NovelToon NovelToon
DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

DIBUANG SAAT MISKIN, KINI AKU JADI OBSESI PARA KONGLOMERAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bullying dan Balas Dendam / Dark Romance / Wanita perkasa
Popularitas:421
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Lima tahun lalu, Indri Izanami dibuang saat hidupnya berada di titik terendah. Dikhianati, dihina, dan ditinggalkan oleh orang-orang yang pernah ia cintai, ia menghilang tanpa jejak dari Jakarta.

Kini, ia kembali.

Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diinjak-injak,tapi sebagai sosok misterius yang memesona, berkuasa, dan berbahaya. Kehadirannya mengguncang para konglomerat yang pernah menghancurkannya.

Ardika, mantan kekasih yang dulu membuangnya, kini terobsesi untuk memilikinya kembali.

Surya Rabinson, cinta pertama yang menjadi sumber luka terdalamnya, mendadak terjebak dalam hasrat dan penyesalan yang membara.

Dan ketika Hisoka Adicambra, sang kaisar bisnis yang paling ditakuti di Jakarta, menunjukkan ketertarikan padanya, permainan balas dendam berubah menjadi perang kekuasaan yang mematikan.

Namun di balik senyum dinginnya, Indri menyimpan satu tujuan:

Membuat mereka semua berlutut di hadapannya.

Karena kali ini, yang menjadi mangsa bukan lagi dirinya.

Melainkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penanda di Atas Penthouse

"Bukankah itu yang kau harapkan dari seseorang yang kau bawa ke penthousmu?" Indri bertanya, suaranya lembut, namun menusuk. "Kau tidak akan membawaku ke sini jika aku masih sama, kan?"

Ardika meringis sedikit. "Kau tahu itu tidak benar. Aku selalu... selalu menginginkanmu, Indri." Ia mengambil segelas anggur, menawarkan kepada Indri.

Indri mengambilnya. Jemari mereka bersentuhan sebentar, percikan dingin. "Menginginkanku, atau menguasai bayangan Indri yang ada di kepalamu?" Ia menyesap anggur, membiarkan rasa pahit-manisnya menari di lidah.

"Apa pun itu," Ardika menegaskan, mendekat ke bak mandi, berlutut di sampingnya. "Aku yang membawamu kembali ke sini. Aku yang memberikanmu tempat ini." Tangannya perlahan meraih, menyentuh tepi bak mandi. "Kau tahu apa yang aku inginkan sebagai imbalannya, bukan?"

Indri menatapnya lurus. Tentu saja aku tahu. Ini adalah bagian dari harga yang harus kubayar. Ia menyingkirkan rambut basahnya dari wajah. "Apakah kau yakin bisa menahannya?"

Ardika tertawa sinis. "Menahan apa? Kau? Aku selalu bisa menguasaimu, Indri. Dulu, sekarang, dan selamanya." Ia mencondongkan tubuh, mencium leher Indri. Aroma melati bercampur dengan bau maskulin Ardika yang tajam.

Indri tidak bergerak, membiarkan ciuman itu. Jantungnya berdetak cepat, bukan karena gairah, melainkan karena perhitungan. Ia adalah pion, ya, tapi pion yang akan menghancurkan papan catur. Ia memutar tubuhnya, menghadap Ardika, membiarkan air tumpah sedikit dari bak mandi.

"Benarkah?" Indri bertanya, suaranya berbisik. "Atau kau hanya ingin membuktikan kepada dirimu sendiri bahwa kau masih memiliki kendali atas diriku, setelah apa yang aku katakan di bandara?"

Pertanyaan itu tepat sasaran. Ardika menegang. Wajahnya mengeras. "Kau milikku, Indri. Kau selalu tahu itu."

"Aku tidak pernah menjadi milik siapa pun, Ardika," Indri berbisik, mendekatkan wajahnya ke wajah Ardika. "Tapi kau boleh mencoba." Ia mencium Ardika, sebuah ciuman yang mendalam, penuh tuntutan, namun tanpa emosi yang tulus. Itu adalah ciuman seorang pemburu yang menjebak mangsanya.

Ardika merespons dengan intensitas brutal, seolah ingin melenyapkan keraguan dan ketakutannya sendiri. Ia menarik Indri dari bak mandi, air membasahi lantai marmer yang dingin. Sentuhannya kasar, namun Indri tidak melawan. Ia membiarkan dirinya ditarik, didorong, dicium dengan penuh kemarahan dan nafsu. Di dalam dirinya, ada rasa jijik, namun juga kepuasan dingin melihat Ardika kehilangan kendali.

Di tengah gairah yang memanas, di atas tempat tidur berselimut sutra, Indri merasakan Ardika berusaha memaksakan dominasinya. Setiap sentuhan, setiap ciuman, adalah upaya untuk menancapkan kembali klaim kepemilikannya. Namun, Indri adalah batu yang tak tergoyahkan. Ia membalas setiap serangan Ardika dengan keheningan, dengan tatapan mata yang kosong namun tajam, dengan sentuhan yang memancing namun menolak kepatuhan. Ia adalah oasis di tengah gurun Ardika, yang selalu menarik namun tidak pernah bisa sepenuhnya dimiliki.

"Mengapa kau begitu dingin?" Ardika terengah-engah, mencengkeram lengan Indri, mencoba mencari ekspresi yang dikenalnya di wajahnya.

