Rachel~
Tidak ada yang percaya padaku saat itu, aku begitu terpuruk bahkan rasanya hampir kering air mata ini karena terlalu banyak menangis...
Menceritakan tentang seorang gadis yang begitu menyedihkan, Ia hidup dalam kesendirian bahkan bisa dibilang dirinya tidak punya teman.
Pernah sekali ia merasakan bagaimana rasanya mempunyai seorang sahabat, tapi itu semua tidak berlangsung lama.
Orang tua yang tidak pernah menyayanginya tanpa alasan yang jelas, hingga suatu saat kebenarannya terungkap saat dirinya dijebak juga membuatnya hampir depresi.
Ia bukanlah seorang anak yang bisa melakukan semuanya, ia hanyalah seorang gadis yang lemah. Mempunyai IQ yang rata-rata atau bahkan bisa dibilang rendah membuatnya semakin merasa tidak berguna.
Hidup dari kecil dikalangan orang berada membuatnya tidak bisa membuat sesuatu sendiri, tapi bagaimana jadinya jika tiba-tiba semua kemewahan itu hilang dari pada hidupnya?
Simak selengkapnya disini yah, tentang gadis yang bernama Rachelle Audrey
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon melciballu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 10- perdebatan kecil
Adit tak tau harus membawa Rachel kemana, dengan terpaksa ia menggendong tubuh lemah Rachel yang sudah tak sadar itu ke mobilnya yang masih terparkir di parkiran mall.
Ia juga kembali menghubungi sang kekasih bahwa ia tak bisa menemuinya malam ini karena ada halangan. Awalnya Cika sempat protes tapi ia memberi alasan bahwa ibunya yang meminta barulah Cika mengijinkannya.
Tak tau harus membawa Rachel kemana, Alan memutuskan untuk membawa Rachel ke apartemennya.
Sedangkan Alan, saat ini ia sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat hiburan malam di kota itu. Ia bukanlah seorang pria bejat yang akan menuntaskan emosinya bersama para wanita malam.
Ia ke sini hanya ingin melepaskan semua beban pikirannya dengan alkohol walau hanya sesaat.
Sekitar 40 menit ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, kini ia sudah tiba di club yang terkenal di kota itu, lalu menghubungi kedua sahabatnya karena ia tau pasti Adit tidak akan datang.
Alan masuk kedalam terlebih dahulu lalu memesan minuman keras itu entah apa namanya, Ia duduk di kursi pojok sendiri karena suasana masih sepi waktu juga masih menunjukkan pukul delapan malam.
sekitar lima puluh menit kemudian, terlihat Rendy dan Dave datang menghampirinya. Mereka heran kenapa Alan bisa ke tempat terkutuk seperti ini.
"Lo kenapa?" tanya Dave.
"gadis sialan itu.." racau Alan yang terlihat sudah tidak sadar.
Rendy dan Dave terlihat bingung. Siapa gadis yang dimaksud Alan setau mereka Akan belum menjalin hubungan dengan siapapun saat ini.
Saat ingin bertanya lebih lanjut siapa yang di maksud olehnya, ternyata Alan sudah tertidur.
Tapi satu yang masih mengganjal dipikiran Rendy, dimana Rachel, apakah tadi ia sempat mengantarkannya pulang? 'pasti Rachel sudah dia antar pulang..'
"Ren, kita harus bawa Alan kemana?" tanya Dave pada Rendy.
"kayaknya kita bawa ke apartemen kamu aja deh, takutnya Tante Dena shock lihat keadaan dia" jelas Rendy.
Dave mengangguk mengiyakan. "ya udah bantuin gue bawa Alan ke mobil" ucap Dave dan Rendy mengangguk.
Beda hal-nya dengan Adit dan Rachel, Adit sudah tiba di basemen apartemen-nya tapi ia merasa bingung harus membawa Rachel atau tidak.
Sisi kemanusiaan-nya mengatakan menolong gadis itu tapi ia merasa enggan, apalagi ia adalah seorang wanita.
"heii bangun.."Dengan pelan Adit menepuk-nepuk pipi Rachel.
Melihat tak ada pergerakan, Adit kembali menepuk-nepuk pipi Rachel lagi berharap kali ini gadis itu akan bangun.
"hey bangunn" ucapnya lagi tapi sama seperti sebelumnya, Rachel tak kunjung sadar.
"cari cara Adit, jangan biarkan apartemenmu di huni oleh gadis asing ini.."gumamnya, sesaat kemudian..
"kenapa gue bodoh banget sihhh" gumamnya sambil menepuk jidatnya.
"tapi gimana cara ngobatinnya? nggak ada cara lain" ucapnya lagi.
