NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.

Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?

Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: SENYUM YANG TAK ASING

...BAB 2...

... ...

...SENYUM YANG TAK ASING...

Cahaya matahari baru saja menyelinap miring lewat celah kaca jendela kantor, tapi ruang kerja Alina sudah riuh dari tadi. Di atas mejanya tergeletak berkas tebal hampir dua jari, sampul cokelat tua bertulis huruf tebal:

PERKARA TUDUHAN PENCUCIAN UANG – PT. PRADANA MANDIRI GROUP

Di pojok kiri atas ada coretan tinta merah dari ketua kantor. Klien minta khusus, mutlak hanya mau ditangani Nona Alina Mahendra. Tidak bisa ditawar.

Rekan‑rekan kerja tak berhenti berbisik pelan sambil melirik‑lirik ke arah mejanya. Nama Arka Pradana bukan main‑main. Baru dua puluh sembilan tahun, tapi sudah pegang belasan perusahaan properti, pertambangan, hingga lembaga sosial yang tersebar di tiga pulau besar. Orang selalu menyebutnya dengan kata‑kata yang sama. Dermawan, cerdas, rendah hati, dan yang paling ajaib. Tak pernah sekali pun tercatat terlibat skandal buruk.

Herannya, puluhan pengacara senior yang namanya sudah melangit tinggi ditolaknya mentah‑mentah. Ia malah memilih Alina—yang baru tiga tahun menggeluti dunia ini, walau memang tak pernah kalah satu pun perkara yang ia pegang.

“Ada apa gerangan di balik semua ini,” gumam Alina pelan. Jari telunjuknya mengetuk‑ketuk pelan tak beraturan di sampul berkas sambil membalik lembar demi lembar isinya.

Secara kasat mata semuanya bersih. Sangat rapi. Sangat teratur. Seolah tuduhan ratusan miliar yang dialamatkan ke perusahaannya itu cuma fitnah kejam belaka dari pesaing bisnis yang iri. Tapi naluri yang selama ini selalu menyelamatkannya berbisik lantang di kepala. Sesuatu yang terlihat terlalu sempurna tanpa satu cela pun, biasanya justru menyembunyikan sesuatu yang paling gelap.

Pukul sebelas siang tepat, Alina sudah tiba di lobi gedung pencakar langit tertinggi di pusat kota. Seluruh bangunan berkilau tertutup kaca cermin, mewah tapi tidak norak, berwibawa persis seperti citra pemiliknya yang selalu dibicarakan orang. Lift melesat cepat ke lantai paling atas, pintu terbuka pelan, dan ia disambut oleh aroma wangi kayu cendana yang samar namun menusuk ingatan.

Seorang pemuda berdiri memunggunginya dekat jendela kaca raksasa, memandangi hamparan kota di bawah kakinya. Perlahan ia membalikkan badan begitu mendengar langkah kaki mendekat.

Arka Pradana.

Tinggi, bidang, jas hitam buatan tangan menempel pas di setiap lekuk badannya. Rambut hitam disisir rapi ke belakang, rapi sekali. Wajahnya tampan, terawat sempurna, dengan senyum yang terlihat begitu tulus, rendah hati, dan seketika bisa menenangkan hati siapa saja yang memandang. Ia melangkah mendekat dengan langkah santun, lalu mengulurkan tangan kanannya dengan sopan.

“Terima kasih banyak sudah berkenan datang, Nona Alina. Maaf kalau saya terlihat memaksakan kehendak. Sejujurnya saya sudah lama mengikuti cara Anda bekerja. Anda bukan tipe pengacara yang cuma mengejar kemenangan semata di ruang sidang. Anda berjuang demi kebenaran yang sebenarnya. Dan saat ini… itulah satu‑satunya hal yang paling saya butuhkan.”

Suaranya lembut, berat, dan terdengar sangat terukur.

Alina hanya menangkupkan kedua tangannya sebentar di depan dada, mengangguk sopan sambil mundur selangkah kecil. Menolak jabatan tangan itu dengan halus tapi tegas. Bukan mahram. Ia selalu ingat pesan Farhan dan pesan Dimas, dan segala yang pernah diajarkan sempat satu tahun bersekolah di Al‑Azhar dulu. Batas itu ia jaga mati‑matian.

Pria itu sedikit saja terkejut, seolah baru teringat sesuatu. Bahwa sejak wanita ini memutuskan menutup diri lebih rapat dengan hijabnya, cara dia menjaga diri pun berubah jauh lebih ketat dari dulu.

