GPS: Galactic Parcel Service
Di galaksi tempat ribuan peradaban saling berdagang, berperang, dan jatuh cinta, selalu ada satu kapal yang tetap terbang mengantarkan paket.
Arka Orion Saputra adalah kapten kapal kargo GPS. Bersama Null, makhluk materi gelap yang namanya nyaris mustahil diucapkan, dan Pi'Pi'Pi'Kra'Va'Tul, kepala keamanan mungil dari planet bergravitasi dua ratus kali Bumi, mereka menghubungkan dunia demi dunia melalui pengiriman antarbintang.
Bagi mereka, paket hanyalah pekerjaan. Yang membuat setiap perjalanan berkesan justru para pelanggannya: pasangan beda spesies yang bertengkar, kerajaan alien dengan permintaan aneh, hingga paket-paket yang seharusnya tidak pernah dikirim.
Di balik semua itu, mereka hanya ingin hidup yang layak, diakui, dan... mungkin menemukan seseorang yang bisa mereka sebut sebagai rumah.
Sebab pada akhirnya, setiap paket selalu memiliki tujuan. Mungkin... begitu pula dengan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MOEROUL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Serah Terima, Sinetron Kosmik, dan Si Entitas Pengecut.
Ruang Administrasi Logistik GPS Sektor Timur biasanya dipenuhi suara ketikan holografik dan keluhan para kurir. Namun hari ini, suasananya lebih mirip pasar malam.
Papan nomor antrean terus berganti dengan bunyi ding yang monoton. Para kurir dari berbagai ras menggerutu menunggu giliran, sementara robot pelayanan mondar-mandir membawa berkas digital.
Saat Arka melangkah masuk ke ruangan itu, pandangannya langsung tertuju pada kerumunan besar lintas spesies yang membentuk lingkaran di tengah lobi.
Mereka tampak mengerumuni sesuatu dengan antusias. Dari tengah kerumunan sesekali terdengar teriakan seorang wanita yang langsung disambut sorakan para penonton.
Arka baru saja akan melangkah mendekat ketika sesosok alien yang seluruh tubuhnya tersusun dari batuan magma dingin menghampirinya. Alien itu memakai kacamata baca kecil berbingkai logam yang terlihat sangat kontras dengan wajah batunya yang kasar.
"Kapten Arka?" sapa si alien batu dengan suara bergemeretak.
"Iya, saya," jawab Arka.
"Oh, pas banget. Silakan, Pak. Ikut saya ke Ruang Administrasi untuk proses serah terima jabatan," ucap si petugas batu sambil menunjuk ke arah koridor samping.
Arka melirik sekilas ke arah kerumunan yang ribut itu. "Itu ada apa ya rame-rame?"
Si alien batu menghela napas, menghasilkan suara gesekan kerikil dari tenggorokannya. "Yah... intinya gara-gara itu Bu SPV nggak bisa nemuin Anda. Lagi ada masalah, Pak. Mari."
"Oh... sibuk banget ya kelihatannya," gumam Arka.
Arka pun mengikuti petugas itu masuk ke ruangan administrasi. Proses serah terima ternyata tidak sekadar mengisi formulir. Di depan layar terminal, Arka harus melakukan serangkaian prosedur ketat khas Koalisi Galaksi. Dimulai dari scan biometrik iris mata, aktivasi hak akses kapten penuh, hingga membubuhkan tanda tangan digital di lima dokumen berbeda.
"AI kapal sudah mengenali DNA Kapten baru," lapor petugas batu tersebut setelah lampu hijau menyala di layar. Kunci kapal pun resmi aktif.
"Ya sudah ya, Pak. Ini kunci palka fisik dan buku panduannya," ucap petugas batu itu sambil menyodorkan perangkat pipih berwarna perak. "Silakan, kapal Anda ada di Dermaga 731, Sektor Kargo Biru."
"Baiklah, terima kasih."
Arka keluar dari ruangan administrasi dengan napas lega. Ia menggenggam erat kunci palka di tangannya. Benda logam dingin itu terasa nyata di telapak tangannya. Mulai detik itu, nasib kapal pengangkut tersebut benar-benar menjadi tanggung jawabnya.
