NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

05. Nama yang Kembali Hadir

​Mereka bertiga pun berjalan perlahan menuju lantai dua, melewati lorong panjang yang terasa begitu familiar bagi Alden, hingga akhirnya tiba di kamar yang berada di ujung lorong rumah itu.

​Saat pintu kamar itu dibuka, Alden langsung terpaku di tempatnya. Kamar yang dulu menjadi ruang pribadinya kini terlihat jauh lebih nyaman.

Dindingnya dicat ulang dengan warna krem lembut yang menenangkan. Lantai vinyl motif kayunya tampak bersih mengkilap.

Sementara tempat tidur besar di tengah ruangan terlihat begitu empuk dan hangat dengan sprei rapi berwarna terang.

AC sudah menyala sejak tadi, membuat udara di dalam kamar terasa sejuk dan menenangkan.

​Di salah satu sudut ruangan, rak buku lamanya masih berdiri di tempat yang sama. Buku-buku koleksinya semasa sekolah masih tersusun rapi di sana, bahkan kini ditambah beberapa buku baru yang tampaknya sengaja dibelikan untuknya.

Tak jauh dari jendela besar yang menghadap taman belakang, terdapat sebuah kursi santai lengkap dengan meja kecil di sampingnya, tempat yang terasa pas untuk duduk menikmati udara pagi atau sekadar menghabiskan waktu sendirian.

​"Bagaimana? Kamu suka?" tanya Ranti hati-hati sambil memperhatikan ekspresi wajahnya.

​Alden menoleh ke arah ibu tirinya, lalu tersenyum tulus. Senyum itu menjadi senyum paling lebar yang muncul di wajahnya malam itu.

"Suka, Bu. Sangat suka," jawabnya jujur.

​Ranti ikut tersenyum.

"Kami sengaja nggak mengubah apa pun. Semuanya masih sama seperti terakhir kali kamu tinggalkan. Kami cuma merapikan barang-barang, mengecat ulang dinding, dan menambah sedikit koleksi buku supaya kamu punya teman saat sedang senggang."

​Tatapan Alden kembali menyapu seluruh penjuru ruangan.

Meja belajarnya, rak buku, jendela yang menghadap ke taman, dan berbagai benda kecil yang masih berada di tempat yang sama seperti dalam ingatannya.

​"Makasih sudah menyiapkan semuanya," ucapnya pelan.

​"Syukurlah kalau kamu suka," balas Ranti lega.

"Di kamar mandi sudah ada semua perlengkapanmu. Pakaian-pakaian baru juga sudah Ibu susun di lemari. Jadi kamu nggak perlu repot memikirkan apa pun lagi."

Ia berhenti sejenak, lalu menatap Alden dengan sorot mata penuh perhatian.

"Dan jangan ragu panggil Ibu atau Bi Inah kalau kamu butuh apa saja, ya. Apa pun itu. Bahkan kalau cuma mau minum atau tiba-tiba merasa nggak enak badan."

​Alden mengangguk. "Siap, Bu. Alden janji akan panggil kalau ada apa-apa."

​Pak Armanto yang sejak tadi berdiri di ambang pintu akhirnya ikut angkat bicara.

"Nah, sekarang cuci muka, ganti baju, lalu istirahat yang benar."

Nada suaranya lembut, namun tetap mengandung ketegasan khas seorang ayah.

"Sudah cukup perjalanan panjang hari ini."

Ia tersenyum tipis.

"Tidur yang nyenyak, Nak. Selamat malam."

​"Semoga mimpi indah," tambah Ranti.

​Alden memandangi keduanya bergantian. Dadanya kembali terasa hangat.

Setelah mengucapkan itu, Pak Armanto melambaikan tangan kecil sebelum perlahan menutup pintu kamar.

​Bunyi klik pelan dari pintu yang tertutup membuat suasana kamar mendadak hening.

Namun keheningan itu bukan terasa sepi, melainkan hangat dan menenangkan.

​Alden berjalan perlahan menuju tempat tidurnya, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk itu.

Rasa lelah seketika menjalar ke seluruh tubuhnya begitu punggungnya menyentuh permukaan ranjang.

Aroma pewangi ruangan yang lembut memenuhi indera penciumannya, menenangkan sekaligus menghadirkan rasa akrab yang sulit dijelaskan.

Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu tidur berbentuk bintang-bintang kecil dengan cahaya temaram yang hangat.

​Namun di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman dan paling nyaman baginya itu, Alden justru merasakan kesepian yang perlahan menyeruak memenuhi dada.

Keheningan kamar memberinya terlalu banyak ruang untuk berpikir, dan pikirannya selalu kembali pada satu kenyataan pahit yang tak bisa ia hindari, yakni waktunya tidak banyak lagi.

​Ia sadar, sepuluh bulan adalah waktu yang sangat singkat.

Bahkan mungkin lebih singkat dari itu.

Dokter di Perth sudah berkali-kali mengingatkan bahwa kondisinya bisa memburuk kapan saja tanpa tanda yang jelas.

Tubuhnya mungkin masih mampu berdiri, tersenyum, dan berjalan seperti biasa hari ini, namun besok belum tentu ia memiliki kekuatan yang sama.

​Alden membalikkan tubuhnya, lalu menatap ke arah jendela besar yang tertutup tirai tebal.

Di luar sana, Jakarta masih hidup dengan riuh kendaraan dan cahaya kota yang seolah tak pernah benar-benar padam.

Pemandangan itu membuatnya teringat pada Perth, kota yang selama sembilan tahun terakhir menjadi tempatnya bertahan hidup.

Kota yang tenang, rapi, dan sunyi.

