Rui Naru sebenarnya capek jadi pewaris yang hidupnya diatur-atur kakeknya. Baru bahagia sebentar saja bisa pulang ke Indonesia untuk memeluk sang bunda, kakek masih saja menjadi bayang-bayang yang terus mengekangnya.
Satu-satunya hiburan buat dia cuma Nuha, cewek polos berkuncir air mancur yang diam-diam dia taksir. Setiap kali bertemu, ada saja kesan yang membuatnya kian ingin mendekat.
Makanya, waktu tahu Nuha lagi diincar dan mau dimanfaatin sama cowok narsistik paling populer di sekolah, Naru enggak bisa tinggal diam lagi. Ini saatnya dia bertindak.
Naru nekat lepas total atribut mewahnya dan menyamar masuk ke sekolah Nuha lewat jalur yayasan ibunya. Dia rela jadi cowok "biasa" demi bisa jagain Nuha dari dekat sekaligus jadi pembatas dari gangguan Dilan.
Bisa tidak Naru sukses melakukan penyamarannya tersebut sampai akhir? Apa sih yang dia cari sebenarnya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Nurhuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. Ujian & Nasib
Bruk!
Tubuh pemuda itu terlempar ke atas lantai marmer yang dingin, tepat di tengah ruang kantor eksekutif yang luas dan kosong.
Anehnya, dua pria yang membawanya kemari justru melepas tali pengikat dan lakban di mulutnya dengan cekatan, lalu melangkah mundur sambil membungkuk hormat.
Sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah, Naru bangkit berdiri. Tatapannya menyalang murka. "Kore wa dō iu tsumori da?! Ittai dare no sashigane da?!" ("Apa-apaan ini?! Siapa yang memerintahkan semua ini?!")
Tidak ada jawaban.
Sepuluh pria bersetelan jas hitam yang menyebar di kegelapan mulai merangsek maju, membentuk lingkaran barikade yang mengepungnya rapat-rapat.
Wuuush!
Sebuah pukulan mentah melesat ke arah wajahnya. Pemuda itu hanya menggeser kepala beberapa milimeter, membiarkan tinju itu lewat sebelum mencengkeram pergelangan tangan lawan. Dengan teknik kuncian aikido yang presisi, ia membanting tubuh kekar itu ke lantai hingga berdentum keras.
Dua orang lagi merangsek maju dari arah buta. Ia merendahkan tubuh, menghindari tebasan horizontal, lalu melepaskan tendangan berputar cepat (ushiro-geri) yang telak menghantam ulu hati lawan hingga terpental ke dinding.
Gerakannya begitu efisien, elegan, dan mematikan. Bagai bayangan, ia menyusup ke celah pertahanan lawan yang mulai goyah.
Bakk!
Satu sodokan telapak tangan terbuka (shotei) mendarat di dagu pria ketiga, membuatnya langsung pingsan. Dua pria berikutnya mencoba mengunci gerakannya, namun sang pemuda justru mencengkeram kerah jas mereka, memutar tubuh, dan membenturkan kepala keduanya hingga ambruk seketika.
Kurang dari lima menit, sepuluh pria bersetelan jas itu sudah tumbang tanpa sempat menyentuh seujung kuku pun pakaian sang pemuda.
Naru berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi dengan napas memburu halus. Kerutan di dahinya dalam, mereka semua seperti sengaja maju hanya untuk menguji kemampuannya. "Omae-tachi, nan no tsumori da?!" ("Apa maksud kalian yang sebenarnya?!") tuntutnya dingin. Kenapa para penculik ini seperti sengaja menyerahkan diri untuk dihajar?
Tiba-tiba, suara ketukan langkah kaki anggun terdengar dari balik pintu ganda di ujung ruangan.
"Naru-kun."
Seketika Naru menoleh tajam, sorot matanya yang sedingin es langsung melunak seketika. "Bunda?"
Seorang wanita paruh baya yang masih tampil sangat modis dan elegan melangkah masuk dengan senyuman hangat yang merekah.