Langkah Arka terasa jauh lebih ringan. Senyum tipis mengembang di wajahnya, sampai ia kembali menjejakkan kaki di lobi utama.
Kerumunan tadi ternyata belum bubar. Malah semakin padat. Mengabaikan wibawa kapten barunya, Arka melangkah mendekati lautan spesies itu untuk mengintip.
Tiba-tiba... Wussh!
Sekelebat bayangan hitam pekat melesat entah dari mana dan langsung bersembunyi tepat di belakang punggung Arka. Sepasang tangan yang terasa sedingin ruang hampa mencengkeram bahunya dengan erat.
"Lindungi aku!" bisik bayangan itu dengan nada datar yang anehnya terdengar panik.
Arka terlonjak kaget, nyaris menjatuhkan kuncinya. "Hei! Siapa kau?! Maksudmu apa?!" serunya sambil berusaha menoleh ke belakang.
"Ini aku."
Arka mengernyitkan dahi. Suara statis ini terasa familiar. "Aku siapa?"
"Ireng."
Mendengar satu kata itu, Arka langsung memutar tubuhnya dengan kasar. "LAH, IRENG?!"
Di depannya kini berjongkok sesosok entitas ras Voidwalker berupa pusaran materi gelap. Arka tak peduli dengan tatapan aneh orang-orang di sekitarnya, ia langsung menarik entitas kosmik itu ke dalam pelukan singkat.
"Ya ampun! Udah lama ya?! Gimana kabarmu, Reng? Kok kamu bisa di sini? Bukannya kamu..."
Sebagai catatan, nama asli entitas di depannya ini tidak bisa diucapkan oleh pita suara makhluk biologis mana pun. Orang-orang yang mengenalnya memanggilnya 'Null'. Namun bagi Arka dan teman-teman SD-nya dulu di Bumi, panggilannya hanya satu: Ireng.
Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya, kerumunan di depan mereka membelah perlahan.
Seorang wanita humanoid setinggi dua meter melangkah maju dengan aura yang mengintimidasi. Tubuhnya murni terbuat dari air biru jernih yang membentuk lekuk tubuh perempuan. Ia mengenakan seragam rapi dengan logo di lengan bahu bertuliskan
"SUPERVISOR SPV".
Semua orang di lobi mendadak terdiam.
Arka perlahan membalikkan badannya. Ia mengenali wajah dari foto profil atasannya itu.
"Ah... Bu Lilith?" Arka mencoba tersenyum seprofesional mungkin. "Akhirnya kita bisa ketemu, Bu. Saya udah selesai ngisi semua data-datanya di loket. Ini saya baru mau ke..."
"Minggir!" bentak wanita air itu.
Arka gelagapan. Wanita itu sama sekali tidak menatap matanya, melainkan menatap tajam ke arah bayangan hitam di punggung Arka. Menyadari hawa permusuhan ini, Arka langsung menoleh sedikit ke belakang.
"Masalah apa yang kau buat, Reng?" bisiknya melalui sudut bibir.
"Bukan aku yang buat, tapi dia," balas Null membela diri dengan datar.
Arka menelan ludah dan kembali menoleh ke Lilith, mengangkat sebelah tangan mencoba bernegosiasi. "Tu... tunggu dulu, Bu Lilith. Bisa tolong jelasin dulu ada apa ini?"
"Ini bukan urusanmu! Serahkan pria itu padaku!" suara Lilith beriak keras, cipratan air kecil melayang dari pundaknya.
"Eee... dia teman saya, Bu. Jadi..."
"Oh? Kau teman si pria brengsek ini?!" potong Lilith, matanya menyipit tajam bagai pusaran air. "Bagus! Bilang sama temanmu yang pengecut itu untuk berhenti melarikan diri!"
Kata 'pria brengsek' seketika menyengat lobi.
"Eh, bentar dulu!" seru seekor alien cumi dari barisan depan.
"Mengaktifkan mode menonton," desis robot kotak ber-LED biru.
