NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 : Tunangan yang Berpaling

Yue Suyin hadir dalam kehidupan Lin Chen sembilan tahun yang lalu, saat mereka masih anak-anak.

Ayah Lin Chen dan ayah Yue Suyin merupakan sahabat lama. Keduanya adalah kultivator dari generasi yang sama yang pernah berjanji untuk menyatukan keluarga mereka melalui sebuah ikatan pernikahan. Karena itulah, pertunangan Lin Chen dan Yue Suyin ditetapkan sejak usia mereka masih sangat muda.

Saat itu, Lin Chen berusia delapan tahun, sedangkan Yue Suyin baru menginjak tujuh tahun.

Lin Chen masih mengingat pertemuan pertama mereka dengan jelas.

Seorang gadis kecil berambut hitam datang ke kediaman Klan Lin sambil membawa kotak kue buatan ibunya. Wajahnya tampak malu-malu, tetapi matanya yang besar dipenuhi rasa ingin tahu.

"Namaku Suyin," katanya sambil mengulurkan kotak kue itu dengan kedua tangan nya. "Ayah bilang suatu hari nanti kita akan menjadi keluarga. Jadi kita harus berteman lebih dulu."

Lin Chen yang saat itu lebih suka diam daripada berbicara hanya menerima kotak tersebut dan mengangguk kaku.

"Baik."

Jawaban singkat itu membuat Yue Suyin tersenyum lebar.

Senyum polos seorang anak yang tulus tanpa memikirkan status, bakat, ataupun masa depan.

Dan tanpa pernah mengatakannya kepada siapa pun, Lin Chen menyimpan senyum itu jauh di dalam hatinya.

Namun sembilan tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah banyak hal.

Yue Suyin tumbuh menjadi seorang kultivator berbakat.

Di usia enam belas tahun, ia telah mencapai Tahap Pembentukan Inti tingkat menengah. Namanya mulai dikenal tidak hanya di dalam Klan Lin, tetapi juga di berbagai keluarga dan sekte di wilayah sekitar. Banyak orang memuji bakatnya dan meyakini bahwa masa depannya akan sangat cerah.

Semakin tinggi Yue Suyin melangkah, semakin jauh pula jarak yang tercipta di antara mereka.

Di sisi lain, Lin Chen tetap terjebak di Tingkat Pertama Kebangkitan Roh.

Ketika orang-orang membicarakan Yue Suyin dengan penuh kekaguman, mereka juga sering membicarakan Lin Chen sebagai bahan ejekan.

Perbedaan itu semakin jelas dari hari ke hari.

Sore itu, setelah kejadian di aula sarapan, Lin Chen berjalan menuju taman belakang kediaman klan.

Tempat itu menyimpan banyak kenangan masa kecil mereka.

Di sudut taman berdiri pohon plum tua yang sedang bermekaran. Kelopak bunganya yang putih kemerahan berjatuhan perlahan, terbawa angin yang sejuk.

Lin Chen tidak datang untuk mencari Yue Suyin.

Namun ketika ia memasuki taman, gadis itu sudah berada di sana.

Dan ia tidak sendirian.

Wei Hao berdiri di sampingnya.

Keduanya sedang berbincang dengan suara pelan yang tidak dapat didengar dari tempat Lin Chen berdiri. Meski begitu, ada hal-hal yang tidak membutuhkan kata-kata untuk dipahami.

Lin Chen melihat Yue Suyin tertawa kecil sambil menutupi mulutnya.

Ia melihat Wei Hao berdiri begitu dekat dengan ekspresi hangat yang jarang diperlihatkannya kepada orang lain.

Pemandangan itu sudah cukup menjelaskan banyak hal.

Lin Chen berhenti di dekat gerbang taman.

Ia bisa saja berbalik dan pergi.

Berpura-pura tidak melihat apa pun.

Mungkin itu pilihan yang paling mudah.

Namun sebelum ia sempat melangkah pergi, Yue Suyin menoleh dan melihatnya.

Untuk sesaat, wajah gadis itu tampak berubah.

Bukan rasa bersalah maupun canggung.

Melainkan kelelahan yang dingin, seolah ia telah lama menunggu percakapan yang tidak ingin ia lakukan, tetapi tahu bahwa percakapan itu tidak bisa dihindari selamanya.

"Lin Chen." Suara Yue Suyin terdengar tenang. "Aku ingin berbicara denganmu."

Wei Hao melangkah mundur satu langkah, tetapi tetap berada di tempatnya. Ia menyilangkan tangan di dada dan menatap dengan ekspresi santai, seperti seseorang yang sedang menyaksikan sesuatu yang sudah ia perkirakan sejak lama.

Yue Suyin terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.

"Pertunangan kita..." katanya perlahan. "Sudah tidak memiliki arti lagi."

Lin Chen tidak langsung menjawab.

Tatapannya beralih kepada Wei Hao, lalu kembali kepada Yue Suyin.

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting pohon plum di atas mereka.

"Aku mengerti." Hanya itu yang keluar dari mulut Lin Chen.

Namun Yue Suyin menggeleng kan kepalanya pelan. "Tidak. Kau harus mendengarnya secara langsung."

Ia menarik napas singkat.

"Aku tidak bisa terus terikat pada masa lalu. Jalan yang akan kutempuh dan jalan yang kau tempuh sudah berbeda."

"Kau memilihnya." Lin Chen mengucapkan kalimat itu dengan tenang.

Bukan sebuah pertanyaan. Melainkan sebuah kenyataan.

Yue Suyin menatapnya tanpa menghindar. "Aku memilih masa depanku." Jawabannya terdengar tegas.

"Lalu apa bedanya?" tanya Lin Chen.

"Masa depan yang lebih baik membutuhkan orang yang mampu berjalan bersamaku."

Kata-kata itu sederhana. Namun cukup tajam untuk menembus hati seseorang.

Yue Suyin melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.

"Kau orang yang baik Lin Chen. Aku tidak pernah membencimu."

"Tapi dunia ini tidak berjalan hanya karena kebaikan. Dunia ini menghormati kekuatan."

Lin Chen terdiam.

Kata-kata itu terus terngiang di telinganya.

Dunia ini menghormati kekuatan.

Bukankah selama ini ia sudah memahami kenyataan itu?

Namun mendengarnya langsung dari orang yang pernah berjanji akan tetap berada di sisinya tetap terasa berbeda.

Di hadapannya berdiri gadis yang dulu membawa kotak kue dan tersenyum dengan tulus.

Gadis yang pernah berkata bahwa bakat bukanlah segalanya.

Bahwa sebuah janji lebih berharga daripada tingkat kultivasi.

Kini semua itu telah berubah.

Anehnya, Lin Chen tidak merasakan kemarahan.

Yang ada hanyalah kehampaan yang perlahan menyebar di dalam hatinya.

Dingin.

Sepi.

Dan terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Setelah beberapa saat, Lin Chen mengangguk pelan.

"Baik." Hanya satu kata.

Ia berbalik dan mulai melangkah meninggalkan taman.

Kelopak-kelopak bunga plum berjatuhan perlahan di sepanjang jalannya, seakan hujan salju yang datang pada musim yang salah.

Di belakangnya, Yue Suyin tidak memanggil namanya.

Wei Hao juga tidak mengatakan apa pun.

Dan Lin Chen sendiri tidak pernah menoleh kembali.

Karena pada saat itu, ia tahu bahwa hubungan yang telah bertahan selama sembilan tahun akhirnya benar-benar berakhir.

Bersamaan dengan jatuhnya kelopak-kelopak bunga plum yang tertiup angin sore.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!