NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga kemerahan di atas atap rumah Nek Nilam. Di dalam rumah, atmosfer terasa begitu menghimpit. Nina duduk menyendiri di tepi ranjang kamar, pikirannya berputar hebat bagaikan benang kusut. Sejak kemarin, ada satu ganjalan besar yang menggaruk-garuk lubang logikanya.

Semua kejadian ini bergerak terlalu pas untuk disebut sebagai kebetulan. Kemarin, wanita bernama Hana itu muncul secara mendadak di desa mereka, mengontrak rumah persis di seberang jalan, dan langsung menawarkan pinjaman uang. Lalu, belum genap dua puluh empat jam kemudian, Roni mendadak dipecat dari pabrik kayu tempatnya bekerja bertahun-tahun tanpa alasan yang masuk akal.

Intuisi seorang istri yang pernah ditempa dalam kawah penderitaan, berbisik begitu tajam. Nina meremas jemarinya sendiri. Ia bangkit, melangkah keluar kamar menghampiri Roni yang sedang terduduk lesu di kursi kayu ruang tamu. Pria itu menatap lantai dengan tatapan kosong, diliputi beban berat atas status barunya sebagai pengangguran.

Nina menarik kursi, lalu duduk tepat di samping suaminya. Diraihnya jemari Roni yang terasa dingin, digenggamnya rapat-rapat.

"Mas," panggil Nina dengan suara lembut.

"Ada hal besar yang mengusik pikiranku sejak tadi siang. Dan aku tidak bisa menahannya lagi."

Roni perlahan mendongak, menatap manik mata istrinya yang bening. "Ada apa, Dek? Kamu memikirkan soal biaya hidup kita ke depan?"

Nina menggeleng pelan. "Bukan soal itu, Mas. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Hana. Coba Mas pikirkan baik-baik. Dia datang ke desa ini tiba-tiba, menyewa kontrakan pas di seberang rumah ini, dan langsung menawarkan pinjaman uang pada warga, termasuk kita. Lalu, tak berselang lama, Mas di pecat dari pabrik. Apakah Mas tidak merasa ada benang merah di antara semua kejadian ini?"

Roni tertegun. Dahinya berkerut dalam. "Maksudmu bagaimana, dek? Mas tidak paham."

"Firasatku mengatakan kedatangan Hana ke desa ini bukan sekedar kebetulan, Mas," jelas Nina.

"Aku takut, aku sangat takut kalau pemecatan Mas di pabrik itu ada campur tangannya. Dia sengaja membuat Mas terpuruk agar kita tidak punya pilihan selain meminjam uang padanya."

Roni menghela napas panjang, mencoba mencerna tuduhan istrinya. Di satu sisi, ia tahu Hana adalah masa lalunya, seorang wanita yang pernah mengkhianatinya karena perselingkuhan. Namun di sisi lain, benak Roni kesulitan mencerna bagaimana seorang wanita biasa bisa mengatur skenario pemecatan di pabrik kayu yang besar.

"Tapi, Dek... Hana cuma menawarkan usaha pinjaman modal," sahut Roni ragu. "Apakah mungkin dia bisa mengatur pabrik untuk memecatku? Dari mana dia punya kekuatan seperti itu?"

Nina mempererat genggaman tangannya, menatap lurus ke dalam manik mata Roni. "Aku memang belum punya bukti fisik, Mas. Tapi kita harus tetap waspada. Dunia ini penuh dengan jebakan yang dibungkus dengan niat baik. Tolong, Mas... berjanjilah padaku untuk tidak terlalu dekat atau menerima apa pun dari wanita itu."

Melihat ketakutan yang tulus di mata istrinya, Roni akhirnya mengangguk pelan. "Iya, Dek. Mas mengerti. Mas akan berhati-hati."

Belum sempat percakapan itu mendingin, ketukan di pintu depan mendadak memecah keheningan rumah.

Tok...tok..

Roni dan Nina saling pandang sejenak. Roni berdiri lalu melangkah membuka pintu. Begitu daun pintu kayu itu terkuak, sosok yang baru saja mereka bicarakan sudah berdiri di sana.

Hana tampil begitu mencolok di tengah kesederhanaan suasana desa. Ia mengenakan gaun modern berwarna cerah, tas kulit bermerek yang menggantung di bahunya, serta perhiasan emas yang berkilauan ditimpa sinar sore. Senyum lebar nan penuh kepalsuan mengembang di bibirnya yang bergincu merah menyala.

