Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Sebuah Tragedi
Bogor, 22 Desember 2024.
Zaid tengah memandangi foto keluarga mereka saat masih lengkap, tapi di foto itu tidak ada Arinta, lebih tepatnya belum lahir.
Terlihat ada satu perempuan cantik yang hingga kini masih bertahta dihatinya. Serta dua orang anak laki-laki, yang satu berumur sekitar 4 tahun dan satunya sekitar 2 tahun. Tak lupa dengan dirinya sendiri yang terlihat masih muda.
Sudah 20 tahun berlalu sejak tragedi menyeramkan itu. Namun, rasa sakitnya masih hinggap sampai sekarang.
Ia pikir, dengan kehadiran putri kecilnya yang diberi nama Arinta Prameswari, istrinya akan dengan mudah mengikhlaskan kepergian anak pertama mereka. Namun semua itu salah besar, Nanda—istrinya, malah berpulang tepat setelah melihat Arinta lahir dengan keadaan sehat.
"Ayah?"
Zaid menghapus bulir air mata yang belum sempat tumpah. Ia menoleh kearah pintu kamar, disana ada putra keduanya yang tengah memandang dengan tatapan sendu.
"Iya, nak?"
Ghifari masuk dan duduk ditepian ranjang yang juga diduduki sang ayah.
"Arinta udah pulang?" tanya Zaid.
"Belom, masih di rumah Aguil katanya."
"Oh iya, Aguil mau pulang kampung ya?"
Ghifari mengangguk, "Iya, makanya Arinta lama."
"Ari udah makan malem?"
"Nunggu Arinta aja," jawab Ghifari.
"Oh iya, yah, Ari mau nanya," Ghifari terlihat ragu untuk kembali bersuara.
"Nanya apa? Nanya aja gak apa-apa," Zaid berusaha meyakinkan.
"Meskipun ini soal ibu, gak apa-apa?" tanya Ghifari ragu.
"Emangnya ada lagi yang belum Ari tau tentang ibu? Bukannya udah pernah ayah ceritain semua ya?"
"Belum," bantah Ghifari.
"Belum semua ayah ceritain."
"Yang bagian mana?"
"Bagian ayah ketemu ibu belum pernah cerita. Kok bisa, ibu yang orang lintas pulau bahkan adanya diujung sana, bisa ketemu ayah disini."
ayah terkekeh pelan sebelum menjawab.
"Ari tau kan, ibu itu orangnya gimana?"
"Berdasarkan yang ayah ceritain? Tau dong."
"Ibu yang merantau ke Jawa."
Ghifari tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya mendengar fakta yang baru ia dengar itu.
"ibu? Perempuan? Ngerantau sejauh itu? Pasti engga sendiri kan, Yah?"
"Respon kamu sama kayak waktu pertama kali ayah tau kalo ibu Ari ngerantau cuma sendiri," Zaid tersenyum tipis.
"Woah.. Ternyata ibu engga sepenakut dan selemah itu ya, Yah?"
"Ari aja mau ngerantau masih mikir dua kali."
"Ari nurun dari ayah berarti. Jago kandang," Zaid mengacak rambut putranya pelan sambil tertawa kecil.
"Terus? Kenalnya dimana?" tanya Ghifari yang masih kepo.
"Di tempat kerja-"
"Ayah! Kita ke Kalimantan besok, kan?" tanya Arinta yang baru datang langsung memotong pembicaraan.
"Kebiasaan!" Ghifari menoyor kepala sang adik yang lebih muda empat tahun tersebut.
"Iya Arinta. Hari ini kamu udah nanya berapa kali itu.." jawab Zaid.
"Si kembar mau ikut, mereka tuh yang nanya mulu," jawab Arinta sambil mengotak-atik ponsel, tak berapa lama langsung melemparnya asal.
"Tama Tami?" tanya Ghifari.
Arinta mengangguk.
"Ya udah bagus. Kan Arinta jadi ada temennya," ucap Zaid.
"Iya tuh bener. Bareng aja nanti ke bandaranya. Mereka berdua doang? Atau sama orangtuanya?" tanya Ghifari.
"Berdua doang. Emang rada brandal tu anak dua," jawab Arinta.
"Gak apa-apa, kan ada ayah sama bang Ari," ucap Zaid.
"Tadi sebelum Arinta dateng, lagi ngobrolin apa? Cerita serius ya?" tanya Arinta.
"Iya! Kamu perusak suasana, Ta," Ghifari bangkit lalu melangkahkan kaki keluar.
"Ih maap, abang!" Arinta membuntuti langkah Ghifari, sedangkan Zaid menatap keduanya dengan senyum teduh, setidaknya ia masih memiliki dua makhluk yang menjadikannya bisa tetap bertahan sampai detik ini.
***
"Il, kayaknya Balikpapan sensitif banget ya di kuping Arinta?" ucap Tama.
