"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
Luis dengan kasar menindih tubuh Laura, tangannya cepat merobek kancing seragam putih yang menutupi dadanya.
Setelah mesin mobil berhenti, udara di dalam kabin terasa sesak, seolah napas mereka saling bertarung untuk bertahan.
Matanya menyipit penuh ejekan, tatapannya menusuk seolah ingin membakar rahasia yang disembunyikan.
"Aku nggak menyangka. Gadis SMA yang hampir lulus sepertimu pernah melahirkan dan memiliki ASI," suaranya dingin dan penuh penghinaan, seolah mengoyak harga dirinya yang rapuh.
Laura terisak, air matanya mengalir tanpa henti, namun hatinya bergejolak. "Kak Luis, aku nggak berbohong. Aku hanya kelebihan hormon, jujur aku nggak pernah hamil dan melahirkan," jawabnya dengan suara bergetar, berharap kata-katanya bisa menembus kerasnya dinding kemarahan Luis.
Namun, Luis tak peduli, tangannya semakin mencengkeram erat, membuka paksa dada Naura lalu mulai mengisapnya dengan rakus, seolah menegaskan tuduhannya.
"Dasar penipu," gumamnya penuh kebencian, sementara Naura hanya bisa menahan kesakitan dan kehancuran yang menyelimuti dirinya.
Kedua tangan Laura mencengkram lengan Luis, saat Luis menghisapnya dengan kasar.
"Kak Luis, ini salah ... " Ujar Laura dengan suara penuh kepedihan.
"Apanya yang salah?" Sahut Luis ketus, ia yang sudah selesai menjauhkan tubuhnya dari Laura, ekspresi terlihat jijik saat menatap Laura.
"Kita itu saudara, nggak seharusnya kamu meminum ... " Ucapan Laura terhenti, berganti dengan isakan tangis.
Ia nampak kesulitan melanjutkan ucapannya.
Luis hanya tersenyum sinis, wajahnya malah kembali marah, terlihat tidak menunjukkan rasa bersalah sama sekali.
"Kehidupanku yang sekarang ini aku sudah tidak percaya dengan salah dan benar? Intinya kamu hadir tiba-tiba dan menjadi anak kandung ayahku, itu suatu hal yang salah."
Luis mencengkram dagu Laura dengan kasar, "Kamu itu hanya anak haram dari seorang pelakor yang hina. Nggak usah sok pintar dengan mengajariku, seumur hidupmu kamu harus membayar hal yang dilakukan oleh ibumu hingga menyebabkan ibuku pergi dari rumah."
Air mata Laura luruh, matanya yang berwarna hazel beradu dengan mata biru milik Luis yang penuh kebencian.
Luis melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar, "jangan sok suci dengan menolak keinginanku. Kamu hanya seorang jalang yang tidak tahu malu, pernah hamil dan juga melahirkan."
Ucapan Luis bagaikan cambuk yang dicambukkkan ke dalam tubuh Laura.
Laura memilih diam mematung dan tidak menanggapi ucapan Luis, semua yang keluar dari mulutnya selalu salah, bahkan sama sekali tak pernah didengarkan oleh Luis.
Saat ingin mengancingkan bajunya, Laura tertegun saat melihat kancing bajunya tidak ada.
Lalu ia menoleh ke arah Luis yang fokus mengemudikan mobilnya.
Luis tahu kalau Laura menatapnya, tapi ia memilih pura-pura tidak melihat, ia berharap Laura akan merengek padanya.
Tapi, sampai mobil mewah Luis akan sampai ke sekolah. Laura masih saja diam.
Hal itu sungguh membuat Luis kecewa, walaupun ia merasa ada yang aneh dengan sikap Laura.
Tapi Luis yang teringat memiliki kelemahan Laura, memilih acuh dan tidak peduli.
Laura memilih memejamkan matanya, berpikir seraya mencari solusi untuk masalahnya sendiri.
Tapi otaknya bukanya membantunya berpikir, malah mengingat masa lalu.
Setelah dirinya kecelakaan, ntah kenapa Laura tidak bisa mengingat apapun, setelah dibawa ayahnya masuk ke dalam keluarga Wilson. Ia hanya mendapatkan siksaan dan tekanan batin dari Luis.
Walaupun didepan Wilson, Luis akan bersikap sangat manis dan baik pada dirinya.
Sebenarnya ia mengerti, alasan kenapa Luis melakukan semua itu? Tapi apa salahnya hingga dibenci sedemikian rupa.
Ntah dirumah dan disekolah baginya sama saja, Luis selalu melakukan hal yang menyakiti hatinya.
Sebelumnya Laura bisa tahan, tapi sejak semalam Luis mulai berani membuka bajunya bahkan menghisap air susunya, Laura merasa jika dirinya sudah difase lelah. Lelah untuk menghadapi Luis, lelah terus tersakiti.
