Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2_keputusan yang bulat
"Aku ingin bercerai," ucap Elvara datar. Tatapan matanya lurus ke depan, enggan barang sedetik pun menoleh ke arah Arsenio yang kini terpaku di tempatnya.
Arsenio tersentak, wajahnya seketika pias mendengar keputusan sepihak itu. Baru saja bibirnya terbuka hendak melayangkan protes, Elvara sudah kembali bersuara dengan nada yang tak terbantahkan.
"Aku ingin semua aset atas nama keluargaku yang ada padamu dicabut. Mulai dari jabatanmu sebagai CEO, fasilitas, hingga hal sekecil apa pun," lanjut Elvara. Suaranya terdengar begitu dingin dan tenang, kontras dengan gemuruh yang sempat meledak sebelumnya.
"Elvara, t-tunggu dulu!" ucap Arsenio terbata-bata. Matanya membelalak, memandang sang istri dengan tatapan tidak percaya sekaligus panik. "Jika kamu mencabut semua aset itu, bagaimana aku bisa menghidupi Celine dan anak yang sedang dikandungnya?" tanya Arsenio, suaranya meninggi, menuntut pertanggungjawaban yang konyol.
Elvara perlahan menoleh. Kali ini, sepasang netranya memancarkan sorot yang benar-benar berbeda.
Tidak ada lagi sisa-sisa tatapan hangat dari seorang Elvara yang lemah lembut; yang tersisa hanyalah kekosongan yang membekukan.
"Apa aku peduli, Mas?" tanya Elvara balik. Nada suaranya berbisik tajam, begitu dingin hingga mampu menusuk ego Arsenio.
"Elvara! Kamu tidak bisa seenaknya mencabut semua asetku begitu saja!" bentak Arsenio. Rahangnya mengeras dengan urat-urat leher yang menegang, tanda pria itu mulai frustrasi karena dunianya mendadak runtuh.
Elvara menyunggingkan senyuman sinis, menatap Arsenio dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan merendahkan.
"Apa kamu lupa siapa sebenarnya aku, Mas?" tanya Elvara mantap. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka tanpa rasa gentar sedikit pun. "Aku adalah pewaris nomor dua di perusahaan yang sedang kamu pimpin sekarang, tepat setelah kakakku. Sejak awal, seharusnya aku yang menjalankan perusahaan itu. Hanya karena aku terlalu mencintaimu, aku memilih mengalah dan membiarkanmu mengelola harta milik keluargaku."
Elvara menjeda kalimatnya, menarik napas pendek seraya menatap Arsenio dengan raut jijik yang kentara.
"Namun ternyata, di balik semua pengorbanan yang kulakukan, pengkhianatan menjijikkan ini yang aku dapatkan darimu," jelas Elvara, diakhiri tawa hambar yang terdengar begitu mengejek di telinga Arsenio.
Arsenio seketika terdiam. Lidahnya mendadak kelu, seolah baru saja dihantam kenyataan pahit yang amat telak.
Selama ini, kebutaan ego dan jabatannya telah membuat dia benar-benar melupakan siapa sosok wanita yang berdiri di hadapannya wanita yang telah mendampinginya sebagai istri selama enam tahun terakhir.
Kenyataan bahwa Elvara adalah putri dari keluarga terpandang yang kekayaannya jauh melampaui garis keturunan Arsenio kini berputar kembali di kepalanya.
Dulu, hubungan mereka sempat ditentang keras oleh kakak laki-laki Elvara yang mencium gelagat tidak baik dari Arsenio.
Namun, karena rasa cinta dan kasih sayang Elvara yang begitu besar dan tulus untuk Arsenio, wanita itu mati-matian meyakinkan keluarganya hingga akhirnya sang kakak luluh dan memberikan restu.
Ironisnya, setelah segala pengorbanan itu, balasan yang diterima Elvara justru perlakuan yang amat menjijikkan dan sebuah pengkhianatan yang tak berampun.
"Besok, aku akan menyuruh pengacara dan asisten pribadiku untuk mengurus semuanya. Mulai dari surat perceraian, penyitaan kembali seluruh aset, hingga surat pemecatanmu sebagai CEO di perusahaan keluargaku," ucap Elvara. Suaranya terdengar begitu dingin, datar, dan sarat akan ketegasan yang mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun.
"E-Elvara, a-aku mohon, jangan cabut semuanya," ucap Arsenio terbata-bata. Lututnya mendadak lemas, wajahnya pias dipenuhi rasa panik yang menjalar hingga ke ujung jari.
Dia menatap Elvara dengan pandangan memohon yang amat menyedihkan.
"K-kalau begitu, a-aku janji akan memutuskan hubunganku dengan Celine sekarang juga!" lanjut Arsenio cepat, mencoba menawar harga diri demi menyelamatkan posisinya.
Namun, kalimat itu justru membuat raut wajah Elvara kian mengeras karena merasa muak.
