Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng dari Air Mata dan Kain Sutra
Kain pembatas pasanggrahan dalam yang terbuat dari sutra tebal berwarna kuning gading itu berguncang hebat ketika sesosok tubuh terhempas melintasinya. Nyai Kencana mendarat dengan lutut kirinya bertumpu pada lantai kayu berlapis permadani. Brak! Suara benturan itu tertelan oleh gemuruh badai dan lolongan maut di luar.
Napas Kencana memburu, pendek-pendek dan terasa membakar paru-parunya seperti uap belerang. Tangan kanannya masih mencengkeram gagang pedang sabet, namun cengkeraman itu tidak lagi sekokoh biasanya; jemarinya gemetar hebat, licin oleh kombinasi keringat dingin dan darah segar yang terus mengalir dari lengan atasnya. Baju zirah kulit yang melindunginya kini telah terkoyak di beberapa bagian. Sabetan senjata tajam tidak hanya meninggalkan robekan pada kain sinjang megamendung miliknya, tetapi juga menorehkan luka menganga di sepanjang rusuk kirinya, meninggalkan sensasi perih yang berdenyut seiring dengan detak jantungnya yang kian tak beraturan.
Di luar sana, sisa-sisa peradaban tatar Sunda di Lapangan Bubat sedang dilumat habis tanpa ampun. Suara denting besi yang beradu tidak lagi terdengar sebagai jeda pertempuran, melainkan deru konstan yang memekakkan telinga. Teriakan kematian para perwira, rintihan pelayan yang dibantai, serta deru angin yang membawa bau amis darah merembes masuk melalui sela-sela dinding kayu pasanggrahan. Lini pertahanan luar yang dibangun dengan sisa-sisa kehormatan telah runtuh sepenuhnya. Suara derap sepatu laras pasukan Bhayangkara Majapahit kini terdengar semakin dekat, hanya berjarak beberapa puluh depa dari undakan tenda utama.
Kencana memaksakan dirinya untuk kembali berdiri. Rasa sakit yang luar biasa menusuk dari pinggang hingga ke pundaknya, membuat pandangannya sempat mengabur dan diwarnai bintik-bintik hitam. Ia menggeram pelan, menggigit bibir bawahnya hingga berdarah demi mengusir rasa pening yang mengancam kesadarannya. Dengan sisa-sisa tenaga yang diperas dari seluruh rongga tubuhnya, ia mundur selangkah demi selangkah, menjadikan punggungnya sebagai palang pintu terakhir.
Di sinilah ring satu. Di balik punggungnya yang bersimbah darah, terletak seluruh alasan mengapa ia masih bernapas hingga detik ini. Pasanggrahan dalam ini bukan lagi sekadar tempat peristirahatan sementara seorang putri raja; tempat ini telah bermutasi menjadi benteng terakhir yang sunyi, sebuah kotak kayu yang dikepung oleh ribuan serigala yang siap mengoyak kesucian dan harga diri tatar Sunda.
Saat Kencana berhasil menstabilkan posisinya, pandangannya langsung tertuju pada bagian tengah ruangan. Di sana, di bawah temaramnya cahaya lampu minyak yang bergoyang ditiup angin malam yang menyusup dari celah dinding, berdiri Putri Dyah Pitaloka Citraresmi.
Gadis itu tidak sedang bersimpuh di sudut ruangan sembari meratapi nasib buruknya. Tidak ada air mata yang mengalir deras menyiksa pipinya yang seputih pualam. Sang putri berdiri dengan keanggunan yang justru terasa mengerikan di tengah situasi sekelam ini. Busana pengantin Sunda putih bersih yang dikenakannya masih tertata rapi, kontras dengan noda darah yang menciprati ujung bawah kainnya akibat rembesan dari luar. Mahkota kecil yang menghiasi rambutnya yang disanggul indah memantulkan cahaya keemasan yang redup. Namun, kesunyian yang paling pekat terpancar dari sepasang matanya. Mata yang biasanya berbinar penuh rasa ingin tahu dan kehangatan itu kini meredup, memancarkan kepiluan yang teramat dalam, sebuah luka psikologis akibat pengkhianatan politik yang meremukkan seluruh harapan masa depannya dalam semalam.
"Nyai..." Suara sang putri terdengar begitu lembut, namun mampu menembus kebisingan perang di luar.
Kencana segera menjatuhkan diri, bertumpu pada satu lututnya di hadapan sang putri, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Gusti Putri... Hamba memohon ampun. Pertahanan di luar... kami tidak mampu menahan mereka lebih lama lagi. Pasukan Bhayangkara telah menguasai halaman depan."
Dengan napas yang masih tersengal, Kencana mendongak. Matanya menatap sang putri dengan tatapan memohon yang putus asa. "Gusti, di bagian belakang pasanggrahan ini, ada celah kecil di dekat tumpukan logistik. Sisa pengawal wanita yang masih hidup akan memecah perhatian musuh di pintu depan. Hamba mohon, Gusti harus lari. Menyusup melalui hutan di sisi utara. Jika kita bisa mencapai garis pantai, mungkin masih ada parahu kecil yang bisa membawa Gusti kembali ke Kawali. Hamba bersumpah akan menahan mereka di pintu ini hingga nyawa hamba benar-benar habis!"
Mendengar desakan panik dari pengawal setianya, Putri Dyah Pitaloka hanya tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak membawa kebahagiaan, melainkan kepasrahan seorang kesatria. Ia melangkah pelan mendekati Kencana, lalu mengulurkan tangannya yang halus, menyentuh pundak Kencana yang gemetar karena menahan rasa sakit.
