**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Hutang Dua Ratus Juta
Lebih mirip pintu gelap yang akhirnya terbuka.
Kelvin Salim tidak tahu bahwa senyum kecil di balik kaca mobil itu lebih menakutkan daripada amarah. Yang ia tahu, ia baru saja menabrak bagian belakang sebuah Bugatti hitam di tengah hujan, dan suara benturannya masih berdengung di telinganya.
"Maaf, Pak. Maaf banget." Kelvin membungkuk berkali-kali, suara gemetar. "Jalan licin, rem saya telat, saya benar-benar tidak sengaja."
Sopir Bugatti turun dengan payung hitam. Jasnya tetap rapi, ekspresinya tidak berubah. Ia memeriksa bagian belakang mobil, lalu menatap Kelvin seperti menatap angka di laporan kerusakan.
"KTP."
Kelvin menelan ludah. "Pak?"
"KTP dan SIM."
Kelvin buru-buru mengeluarkan dompet. Jemarinya basah, kartu-kartu hampir jatuh ke genangan air. Dari dalam mobil, Rayhan hanya memperhatikan. Wajah anak laki-laki itu mirip Keira di bagian mata, tetapi lebih terang, lebih mudah panik, seperti lampu kecil yang hampir mati tertiup hujan.
"Nama?" tanya sopir.
"Kelvin Salim."
Rayhan menoleh sedikit.
Salim.
Nama itu masuk ke dadanya seperti paku kecil yang selama bertahun-tahun sudah ia tunggu.
Sopirnya menerima telepon dari bengkel resmi, berbicara singkat, lalu menutup panggilan. "Estimasi awal, tiga belas miliar rupiah untuk unit. Kerusakan bumper belakang, sensor, dan panel karbon. Biaya minimum yang harus ditanggung dua ratus juta rupiah."
Wajah Kelvin langsung putih.
"Dua... dua ratus juta?"
"Itu minimum."
Kelvin memegang kap mobilnya agar tidak jatuh. Mobil bekas yang ia pakai bahkan tidak sampai seperlima dari angka itu. Ia ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya napas patah.
Rayhan akhirnya menurunkan kaca lebih lebar. Hujan memercik masuk, menyentuh kulit tangannya.
"Bayar saja," katanya ringan.
Kelvin menatap laki-laki di dalam mobil. Ia mengenali wajah itu dari unggahan kampus, dari gosip anak UI, dari nama keluarga yang tidak pernah masuk ke dunia orang seperti dirinya.
Rayhan Kurnia.
"Pak, saya... saya mahasiswa. Saya bisa ganti, tapi tidak sekarang. Tolong beri waktu."
"Tulis surat pernyataan utang."
"Pak?"
"Kalau kau lari, aku cari kakakmu."
Kelvin membeku.
Rayhan tersenyum samar. "Kau punya kakak, kan?"
Di bawah hujan, Kelvin merasakan seluruh tubuhnya dingin. Ia tidak tahu dari mana Rayhan tahu. Ia hanya tahu satu hal, ia tidak boleh membuat Keira ikut terseret. Tetapi malam itu, dengan ponsel hampir mati, mobil rusak, dan angka dua ratus juta menempel di kepalanya seperti vonis, ia akhirnya menandatangani surat pernyataan utang yang disodorkan sopir Rayhan.
Nama di bagian kreditur tertulis jelas.
Rayhan Kurnia.
Satu jam kemudian, Kelvin duduk di kursi plastik depan minimarket 24 jam dekat jalan raya Depok. Hujan sudah mengecil, tetapi bajunya masih basah. Di tangannya ada cup Indomie yang uapnya hampir habis. Ia belum makan sejak siang, tetapi setiap suapan terasa seperti karet.
Air matanya jatuh ke tutup cup.
"Tolol," gumamnya pada diri sendiri. "Kelvin, kau tolol banget."
Ia menyedot mi, lalu tersedak karena menangis. Uangnya di dompet tinggal cukup untuk bensin dan parkir kampus. Di rekening, sisa uang yang harusnya dikirim untuk obat Mama. Sekarang ada selembar surat utang Rp200.000.000 di tasnya, dengan nama Rayhan Kurnia di atasnya.
Sebuah motor ojek online berhenti di depan minimarket. Keira turun dengan sandal basah dan hoodie tipis, napasnya terputus karena perjalanan dari kos ke sini terasa terlalu lama.
"Kel!"
Kelvin langsung menunduk, menyembunyikan wajah. "Kak, jangan marah dulu."
Keira berhenti di depannya.
Indomie cup di tangan adiknya sudah dingin. Kuahnya tinggal sedikit, bercampur air mata yang tak sempat dihapus. Anak laki-laki yang biasanya cerewet, yang selalu bilang dirinya sudah dewasa dan bisa menjaga kakaknya, sekarang duduk meringkuk seperti anak kecil yang takut pulang.
Keira berjongkok di depannya. "Lihat aku."
Kelvin menggeleng.