"Aku tidak butuh laki-laki penawar seperti itu, Arsenio," sahut Elvara cepat dan tajam.
Arsenio langsung tersentak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan saat mendengar untaian kata yang keluar dari bibir istrinya.
Dadanya bergemuruh hebat, terutama saat menyadari wanita itu tidak lagi memanggilnya dengan sebutan hangat, melainkan hanya menyebut namanya dengan begitu asing.
"Elvara, kenapa kamu berubah seperti ini? I-ini bukan Elvara yang aku kenal" ucap Arsenio dengan suara bergetar dan tatapan mata yang membelalak syok.
Dia menggelengkan kepalanya perlahan, menatap sang istri dengan rasa tidak percaya yang membuncah.
"Elvara yang aku kenal, tidak pernah sekali pun memanggilku hanya dengan nama." lanjutnya dengan wajah yang begitu terkejut sekali.
"Mau aku berubah atau tidak, itu sudah bukan urusanmu lagi dari sekarang, Arsenio," jawab Elvara. Nada suaranya berbisik begitu dingin, seolah setiap kata yang terucap adalah es yang membekukan atmosfer di dalam kamar mereka. "Sekarang, malam ini juga, tolong kemasi semua barang-barangmu. Dan pergi dari rumah ini!" lanjut Elvara lantang.
Mendengar perintah itu, Arsenio seketika membelalakkan matanya dengan sempurna. Jantungnya berdegup kencang dihantam rasa tidak percaya.
"E-Elvara, t-tunggu dulu" ucap Arsenio terbata-bata. Dengan raut wajah yang panik dan gusar, dia mencoba melangkah maju, berjalan mendekat ke arah istrinya demi meminta belas kasihan.
"Jangan mendekat! Dan jangan pernah menyuruhku untuk menunggu lagi, Arsenio!" sahut Elvara cepat.
Sorot matanya menghujam tajam, memancarkan kilatan amarah yang seketika membuat langkah kaki Arsenio terhenti kaku di tempatnya.
"Elvara, aku mohon, tolong jangan usir aku seperti ini. A-aku tidak memiliki tempat tinggal lain lagi," jelas Arsenio dengan suara yang mulai serak dan bergetar pasrah.
Pria itu menangkupkan kedua tangannya di dada, menatap Elvara dengan pandangan memohon yang amat melas.
"Setidaknya, berikan aku waktu beberapa hari. Agar, agar aku bisa mencari tempat tinggal baru." lanjut Arsenio dengan suara yang begitu panik.
Elvara menyunggingkan senyum getir yang dipenuhi rasa muak, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
"Aku sudah bilang, aku tidak peduli, Arsenio! Semua itu adalah tanggung jawabmu sendiri karena sudah berani melakukan hal yang menjijikkan di belakangku!" kata Elvara tegas.
Dia menunjuk ke arah pintu kamar dengan telunjuknya yang bergetar menahan luapan emosi, sementara matanya menatap Arsenio tanpa ada sedikit pun rasa iba yang tersisa.
"Aku hanya sedang memberikan apa yang memang pantas kamu dapatkan, Arsenio." lanjut Elvara dengan tatapan yang begitu tajam sekali walaupun sebenarnya dia rapuh.
Kalimat penutup dari Elvara sukses membuat Arsenio benar-benar syok. Pria itu berdiri mematung dengan wajah yang kian memucat, menyadari bahwa runtuhnya seluruh dunianya malam ini adalah akibat dari perbuatannya sendiri.
"Keluar sekarang juga!" teriak Elvara. Suaranya menggelegar memenuhi seisi kamar, bergetar hebat memuntahkan seluruh amarah dan luka yang meluap-luap dari dalam dadanya.
Arsenio tersentak mundur satu langkah. Tubuhnya gemetar menyadari bahwa wanita di depannya tidak lagi memiliki celah untuk dimintai ampun.
"E-Elvara" panggil Arsenio lirih, menatap nanar wanita yang malam ini, untuk terakhir kalinya, berstatus sebagai istrinya.
Ada rasa kehilangan yang teramat besar mendadak menyergap hatinya, namun semua sudah terlambat.
"KELUAR!" teriak Elvara kembali, kali ini dengan suara yang melengking parau. Jari telunjuknya menuding lurus dan gemetar ke arah pintu kamar yang terbuka lebar.
Sepasang matanya kini memerah padam, menghujam tajam langsung ke netra Arsenio. Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di kelopak matanya yang sembap, siap runtuh bersama hancurnya sisa-sisa harga diri pria itu.
Tatapan Elvara begitu menusuk dan penuh kilatan murka seolah mempertegas bahwa seluruh batasan kesabaran dan ketulusan yang ditekunya selama enam tahun pernikahan, kini telah hancur lebur tak bersisa akibat pengkhianatan yang teramat menjijikkan ini.