Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil melarikan diri
Mizuki menahan napas. Seluruh tubuhnya membeku.
"Periksa sana," perintah prajurit itu, mengarahkan dagunya ke lemari.
Dua prajurit mulai melangkah. Derap sepatu bot mereka terdengar seperti palu yang memukul jantung Mizuki berulang kali.
Satu langkah. Dua langkah.
Perempuan itu masih tersenyum.
"Sebelum kalian membuka lemari itu," katanya dengan suara pelan.
"Kalian tidak ingin tahu, apa yang akan terjadi pada tangan kalian?"
Para prajurit berhenti.
Untuk sesaat, tidak ada yang bergerak.
Udara di dalam kios terasa membeku. Bahkan debu-debu kecil yang beterbangan seolah-olah berhenti di tempat.
"Berani sekali kau mengancam kami," ucap prajurit depan dengan suara penuh amarah, pipi kirinya berkedut.
"Kami akan membawamu ke istana untuk dihukum!"
Tangan-tangan mulai terulur. Serempak. Siap menangkap.
Tapi mereka tidak sempat menyentuh.
Karena perempuan itu lebih dulu bergerak.
Ia menghilang.
Bukan kabur. Bukan bersembunyi. Tapi benar-benar lenyap dari pandangan, seperti ia tidak pernah ada di sana.
"Ada di belakang!" teriak seorang prajurit.
Brak!
Satu tubuh terpental. Senapan laser jatuh berderai di lantai.
Suara benturan. Teriakan. Tubuh bergumul.
Mizuki hanya bisa melihat bayangan-bayangan buram dari balik celah lemari. Gerakan perempuan itu terlalu cepat. Terlalu liar. Seperti tarian kematian yang tidak punya koreografi.
Satu per satu prajurit di dalam kios tumbang.
Tanpa ampun. Tanpa suara. Tanpa rasa bersalah.
Perempuan itu melangkahi tubuh-tubuh yang terkapar, membuka pintu kios yang sudah ringsek, dan melangkah keluar.
Dari dalam lemari, Mizuki mendengar semuanya.
Gedoran petir menyambar-nyambar. Suara api yang menderu seperti lapar. Dentuman laser yang membalas, tapi selalu meleset. Angin berputar kencang hingga atap-atap rumah di sekitar bergoyang. Bahkan tanah berguncang—gempa kecil yang terasa hingga ke tulang.
Mizuki menggigil. Bukan karena dingin.
Tapi karena takjub. Dan takut. Dalam waktu yang bersamaan.
Ia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut. Menutup telinga. Tapi suara-suara itu tetap menembus.
Ledakan.
Hancuran.
Jeritan.
Lalu.
Hening.
Hening yang begitu tiba-tiba. Seperti seseorang menekan tombol pause di tengah-tengah konser.
Mizuki membuka mata perlahan.
Ia mendengar suara api yang masih berderak di kejauhan. Suara reruntuhan kayu yang jatuh. Sesekali suara percikan listrik dari kabel yang putus.
Tapi tidak ada lagi langkah kaki. Tidak ada lagi teriakan. Tidak ada lagi pertempuran yang tersisa.
Hanya sunyi.
Dan dari luar, angin malam bertiup membawa bau mesiu dan darah.
Pintu lemari terbuka perlahan.
Perempuan itu berdiri di depannya.
Pakaiannya masih bersih, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada bekas luka di wajahnya, maupun di bagian tubuh yang lain. Tapi matanya masih sama, dalam, tenang, dan tidak terbaca.
"Kau bisa keluar sekarang," katanya.
Mizuki tidak bergerak. Lututnya lemas.
"Apakah mereka...?"
"Tidak ada yang mati," potong perempuan itu.
"Tapi mereka tidak akan bangun sampai besok pagi,"
Ia mengulurkan tangannya.
"Ayo. Kita pergi dari sini,"
Perempuan itu mengajak Mizuki kabur dari tempat itu.
Mizuki menggenggam tangan yang terulur. Hangat. Berbeda sekali dengan tatapannya yang dingin.
Mereka melangkah cepat meninggalkan kios yang kini hampir rata dengan tanah. Api masih menjilat di beberapa sudut. Asap membumbung kelam menuju langit yang tak berbintang.
Di belakang mereka hanya tinggal kehancuran.
Di depan mereka, kegelapan yang tak pasti.
-----------
Di markas militer.
Udara di dalam ruangan terasa panas. Bukan karena suhu, tapi karena amarah yang tertahan.
Salah satu komandan duduk di kursi besi. Wajahnya merah, urat di lehernya menonjol.
Ia kesal. Tapi di balik kekesalan itu, ada keheranan yang mengganjal di dadanya.