"Lari ke mana, Kencana?" tanya sang putri lembut, nadanya begitu tenang hingga membuat Kencana terpaku. "Lihatlah ke luar. Seluruh Lapangan Bubat telah dikepung. Bahkan jika aku berhasil melewati dinding pasanggrahan ini, laut di utara pasti sudah dijaga oleh armada Jung Majapahit. Tidak ada jalan pulang ke Kawali."
"Tapi Gusti, jika Gusti tetap di sini…"
"Jika aku tetap di sini dan membiarkan diriku ditangkap, apa yang akan terjadi pada tatar Sunda?" potong Dyah Pitaloka, kali ini dengan nada suara yang meninggi, sarat akan ketegasan seorang putri mahkota. "Gajah Mada tidak menginginkan pernikahan, Kencana. Dia menginginkan kepalaku dan ayahandaku bertekuk lutut di lantai istana Wilwatikta sebagai tanda takluk. Jika aku menyerahkan diriku hidup-hidup, aku tidak hanya akan menjadi tawanan politik, tetapi aku akan menjadi lambang runtuhnya harga diri seluruh rakyat Sunda. Aku akan menjadi alasan mengapa nama leluhur kita diinjak-injak di tatar ini."
Sang putri menarik tangannya, lalu membalikkan badan, memandangi bayangan dirinya yang bergoyang di dinding tenda. "Aku adalah darah daging Maharaja Linggabuana. Aku tidak dididik untuk merangkak memohon ampunan kepada mereka yang menukar sumpah pernikahan dengan mata pedang. Menyerah berarti membiarkan mereka menang sepenuhnya. Dan aku memilih mati sebagai wanita merdeka, daripada hidup sebagai upeti yang dipamerkan di depan parlay istana mereka."
Kata-kata sang putri menghantam dada Kencana lebih telak daripada sabetan pedang apa pun di medan laga. Di dalam rongga dadanya, ego dan kesadaran Kencana sebagai seorang pengawal terlatih bergejolak hebat, menciptakan badai emosi yang meremukkan jiwanya.
Sebagai seorang yang sejak kecil dilatih hanya untuk satu tujuan, memastikan raga Putri Dyah Pitaloka tetap bernapas dan aman dari segala mara bahaya, Kencana merasa dirinya telah gagal total. Sumpah yang diucapkannya di bawah saksi para tetua adat kini terasa seperti lelucon yang pahit. Kehormatan profesinya, tugas sucinya, dan janji setianya hancur berkeping-keping di depan matanya sendiri, bukan karena ia takut mati, melainkan karena takdir menghadapkannya pada situasi di mana kematian sang putri adalah satu-satunya cara untuk menjaga kehormatan kerajaan.
Bagaimana bisa aku membiarkanmu mati, Gusti? Jerit batin Kencana bergema tanpa suara. Tugasku adalah menjadi perisaimu, bukan menjadi saksi kehancuranmu.
Dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya yang kotor oleh debu pertempuran, Kencana merangkak maju. Ia melepaskan pedangnya yang berdenting pelan di atas lantai kayu, lalu bersujud, meletakkan dahinya tepat di atas ujung kaki sang putri yang terbalut kain sutra.
"Ampuni hamba, Gusti Putri... Ampuni kelemahan hamba..." bisik Kencana, suaranya tercekat oleh rasa sesak yang luar biasa. "Hamba tidak cukup kuat untuk mengubah jalannya perang ini. Hamba tidak cukup sakti untuk membawa Gusti keluar dari neraka ini. Tubuh hamba yang hina ini telah gagal menjadi perisai yang utuh bagi keselamatan raga Gusti..."
Suasana di dalam tenda mendadak menjadi begitu sunyi, seolah-olah riuhnya pertempuran di luar sengaja diredam oleh semesta untuk memberikan ruang bagi detik-detik paling krusial dalam sejarah tatar Sunda. Keheningan yang dingin dan absolut merayap masuk, membekukan udara di antara kedua wanita tersebut.
Putri Dyah Pitaloka tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang lambat namun tanpa keraguan sedikit pun, tangan kanannya bergerak meraba ke balik lipatan kain kemben sutra putih yang membungkus dadanya. Ketika tangan itu kembali menarik diri, sebuah kilatan logam memotong kegelapan malam.
Itu adalah sebilah Patrem, keris kecil khusus wanita bangsawan dengan hulu berukir kencana dan bilah berlekuk lima yang tipis namun teramat tajam. Cahaya dari obor dinding pasanggrahan langsung memantul pada permukaan bilah Patrem yang telah diurapi minyak wangi cendana, memproyeksikan kilatan cahaya kelabu yang dingin ke langit-langit tenda. Senjata itu tampak begitu indah, namun membawa aura kematian yang mutlak.
Kencana, yang merasakan perubahan atmosfer tersebut, perlahan mengangkat kepalanya. Matanya seketika melebar, pupilnya mengecil demi melihat apa yang sedang digenggam oleh sang putri. Seluruh persendian di tubuhnya mendadak terasa kaku, membeku oleh kengerian yang teramat sangat.
Putri Dyah Pitaloka menatap bilah keris kecil itu dengan pandangan yang tenang, hampir menyerupai tatapan seorang kekasih yang merindukan pertemuan. Tangan sang putri yang memegang hulu Patrem sempat bergetar sedikit, sebuah reaksi biologis yang manusiawi dari raga muda yang dihadapkan pada ajal, namun dengan cepat getaran itu sirna, digantikan oleh cengkeraman yang mantap dan pasti.
"Terima kasih atas kesetiaanmu, Kencana," bisik Dyah Pitaloka lembut, matanya kini beralih menatap Kencana dengan seulas senyuman terakhir yang teramat tulus. "Jangan sesali apa yang tidak bisa kau ubah. Tugasmu telah selesai dengan paripurna di mataku."
Tanpa menunggu jawaban, tangan sang putri bergerak naik. Lalu …