Namun detik berikutnya senyumnya kembali sempurna.

Saat pandangan mata mereka akhirnya bertemu lurus‑lurus, tiba‑tiba saja ada dingin yang menjalar cepat dari tengkuk sampai ke ujung tulang punggung Alina. Jantungnya mendadak berpacu tidak beraturan. Senyumnya sempurna. Kata‑katanya terukur indah. Sikapnya tak ada satu pun cacat yang bisa dicari. Tapi di balik sorot mata cokelat jernih itu, sekilas saja—hanya sepersekian detik—ia menangkap kilatan dingin yang sangat dalam. Seperti ada ribuan rahasia kelam yang mengendap di sana bertahun‑tahun. Lalu lenyap secepat kedatangannya. Seolah tak pernah ada.

Dan suaranya…

Gema nadanya, cara ia mengakhiri setiap kalimat, jeda kecil yang ia ambil sebelum bicara lagi… sangat akrab. Persis seperti suara seseorang yang dulu sering ia hindari sedapat mungkin di masa remaja. Seseorang yang sempat menjadi mimpi buruk kecil yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Alina menelan ludah pelan, lalu segera menepis perasaan itu keras‑keras di dalam hati. Mustahil. Raka Haris sudah hilang ditelan bumi bertahun‑tahun lalu, tak ada jejak sama sekali. Wajah pria di depannya ini pun punya banyak perbedaan halus. Hidung sedikit lebih mancung, rahang sedikit lebih tegas, dan cara dia menunduk pun berbeda. Pasti cuma perasaannya saja yang sedang berlebihan.

Hampir dua jam mereka duduk berhadapan. Arka bercerita panjang lebar dengan nada penuh kepahitan yang begitu meyakinkan, sampai‑sampai air mata sempat menggenang bening di pelupuk matanya saat berbicara soal panti asuhan dan ratusan anak beasiswa yang ia biayai dari hasil keringatnya sendiri. Ia bersumpah tak tahu‑menahu soal aliran uang mencurigakan ratusan miliar yang ditemukan di rekening anak perusahaan. Yakin sekali ini ulah orang dalam yang iri, yang ingin menjatuhkan nama baiknya hanya karena ia selalu berusaha berbuat baik pada sesama.

“Saya tidak peduli soal uang atau seberapa besar perusahaan ini nanti, Nona,” ucapnya di akhir pertemuan, suaranya sedikit bergetar, menatap Alina lekat‑lekat seolah memohon satu hal saja, kepercayaan. “Saya cuma takut. Kebaikan‑kebaikan kecil yang saya bangun pelan‑pelan susah payah ini… bisa runtuh seketika cuma karena kebohongan orang lain.”

Alina keluar dari gedung itu saat langit sudah mulai memerah jingga di ufuk barat. Jidatnya sedikit berkerut rapat, jari‑jarinya tanpa sadar terus memilin ujung kain jilbabnya berulang kali. Ada rasa ganjil yang mengganjal di dada, tapi ia belum bisa menyebutkan apa tepatnya.

Farhan sudah berdiri bersandar di bodi mobilnya tepat di depan pintu utama. Kemeja putih lengan digulung sampai siku, postur tegap khas orang yang bertahun‑tahun berlatih bela diri, sorot matanya tajam mengamati setiap gerak‑gerik di sekelilingnya sampai ke hal‑hal paling kecil yang luput dari perhatian orang lain. Begitu melihat langkah Alina yang agak berat, ia segera meluruskan badan, membukakan pintu mobil, dan tahu persis tanpa perlu bertanya dulu, ada sesuatu yang tidak beres.

Sepanjang perjalanan pulang Alina bercerita semuanya. Mulai dari permintaan aneh pria itu yang mutlak hanya mau dia, kesempurnaan setiap jawaban dan sikapnya, sampai kilatan dingin di balik mata dan rasa aneh yang sempat merayap di punggungnya tadi. Farhan mendengarkan seluruhnya dalam diam. Hanya sesekali jarinya mengetuk pelan setir dengan irama teratur, otak cerdasnya bekerja menyaring setiap potongan informasi satu per satu. Baru setelah Alina benar‑benar selesai bicara, ia membuka suara pelan namun berat.

“Kamu sama sekali tidak salah merasa, Lin.”

