kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sewindu berlalu dengan cepat, sampai saat ini usia Jaka Srenggi sudah mencapai lima belas tahun, tapi ingatannya belum juga kembali, mungkin karena waktu kejadian itu terjadi ingatannya belum banyak, jadi tak ada yang bisa diingat bocah itu.
Jaka Srenggi tumbuh menjadi pemuda yang gagah, dengan kulit sawo matang, pemuda yang gagah. Meskipun usianya masih muda tapi kedewasaan sudah tumbuh di jiwanya, itu karena keadaan hidup keluarga barunya yang memaksanya untuk bekerja keras.
Seperti ayahnya, Ki Darmo, Jaka Srenggi juga ikut bekerja sebagai buruh panggul di pelabuhan. Itu juga berpengaruh pada keadaan ototnya yang semakin atletis.
Seperti hari ini, Jaka Srenggi sedang menunggu kapal saudagar yang berlabuh, jika ada yang berlabuh maka pekerjaan akan ada untuknya.
"kapal mendekat!!" teriak tuan yang memperkerjakan Jaka dan buruh panggul lainnya.
Jaka yang sedang rebahan dengan cepat berjalan ke pantai dan mempersiapkan dirinya untuk bekerja.
Dari kapal keluar seorang saudagar bersama dengan pengawalnya, saudagar kaya yang membawa berbagai macam barang-barang berharga, Dan pastinya barang dagangan dari negeri seberang.
"Ayo semuanya bekerja!!" teriak tuan para pekerja.
Mendengar komando dari tuannya para buruh panggul mulai bekerja, dan dalam waktu singkat semua isi kapal sudah habis diangkat keluar, Saudagar itu puas dengan cara kerja dari buruh panggul itu.
"Anak buah mu bekerja dengan baik, apa ada yang bisa bekerja untukku??" tanya saudagar pada tuan yang memperkerjakan para buruh panggul
"Buruhku mau tuan pakai? Mereka tak memiliki kemampuan apa-apa selain tenaga tuan, percuma!"
"Begitu ya??" kata saudagar itu kecewa.
Saudagar itu membayar untuk keringat para buruh panggul dan pergi berlalu karena permintaannya tak ditanggapi oleh tuan buruh panggul.
"Enak saja mau memakai anak buahku. Satu anak buah ku berkurang, uang untukku juga berkurang." gumam tuan dari para buruh panggul.
"Hey ... kalian semua! kemari!!" teriaknya memanggil semua buruh panggul yang beristirahat.
Jaka Srenggi dan kawan buruh panggul lainnya berkumpul, mereka tahu jika mereka akan dibayar.
Setelah menerima bayaran, meskipun sedikit para buruh panggul kembali, wajah mereka cukup kecewa, seperti biasa, tenaga mereka tak dibayar sebesar dari rasa capek mereka, tapi dari pada tidak makan mereka terus saja menjadi buruh panggung di pelabuhan.
"Kau sudah pulang Srenggi??" tanya Bu Sarmi
"Tumben cepat amat??" lanjut buk Sarmi bertanya.
"Iya Bu! Pelabuhan sepi. Hanya ini pendapatan Srenggi." jawab Jaka Srenggi sambil memberikan semua hasil kerjanya untuk hari itu.
"Kau tak ingin memegang koin Srenggi??" ucap buk Sarmi sambil memegang uang pemberian Jaka.
"Tidak Bu, Srenggi tak butuh koin, Saat ini Srenggi lebih memilih makan saja," kata Jaka Srenggi tersenyum.
"Hanya makan yang ada pikiranmu, itu ibu sudah siapkan di dapur,"
Jaka Srenggi berjalan ke dapur dan makan dengan lahapnya.
Selesai makan Jaka Srenggi duduk di tengah ruangan termenung sendiri.
"Merenungkan apa??" tanya buk Sarmi mengagetkan Jaka.
"Ibu? Bikin kaget saja!"
"Tak ada ibu! Srenggi hanya capek." jawab Jaka Srenggi
"Srenggi, ibu rasa kau sebaiknya tidur di belakang saja ya mulai nanti malam. Kau sudah mulai dewasa, tak mungkin lagi kita tidur bertiga."
Hehehe!!
"Iya buk, Srenggi pikir juga begitu Bu. Kalau begitu Srenggi bersihkan pondok belakang ya Bu!"
Jaka Srenggi tak menunggu jawaban dari ibunya, dia berjalan menuju pondok usang di belakang rumah mereka.
