NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Makan Malam Yang Dingin

Tepat pukul tiga sore, Arin sudah sampai dan duduk di dalam mobil Alphard yang terparkir tak jauh dari gerbang rumah besar keluarga suaminya.

Matanya tertuju ke jalan masuk, menunggu kedatangan Nathan. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya sebuah Mercedes-Benz hitam muncul di kejauhan.

Arin mengenali plat nomor mobil itu, Nathan.

Begitu mobil itu berhenti di dekatnya, Arin segera turun. Nathan menurunkan kaca jendela, dan tatapan mereka bertemu sesaat sebelum ia memberi isyarat agar Arin masuk. Tanpa banyak bicara, Arin membuka pintu lalu duduk di kursi samping suaminya.

Nathan langsung melajukan mobilnya memasuki kawasan rumah elit itu. Megah dan mewah, tetapi tidak pernah terasa nyaman baginya.

Bagi banyak orang, rumah masa kecil adalah tempat yang selalu ingin mereka datangi kembali, penuh kenangan indah dan kehangatan. Namun bagi Nathan, tempat ini bukan rumah. Bukan tempat yang membuatnya ingin kembali. Hanya bangunan besar yang dipenuhi kenangan yang lebih baik terkubur selamanya.

...*****...

Nathan menghentikan mobilnya di depan pintu utama. Lalu seorang pelayan segera membuka pintu untuk mereka, memberi isyarat sopan sebelum membawa mereka masuk.

Begitu melewati pintu besar dengan ukiran khas Eropa, keduanya langsung diarahkan menuju ruang tamu di sebelah timur. Di sana, keluarga sudah menunggu.

Dari kejauhan suara tawa dua anak kecil terdengar memenuhi ruangan itu.

Nael dan Noel, mereka adalah anak dari Andre dan Niken juga cucu kesayangan Victor Regen saat ini, mereka berdua tengah bermain bersama kakeknya yang sudah berusia tujuh puluh lima tahun. Melihat keceriaan mereka menciptakan ilusi kehangatan yang tidak benar-benar ada di rumah ini.

"Adik ipar sudah datang," sambut Niken, istri Andre, dengan senyum tipis.

Arin mengangguk sopan, membalas dengan senyum singkat, lalu segera duduk di kursi tepat di samping Nathan. Begitu juga Andre, ia pun segera segera datang ke meja makan lalu duduk di kursi sebelah istrinya.

"Ah, kalian sudah datang. Baiklah, waktunya berhenti bermain. Kakek ingin berbicara dengan paman dan ayah kalian," ucap Victor Regen sambil mengecup pipi kedua cucunya sebelum mengisyaratkan pelayan untuk membawa mereka pergi.

Begitu Nael dan Noel meninggalkan ruangan, kehangatan yang sempat tercipta lenyap seketika. Yang tersisa hanyalah keheningan yang kaku, dingin, dan penuh ketegangan.

Begitu Victor duduk di kursinya, ia segera memberi isyarat kepada pelayan untuk menghidangkan makan malam. Makan malam ini berlangsung dengan tenang selama beberapa menit, sebelum akhirnya Victor membicarakan tujuan dari pertemuan malam ini.

"Aku mendengar kabar yang tidak enak mengenai hubungan kalian," ucap Victor, tatapannya tajam bergantian melihat Nathan dan Arin, setelah itu ia kembali melanjutkan memotong steak di piringnya

Mendengar ucapan ayahnya, Nathan tetap tenang. Ia mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya sejenak sebelum Menjawab dengan santai.

"Itu hanya gosip yang tidak berdasar. Kenapa harus memikirkannya?" Sekilas mata Nathan, melirik Andre yang duduk tepat di seberangnya.

Andre segera menyandarkan tubuhnya ke kursi, ia menarik napas sejenak, setelah itu ia membuka amplop coklat yang sudah ia bawa dari tadi.

"Ayah, aku bukan ingin ikut campur masalah pernikahan mereka" kata Andre akhirnya, nada suaranya terdengar setengah bosan, seolah tidak tertarik dengan persoalan pernikahan Nathan.

"Tapi, beberapa wartawan menangkap foto ini." Dengan santai, ia meletakkan beberapa lembar foto di samping Victor.

"Aku beruntung bisa menghentikan para Paparazi ini tepat waktu. Kalau tidak, mungkin foto-foto ini sudah tersebar di seluruh media." lanjutnya.

Victor Regen mengambil foto itu dengan ekspresi datar. Tidak ada keterkejutan ataupun kemarahan yang terlihat di wajahnya. Ia tidak menatapnya lama-lama, hanya menggeser foto itu ke arah Nathan.

Nathan melirik foto itu sekilas, lalu kembali melanjutkan makan malamnya seolah tidak peduli.

