enggak masalah.”

“Aku mau pulang.” Olivia merengek manja.

“Selain minta pulang.” Vino berkata tegas, tidak bisa dibantah. Herannya, ketegasannya itu malah membuat tangisan Olivia mereda. Bahkan terhenti seketika.

‘Tau gitu aku tegasin aja,’ gerutu Vino dalam hati. “Dasar cewek.” Hanya itu kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Kenapa?” ketus Olivia dengan suara serak.

“Enggak.” Vino kembali memasang helm, lalu duduk jok kendaraan roda duanya. “Sudah belum nangisnya?” tanyanya setelah menoleh ke belakang. Olivia juga telah naik ke motor dan duduk di belakangnya.

“Sudah. Ayo jalan.” Olivia menepuk bahu Vino dengan keras. Ia memang sengaja melakukannya karena merasa kesal kepada suaminya itu.

Vino yang menerima pukulan itu pun meringis kesakitan. Biasanya ia akan menjerit dan membalas dengan menggelitik perut Olivia. Namun tidak kali ini, Vino lebih memilih untuk menahannya. Sebab waktu dan kondisinya tidak tepat untuk melakukan aksi kejahilan kecil. Hal yang menjadi prioritasnya saat itu adalah bagaimana caranya agar segera sampai ke indekosnya. Agar bisa istirahat dan esok pagi harus mencari sesuatu yang bisa dikerjakan. Mereka butuh makan.

Olivia merasa heran karena Vino tidak merespons pukulannya. Iseng, Olivia pun mencubit pinggang Vino. Masih tidak juga direspons, Olivia pun menggelitik perut Vino hingga menyebabkan motor yang dikendarai menjadi oleng. Untung saja tidak menyebabkan kecelakaan. Vino dengan sigap mengendalikan keseimbangan kenderaan roda dua itu.

“Sayang.” Vino menekan suaranya pada panggilan itu. “Kita harus segera sampai. Kalau maumain-main nanti di kamar saja, ya. Aku ladeni sampai puas,” lanjut lelaki itu dengan geram.

“Iya ... iya, aku kira kamu marah.” Olivia menunduk dalam. Menyahut suara Vino dengan perasaan bersalah.

“Mana bisa aku marah sama kamu. Wajahmu imut nggemesin begitu.” Vino terkekeh pelan.

“Dasar tukang gombal,” timpal Olivia dengan semburat merah di kedua pipinya.

Vino pun kembali melajukan kendaraannya membelah jalanan yang dihiasi pemandangan pepohonan kelapa sawit.

Setelah melewati perkebunan kelapa sawit yang membentang luas di sepanjang mata memandang, akhirnya mereka pun sampai di jalanan yang ramai oleh lalu lalang kendaraan. Walaupun tidak seramai hiruk pikiknya perkotaan, tetapi sudah cukup melegakan. Dari sana masih membutuhkan kurang lebih lima jam perjalanan lagi.

Vino memilih tempat beristirahat, sekadar minum es kelapa muda untuk menghilangkan dahaga dan menciptakan senyum manis di wajah istrinya.

Setelah kurang dari tiga puluh menit menikmati pacaran. Lelaki itu pun kembali melajukan kendaraan membelah jalanan.

Sesekali Vino akan bersenandung riang. Ternyata bepergian berdua bersama pasangan seperti itu sungguh mengasyikkan.

Tidak terasa, matahari mulai bersembunyi melanjutkan tugas memberikan cahaya di belahan bumi yang lain. Berganti malam yang memperlihatkan bulan ditemani bintang gemintang. Vino memilih bersitirahat di rumah makan, mengisi perut yang mulai keroncongan. Jika siang tadi ia memilih makan siang di kedai saja. Berbeda dengan malam ini. Mereka harus mengisi energi lebih banyak, agar tenaganya bertahan sampai esok hari.

“Capek?” tanya Vino kala memandang wajah Olivia yang tampak pucat.

“Hm.” Olivia hanya bergumam pelan, malas menjawab pertanyaan tidak penting suaminya. ‘Jelas capeklah, berapa jam coba duduk di atas motor,’ lanjutnya dalam hati.

“Mau mandi di sini atau nanti saja. Satu jaman lagi kita sampai, kok.” Vino berujar pelan seraya menampilkan senyum tipis. Ia tahu, suasana Olivia sedang tidak baik-baik saja.

“Nanti aja, deh, sekalian di sana.” Olivia melenggang masuk ke dalam restoran memilih tempat duduk di samping jendela.

Tidak hanya diisi oleh kendaraan roda dua saja. Lapangan parkir yang berada tepat di pintu masuk restoran itu, juga dipenuhi oleh mobil-mobi beroda empat dan lebih.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!