"Kelvin."
Baru saat namanya disebut lengkap, Kelvin mengangkat wajah. Matanya merah.
"Aku nabrak mobil orang, Kak."
"Aku tahu. Ceritakan pelan-pelan."
Kelvin mengeluarkan surat itu dari tas. Kertasnya sedikit lembap. Keira membacanya di bawah lampu minimarket yang putih dan kejam. Setiap angka terlihat terlalu jelas.
Rp200.000.000.
Rayhan Kurnia.
Nama itu membuat Keira mengingat Bugatti hitam di halte, kaca gelap, dan perasaan seperti ada seseorang menatapnya dari tempat yang tidak bisa ia lihat.
"Ini orang yang sama dengan..." Kelvin menggigit bibir. "Kurnia Group, Kak. Anak pemilik Kurnia Group. Aku mati."
"Jangan bicara begitu."
"Mobilnya seharga tiga belas miliar. Aku bahkan belum bayar kos bulan depan."
Keira melipat surat itu hati-hati. Tangannya tidak gemetar. Ia tidak membiarkan Kelvin melihat dadanya yang seperti diremas.
"Kita cari cara."
Kelvin tertawa pecah, lalu menangis lagi. "Cara apa? Rumah kita di Bekasi saja sudah bukan rumah kita. Hendra meninggalkan utang, Mama di rumah sakit, kau kuliah sambil kerja, aku..."
"Kel."
"Aku harusnya bantu, bukan nambah beban." Kelvin menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku capek jadi anak yang selalu kau selamatkan."
Keira duduk di sampingnya. Ia mengambil cup Indomie dari tangan Kelvin, memutarnya, lalu menyodorkan sendok plastik.
"Habiskan dulu."
"Kak..."
"Kalau kau pingsan, utangnya tidak hilang."
Kelvin menatapnya dengan mata basah. Keira tidak memeluknya di depan minimarket karena ia tahu adiknya akan semakin malu. Ia hanya menepuk pelan punggung Kelvin, ritme kecil yang dulu sering Mama Liana lakukan saat mereka masih punya rumah luas, piano tua di ruang tengah, dan Hendra Salim belum menghancurkan semuanya lewat judi dan kebohongan.
Malam itu, Keira membawa Kelvin pulang ke kosnya lebih dulu. Ia membiarkan adiknya mandi, mengeringkan rambut, lalu tidur di kasur lipat. Saat Kelvin akhirnya terlelap dengan napas berat, Keira duduk di lantai, membuka surat utang itu lagi.
Rayhan Kurnia.
Ia mengetik nama itu di forum kampus. Dalam hitungan detik, layar penuh dengan foto laki-laki tinggi berwajah dingin, berita Kurnia Group, video pertandingan voli lama, dan komentar mahasiswa yang memanggilnya Bos Ray.
Tina, yang baru pulang dari membeli air galon, melongok ke layar. "Mbak Keira cari Mas Ray?"
Keira cepat mematikan layar. "Kau tahu dia?"
Sania yang sedang menyisir rambut di depan cermin langsung menoleh. "Semua anak UI tahu. Dia baru balik dari Singapura. Katanya anak sah Kurnia Group, tajirnya nggak masuk akal."
Tina duduk di pinggir kasur. "Kenapa, Kei?"
Keira tidak menjawab langsung. Ia hanya membuka surat utang itu di atas meja kecil. Dua teman sekamarnya terdiam begitu membaca angka.
"Ya Allah," bisik Sania. "Dua ratus juta?"
"Aku perlu menghubungi dia," kata Keira.
Tina menggigit kuku. "Nomor WA orang begitu mana mungkin gampang dicari."
Saat itu, notifikasi forum masuk. Sebuah akun anonim baru saja membuat unggahan.
Butuh nomor Rayhan Kurnia? Ini WA-nya. Jangan tanya sumber.
Di bawahnya tertulis nomor ponsel. Terlalu mudah. Terlalu cepat. Seolah seseorang memang sengaja menaruh pintu di depan Keira dan menunggu ia mengetuk.
Sania merinding. "Ini asli?"
Keira menyalin nomor itu. "Aku coba."
Ia menyimpan kontak tanpa nama, lalu mengetik pesan dengan jari dingin.
Selamat malam, saya Keira Salim. Saya kakak Kelvin Salim. Saya ingin membicarakan utang akibat kecelakaan malam ini.
Pesan terkirim.
Dua centang abu-abu berubah biru dalam satu detik.
Keira menahan napas.
Balasan muncul hampir seketika.
Datang ke Villa PIK No. 88, temui aku.
Di bawah pohon seberang kos, sebuah mobil hitam berhenti tanpa lampu utama. Rayhan duduk di kursi belakang, wajahnya separuh tertutup bayangan. Ia melihat jendela kamar Keira yang menyala, melihat siluetnya menunduk di depan ponsel, lalu menyalakan rokok.
Api kecil menyala di antara gelap.
Kali ini, ia tidak membiarkannya padam.