"Halo, Roni! Halo, Nina!" sapa Hana dengan nada riang yang dibuat-buat, tanpa diundang langsung melangkah memasuki ambang pintu. Matanya bergerilya meneliti setiap sudut rumah.

Pasangan suami istri itu hanya saling pandang.

"Wah... ternyata rumah kalian nyaman juga ya, walau ada di pinggir hutan begini."

Nina berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap tenang, meski dadanya bergemuruh.

"Iya, terima kasih, Mbak Hana," jawab Nina dingin, sengaja mengambil jarak berdiri di belakang Roni.

Hana mengalihkan pandangan sepenuhnya pada Roni. Matanya memancarkan ketertarikan yang tak lagi berusaha disembunyikan.

"Roni... aku baru saja mendengar kabar yang sangat mengejutkan tentang pekerjaanmu di pabrik," ujar Hana dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mengandung empati palsu. "Sayang sekali ya, padahal kamu itu pria yang sangat berpotensi dan pekerja keras. Tapi kamu tidak perlu khawatir, Ron. Aku ada di sini. Kebetulan, usaha pinjaman modal bersubsidi milikku punya bunga yang sangat rendah. Kamu bisa pakai uang itu untuk membuka usaha kayu sendiri atau modal apa saja."

Roni membeku di tempatnya. Kalimat Hana bagaikan hantaman godam di dadanya. Sebuah kecurigaan mendadak merekah.

"Tunggu, Mbak Hana..." potong Nina cepat sebelum Roni sempat bersuara. Mata Nina menatap lurus wajah Hana dengan pandangan mengintimidasi. "Dari mana Mbak Hana bisa tahu kalau suami saya baru saja dipecat dari pabrik? Mas Roni baru sampai di rumah beberapa jam yang lalu, dan kami belum memberitahukan kabar ini pada satu orang warga pun di desa ini."

Pertanyaan menohok dari Nina membuat senyum di wajah Hana seketika membeku. Matanya berkedip cepat, diliputi kepanikan kecil yang berusaha ditutupinya.

"O-oh... itu..." Hana tertawa canggung, mengibaskan tangannya di udara.

"Tadi... tadi ada temanku yang juga bekerja di pabrik itu. Dia bercerita padaku tentang insiden di sana."

"Siapa nama teman Mbak Hana itu?" desak Nina tak memberikan ruang untuk mengelak.

Hana makin tersudut. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya di balik riasan tebal. "Anu... itu... Firman. Iya, Firman! Tapi kami bukan teman dekat kok, cuma pernah ada urusan bisnis sedikit di kota dulu."

Mendengar nama 'Firman' diucapkan langsung dari mulut Hana, dada Roni bergemuruh hebat. Firman adalah orang yang telah menuduh dan menyabotase pekerjaannya hingga ia ditendang dari pabrik! Puzzle kejahatan itu kini mulai tersusun makin terang di benak Roni.

Menyadari situasi mulai tidak menguntungkan baginya, Hana bergegas mengalihkan pembicaraan dengan wajah yang dipaksakan berseri-seri.

"Sudahlah, tidak usah membahas orang lain. Bagaimana dengan tawaranku tadi, Ron? Mau ambil modal berapa?"

Roni menatap Hana dengan pandangan yang tak lagi sama. Selubung keramahan pria itu sirna, berganti ketegangan yang nyata. "Terima kasih atas tawarannya, Han. Tapi untuk saat ini, aku dan istriku masih sanggup mengurus kehidupan kami sendiri tanpa perlu meminjam uang pada siapa pun."

Hana mengerutkan keningnya sejenak, kecewa atas penolakan tegas itu. Namun ia cepat-cepat mengulas senyum manisnya kembali. "Tentu saja... Pikirkanlah baik-baik dulu, Ron. Tapi ingat ya, kesempatan emas seperti ini tidak datang dua kali. Kadang datang di saat kita berada di titik paling bawah."

Setelah menebarkan kalimat penuh manipulasi, Hana akhirnya pamit melangkah pergi melintasi jalan menuju kontrakannya.

*

Hari-hari berikutnya menjadi ujian ketahanan mental bagi Nina dan Roni. Hana tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerah. Justru, strategi wanita itu makin agresif dan terstruktur. Setiap pagi atau sore, Hana selalu menemukan alasan untuk mengetuk pintu rumah mereka, mulai dari berpura-pura menanyakan kabar, menawarkan info lowongan kerja bodong, hingga membawa oleh-oleh untuk Gendis.