Satu pasukan penuh. Bukan prajurit biasa, tapi pasukan terbaik kerajaan.
Dikirim untuk membawa seorang anak.
Dan mereka semua kalah?
"Bagaimana bisa?" suara komandan itu menggelegar, memantul dari dinding-dinding ruangan.
"Satu pasukan kalah semua! Siapa yang mengalahkan mereka?"
Perwira di depannya menunduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
"Kami tidak tahu, Komandan," jawabnya dengan suara bergetar.
"Setiap kamera yang berhasil menangkap wujudnya... selalu buram,"
"Buram?!"
"Iya, Komandan. Seperti ada kabut tipis yang sengaja menutupi wajah dan tubuhnya. Teknologi kita tidak bisa menembusnya,"
Komandan itu berdiri. Kursi besinya terjatuh dengan suara berisik. Ia berjalan mondar-mandir di depan meja panjang.
Lalu ia berhenti.
"Kita hanya bisa menunggu mereka bangun," ucapnya akhirnya, merujuk pada prajurit yang masih pingsan di lokasi kejadian.
"Setelah sadar, interogasi. Aku ingin tahu siapa perempuan itu,"
Perwira itu mengangguk.
Tapi sebelum ia berbalik, komandan itu berbicara lagi. Suaranya tiba-tiba berubah. Lebih pelan. Lebih dingin. Lebih berbahaya.
"Tapi aku tidak suka menunggu,"
Ia menoleh ke sudut ruangan yang gelap. Mata perwira itu mengikuti arah tatapannya.
Di sana, berdiri sesosok bayangan. Tanpa suara. Tanpa gerak. Hanya napasnya yang terdengar pelan, dan teratur.
"Kalau begitu, kita gunakan pasukan pembunuh untuk menculik anak itu," kata komandan.
Bayangan itu mengangguk. Sekali.
"Siap, Komandan."
Lalu ia menghilang.
-------
Sementara itu, di tempat lain.
Mizuki dan perempuan itu sedang berada di rumah pohon yang berada di hutan.
Pohon itu besar. Akarnya menjalar ke tanah seperti urat-urat tua yang menyimpan ribuan cerita.
Batangnya lebar, dipenuhi lumut yang basah di malam hari. Rumah kayu kecil berdiri kokoh di dahan-dahan pohon, seperti diciptakan oleh hutan itu sendiri, bukan oleh tangan manusia.
Mizuki menatap ke atas rumah pohon yang memancarkan cahaya hangat, lalu menoleh ke perempuan di sampingnya.
Keraguan menggelitik tenggorokannya.
"Ini rumah siapa?" tanya Mizuki. Suaranya kecil, hampir seperti bisikan.
Ia khawatir. Asal masuk rumah orang di malam hari? Bisa dianggap pencuri.
Perempuan itu tersenyum lembut. Berbeda dengan yang tadi, saat menghadapi prajurit.
"Ini rumahku. Anggap saja rumah sendiri," jawab perempuan itu.
Mizuki menghela napas lega. Matanya menyapu dahan demi dahan, lalu kembali ke wajah perempuan itu.
"Bibi tinggal di sini sendirian?" tanya Mizuki yang polos.
Perempuan itu berhenti di anak tangga pertama. Alisnya naik. Tidak marah, tapi sedikit tersinggung.
Ia menoleh ke belakang, membuat Mizuki langsung merasa salah bicara.
"Jangan panggil bibi," tegasnya, bibirnya sedikit cemberut di antara senyum.
"Panggil kak, Aisa,"
Mizuki tersenyum kecil. Rasanya aneh memanggil "kak" ke seseorang yang jelas lebih tua dan jauh lebih kuat darinya. Tapi tidak ada salahnya menurut.
"Baik, kak Aisa,"
Wajah Aisa cerah kembali. Ada kepuasan di matanya.
"Anak pintar," usapnya pelan di kepala Mizuki. Tangannya hangat dan lembut.
"Ayo kita masuk,"
Mizuki mengangguk. Kaki mungilnya mulai menaiki tangga kayu yang berderit pelan.
Setiap anak tangga mengeluarkan suara khas, seperti bisikan pohon yang menyambut.
Di depan pintu, Aisa berhenti sejenak. Tangannya berada di gagang pintu, tapi ia tidak langsung membukanya.
"Sebelum masuk," katanya tanpa menoleh.
"Aku harus jujur padamu,"
Mizuki menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat.
"Rumah ini, tidak bisa dilihat oleh siapa pun," suara Aisa menurun, menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh Mizuki.
"Hanya orang-orang tertentu yang bisa menemukannya, kau mengerti..."
Aisa menoleh. Matanya tajam, tapi tidak menakutkan.
"Aku mengerti," jawab Mizuki.
Aisa membuka pintu.
Bersambung...