Srenggi membersihkan karena itu akan jadi kamar baru untuknya.
Bukkkkk!!
Sesuatu jatuh dan menimpa kepala Srenggi.
"Aduh ... apa itu??" Seru Jaka Srenggi dan melihat sesuatu yang jatuh itu.
"Apa ini??" Srenggi menjumput sesuatu yang ternyata buku usang.
Jaka Srenggi menatap ke atas.
"Bagaimana bisa buku usang ini ada di atas?? Siapa yang menaruh benda ini di sana??"
Jaka Srenggi masih menatap keatas, dan matanya melihat sebuah peti kecil yang sudah kapuk.
"Sepertinya buku usang ini tersimpan dipeti itu, karena termakan usia peti itu habis di makan rayap." gumam Jaka Srenggi dan menjolok peti usang itu dengan sapu ditangannya.
Brukkkk!
Peti itu langsung pecah berkeping karena jatuh ditambah sudah tua termakan usia.
Jaka Srenggi memperhatikan ada sesuatu yang bercahaya seperti buah.
"Apa ini??" gumam Jaka Srenggi heran.
"Sebaiknya aku letak disini saja, siapa tahu ini buah beracun."
Jaka Srenggi membalut benda bercahaya yang menurut Srenggi itu buah beracun dan meletakkannya begitu saja.
Jaka Srenggi membuka buku usang yang ada didekat nya, Jaka melihat gambar-gambar seseorang yang sedang mempraktekkan berbagai macam teknik pernapasan.
Jaka Srenggi memiringkan kepala ke kiri dan kanan, seperti tak mengerti apa maksud dari gambar-gambar yang dilihatnya dibuku usang itu.
"Apa ini?? Masa bernapas ada cara nya? Buku ini tak berguna." ucap Jaka tak peduli dengan buku usang itu. Jaka Srenggi membuang buku usang itu seperti tak berguna.
"Siapa yang menulis buku itu ya? Apa dia tak ada kerjaan?"
"Bernapas seperti ini!!"
Jaka Srenggi menghirup napas dan melepasnya, seperti mencemooh gambar dan penulis buku usang itu.
Setelah selesai membersihkan kamar barunya Jaka Srenggi mulai rebahan, tapi matanya kembali tertuju pada buku usang itu.
"Tapi tak mungkin digambar kalau tak berguna. Pasti ada sesuatu yang tersimpan di buku ini," gumam Jaka Srenggi dan kembali meraih buku usang itu.
Jaka duduk dan membolak-balik buku usang itu.
"Tak ada sedikit pun rahasia di buku ini. Benar-benar buku tak berguna. Hanya gambar dan gambar saja. Sungguh percuma!" gerutu Jaka Srenggi
Srenggi kembali merebahkan tubuhnya, tapi anehnya dia tak merasa tenang, pikiran kembali pada gambar dalam buku usang itu.
Jiwa kecerdasan Jaka Srenggi memberontak, dia ingin mengetahui rahasia apa yang terkandung dibuku usang itu.
Aaarrgghhhhh!!
"Kenapa denganku? Seharusnya aku tak memikirkan buku itu. Tapi malah datang ke pikiran ku."
"Baik! Aku akan mencoba mencari lagi, ayo kita cari rahasia apa yang kau simpan?" gumam Jaka Srenggi dan seperti dari awal Jaka Srenggi membolak-balik buku usang itu.
"Percuma, sungguh percuma! Tak ada yang istimewa," gumam Jaka Srenggi.
Ide iseng datang di kepala Jaka Srenggi.
"Baik, ku akan mencoba nya,"
Jaka Srenggi melihat gambar pertama dan memposisikan dirinya seperti pada posisi dalam gambar itu.
Jaka merasakan kehangatan dari posisi itu, bahkan kehangatan itu menjalar hingga ke seluruh tubuh Jaka Srenggi, dan itu membuat Jaka merasa tenang.
Jaka Srenggi melatih tekhnik pernapasan dalam gambar itu, Jaka Srenggi mengambil napas dan kedamaian terasa sampai ke semua pembuluh ditubuhnya. Jaka Srenggi merasakan tubuhnya sangat ringan bagaikan bagaikan kapas. Dan tanpa sadar Jaka ketiduran.
"Eh ada apa ini? Bagaimana mungkin ini terjadi!" kata Jaka saat dia bangun dari tidurnya.
"Mungkinkah ini karena teknik pernapasan yang aku coba tadi malam??"