Suatu pagi yang cerah, suara ketukan pintu kembali terdengar.

"Halo Nina, Roni! Lihat, aku membawa makanan hangat untuk kalian. Supaya kamu tidak perlu repot-repot masak pagi ini, Nin," seru Hana dengan wajah tanpa dosa, menyodorkan sebuah rantang susun dua pada Nina.

Nina menatap rantang itu dengan tatapan enggan. "Terima kasih banyak, Mbak Hana. Tapi aku sudah selesai memasak di dapur," tolak Nina sangat halus namun dingin.

"Ah, jangan sungkan begitu, Nina!" sergah Hana setengah memaksa, menjejakkan kakinya melintasi ambang pintu.

"Aku cuma mau membantu. Roni kan sekarang sedang tidak bekerja, aku kasihan melihat kalian harus berhemat terlalu ketat."

Roni yang baru keluar dari kamar mandi mengeringkan rambutnya dengan handuk melangkah mendekat. "Terima kasih perhatiannya, Hana. Tapi kami sungguh tidak apa-apa. Aku sedang berusaha melamar ke tempat lain, jadi kamu tidak perlu repot-repot memikirkan keadaan kami."

Hana tertawa renyah, nada suaranya berubah manja dan menggoda.

"Ya ampun, Roni... Jangan terlalu keras kepala begitu, ah. Dari dulu kamu memang tidak pernah berubah. Sesekali menerima bantuan dari teman lama kan tidak ada salahnya?"

Namun, di balik topeng kepedulian dan ceramah manisnya, ada bahaya mematikan yang tersembunyi rapat di balik susunan rantang tersebut.

Malam sebelumnya, Hana telah mendatangi seorang dukun berilmu hitam di sebuah desa terpencil. Di sana, ia menukarkan sejumlah uang tunai dengan minyak pelet pengasihan dan serbuk guna-guna yang ganas. Hana telah membagi racun gaib itu ke dalam dua wadah makanan di dalam rantang tersebut. Wadah untuk Nina diisi serbuk pembuat pikiran linglung dan pembawa sial, sementara wadah khusus untuk Roni telah dicampuri minyak pelet dosis tinggi yang dirancang untuk mengikis rasa cintanya pada Nina dan mengalihkan seluruh jiwa raga pria itu pada Hana.

Ketika rantang itu akhirnya diletakkan di atas meja tamu, Hana mengawasi gerakan Roni dari sudut matanya dengan debar dada yang penuh antisipasi. Ia tak sabar melihat Roni menyantap makanan itu dan menyaksikan sihir hitam itu mulai merusak akal sehat sang mantan kekasih.

Namun, skenario gaib itu tidak berjalan mulus. Nina yang sejak awal dihantam firasat buruk sama sekali tidak menyentuh masakan tersebut. Sedangkan Roni, yang merasa tidak enak hati, hanya menyicipi sesuap kecil sebelum akhirnya diajak Nina ke dapur untuk menyantap makanan buatan istrinya sendiri.

*

Malam harinya, ketika keheningan membungkus desa dan alunan jangkrik bersahutan di perbatasan hutan, Nek Nilam duduk di ruang tengah.. Sejak kedatangan Hana membawakan rantang makanan tadi pagi, dada Nek Nilam terasa sesak. Bau bunga kantil dan hawa dingin yang aneh membayang di sekeliling rumah mereka.

Nek Nilam memanggil Nina yang sedang menimang Gendis di kamar, membimbing cucunya duduk berdua di sudut ruang tamu.

"Nduk Nina..." panggil Nek Nilam dengan nada suara yang amat serius dan berbisik.

"Iya, Nek? Ada apa?" tanya Nina heran melihat raut wajah neneknya yang tegang.

Nek Nilam memegang kedua belah tangan Nina. Tangannya terasa agak gemetar. "Dengarkan wejangan Nenek baik-baik, Nduk. Mulai hari ini, detik ini, kalau wanita dari seberang jalan itu membawa makanan, minuman, atau barang apa pun ke rumah ini, jangan pernah sesekali dimakan atau disimpan. Langsung buang atau tanam di belakang rumah!"

Nina terhenyak. "Nenek melihat sesuatu?"

Nek Nilam mengangguk pelan, matanya berkilat penuh kekhawatiran. "Ada energi yang sangat kotor dan hitam menempel pada wanita itu. Dia tidak datang membawa niat baik, Nduk. Ada racun gaib yang sedang ia sebar untuk merusak rumah tanggamu!"