Di sudut lobi, seekor alien gurita bahkan membuka kursi lipat sambil bergumam, "Kayaknya bakal panjang nih."
Melihat tontonan absurd ini, Arka memutar bola matanya dan melotot ke arah belakang punggungnya. "Habis kau apain dia, Ireng?!"
"Nggak aku apa-apain kok," jawab Null santai tanpa dosa.
"Nggak kau apa-apain?!" Lilith tiba-tiba berteriak lantang. "Dia bilang akan melamarku!"
"OOOOOOOOHHH." Kerumunan penonton bersorak serempak, menggema ke seluruh penjuru lobi.
Mata Arka membulat sempurna. Ia menatap Null tak percaya. "Serius?"
Lilith beriak kencang menahan emosi. "Aku dan seluruh keluargaku menunggumu!"
Seluruh penonton terdiam, menyimak lekat-lekat layaknya mengikuti episode klimaks sebuah drama.
"Sampai tengah malam." Lilith menunjuk wajah Null dengan jari airnya yang gemetar. "Tapi... dia tidak datang."
"WOOOOOOO."
Kerumunan meledak menyoraki Null. Sorakan dan hujatan antar-galaksi bergema saling bersahutan.
"Persentase pria brengsek meningkat," komentar si robot kotak dari pinggir kerumunan.
Arka menatap Null dari atas ke bawah. Rasa solidaritasnya sebagai sesama pria seketika runtuh tak tersisa. "Kenapa kamu nggak dateng, heh?! Kalau udah nggak cinta ya bilang dari awal, jangan kabur dong, Reng, Ireng!!"
Null menghela napas, menghasilkan suara dengungan statis. "Saat itu aku kena Fase Dormansi Singularitas."
Arka mengerutkan keningnya. "Apaan tuh?"
"Kondisi biologis ras Voidwalker," jelas Null datar. "Saat inti singularitasku tidak stabil, tubuhku otomatis masuk mode dormansi dan tidak bisa dibangunkan."
Ia terdiam sesaat.
"Intinya... black hole-ku kram."
Arka terdiam. Alasan itu sebenarnya sangat logis dan bisa diterima akal sehat.
"Iya! Aku tahu kau akan mengatakan itu!" tunjuk Lilith tajam. "Tapi itu cuma alasan! Kau kan bisa menghubungiku setelah bangun! Tapi apa? Kau bahkan menghilang dan semua kontakmu lenyap! Kalau aku tak sibuk, aku pasti sudah ke planetmu dari dulu!" Lilith menggeram. "Untungnya... semesta berpihak padaku dan kau malah melamar ke sini. Apa kau pikir aku akan lupa? Hah?!"
Menyadari tingkat bahayanya, Arka perlahan menyingkir ke samping, menyerahkan Null sepenuhnya ke hadapan Lilith. "Aku nggak bisa bantu, Reng. Ini murni urusanmu. Silakan."
"Pengkhianat," gumam Null datar.
Lilith menggulung lengan bajunya, bersiap menerjang. Namun, tiba-tiba suara siaran dari AI stasiun bergema keras menembus keributan.
"Panggilan Darurat. SPV Lilith dari Sektor Timur, harap segera melapor ke Ruang Manajer Pusat. Kehadiran Anda diwajibkan sekarang juga."
Gerakan Lilith terhenti di udara. Ia menggeram kesal. Hawa membunuhnya tidak berkurang sedikit pun saat ia melangkah maju satu langkah, menatap tepat ke mata Null.
"GPS-731," desis Lilith pelan namun mematikan.
Null terdiam kaku.
"Tiga bulan. Aku hafal jadwal pulangmu," lanjut Lilith dengan nada es yang membekukan. "Kau tak akan bisa lari lagi." Lilith pun berbalik dan melangkah pergi dengan cepat, meninggalkan jejak cipratan air di lantai.
"Yaaaaah..."
Kerumunan bubar sambil menggerutu kecewa.
Alien gurita melipat kursinya, sementara seorang penjual popcorn menghela napas karena dagangannya tidak jadi laris.