Ia menoleh sebentar ke arah calon istrinya itu, lalu kembali memandang lurus ke jalan di depan.

“Sesuatu yang terlalu bersih, terlalu baik, terlalu sempurna tanpa satu pun cela atau kelemahan manusiawi… itu bukan sifat asli. Itu adalah sandiwara. Yang dilatih berulang kali, bertahun‑tahun lamanya, sampai akhirnya terasa seperti bawaan lahir.”

Malam harinya di ruang kerjanya sendiri, Farhan membuka seluruh akses data arsip umum, catatan kependudukan, hingga arsip lama kepolisian yang masih bisa dijangkau lewat jaringan penelitian ilmiah yang ia kelola. Semakin dalam ia menggali nama Arka Pradana, semakin bulat rasa curiga yang menggelayuti tengkuknya.

Secara administrasi semuanya ADA. Lengkap. Sah. Berlaku di mana saja.

Tapi ada satu hal mengerikan yang tidak bisa ditutupi oleh seberapa pun rapinya dokumen palsu. Tak ada satu pun jejak, foto, catatan, atau saksi yang bisa membuktikan bahwa Arka Pradana pernah ada di dunia ini, sebelum ia berusia dua puluh satu tahun.

Seolah dia benar‑benar muncul begitu saja dari udara kosong. Lengkap dengan nama, keluarga, dan seluruh riwayat hidup baru.

Dan yang paling bikin dingin di tulang, tahun kemunculan pertamanya di catatan resmi negara, persis sama persis dengan tahun Raka Haris terakhir kali tercatat ada, sebelum akhirnya dinyatakan hilang tanpa jejak selamanya.

Sementara itu, kembali di lantai paling atas gedung tinggi itu, Arka kini benar‑benar sendirian.

Senyum ramah, rendah hati, dan penuh kebaikan yang ia pasang rapi seharian penuh, perlahan luruh begitu saja dari bibirnya. Berganti lengkungan dingin yang sama sekali tak ada belas kasihan. Ia bersandar santai di kursi kerjanya yang besar, jari‑jarinya menyentuh layar yang menayangkan rekaman kamera tersembunyi dari ruang tamu tadi siang. Wajah Alina terekam jelas di sana, yang berkali‑kali tanpa sadar mengerutkan keningnya sendiri.

Raka tertawa pelan. Rendah. Gema suaranya bergema sendirian di ruangan luas yang mulai gelap itu.

“Kamu mulai curiga ya, Alina?” gumamnya pelan pada bayangan dirinya sendiri di layar. “Baguslah. Semakin banyak kau bertanya, semakin dalam kau melangkah masuk ke jaring yang sudah aku anyam rapi bertahun‑tahun lamanya.”

Semuanya sudah ia siapkan sampai ke akar‑akarnya. Bukti transaksi palsu berlapis, saksi‑saksi yang sudah disiapkan jawabannya sampai ke jeda napas, jejak digital yang direkayasa sedemikian rupa. Awalnya semua itu akan membuat Alina makin yakin seratus persen bahwa Arka hanyalah korban fitnah belaka. Tapi nanti, di lembar paling akhir, di titik paling dalam yang baru akan terbuka saat sidang sudah berjalan jauh… semuanya akan berbalik arah seratus delapan puluh derajat sekaligus.

Nanti yang tertulis jelas di sana. Alina Mahendra lah otak sesungguhnya. Pengacara muda cerdas yang memanfaatkan kepercayaan kliennya, menggerakkan uang haram lewat nama perusahaan orang tak berdosa, lalu berusaha melemparkan kesalahan ke mana saja asal selamat.

Dan untuk Farhan?

Raka sudah siapkan tempat khusus juga untuk pemuda itu. Ia tahu betul naluri tajam calon suami Alina itu. Tahu betul dia sedang mengendap‑endap mencari jejak masa lalunya. Justru itulah yang paling ia tunggu. Semakin cepat Farhan berusaha membongkar topengnya, semakin cepat pula Raka memastikan satu hal, bukan cuma nama baik dan karier Alina yang akan hancur lebur tepat di hari pernikahannya nanti. Tapi juga nyawa, serta seluruh masa depan orang yang paling dicintainya di dunia ini.

Belum genap satu jam kemudian, ponsel Alina bergetar pelan di atas meja nakas.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal. Tanpa nama pengirim. Hanya satu kalimat pendek saja.

