NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Bayangan di Terowongan

Ruangan gudang langsung berubah sunyi.

Ucapan Marco masih menggantung di udara seperti ancaman.

Ravian menatap pria itu tanpa berkedip sedikit pun. Tangannya tetap berada di dekat pistol di pinggangnya.

Sementara beberapa anak buah lain mulai gelisah.

Karena semua orang tahu…

Sekali senjata terangkat malam ini—

Darah akan kembali tumpah.

Marco melangkah pelan mendekati meja tengah.

“Lihat keadaan kita sekarang.”

Tatapannya menyapu seluruh ruangan.

“Kasino hancur.”

“Pelabuhan mulai direbut.”

“Orang-orang Nero menyerang semua wilayah.”

Ia memukul meja keras.

BRAK!

“Dan kalian masih mau berlutut pada anak kecil?!”

Beberapa pria mulai menunduk ragu.

Ravian memperhatikan semuanya diam-diam.

Ia tahu ini akan terjadi cepat atau lambat.

Leon terlalu besar.

Saat Leon hidup, semua orang tunduk karena takut.

Tetapi sekarang?

Rasa takut itu mulai hilang.

Dan ketika rasa takut menghilang…

Kesetiaan ikut mati.

“Kalau kau punya masalah,” kata Ravian dingin, “bicaralah langsung padaku.”

Marco tersenyum miring.

“Itulah masalahnya.”

Tatapannya berubah tajam.

“Kau bukan Leon.”

Keheningan terasa semakin berat.

Ravian perlahan mengambil pistolnya dari pinggang.

Klik.

Suara itu langsung membuat semua orang siaga.

“Ulangi ucapanmu.”

Marco ikut mengangkat senjatanya.

Suasana berubah panas dalam hitungan detik.

Beberapa pria langsung mundur perlahan.

Mereka tahu…

Jika Ravian dan Marco saling tembak di sini—

Keluarga Valdarez akan benar-benar runtuh malam ini.

Dan di balik pintu kecil ruangan belakang…

Arda mendengar semuanya.

Tangannya mulai gemetar lagi.

Ia tidak mengerti dunia mafia sepenuhnya.

Tetapi satu hal mulai ia pahami:

Banyak orang tidak ingin dirinya hidup.

“Tuan muda…”

Suara pelan membuat Arda tersentak.

Ia menoleh cepat.

Seorang pria tua berdiri di belakangnya sambil membawa selimut tipis.

Darius.

Pria tua berjanggut yang tadi berlutut di depannya.

Arda refleks mundur sedikit.

Darius langsung mengangkat kedua tangan pelan.

“Saya tidak akan menyakiti Anda.”

Tatapannya terlihat lelah.

Namun berbeda dari yang lain.

Tidak penuh ambisi.

Tidak penuh ketakutan.

Hanya sedih.

“Anda sebaiknya tidak melihat semua itu.”

Arda menggigit bibirnya.

“Apakah mereka mau membunuhku?”

Pertanyaan polos itu membuat Darius diam beberapa detik.

Karena jawaban sebenarnya…

Ya.

Dan itu terlalu kejam untuk anak delapan tahun.

Darius akhirnya berjongkok di depan Arda.

“Dunia ini berbeda, Tuan Muda.”

“Kalau orang takut…”

“Mereka bisa melakukan hal buruk.”

Arda menunduk.

“Karena aku anak kecil?”

Darius tidak langsung menjawab.

“Karena Anda pewaris Valdarez.”

Nama itu terasa semakin berat setiap kali didengar.

Arda tidak pernah meminta semua ini.

Ia hanya ingin ayahnya hidup.

Namun sekarang semua orang memperlakukannya seperti pusat perang.

BRAKK!

Suara keras tiba-tiba terdengar dari ruang utama.

Darius langsung berdiri cepat.

Teriakan mulai terdengar.

“Turunkan senjatamu!”

“Dia pengkhianat!”

DOR!

Satu tembakan menggema.

Arda langsung membeku.

Darius buru-buru menutup pintu.

Namun suara kekacauan tetap terdengar jelas dari luar.

DOR! DOR! DOR!

Beberapa orang mulai saling tembak.

Jeritan terdengar diikuti suara benda jatuh.

Arda mundur perlahan sampai tubuh kecilnya menabrak sofa.

Matanya membesar ketakutan.

Perang lagi.

Selalu perang.

Darius segera mengambil pistol dari balik jaketnya.

“Tetap di belakang saya.”

Arda memegang ujung baju pria tua itu erat-erat.

Jantungnya terasa hampir pecah.

Lalu—

Pintu ruangan terbuka kasar.

Ravian masuk sambil membawa pistol dengan napas berat.

Ada darah di pipinya.

Namun bukan darahnya.

“Ravian!”

Darius langsung siaga.

“Sudah selesai.”

Suara Ravian dingin.

Dingin sekali.

Arda perlahan mengintip ke luar ruangan.

Dan tubuhnya langsung membeku.

Salah satu pria tergeletak di lantai.

Darah mengalir dari kepalanya.

Mata pria itu masih terbuka.

Marco.

Arda refleks mundur beberapa langkah.

Perutnya terasa mual.

Ravian menatap tubuh Marco tanpa ekspresi sedikit pun.

“Buang mayatnya.”

Dua pria segera menyeret tubuh itu keluar gudang.

Bekas darah tertinggal panjang di lantai.

Arda tidak bisa melepaskan pandangannya dari darah tersebut.

Untuk pertama kalinya…

Ia melihat seseorang mati tepat karena dirinya.

Ravian akhirnya menoleh pada Arda.

Tatapan kerasnya sedikit melunak.

“Dia mencoba merebut organisasi.”

“Tapi dia ingin membunuhku…”

Ravian diam beberapa detik.

Lalu berkata pelan—

“Dan mulai malam ini…”

“Akan ada lebih banyak orang seperti itu.”

Kalimat itu membuat ruangan terasa lebih dingin.

Arda menunduk lagi.

“Kalau begitu… semua orang akan mati karena aku.”

Darius langsung terlihat sedih mendengar ucapan itu.

Namun Ravian menjawab tanpa ragu—

“Tidak.”

Arda perlahan mengangkat kepalanya.

Ravian berjalan mendekat lalu berlutut di depan anak kecil itu.

Tatapannya tajam.

“Kau bukan penyebabnya.”

“Dunia ini memang sudah kotor sejak awal.”

“Leon hanya membuat semua monster takut bergerak.”

Ravian lalu menatap cincin hitam di tangan Arda.

“Dan sekarang mereka sadar…”

“…monster terbesar sudah mati.”

Sunyi.

Hanya suara hujan dari luar gudang yang terdengar pelan.

Arda memegang cincin itu semakin erat.

Ia mulai membencinya.

Namun semakin dibenci…

Semakin ia sadar tidak bisa melepaskannya.

Tiba-tiba salah satu penjaga masuk tergesa-gesa.

“Ravian!”

“Apa lagi?”

Pria itu terlihat pucat.

“Kita dapat kabar dari pusat kota.”

Ravian langsung menyadari sesuatu buruk akan datang.

“Bicara.”

“Orang Nero menyebarkan hadiah buronan.”

Ruangan langsung diam.

“Berapa?”

Pria itu menelan ludah.

“Lima juta dolar…”

Tatapannya perlahan beralih ke Arda.

“…untuk kepala Tuan Muda.”

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!