Suasana sore kala itu begitu teduh, tapi tidak mendung. Dari teras rumah Aguil, mereka berdua bisa menikmati semilir angin yang menerpa wajah.
Aguil hanya melirik sekilas.
"Lu kenal Arinta udah dari lama kan? Dia pernah cerita sesu-"
"Tam, sekalipun gua tau sesuatu, gua ga punya hak apa-apa buat nyeritain ini ke oranglain. Kalo lu ga bisa nanya ke Arinta-nya langsung, lu bisa tanya ke bang Ari. Bang Ari lebih bisa ngejaga emosinya pas cerita, dia juga lebih berhak nyeritain hal kayak gini." Aguil menjeda kalimatnya sebelum melanjutkan.
"Ya walaupun, sama aja lu ngorek luka lama keluarga itu."
Tama terdiam. Wajahnya tampak merasa bersalah.
"Maaf," ucap Aguil.
Tama langsung membantah dengan ekspresi wajahnya. "Engga perlu minta maaf kok. Iya-iya, gua ga akan bahas itu lagi."
Tak lama, akhirnya sosok yang ditunggu-tunggu datang, Arinta, Aru dan Tami.
"Yuuuk!! Gas!" sorak Tami sambil mengangkat belanjaannya tinggi-tinggi.
"Bagian panggang memanggang berarti Aguil sama Tama!!" Aru ikut bersorak.
Dua nama yang disebut otomatis merengut, pasalnya tidak ada perjanjian seperti itu sebelumnya.
"Iya bener tuh." tambah Arinta.
"Kan Aguil yang punya acara plus ide."
"Yeuhh.." Aguil menyenggol lengan Arinta.
"Justru karena gua yang punya acara jadi harus diistimewakan."
"Aturan dari mana itu? Harusnya tamu lah yang tinggal makan!" bantah Tama.
"Betul tuh!" disetujui oleh Arinta dan Aru.
"Oh jadi gitu?" ucap Aguil yang sudah berlalu kedalam dengan wajah datar.
"Becanda ah elah, Il."
Kelimanya menikmati kebersamaan sampai langit berubah gelap. Percakapan dimalam hari terdengar semakin serius dibanding saat masih sore tadi.
"Emang berangkatnya ga bisa rada siangan gitu, Il? Biar bisa dadah-dadah dulu sama kita?" tanya Tami.
"Tau tuh. Arinta sama Upin Ipin aja berangkat ke bandaranya rada siangan, ga sepagi buta itu," timpal Aru.
"Ck. Kan gua udah bilang, biar nyampenya lebih cepet. Tau sendiri kan kalo musim liburan gini tuh arus mudik gila-gilaan?" sahut Aguil.
"Sama aja lah nyampenya mah. Kan sama-sama kejebak macet, mau otw pagi buta atau siang," ucap Tami.
"Blok! Ya engga lah.. Kalo otw dari sininya pagi buta, seenggaknya nyampe sono ga tengah malem," bantah Aguil.
"Bang udah bang jangan ribut," lerai Tama, padahal tidak ada bau-bau keributan.
"Eh tapi besok bener jadi kan, Ta? Ga diundur?" tanya Tami ke Arinta.
Arinta berdecak kesal. "Iya, astaga.. Nanya itu mulu."
"Oo, oke."
"Udah malem, gua udah dicariin sama emak gua." ucap Aru sambil melihat ponselnya.
Aguil sontak mengecek jam di dinding. Sudah jam delapan kurang.
"Dah, pada pulang sana!" usirnya.
"Weh.. Ngusir bejirr.." ucap Tami sambil drama menutup mulut seakan sakit hati.
"Ru, lu pulang dijemput atau mau boti sama gua, sama Arinta?" tanya Aguil yang sudah memegang kunci motor.
Aru mengedikan bahu, "Ya mau gimana? Masa lu-lu pada tega ngebiarin gua pulang jalan sendirian."
"Sama gua aja, si Tama suruh ngedayung," ucap Tami.
Tama menyipitkan mata menatap kembarannya.
Sebelum terjadi perdebatan lebih lanjut, Aru sudah menggandeng tangan Arinta untuk keluar, setelah sebelumnya berpamitan dengan orangtua Aguil.
"Aguil menang banyak! Huu.." sorak Tami saat melihat bonceng tiga Aguil.
"Il, bagi satu atuh.." goda Tama.
Aguil hanya melengos tak menanggapi.
Setelah ketiganya pergi, Tami dan Tama baru bergegas menaiki motor.
"Gimana? Tadi Aguil mau cerita?" tanya Tami yang sudah duduk diboncengan Tama.
"Kaga! Katanya dia ga punya hak cerita-cerita hal kayak gitu, mending tanya ke bang Ari katanya," sahut Tama sedikit berteriak karena derum motornya sangat berisik.
"Oh. Ya udah, tanya aja abangnya," ucap Tami.
"Besok aja, sekalian ketemu," sahut Tama lagi.
****