"Moo iyyaaa, kamu udah sehebat ini ya ternyata. Bunda bangga banget sama kamu," ucap bundanya sambil merentangkan tangan. "Kakekmu menyandera kamu belasan tahun dan membuat bunda mati dalam kerinduan. Itu menyakitkan, hiks."
Naru mengerjap, otot-otot tubuhnya yang tadi menegang kini mendadak lemas. "He?"
"Naru-kun, wagaya e okaeri. Indonesia e." ("Naru-kun, selamat datang di rumah. Indonesia,") ucap sang bunda, lalu melangkah cepat dan langsung memeluk tubuh tegap putranya dengan begitu erat, meluapkan kerinduan belasan tahun yang tertahan.
Merasakan kehangatan yang sudah sangat lama hilang dari hidupnya, Naru perlahan membalas pelukan itu. Air mukanya melunak total, dan untuk pertama kalinya hari ini, senyum tulus terukir di wajahnya.
"Tadaima, Okaasan."
("Aku pulang, Bunda.")
"Maaf tentang ini ya, Naru-kun." Sang bunda melepaskan pelukannya, menatap wajah putranya dengan tatapan bersalah yang tulus.
"Maksud Bunda?"
"Ini semua ulah kakekmu yang memata-mataimu, tauk. Kamu telat 10 menit sampai di Indonesia dan melihatmu tengah bersama seorang anak sekolah di tanggul tadi, Kakek langsung menyuruh Bunda untuk melakukan tes mendadak ini. Sungguh merepotkan."
Mata Naru membelalak. "Oji-sama?!"
“Hahaha ...”
Suara tawa tua yang berat dan menggelegar tiba-tiba memenuhi seisi ruangan. Layar proyektor 40 inch di dinding kantor yang tadinya mati, kini otomatis menyala dan menampilkan panggilan video langsung.
Di sana, duduk seorang pria tua dengan tatapan mata elang yang mematikan. Sang kakek yang berada jauh di Jepang. Wibawa dan aura absolut yang dipancarkan pria tua itu seketika membuat sang bunda dan seluruh pengawal yang ada di ruangan langsung menundukkan kepala dengan hormat penuh kepatuhan.
"Tatakai no naka de wa, mada kore hodo shūchū dekiru yō da na, Naru." ("Ternyata kamu masih sefokus ini dalam bertarung, Naru,") nada sang Kakek terdengar memuji namun sekaligus mengintimidasi. Pria tua itu kemudian menyeringai tipis.
"Dewa, naze kesa wa, taka ga hitori no komusume ni are hodo yudan shita no da? Jitensha no taiya gotoki ni, wagaya Rui-ke no mirai no 'chūshin' o kyōda sareta kibun wa dō da, n?" ("Lalu, kenapa tadi kau bisa selengah itu hanya karena seorang gadis? Bagaimana rasanya setelah pusat masa depan keluarga Rui dihantam telak hanya karena ban sepeda, hm?")
Pfftt!
Mendengar itu,
Bunda yang berdiri di samping Naru langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya naik turun, menahan tawa yang hampir meledak hebat. Wajah Naru seketika memerah padam. Ia merasa malu setengah mati sampai rasanya ingin amblas ke dalam lantai marmer saat itu juga.
Naru memejamkan mata perlahan, mengembuskan napas pasrah. Dengan pengawasan ketat dari para mata-mata sang kakek, dia benar-benar tidak akan punya waktu untuk sekadar bersenang-senang atau menikmati masa mudanya.
Niat membara untuk mencari dan membalas dendam pada gadis SMA tengil yang sudah menabrak "aset masa depannya" di tanggul tadi pagi, seketika pupus sudah. Kakek akan terus ikut campur dalam kebebasan hidupnya nanti.
Sementara ...
di belahan kota lain sang pewaris takhta Jepang tengah meratapi nasib korporatnya, nasib Inara Nuha di atas aspal jalanan tidak bisa dikatakan lebih baik.