"Adik ipar, kenapa diam saja?" suara Niken memecah kesunyian, tatapannya beralih ke Arin yang sejak tadi duduk tenang tanpa menunjukkan reaksi apa pun.

Mendengar itu Arin mengangkat pandangannya melihat Niken, ia tersenyum kecil. "Ini bukan pertama kalinya. Banyak gosip tidak benar beredar di luar sana" katanya dengan nada tenang menjawab Niken.

"Seperti yang Ayah lihat, kami baik-baik saja." lanjut Arin melihat Victor.

Victor Regen mengangkat alisnya sedikit.

"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanyanya langsung.

Mendengar pertanyaan Ayahnya tubuh Nathan langsung menegang, ia merasa terganggu dengan pertanyaan itu. Tapi dengan cepat Nathan berusaha menyembunyikannya di balik wajahnya yang datar tanpa ekspresi.

"Ayah, kami sudah dewasa. Tolong berhentilah mengatur hidup kami." ucap Nathan setelah meletakkan pisau dan garpu dari tangannya, ia lalu menatap Victor dengan tajam.

"Pernikahanku baik-baik saja." ucapnya lagi dengan suara tegas sambil menatap ayahnya.

_ _ _

Ketegangan ini cukup mencekam beberapa detik sebelum akhirnya suara langkah terdengar dari arah pintu, seorang pelayan masuk sambil sambil membawa sebuah amplop berwarna cokelat di tangannya. Dengan langkah tertata, ia berjalan mendekat ke mereka lalu menyerahkan amplop itu kepada Victor.

"Tuan besar, ini amplopnya." ucapnya sopan, menundukkan kepala sedikit sebelum mundur beberapa langkah.

Dengan cepat Victor langsung menggeser amplop itu ke arah Nathan.

Nathan melihat Ayahnya sebentar, lalu tanpa menanyakan apapun ia langsung membuka amplop itu, begitu melihat isinya dahi Nathan sedikit mengerut, menandakan ada sedikit kebingungan di wajahnya.

Ia akhirnya mengeluarkan seluruh isi amplop itu. Di dalamnya terdapat beberapa foto seorang wanita cantik. Nathan mengenalinya. Wanita itu adalah putri salah satu pengusaha sukses yang pernah menjadi rekan bisnisnya.

"Apa maksud Ayah?" tanyanya, sedikit mengangkat foto itu agar lebih jelas.

Arin yang duduk di samping nya dapat melihat sekilas gambar wanita itu. Namun, ia tidak bereaksi apa-apa bahkan tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya.

Victor menghentikan makannya, menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatap Nathan dengan sorot mata tajam.

"Bercerai, lalu menikah dengannya." ucapnya dengan nada suara tegas dan memerintah.

Emosi Nathan langsung tersulut. "Ayah!" bentaknya dengan suara meninggi, pertanda ia tidak terima.

Nathan langsung berdiri "Aku tidak ingin mendengar hal konyol ini lagi, Ini terakhir kalinya Ayah." ucapnya lagi. "Aku akan tegaskan sekali lagi, Aku tidak akan bercerai."

Tanpa menunggu balasan Victor, Nathan menarik tangan Arin untuk berdiri. Setelah itu, ia segera membawanya keluar dari ruang makan tersebut.

Langkah Nathan begitu cepat, seolah ia tidak ingin menghabiskan sedetik pun lagi berada di rumah yang terasa begitu Menyesakkan ini.

Di sisi lain Arin berusaha menyamai langkah Nathan. Ia bahkan harus sedikit berlari agar dapat mengimbangi langkah pria itu yang begitu cepat. Nathan tampaknya tidak menyadari bahwa genggamannya di pergelangan tangan Arin semakin erat.

Rasa sakit mulai menjalar, tetapi Arin tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia tetap diam, seolah genggaman yang nyaris menyakitinya itu sama sekali tidak mengganggu.

Begitu hampir sampai di depan pintu, dengan nada pelan tapi datar Arin akhirnya mengucapkannya,

"Kau memegang tanganku terlalu erat."

Mendengar ucapan Arin, Nathan menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan baru menyadari betapa erat tangannya mencengkram pergelangan tangan Arin, ia lalu dengan cepat melepaskan genggaman itu.

Keduanya lalu berjalan perlahan menuju pintu. Tepat saat mereka tiba, pelayan telah membawa mobil mereka ke halaman.Lalu tanpa banyak bicara, mereka masuk ke dalam mobil, dan Nathan segera melajukannya keluar dari halaman rumah besar itu.

Di dalam mobil, hanya keheningan yang menemani mereka. Arin duduk diam, menatap kosong ke luar jendela, ekspresinya tetap tenang seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Namun, di antara cahaya lampu-lampu jalan dan pohon-pohon yang berkelebat di kaca mobil, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!