NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2.Panggilan yang Tak Pernah Diminta

Malam itu, di lantai tiga puluh delapan sebuah gedung berkaca gelap yang menjulang di jantung distrik keuangan London, lampu-lampu kota berkelip di kejauhan seperti taburan bintang yang dipaksa turun ke bumi.

Namun tak satu pun dari pemandangan itu mampu menarik perhatian Alex yang duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya digulung hingga siku.

Di depannya, berdiri tegak dengan sikap sempurna seorang militer yang tak pernah lengah, seorang pria berjas hitam bernama Damian. Kepala keamanan Alex, sekaligus satu dari sedikit orang yang diberi izin masuk ke ruangan ini tanpa harus mengetuk dua kali.

"Kau sudah baca laporannya, Pak Alex," kata Damian, suaranya rendah dan efisien, tanpa basa-basi yang tidak perlu. "Latar belakang pendidikannya SMK jurusan Administrasi Perkantoran. Tidak ada gelar sarjana. Tidak ada pengalaman kerja kantor korporat sebelumnya, hanya kerja paruh waktu di kedai kopi."

Alex tidak menjawab segera. Jarinya mengetuk pelan permukaan meja kayu gelap yang mengilap, matanya menatap lurus ke arah folder tertutup yang tergeletak di atasnya—folder yang sama yang telah ia buka dan tutup berkali-kali sejak delapan bulan lalu.

"Aku tidak peduli soal ijazah," kata Alex akhirnya, suaranya datar seperti biasa, tapi ada ketegasan di baliknya yang membuat siapa pun yang mendengarnya tahu bahwa ini bukan permintaan, melainkan perintah.

"Buat posisi untuknya. Divisi administrasi umum, lantai dua puluh dua. Gaji setara level manajer junior."

Damian mengangkat sebelah alis, meski wajahnya tetap terkendali sempurna, karena kebiasaan bertahun-tahun bekerja di bawah keluarga Nozer telah mengajarkannya untuk tidak pernah menunjukkan keterkejutan secara terbuka.

"Posisi itu biasanya disyaratkan untuk lulusan S1 atau S2, Pak. HRD akan bertanya-tanya kenapa seseorang tanpa kualifikasi itu tiba-tiba direkrut untuk posisi setinggi itu."

"Maka pastikan mereka tidak bertanya-tanya." Alex akhirnya mendongak, matanya yang biru bertemu langsung dengan tatapan Damian, dingin dan tidak menyisakan ruang untuk dibantah.

"Buat rekayasa administratif seperlunya. Aku ingin dia bekerja di gedung ini, di bawah pengawasanku, mulai minggu depan. Aku tidak peduli caranya."

"Baik, Pak." Damian menunduk sedikit, tanda kepatuhan yang sudah menjadi refleks. "Ada hal lain?"

"Pastikan dia tidak tahu siapa yang mengatur ini." Alex kembali menatap ke luar jendela, ke arah kota yang basah oleh hujan yang belum lama reda. "Biarkan dia percaya ini murni keberuntungan."

"Dan soal gadis itu sendiri, Pak?" Damian ragu sejenak sebelum melanjutkan, karena pertanyaan semacam ini jarang sekali ia ajukan kepada atasannya. "Apa dia perlu tahu bahwa Bapak yang..."

"Tidak." Jawaban itu memotong cepat, tegas, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan lebih jauh. "Belum waktunya. Aku ingin dia sampai di sini dengan kakinya sendiri, meski jalannya sudah kuratakan tanpa sepengetahuannya. Tidak perlu kau pikirikan itu Damian, aku yang akan langsung memberitahunya sendiri nanti, bukan orang lain."

Damian mengangguk, lalu keluar dari ruangan tanpa suara, meninggalkan Alex sendirian dengan pikirannya yang dipenuhi bayangan seorang gadis berambut pirang kecoklatan yang tidak tahu bahwa dunianya baru saja diatur ulang oleh seseorang yang bahkan tidak pernah ia beri kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh.

Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah syal usang yang masih menyimpan bercak darah yang telah menghitam di beberapa bagian. Itu adalah syal yang sama, yang dulu digunakan Lauren untuk menekan lukanya di gang belakang Notting Hill.

Alex tidak pernah mengembalikannya. Ia menyimpannya seperti seseorang menyimpan satu-satunya bukti bahwa dunia ini masih punya ruang untuk kebaikan yang tulus, tanpa pamrih, tanpa mengenal siapa yang ditolongnya.

