The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan
Pikiranku kacau, tapi tubuhku tidak bisa berbohong. Begitu punggungku menyentuh dipan kasar di pondok Marlow, sesuatu di dalam diriku menyerah. Bukan menyerah seperti orang yang tenang. Lebih seperti tali yang putus setelah ditarik terlalu lama. Aku masih sempat mendengar api retak pelan di perapian, suara air kanal di luar, dan langkah Marlow yang bergerak di sekitar ruangan.
Lalu semuanya tenggelam.
Untuk beberapa saat, tidak ada hutan. Tidak ada Gisa. Tidak ada pondok kelabu di pulau kecil.
Hanya gelap.
Aku tertidur.
Kesalahan...
Malam itu aku sedang bersiap tidur di kamar putra mahkota, di salah satu menara Izengard. Kamar itu terlalu luas untuk satu orang, dengan ranjang bertiang tinggi, karpet tebal dari utara, meja tulis kayu hitam, dan jendela tinggi yang menghadap halaman dalam istana. Dari sana biasanya aku bisa melihat lampu-lampu penjaga bergerak di bawah seperti kunang-kunang yang malas.
Malam itu semuanya tampak biasa.
Itulah bagian yang paling kejam.
Aku melepas sabuk pedang latihan dan meletakkannya di dekat kursi. Sepatuku kulepas satu per satu. Lantai batu terasa dingin di telapak kaki. Di luar jendela, angin menyentuh kaca dengan bunyi halus. Tidak ada pertanda. Tidak ada burung gagak menjerit di atap. Tidak ada firasat besar yang sering muncul dalam cerita lama sebelum darah ditumpahkan.
Hanya malam biasa.
Aku mematikan obor yang menempel di dinding batu. Api kecilnya mendesis, lalu mati, meninggalkan bau minyak hangus yang tipis. Kamar itu langsung berubah lebih gelap. Hanya lilin kecil di nakas dekat ranjang yang masih menyala, cahayanya bergoyang pelan, membuat bayangan kursi dan lemari memanjang di lantai.
Aku baru menarik selimut ketika suara pertama terdengar.
Bukan teriakan.
Bukan awalnya.
Lebih seperti sesuatu jatuh jauh di bawah sana. Berat. Tumpul. Lalu suara logam menghantam logam, singkat dan tajam, cukup untuk membuatku berhenti bergerak.
Aku duduk.
Beberapa detik berlalu.
Lalu teriakan itu datang.
Panjang. Pecah. Terpotong terlalu cepat.
Aku turun dari ranjang. Kakiku menyentuh lantai batu dengan kasar. Di lorong luar, langkah-langkah berlari mulai terdengar. Banyak. Terlalu banyak untuk pergantian jaga. Ada suara orang memanggil nama kapten, lalu suara lain memerintahkannya diam. Setelah itu dentang pedang, lebih dekat.
Aku mengambil pedang di dekat kursi.
Tanganku belum sempat menggenggamnya dengan benar ketika pintu kamarku dihantam dari luar.
Satu kali.
Keras.
Aku mundur setengah langkah.
Hantaman kedua membuat engselnya bergetar.
Aku tidak menunggu hantaman ketiga.
Aku berlari ke pintu samping, pintu kecil yang mengarah ke tangga pelayan di belakang menara. Tanganku gemetar saat membuka palang. Suara dari luar kamarku semakin liar. Kayu retak. Seseorang berteriak bahwa aku ada di dalam. Namaku disebut bukan seperti nama seorang pangeran, tapi seperti perintah memburu hewan.
Aku masuk ke tangga belakang dan menutup pintunya tanpa suara.
Batu di sana sempit dan lembap. Tangga memutar ke bawah, gelap, hanya diterangi satu obor kecil di kelokan pertama. Aku turun dengan napas tercekat, satu tangan menempel ke dinding agar tidak jatuh. Dari sela batu, suara istana terdengar terpecah-pecah: jeritan dari satu sisi, langkah berat dari sisi lain, teriakan komando, lalu sesuatu yang seperti tubuh menghantam pintu.
Ketika aku mencapai lantai bawah, bau darah sudah memenuhi udara.
Aku ingin mengatakan aku langsung berani. Aku ingin mengatakan darah Valdyr membuatku berjalan seperti raja muda yang siap menghadapi pemberontak.