"Aku belajar dari yang terbaik," Indri menjawab datar, tanpa sedikit pun emosi. "Dunia mengajariku. Dan kau adalah salah satu pengajarnya, Ardika."

Kata-kata itu seperti belati, menancap tepat di jantung harga diri Ardika. Gairahnya berubah menjadi amarah, amarah menjadi frustrasi. Ia mencoba untuk lebih kasar, lebih menuntut, namun Indri hanya menatapnya, seolah ia adalah patung yang indah dan tak bernyawa, tidak terpengaruh oleh upaya Ardika untuk menghancurkan pertahanannya.

Akhirnya, Ardika menyerah. Ia roboh di samping Indri, kelelahan, bukan hanya secara fisik, melainkan juga secara mental. Nafasnya terengah-engah, dan ia memalingkan wajah, tidak tahan melihat tatapan dingin Indri. Ia tidur, atau setidaknya berpura-pura tidur, dengan rasa sakit dan kekalahan yang jelas terlihat di bahunya yang tegang.

Indri menoleh ke samping, menatap wajah Ardika yang kini terlelap. Sebuah bayangan kekuasaan yang dulu begitu mengintimidasinya, kini terlihat begitu rapuh dan kosong. Ia perlahan bangkit, menutupi tubuhnya dengan selimut sutra. Tidak ada penyesalan, tidak ada rasa bersalah. Hanya sebuah perhitungan. Ia telah membayar harga awal, harga yang ia tahu akan sangat sering ia bayar di masa depan.

Ia berjalan ke jendela, menatap kembali ke lampu-lampu Jakarta. Kota ini adalah medannya, para konglomerat di bawah sana adalah pionnya, dan Ardika... Ardika hanyalah langkah pertama. Indri tersenyum tipis, kali ini senyum yang mencapai matanya, namun penuh dengan niat buruk. Ia sudah merencanakan langkah selanjutnya. Surya Rabinson. Cinta pertamanya. Musuh terbesarnya. Permainan sebenarnya akan segera dimulai. Ia membiarkan selimut melorot sedikit, menampakkan bahunya yang mulus, seolah siap menghadapi dunia dengan telanjang, tanpa rasa takut. Malam belum larut, dan Indri tahu, ia akan membuat Jakarta berlutut.

*

Indri menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu Jakarta. Kota ini adalah medannya, para konglomerat di bawah sana adalah pionnya, dan Ardika... Ardika hanyalah langkah pertama. Indri tersenyum tipis, kali ini senyum yang mencapai matanya, namun penuh dengan niat buruk. Ia sudah merencanakan langkah selanjutnya. Surya Rabinson. Cinta pertamanya. Musuh terbesarnya. Permainan sebenarnya akan segera dimulai. Ia membiarkan selimut melorot sedikit, menampakkan bahunya yang mulus, seolah siap menghadapi dunia dengan telanjang, tanpa rasa takut. Malam masih muda, dan Indri tahu, ia akan membuat Jakarta berlutut.

Malam berikutnya, udara terasa lebih ringan, namun ketegangan di udara Jakarta tetap sama pekatnya. Indri menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin, bukan untuk mempercantik diri, melainkan untuk menciptakan sebuah karya seni. Sebuah masterpiece manipulasi. Gaun merah menyala, potongan rendah di punggung, memeluk setiap lekuk tubuhnya dengan sempurna, namun tetap memancarkan aura kemewahan yang tak tersentuh. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, bergelombang lembut, membingkai wajahnya yang kini tanpa ekspresi, seolah topeng baja yang dipoles sempurna.

Ini bukan aku. Ini Indri yang mereka inginkan. Wanita yang dapat dikagumi, namun tidak pernah bisa dimiliki.

Ardika menunggu di lobi penthouse, mengenakan setelan tuksedo yang dibuat khusus, tampak gagah, namun ada nada gelisah di matanya. Saat Indri menuruni tangga, setiap langkahnya mengundang perhatian, setiap gerakan gaunnya berdesir seperti bisikan berbahaya. Mata Ardika melebar, seolah melihat penampakan. Ia melangkah maju, tangannya terulur.

"Kau... luar biasa, Indri," bisiknya, suaranya sarat dengan kekaguman yang nyaris menyakitkan.

Indri membiarkan Ardika meraih tangannya, jari-jarinya terasa dingin di kulit Ardika. Ia hanya tersenyum tipis, sebuah isyarat yang tak berarti. "Tentu saja," jawabnya, suaranya tenang. "Kau pikir aku akan mengecewakanmu di pesta terpenting tahun ini?"

Ardika hanya bisa mengangguk, tertelan oleh pesona Indri yang kini begitu mematikan. Ia merasakan semua mata di lobi tertuju pada mereka, pada wanita yang dulu ia buang, kini kembali di sisinya, jauh lebih berharga daripada sebelumnya. Keangkuhan bercampur dengan ketakutan melingkupi Ardika. Ia tahu bahwa membawa Indri ke acara seperti ini adalah perjudian, tetapi ia tidak bisa menolaknya. Indri adalah trofi yang ia butuhkan, bukti dari kendali yang ia yakini masih ia miliki.

1
Towang Risawang
Selamat datang para pembaca yang budiman.

Silakan berkomentar untuk memberikan masukan demi meningkatnya mutu karya saya di masa yang akan datang.

Terima kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!