Delapan bulan menyimpan benda itu di laci yang sama dengan pistol cadangannya. Sebuah kontras yang, jika dipikirkan lebih dalam, menggambarkan dirinya dengan sangat tepat.

Seorang pria yang hidupnya dipenuhi kekerasan dan kendali, namun menyimpan satu potongan kain lusuh sebagai satu-satunya benda yang ia perlakukan dengan kelembutan.

*****

Tiga hari kemudian, di sebuah apartemen kecil dua kamar di pinggiran Camden yang disewanya bersama seorang teman sekamar bernama Ivy, Lauren duduk di meja dapur sempit sambil menatap layar ponselnya dengan kening berkerut.

Panggilan tak dikenal. Nomor London, tapi bukan nomor yang ia kenali.

Ia ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Halo?"

"Selamat siang, apakah ini benar dengan Lauren Valencia Varles?" Suara di seberang terdengar profesional, seorang wanita dengan aksen London yang jelas dan formal.

"Ya, benar. Ini siapa, ya?"

"Saya Melissa dari bagian Sumber Daya Manusia Nozer Holdings International. Kami menghubungi untuk mengonfirmasi jadwal wawancara Anda untuk posisi Staf Administrasi. Apakah Anda tersedia besok pukul sepuluh pagi?"

Lauren terdiam, kebingungan jelas terpampang di wajahnya meski tidak ada yang bisa melihatnya lewat telepon. "Maaf, saya rasa ada kesalahan. Saya tidak pernah melamar ke Nozer Holdings."

Ada jeda singkat di seberang telepon, suara kertas yang dibolak-balik. "Menurut sistem kami, lamaran Anda masuk minggu lalu melalui rekomendasi internal. Apakah Anda ingin saya batalkan jadwalnya?"

Lauren membeku. Rekomendasi internal? Ia tidak mengenal siapa pun yang bekerja di perusahaan sebesar itu.

Nozer Holdings adalah salah satu konglomerasi terbesar di London, namanya sering muncul di berita bisnis, gedungnya menjulang megah di distrik keuangan yang bahkan tidak pernah ia berani masuki kecuali sekadar lewat di depannya.

"Tidak—tidak usah dibatalkan," jawab Lauren cepat, pikirannya berputar mencoba mencari penjelasan logis.

Mungkin ini kesempatan langka yang tidak seharusnya ia sia-siakan, apa pun penjelasannya. Sejak kedua orang tuanya meninggal empat tahun lalu dalam kecelakaan mobil yang merenggut segalanya darinya, termasuk rasa aman yang selama ini ia anggap wajar dimiliki orang lain.

Lauren belajar untuk tidak pernah menyia-nyiakan peluang, sekecil apa pun itu, sesulit apa pun logikanya untuk dipahami. "Saya akan datang. Pukul sepuluh pagi, benar?"

"Benar. Mohon membawa dokumen identitas dan ijazah terakhir. Alamat kantor sudah saya kirimkan lewat pesan singkat."

Setelah panggilan berakhir, Lauren duduk terpaku beberapa menit, menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan masuk berisi alamat gedung yang sangat familiar baginya.

"Kenapa mukamu pucat begitu?" Ivy muncul dari kamarnya, membawa secangkir teh, menatap Lauren dengan alis terangkat.

"Ada yang menawariku wawancara kerja. Di Nozer Holdings." Lauren masih menatap layar ponselnya, seolah tidak yakin apa yang baru saja terjadi benar-benar nyata. "Tapi aku tidak pernah melamar ke sana."

Ivy mendengus, menyesap tehnya. "Mungkin seseorang merekomendasikanmu. Kau kan sering bantu-bantu di kedai kopi dulu, siapa tahu ada pelanggan yang kerja di sana dan terkesan sama kamu."

"Mungkin," gumam Lauren, meski jauh di lubuk hatinya, penjelasan sesederhana itu terasa tidak cukup untuk menjelaskan perusahaan sebesar dan seketat itu tiba-tiba menghubunginya tanpa proses lamaran resmi sama sekali.

"Tidak mungkin". pikirnya, mencoba menepis kecurigaan yang mulai muncul di benaknya. Kebetulan seperti itu terlalu absurd untuk dipercaya.

Tapi ia tidak tahu bahwa firasatnya itu benar atau tidak.

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!