Tidak.
Aku takut.
Aku begitu takut sampai pegangan pedangku basah oleh keringat.
Lorong di luar tangga belakang biasanya sepi. Malam itu, dua pelayan tergeletak di dekat dinding. Salah satunya masih memegang nampan perak. Buah-buah kecil berserakan di lantai, merah dan kuning, bercampur dengan warna lain yang lebih gelap. Aku hampir terpeleset ketika melangkah melewatinya.
Di ujung lorong, dua prajurit bertarung.
Salah satunya memakai lambang Raja Jerrod di bahunya. Yang lain memakai lambang yang sama, tetapi pita merah gelap terikat di lengannya.
Pita Dann.
Aku belum mengerti saat itu. Belum sepenuhnya. Otakku masih mencoba mencari penjelasan yang tidak terdengar seperti pengkhianatan. Latihan malam. Kesalahan. Serangan musuh dari luar. Apa pun selain pasukan istana membunuh pasukan istana.
Lalu prajurit berpita merah itu menusuk lawannya di bawah rusuk, menarik pedangnya, dan menoleh ke arahku.
Ia melihatku.
Matanya melebar.
“Pangeran!”
Aku berlari.
Bukan ke arah yang kupikirkan. Bukan dengan rencana. Aku hanya berlari melewati lorong samping, menabrak vas tinggi sampai pecah, melewati tirai berat yang robek setengah, melewati pintu ruang musik yang terbuka. Di dalamnya, kursi-kursi terguling. Dawai harpa masih bergetar entah karena apa, mengeluarkan suara tipis yang tidak seharusnya ada di tengah pembantaian.
Aku mencari Dad.
Atau Mom.
Atau Cecil.
Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu harus kutemukan, dan karena itulah aku merasa seperti anak kecil yang tersesat di rumahnya sendiri.
Lorong utama menuju sayap keluarga kerajaan penuh asap. Bukan api besar. Hanya asap dari obor yang jatuh, karpet yang terbakar kecil, kain tirai yang hangus di bagian bawah. Udara membuat mataku perih. Aku menutup hidung dengan lengan baju dan terus bergerak.
Aku menemukan Mom lebih dulu.
Ratu Isalda terbaring di dekat pintu ruang duduk kecil, tempat ia biasa membaca surat pada pagi hari.
Untuk sesaat, pikiranku menolak melihatnya sebagai tubuh.
Ia mengenakan gaun malam putih, rambutnya terurai di lantai marmer. Satu tangannya terentang ke arah pintu, seperti ia baru saja mencoba meraih sesuatu. Atau seseorang. Di dekatnya ada seorang prajurit yang tidak kukenal, mati dengan belati masih tertancap di leher.
Aku berhenti.
Suara di lorong menjauh.
Dunia menyempit pada tangan Mom.
Tangannya diam.
“Mom?”
Aku tidak mengenali suaraku sendiri.
Aku berlutut, tapi tidak menyentuhnya. Ada darah di bawah bahunya. Terlalu banyak. Lilin jatuh di samping meja kecil, apinya sudah mati, membuat lelehan lilin putih membeku di atas karpet seperti air mata yang salah warna.
“Mom.”
Tidak ada jawaban.
Aku ingin mengguncangnya. Aku ingin memaksanya membuka mata. Tapi ada bagian diriku yang sudah tahu bahwa kalau aku menyentuhnya, ia tetap tidak akan bergerak, dan pengetahuan itu begitu mengerikan sampai aku memilih membeku.
Lalu dari kamar di belakang ruang duduk, aku melihat Cecil.
Adikku kecil itu terbaring miring dekat kaki ranjang rendah. Wajahnya menghadap dinding. Rambutnya menutupi sebagian pipinya. Salah satu sandal tidurnya lepas.
Aku tidak masuk.
Aku tidak bisa.
Suara di belakangku membuatku berputar.
Dua prajurit berpita merah muncul dari tikungan lorong. Salah satunya membawa tombak pendek. Yang lain berlumuran darah sampai ke siku.
“Di sana!”
Aku berlari lagi.
Aku membenci diriku sendiri bahkan dalam mimpi itu.
Aku meninggalkan Mom. Aku meninggalkan Cecil. Kaki-kakiku bergerak sebelum aku sanggup berpikir. Aku masuk ke lorong lain, menuruni setengah tangga, lalu hampir menabrak seorang penjaga tua yang kukenal sejak kecil.