Semalam ia tidak bisa tidur, ia bertekad ingin kabur dan meninggalkan keluarga Wilson.
Tapi apa daya? Hal itu tidak bisa diputuskan gegabah, ayahnya begitu baik. Ia masih memikirkan, jika sampai dirinya kabur ayahnya pasti akan mengkhawatirkan dirinya.
"Kamu beneran ingin memperlihatkan tubuhmu pada semua orang disekolah?" Celetuk Luis, hal itu langsung membuyarkan lamunan Laura.
Laura mengepalkan tangannya, menahan kebencian yang sudah membuncah pada Luis.
Awalnya ia akui, dulu ia memang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Luis.
Ia tahu, cintanya itu salah, karena ia saudara seayah. Karena sesungguhnya perasaan tidak bisa dipaksakan.
Tapi sekarang rasa cinta itu perlahan terkikis oleh rasa sakit yang setiap hari Luis berikan padanya.
Laura menjawab tanpa menatap ke arah Luis, "Sementara aku akan menutupinya dengan tanganku. Lalu aku akan meminjam baju di UKS."
Tak berselang lama, mobil mewah milik Luis pun berhenti di depan gerbang SMA Bintang.
Saat Laura ingin turun, Luis mencekal tangan Laura.
"Ada apa tuan muda Luis?" tanya Laura dengan suara datar dan dingin.
Ntah kenapa Luis tiba-tiba merasa tidak suka dan tidak nyaman dengan panggilan 'Tuan muda' yang sebelumnya Luis inginkan.
"Ini seragamnya, kamu ganti disini saja!" Ujar Luis yang mana membuat Laura mengangkat satu alisnya.
Laura merasa heran, tidak biasanya Luis bersikap baik dan toleran seperti ini.
"Apa mungkin Luis melakukannya karena dirinya merasa bersalah," pikir Laura. Tapi ia buru-buru menepis pikiran itu, mengingat kelakuan Luis semalam memang tidak akan pernah ia maafkan.
Ia mengembalikan atasan berwarna putih yang sebelumnya diberikan kepada dirinya, "nggak perlu."
Luis menanggapi dengan senyuman sinis, "kamu marah padaku? Atas dasar apa? Apa kamu lupa, selama tiga tahun kamu makan dan tinggal dirumahku."
Laura yang sudah bosan menangapi ucapan Luis memaksa keluar dari mobil, tapi saat tangannya menyentuh handle pintu.
Luis malah mengunci pintu mobilnya.
"Sepertinya, selama ini aku terlalu baik padamu Laura." Ujar Luis marah.
Alis Laura mengerut, saat melihat Luis milih marah. "Bukankah harusnya yang marah itu aku? Kenapa dia?" Pikir Laura heran.
Tiba-tiba Luis mencium dan melumat bibirnya, Laura terkejut sontak mengigit bibir Luis.
"Kamu anjing ya? Kenapa gigit?" Ujar Luis dengan senyuman sinis, tapi ntah kenapa Laura yang keras kepala dan tidak penurut ini membuatnya suka.
Cuman ia merasa marah dan tak nyaman saja saat Laura merajuk.
Laura tidak menanggapi, ia berkata dengan nada dingin. "Gerbang sekolah lima menit lagi akan ditutup. Tuan muda Luis, biarkan aku keluar dari mobil."
"Kalau mau keluar dari mobilku, segera ganti seragammu!" Ujar Luis, menolak penolakan Laura.
Laura yang tidak ingin kena hukuman karena terlambat masuk gerbang, akhirnya memilih untuk menyetujui ucapan Luis. Ia mengambil seragam itu dan bersiap keluar mobil.
Tapi Luis masih belum membuka kunci mobil. "Aku akan memakainya, kenapa kamu belum membukanya?" Ujar Laura tak sabar.
Luis pura-pura memejamkan mata sambil melipat tangan di dada. "Aku ingin kamu ganti seragammu di sini," sahut Luis.
Naura yang terkejut langsung berteriak, "Apa kamu bilang?"
"Ya, buruan ganti kalau nggak mau terlambat."
Laura melirik jam di tangannya, melihat waktu yang sangat mepet.
Dia tak punya pilihan lain. Mobil mewah Luis dilengkapi fitur penggelap kaca, agar orang di luar tak bisa melihat ke dalam.
Setelah mengaktifkan mode itu, Laura mulai melepaskan seragamnya.
Dengan nada peringatan, ia berkata, "Tutup matamu. Jangan lihat."
Namun saat hendak mengancingkan baju seragam yang diberikan Luis, tatapan Laura tiba-tiba menoleh ke arah pria itu.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Luis menatapnya seperti orang kelaparan. "Dasar mesum!" gerutu Laura.