Dengan agak ragu, Adit keluar dari mobilnya lalu membuka pintu sebelahnya dan mengangkat tubuh gadis itu. "tapi masa gue bawa ke dalam sih..kalau tiba-tiba ada yang datang gimana" gumamnya lagi.
Adit kembali mendudukkan tubuh Rachel ke kursi mobilnya lalu memikirkan lagi cara yang lain. "atau gue bawa ke rumah sakit aja yah" ucapnya lagi dengan wajah yang berbinar bahagia.
Ia memang sudah seperti orang bodoh karena hal sepele ini. Dengan cepat ia masuk kedalam mobilnya, ia sudah memikirkan alasan jika nanti dokter akan bertanya yang macam-macam padanya.
Dengan kecepatan rata-rata ia mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat yang hanya memakan waktu beberapa menit saja.
Saat sudah tiba, ia menggendong tubuh Rachel dan memanggil beberapa orang suster agar membantunya.
Kini tubuh Rachel sudah berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan di periksa oleh seorang dokter wanita dan seorang suster, sedangkan Adit menunggu diluar sambil memainkan handphone nya.
Dokter keluar dari ruangan itu dengan kondisi wajah yang tidak bisa dibilang santai. Tepat seperti dugaan Adit jika dokter pasti akan mempermasalahkan keadaan Rachel apalagi tanda merah dilehernya yang putih semakin terlihat.
"maaf pak,.bisa bicara sebentar?" ucap dokter itu membuat Adit yang sedang sibuk dengan ponselnya mengangkat kepalanya. Adit merasa tidak suka dengan panggilan dokter itu, rasanya ia tidak setua itu juga.
Dengan sedikit malas ia mengangguk. "silahkan dok"
"bapak bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" ucap dokter itu lagi dengan menyebut Adit 'bapak' membuatnya benar-benar tidak nyaman.
"jangan panggil saya bapak! saya punya nama kalau anda tidak tau" ucapnya kesal pada dokter wanita paruh baya itu.
enak aja, orang tampan begini tapi disebut bapak
"ya udah, mari ikut saya" ucap dokter itu lalu berjalan mendahului Adit kesebuah ruangan yang Adit duga adalah ruangan dokter itu.
Adit masuk dan duduk dikursi tepat di hadapan dokter itu. "ada apa?" tanya Adit kemudian dengan nada yang kurang bersahabat.
"saya menemukan tanda merah seperti tangan dileher pasien" ucap Dokter itu sambil menatap Adit curiga.
"terus dokter pikir saya yang menyebabkannya?" tanya Adit sinis.
dokter itu menghembuskan nafas kesal. Anak muda ini sangat kurang ajar dan tidak punya sopan santun. "bukan maksud saya untuk menuduh anda, tapi anda sendiri yang membawa pasien ke sini dan saya minta penjelasan!" ucap Dokter itu tegas.
"saya menemukan dia di jalan" ucap Adit.
"apakah tidak ada kartu identitas atau sebagainya?" tanyanya lagi.
"tidak!" jawab Adit ketus. "apakah saya boleh pergi?" lanjutnya.
"selagi pasien belum sadarkan diri, Anda belum diperbolehkan untuk pergi karena pasien adalah tanggungjawab Anda yang membawanya ke sini" jelas dokter itu membuat Adit geram.
"kalau masalah biaya saya bisa melunasinya!" ucapnya sombong. "merepotkan saja" lanjutnya.
Baru kali ini ia direpotkan seperti ini, bahkan orang tuanya belum pernah menyuruhnya macam-macam.
"terserah Anda saja" ucap dokter itu lalu Adit keluar dari ruangannya tanpa permisi membuatnya geleng kepala merasa heran.
...----------------...
Rachel mengerjabkan matanya akibat silau karena cahaya yang berada tepat di penglihatannya. setelah matanya membiasakan dengan cahaya itu, ia memperhatikan sekitarnya yang tampak asing dengan ruangan yang didominasi warna putih itu.
Dengan pelan ia menoleh kesamping karena lehernya masih sakit bahkan tenggorokannya juga. 'infus' gumamnya.
ternyata ia melihat selang infus yang terpasang rapi ditangannya. "siapa yang bawa aku kesini?' Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka menampilkan sesosok yang menatapnya tajam.
"k-kak Adit" ucap Rachel sedikit terkejut dan juga takut.
"hmm"
"Lo bisa jalan sendiri kan?"
Rachel mengangguk pelan. "ayo ikut gue"
"tapi ini" Rachel menunjuk selang infus yang tertempel ditangannya.
Adit berjalan mendekat ke arah brankar dan menekan intercom yang tak jauh dari situ. Tak lama kemudian dokter datang dengan seorang suster.
......TO BE CONTINUED......