Ser Emric.
Ia memegang pedang dengan dua tangan. Darah mengalir dari alisnya ke satu mata.
“Yang Mulia,” ia terengah. “Ke ruang takhta kecil. Raja di sana.”
“Mom—”
“Aku tahu.”
Dua kata itu menghancurkan sesuatu di dalamku.
Ser Emric menoleh ke belakangku, lalu mendorongku melewati pintu sempit.
“Pergi!”
Aku tidak sempat melihat bagaimana ia mati. Aku hanya mendengar benturan pertama, lalu napasnya yang berubah menjadi geraman pendek, lalu suara tubuh jatuh.
Ruang takhta kecil bukan ruang takhta utama. Dad menggunakannya untuk sidang malam, pembicaraan pribadi, atau menerima utusan yang terlalu penting untuk dibiarkan menunggu pagi. Pintu gandanya terbuka setengah ketika aku sampai. Satu sisinya retak. Ukiran singa Valdyr di kayunya terbelah tepat di bagian wajah.
Di dalam, mayat berserakan.
Beberapa memakai lambang raja. Beberapa memakai pita merah Dann. Mereka mati saling berdekatan, seolah sumpah yang berbeda tetap membuat mereka berakhir di lantai yang sama. Bau darah sangat kuat sampai aku hampir muntah. Perapian masih menyala, terlalu terang, membuat segala sesuatu tampak lebih jelas daripada yang kuinginkan.
Dad tersungkur di dekat anak tangga kecil menuju kursi kerajaan.
Raja Jerrod Valdyr tidak tampak seperti raja saat itu.
Mahkotanya tidak ada. Rambutnya basah oleh keringat. Satu tangannya menekan luka di perut, tetapi darah tetap keluar di sela jarinya. Pedangnya tergeletak tidak jauh, patah di dekat ujung. Di sekitarnya ada tiga orang mati dengan pita merah di lengan mereka.
“Dad!!”
Aku jatuh berlutut di sampingnya dan mengangkat kepalanya ke pangkuanku.
Matanya terbuka sedikit.
Untuk sesaat ia tidak melihatku. Atau mungkin ia melihat medan lain yang tidak ada di ruangan itu. Lalu bibirnya bergerak, dan napasnya tersangkut sebelum namaku keluar.
“Kal.”
“Aku di sini.”
Tanganku tidak tahu harus menekan luka yang mana. Ada darah di bajunya, di tanganku, di lantai. Aku mencoba menahan luka di perutnya, tapi darahnya hangat dan licin. Terlalu banyak. Terlalu cepat.
“Kita harus pergi,” kataku. “Aku bisa memanggil tabib. Aku bisa—”
“Tidak.”
Suaranya hampir habis.
“Dad, jangan bicara.”
“Dengarkan aku.”
Aku menggeleng. “Tidak.”
Matanya menajam, hanya sedikit, tetapi cukup untuk membuatku diam seperti ketika ia memanggilku dari halaman latihan.
“Pergi,” katanya. “Cari Marlow Renad.”
Aku menatapnya, tidak mengerti, tidak mau mengerti.
“Aku tidak meninggalkanmu.”
“Kal.”
“Tidak.”
Dad menarik napas. Wajahnya menegang oleh rasa sakit, tapi tangannya naik, menggenggam lenganku dengan sisa kekuatan yang mengejutkan.
“Kau pergi sekarang.”
“Tidak tanpamu.”
“Ini bukan permintaan.”
“Kalau begitu aku menolak perintah itu.”
Sesuatu seperti senyum patah muncul di sudut mulutnya. Hilang sebelum benar-benar hidup.
“Anak bodoh.”
“Kau bisa memarahiku nanti.”
“Tidak ada nanti kalau kau tetap di sini.”
Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai terasa darah di mulut.
Dari luar ruang itu, suara langkah mendekat lagi. Banyak. Tidak terburu-buru kali ini. Mereka menyapu lorong, membuka pintu satu per satu, memastikan tidak ada yang tersisa.
Dad mendengarnya juga.
Tangannya meraba dada bajunya, masuk ke balik kain yang robek, lalu mengeluarkan koin kecil. Tangannya gemetar saat menaruh benda itu di telapak tanganku. Koin itu hangat oleh darahnya.