Kau masih sama saja, Alina. Selalu saja percaya pada apa yang cuma ingin kau lihat.

Darah di sekujur tubuh Alina seketika berhenti mengalir. Jari‑jarinya langsung dingin kaku memegang benda itu.

Kalimat itu. Susunan katanya. Cara dia mengucapkannya. Persis sama persis dengan kalimat terakhir yang pernah diucapkan Raka Haris, tepat sebelum ia menghilang tanpa jejak lima tahun silam.

Belum sempat napasnya kembali teratur, dering keras memecah keheningan kamar. Nama Farhan terpampang terang di layar. Saat jempolnya menggeser tombol angkat, suara pemuda itu terdengar berat, serius sekali, dan membawa kabar yang membuat jantungnya nyaris copot dari tempatnya.

“Lin… aku baru saja selesai mencocokkan sampel suara, frekuensi bicara, sampai titik‑titik ciri fisik halus yang terekam kamera kemiripan antara Arka Pradana dengan data Raka Haris yang masih tersimpan di arsip polisi…”

Ia berhenti sebentar, menarik napas panjang.

“Sembilan puluh sembilan koma sembilan persen.”

Bersambung…

 

1
Kam1la
tega ya. .. menantu sudah sebaik Alina, masih saja kurang
Kam1la
akhirnya sama-sama minta maaf...😍
Kam1la
bercadar sepertinya agak sulit bagi Alina
Kam1la
mungkin gantian Alina yg cemburu sama Laila🤭
penulismisterius
baru baca beberapa bab, novel ini punya narasi alur yang jelas😀 semangat berkarya author😀😀
penulismisterius
eh ini sambungannya novel sebelumnya kah ,kak?
penulismisterius: siaap, kak🐬🐬
total 2 replies
penulismisterius
baru bab pertama saja, sudah sebagus ini🤗
penulismisterius: kembali kasih kak, 🐬🤗🤗
total 4 replies
Kam1la
semoga lekas punya momongan
Kam1la
tidak terasa sudah 2 bulan
Kam1la
so Sweet...😍
Kayla Rane: 😍😍😍🤭 MalPer
total 1 replies
Alia Chans
Hadir Thor
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Kayla Rane: Maa Syaa Allah jazaakillah Khair KK, sudah mampir. tenang KA kalau ceritanya rada membosankan bisa di skip kalau ga suka, ini konflik beratnya cuma dari bab 1-29 saja. kesana nya hidup pernikahan Alina dengan bumbu2 cinta, ujian-ujian kecil di pernikahan mereka... selamat membaca 🙏😇
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Wiiih, tulisan-nya rapi gilak! Tspi, Kok Masih sepi pembaca ya? 😁😁😁 Aku tau Novel ini dari Grup NT di FB. 😁😁😁

Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏
Fadillah Ahmad: Bagi aku, nggk baik rasanya, kalau membaca Karya penulis, itu langsung dari Bab 30 Kak, retensinya bisa turun nantinya Kak 😁😁😁 Itu sama saja aku lompat Bab Kak 🙏🙏🙏😁 Itu Nggk Baik untuk Novel Kakak Nanti 🙏🙏🙏😁

Waaah Bagus dong Kak 😁😁😁 Aku termasuk Pembaca yang Kritis loh Kak 😁😁😁 Biasanya, kalau ada Typo aku langsung Kasih Koreksi Ke Penulisnya Kak... 😁😁😁🙏
total 5 replies
Umi Zein
aku mampir kak, di awal cerita keren, semoga gak ada Konflik yg berat, soalnya aku kurang suka cerita dengan konflik yg berat😄 semangat kak Kayla ✊😍😍
Kayla Rane: pantengin KK sampai 29 episode konflik beratnya.. bab 30 nya pernikahan dan bumbu rumah tangga...
total 2 replies
Kam1la
senjata yang paling kuat adalah do'a
Kam1la
ye, jadi menikah. 😍
Kam1la: iya, aku ikut bahagia nih...
total 2 replies
Kam1la
kejujuran Raka sudah terlambat
Wulandari Ayuningtyas
suka deh sama ceritanya.....semangat terus y 💪🤗
Wulandari Ayuningtyas: sama2 kak 🤗
total 2 replies
Kam1la
Raka kena juga
Kam1la
aku bangga👍, bu Siti jujur
Kam1la
bu Siti ini juga, akhirnya terlibat kan...makanya hati-hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!