Arka hanya bisa memijat pelipisnya. Kepalanya terasa semakin berat sejak bertemu dua teman lamanya di hari pertama bekerja. Mengabaikan tatapan penasaran para penonton yang mulai membubar, ia melangkah pergi.
Namun, baru beberapa langkah meninggalkan area itu, langkah Arka tiba-tiba terhenti.
"Tunggu dulu..."
Ia perlahan menoleh ke arah Null yang melayang mengikutinya di belakang. "Barusan Bu Lilith bilang... GPS-731, kan?"
Null, yang sedari tadi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, hanya mengangguk pendek.
"Iya."
"Itu..." Arka menatap Null dengan pandangan kosong. "Itu kan nomor kapalku."
Null diam.
Arka tidak berkedip sedikit pun. "Jangan bilang..."
Null mengangguk datar. "Aku Kepala Kargo di GPS-731 Andromeda."
Otak Arka butuh waktu sekitar tiga detik penuh untuk memproses kalimat itu. Begitu kesadarannya tiba, rahangnya jatuh.
"Hah?!"
Suaranya menggema cukup keras hingga beberapa alien yang belum sempat bubar ikut menoleh lagi ke arah mereka.
"Kita satu kapal?!"
"Iya."
Arka menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil mengembuskan napas panjang. "Kenapa sih..." gumamnya lemas dan putus asa. "Kenapa semua teman SD-ku ujung-ujungnya kerja di kapal yang sama?"
Mereka berdua akhirnya berjalan meninggalkan lobi utama yang berisik, memasuki labirin koridor pelabuhan menuju Sektor Kargo Biru. Perjalanan ini memakan waktu cukup lama. Mereka harus menaiki travelator datar yang membentang di sepanjang terowongan kaca raksasa.
Di luar kaca pelindung, lautan bintang terbentang luas tak bertepi. Kapal-kapal kargo melesat pergi meninggalkan jejak cahaya neon, sangat kontras dengan keheningan canggung di antara dua teman lama yang sedang berdiri berdampingan itu.
"Untung saja aku selamat," gumam Null memecah keheningan, matanya menatap lurus ke depan.
Arka mendengus keras. "Tiga bulan lagi ajalmu menanti waktu kita balik ke sini. Lagian kenapa sih kamu nggak hubungi dia? Ngapain mesti kabur gitu?"
"Aku bukan kabur. Aku malu."
Langkah Arka di ujung travelator terhenti seketika. Ia menoleh tak percaya. "Malu?"
"Iya," jawab Null datar. "Aku udah gembar-gembor ke semua orang mau ngelamar, tapi gara-gara inti singularitasku kram, aku malah bangun sebulan kemudian. Jadi aku pikir, lebih baik hilang aja sekalian."
Arka menatap teman masa kecilnya itu dengan raut wajah hampa. Deru mesin pendingin stasiun yang menderu halus seolah mewakili rasa lelah di benaknya.
"Haaaaah... anak paling pintar di SD dulu, sekarang jadi bodoh ya? Udah bertahun-tahun nggak ketemu malah gini kelakuanmu."
Mereka pun melanjutkan perjalanan menyusuri area logistik hingga akhirnya tiba di anjungan Dermaga 731. Di sana, palka raksasa kapal GPS-731 Andromeda terbuka lebar, dikelilingi kesibukan puluhan orang dan drone pengangkut yang memindahkan kargo.
Namun, perhatian Arka langsung tersita pada sesosok robot di pinggiran pintu palka.
Sesuai buku panduan, itu adalah YUI (Your Universal Intelligence), robot asisten utama kapten. Masalahnya, robot itu jauh dari kata profesional. Tubuh mekaniknya dibalut gaun Gothic Lolita hitam berenda rumit. Lebih gila lagi, mulut metaliknya bergerak-gerak mengunyah sesuatu yang kenyal, mirip permen karet, hal yang murni absurd untuk sebuah mesin.
Arka berhenti melangkah. Jarinya menunjuk kaku ke arah pintu palka.
"Ireng... itu YUI, kan?"
"Harusnya sih ya," jawab Null datar.
Arka mengerjap beberapa kali. "Kok... tampilannya gitu?"