“Marlow Renad,” bisiknya. “Gisa.”
Aku menggenggam koin itu.
“Apa ini?”
“Jangan hilangkan.”
“Dad—”
“Jangan percaya siapa pun yang datang memakai nama keluarga kita.”
Kalimat itu membuat napasku berhenti.
Dann Valdyr, pamanku.
Namanya tidak disebut, tapi ia ada di ruangan itu seperti bau asap.
“Dia melakukan ini?” bisikku.
Dad tidak menjawab. Tidak perlu.
Langkah di luar semakin dekat.
Aku merunduk di atasnya, menggenggam bahunya, mencoba mengangkat tubuhnya. Ia mengerang pelan. Darah keluar lebih banyak.
“Aku bisa membawamu.”
“Kau tidak bisa.”
“Aku bisa.”
“Kau tidak bisa, Kal!!”
Kali ini suaranya bukan suara raja. Bukan perintah. Hanya suara ayahku, lemah dan sakit, dan justru itu yang membuatnya tak tertahankan.
“Pergi!!”
Aku menangis saat itu. Bukan keras. Bukan seperti anak kecil. Tapi air mataku jatuh begitu saja ke wajahnya. Dad melihatnya. Ia mengangkat tangannya lagi, menyentuh pipiku dengan jari yang berlumur darah.
“Jangan mati di ruangan ini.”
Aku tidak bergerak.
“Kal.”
Aku menutup mata.
“Kal.”
Suara langkah berhenti tepat di luar pintu.
Dad mendorongku dengan sisa tenaga yang hampir tidak ada.
“Sekarang.”
Aku mundur.
Seluruh tubuhku menolak. Setiap bagian diriku ingin tetap berlutut di sana sampai pintu terbuka, sampai pedang turun, sampai semuanya selesai. Tapi tangan Dad terlepas dari lenganku, dan koin itu berada di genggamanku, dan namaku masih keluar dari bibirnya seperti doa yang tidak selesai.
Aku lari.
Aku mendengar pintu ruang takhta kecil dihantam terbuka di belakangku.
Aku mendengar suara orang-orang masuk.
Aku tidak menoleh.
Lalu suara Dad memanggilku lagi, lebih jauh, lebih pecah.
“Kal.”
Aku terus berlari.
“Kal.”
Lorong berubah gelap.
“Kal.”
Tangga batu hilang di bawah kakiku.
“Kal.”
Suaranya tidak lagi berasal dari istana.
“Kal.”
Ada tangan mengguncang bahuku.
“Kal. Bangun.”
Aku membuka mata.
Untuk beberapa detik, aku tidak tahu di mana aku berada.
Bukan istana.
Bukan ruang takhta kecil.
Bukan lorong berdarah.
Langit-langit kayu rendah menggantung di atasku. Bau asap, sup bawang, dan kain wol tua memenuhi hidungku. Cahaya oranye menembus tirai tipis di jendela pondok, jatuh miring ke lantai batu. Senja. Sudah senja.
Keringat dingin membasahi tubuhku. Napasku memburu, sementara jantungku berdentam keras di dada, terlalu cepat untuk bisa kukendalikan.
Marlow berdiri di samping dipan, satu tangan masih mencengkeram bahuku.
Matanya tidak selembut orang yang baru membangunkan anak dari mimpi buruk. Tapi ia juga tidak mengejek. Wajahnya keras, lebih tegang daripada saat pagi tadi. Di belakangnya, perapian hampir padam. Di atas meja, beberapa benda sudah tersusun: pisau, kantong kulit, gulungan kain, koin Nightingale, dan sebuah sabuk tua dengan sarung senjata kosong.
Aku menarik napas terlalu cepat.
Dad tidak ada.
Tidak ada darah di tanganku.
Hanya bekas keringat dingin di telapak dan selimut wol yang kusut di sekitar tubuhku.
“Marlow?”
“Bangun.” Ia melepas bahuku. “Siapkan dirimu.”
Aku duduk, kepala masih berat, tenggorokan kering seperti diisi abu.
“Apa yang terjadi?”
Marlow berjalan ke meja dan mengambil kantong kulit. Gerakannya cepat, tidak lagi malas.
“Kita harus pergi sekarang.”