Siang itu, matahari bersinar luar biasa terik. Saking panasnya, daya imajinasi indah Nuha yang biasanya liar seketika ciut dan melempem.
Energi Nuha sudah terkuras habis akibat dihukum karena terlambat di hari pertama Masa Orientasi Siswa (MOS) yang terkenal kejam. Sekarang, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia harus berjuang mengayuh sepedanya untuk pulang ke rumah.
"Ini semua gara-gara manusia palsu tadi! Udah telat, dia bikin makin telat. Awas kalau ketemu lagi, aku akan balas dendam!" geramnya.
"Kamu nggak bisa nyalahin orang, Nuha. Jelas-jelas itu salahmu karena nekat nabrak dia."
"Itu kan kamu yang nyuruh!"
"Hehe, iya juga. Maklum, kita jarang ketemu orang ya begini. Lagian, kamu juga nurut aja apa kataku tadi. Jadi itu salahmu, kapten!"
"Kamu keterlaluan, Hawa!"
Begitulah mereka kalau bertengkar.
Setiap kayuhan pedal terasa begitu berat, seolah ban sepedanya sedang melewati hamparan lumpur isap. Dengan topi kerucut dari karton yang digantung di setang dan tas punggung penuh atribut MOS yang berat, Nuha terengah-engah.
"Huhu, rasanya mau pingsan ..." ratap Nuha, napasnya tersengal-sengal dan betisnya sudah terasa sekaku kayu.
Hawa terbang santai memutarinya tanpa beban. "Jangan patah semangat sekarang, Nuha ... Besok masih ada dua hari lagi buat Masa Orientasi Siswa. Belajar dari pengalaman hari ini. Ayo perbaiki dirimu! Kayuh terus!"
"Tidaaaaaakkkkk!! Ini sungguh menyiksa. Lututku rasanya mau lepas!" Nuha merengek, terpaksa berhenti di pinggir jalan sejenak untuk menyeka keringat yang bercucuran di dahinya.
"Eits, jangan menyerah dulu! Ingat, kamu masih punya PR dari kakak MOS. Semua barang aneh yang harus kamu bawa besok pagi!" Hawa mengingatkan dengan wajah tanpa dosa.
Nuha seketika mengerang frustrasi, hampir saja membenturkan kepalanya ke setang sepeda. Ia teringat secarik kertas lecek di dalam sakunya yang berisi lima barang bawaan untuk besok. Semuanya ditulis menggunakan bahasa teka-teki absurd yang sukses membuat otak introvert Nuha makin korsleting.
"Aku harus cari cokelat lumba-lumba di mana ...?! Toko mana ada yang jual cokelat begitu!" keluhnya histeris, merujuk pada teka-teki cokelat dolphin yang legendaris itu.
"Terus, gimana cara bikin nasi goreng pelangi? Apa nasinya harus aku warnai pakai krayon?!" Nuha meratapi nasibnya sambil kembali mengayuh sepeda dengan lemas. "Belum lagi harus pakai kaos kaki zebra. Terus ... disuruh bikin surat cinta buat kakak MOS tergalak! Kenapa dunia SMA sekejam ini, Hawaaaaa?!"
"Ish, kamu bau keringat kapten!"
.
.
. NEXT》Bab 03. Sampai jumpa besok 👋
🤣🤣 Udah dibangun tegang, romantis, deg-degan, eh ditutup dengan panggilan Bambang.
🤣 malah ngajak tinggal bareng di kos biar bisa nyiksa mentalnya pelan-pelan. Musuh paling bahaya emang yang senyumnya paling kalem. 😭👌
Selama ini dia kebanyakan gaya dan ngerasa semua bisa diselesain pake duit, eh giliran nama bokapnya dibawa langsung ciut. Karma emang nggak pernah salah alamat. 😂🔥
kak nama2 tokoh mu unik2 yx ,,
lanjut kak
Kan dia suka sama Naru.