Nasihat sang nenek kian menegaskan seluruh prasangka buruk yang selama ini bersarang di dada Nina. Ia mengangguk mantap, berjanji dalam hati untuk membentengi suami dan anaknya dari marabahaya tersebut.

Keesokan harinya, Hana kembali melangkah gagah melintasi jalanan tanah, membawa senyum manis. Di tangannya, ia kembali membawakan bingkisan baru. Ia menyangka peletnya mulai bekerja perlahan.

Namun, langkah Hana terhenti persis di depan pintu teras.

Daun pintu rumah kayu itu terbuka lebar, dan sosok Nek Nilam telah berdiri tegak di sana. Wanita tua itu berdiri kokoh membentengi ambang pintu, menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya yang tajam menatap lurus menembus manik mata Hana.

Hana tersentak kaget, menghentikan langkahnya di anak tangga teras. "E-eh... Nenek. Roni dan Nina ada di dalam?" tanyanya, mencoba memasang wajah manisnya yang biasa.

Nek Nilam tidak bergeming. Suaranya terdengar dingin, bergema pelan namun menusuk hingga ke tulang hitam Hana.

"Tidak usah berpura-pura lagi, Nak Hana," ujar Nek Nilam tanpa basa-basi. "Aku tahu betul siapa dirimu dan tujuanmu."

Wajah Hana seketika pucat pasi. Senyum di bibirnya luntur tanpa sisa.

"Berhentilah mengganggu rumah tangga cucuku," tegas Nek Nilam, melangkah satu tapak mendekat. "Jangan kira karena aku ini orang tua di desa, aku bisa kau bodohi dengan tipu muslihat murahanmu. Aku sudah melihat ribuan kejahatan sebelum kau dilahirkan ke dunia ini!"

Hana mengepalkan tangannya di balik tas bermereknya. Amarah membakar dadanya karena dipermalukan oleh seorang wanita renta kampungan. "Maksud Nenek apa berbicara begitu?! Saya ini berniat baik mau membantu Roni yang sedang melarat!" bentak Hana, topeng ramahnya mulai terkelupas.

"Niat baikmu itu beracun, Nak!" potong Nek Nilam lantang. "Sekarang, angkat kaki dari pekarangan rumah ini! Dan jangan pernah sesekali kau berani menginjakkan kakimu di sini lagi, atau aku sendiri yang akan memanggil seluruh warga desa untuk mengusir mu secara paksa!"

Tersudut, malu, dan terbakar amarah yang membara, Hana tak mampu lagi membalas. Ia menghentakkan kakinya dengan kasar, berbalik arah dan berjalan cepat kembali ke rumah kontrakannya di seberang jalan.

BRAKKK!

Hana membanting pintu rumah kontrakannya hingga bergetar. Bagian dalam rumah cat biru itu menjadi saksi bisu amarahnya yang meledak. Ia melempar tas bermereknya ke atas sofa, napasnya memburu bagai serigala terluka.

"Sialan! Wanita tua bau tanah." umpat Hana dengan mata mendelik penuh kebencian. Tangannya mencengkeram pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.

"Berani-beraninya nenek peot itu mempermalukan aku dan membaca rencanaku!"

Hana berjalan mondar-mandir di dalam ruangan. Ia menyadari sepenuhnya, selama Nek Nilam masih bernapas dan berdiri membentengi rumah itu, usahanya untuk memengaruhi Roni dan menghancurkan Nina akan selalu menemui tembok tebal. Indera batin sang nenek terlalu tajam untuk ditembus sihir murahan.

Sebuah senyuman iblis perlahan terukir di bibir merah Hana. Matanya berkilat menakutkan di dalam kegelapan ruangan.

"Kau sendiri yang memilih jalur ini, Tua Renta..." bisik Hana dengan suara dingin yang amat mengerikan.

Tanpa membuang waktu, Hana meraih ponselnya dan kembali menghubungi nomor dukun ilmu hitamnya di kota. Rencana baru yang jauh lebih kejam dan berdarah kini mulai dirancang. Jika Nek Nilam menjadi batu penghalang utama yang menghalangi ambisinya menguasai Roni, maka wanita tua itu harus disingkirkan dari muka bumi secara perlahan, dibuat menderita oleh penyakit aneh yang tak terdeteksi medis, hingga lenyap tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Dengan hancurnya benteng pertahanan utama Nina, Hana yakin, Roni dan Nina akan dengan sangat mudah ia gilas hingga tak tersisa.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!