Dulu ia sempat berpikir akan menetap di sana selamanya, membangun karier, mengejar semua impiannya, lalu menua dengan hidup yang stabil dan mapan.

​Namun semua rencana itu runtuh begitu saja saat dokter menjatuhkan vonis yang mengubah hidupnya dalam sekejap.

​Dengan napas berat, Alden perlahan bangkit dari tempat tidur.

Tubuhnya masih terasa lelah, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk benar-benar beristirahat.

Ia berjalan mendekati jendela, lalu menggeser sedikit tirainya dan membuka daun jendela itu perlahan.

Angin malam yang sejuk langsung menerpa wajahnya, membuat Alden tanpa sadar memejamkan mata sejenak, menikmati sensasi dingin yang terasa menenangkan di tengah kepalanya yang penuh sesak.

​“Sepuluh bulan… apa yang bisa aku lakukan dalam waktu sesingkat itu?” gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam hening malam.

​Alden menundukkan pandangan.

Dadanya terasa sesak oleh pikiran yang terus berputar tanpa henti.

Ia tidak ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya dengan berbaring di atas tempat tidur, menelan obat setiap hari, atau bergantung pada infus dan perawatan rumah sakit.

Ia juga tidak ingin menjadi sosok menyedihkan yang hanya dipandang dengan rasa iba oleh orang-orang di sekitarnya, terutama oleh kedua orang tuanya.

​Di sisa waktunya, ia ingin melakukan sesuatu yang berarti.

Sesuatu yang membuatnya merasa benar-benar hidup, bukan sekadar menunggu kematian datang perlahan.

Namun apa?

Pertanyaan itu kembali menghampirinya seperti bayangan yang tak mau pergi.

Ia mencoba memikirkan banyak hal, tetapi pikirannya terasa kosong dan buntu.

​Hingga tanpa sadar, satu nama kembali muncul memenuhi kepalanya.

​Anjani Lestari.

​Nama yang selama bertahun-tahun ia kubur rapat dalam ingatannya.

Nama yang berusaha ia lupakan dengan berbagai kesibukan yang sengaja ia ciptakan agar pikirannya tidak lagi dipenuhi bayangan gadis itu.

Selama sembilan tahun, ia merasa telah berhasil melepaskan diri dari kenangan tentang Anjani.

Namun sesekali, tanpa ia kehendaki, gadis itu tetap datang dalam mimpi-mimpinya, hadir begitu saja, seolah waktu tidak pernah benar-benar menghapus jejaknya.

​Hidupnya di Perth sudah cukup sempurna.

Karier yang mapan, kehidupan yang teratur, dan segala sesuatu berjalan sesuai rencana.

Hanya satu hal yang tak pernah menjadi bagian dari hidupnya yakni cinta.

Ia tak pernah mencarinya. Tak pula merasa perlu memiliki seseorang di sisinya.

Entah karena belum menemukan orang yang tepat atau karena hatinya memang tak tertarik pada urusan semacam itu.

Ia tak pernah benar-benar memikirkannya.

Baginya, bekerja jauh lebih masuk akal daripada menghabiskan waktu memikirkan perasaan yang sering kali membuat seseorang kehilangan logika.

​Hingga akhirnya ia sampai di titik ini.

Pulang ke Indonesia dengan membawa rasa takut, putus asa, dan kenyataan pahit tentang hidupnya yang perlahan runtuh.

Di tengah semua itu, nama itu kembali hadir.

Bukan lewat mimpi yang tak pernah ia harapkan, melainkan perlahan menyelinap kembali ke dalam pikirannya, mengisi ruang yang selama ini ia kira telah kosong dan terlupakan.

​"Anjani Lestari."

Bibirnya bergerak pelan menyebut nama itu.

​Pandangannya melayang ke kejauhan.

Di bawah cahaya bulan, hanya terlihat deretan atap rumah yang membentang dalam kesunyian malam. Namun ia tahu, di antara bangunan-bangunan itu ada satu tempat yang sangat dikenalnya sejak lama. Rumah tempat Anjani tinggal.

Letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Meski tak terlihat dari sini, ia tahu persis ke arah mana rumah itu berada, seolah ingatan tentangnya tak pernah benar-benar pergi.

​Alden menghela napas panjang.

Apa kabarnya sekarang, setelah sembilan tahun berlalu?

Ia ingin bertemu gadis itu.

Setidaknya sekali lagi.

Ingin menatap wajahnya secara langsung, mendengar suaranya, dan memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Ada begitu banyak hal yang selama bertahun-tahun terkubur rapat di dalam hatinya.

Hal-hal yang tak pernah sempat ia ucapkan, dan mungkin tak akan pernah menemukan keberanian untuk diungkapkan jika kesempatan itu tak datang lagi.

​Alden kembali mengembuskan napas panjang.

Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berbalik dan melangkah pelan menuju kamar mandi.

Ia berharap air dingin dapat sedikit meredakan pikirannya yang berantakan.

Setidaknya, setelah membersihkan diri, ia bisa merasa lebih tenang dan mendapatkan istirahat yang lebih baik malam ini.

​Namun baru beberapa detik menggosok gigi, keningnya langsung berkerut. Rasa asin samar memenuhi mulutnya.

Alden menunduk pelan ke wastafel. Darah tipis tampak mengalir dari gusinya, keluar begitu mudah hanya karena gesekan ringan sikat gigi.

​Ia terdiam beberapa saat sambil menatap warna merah yang bercampur dengan busa putih itu.

Perlahan, Alden membilas mulutnya lalu mengelap sisa darah dengan tisu seolah tidak terjadi apa-apa.

Meski begitu, ia tahu betul apa artinya.

Tubuhnya semakin melemah. Fungsi organ dan daya tahan tubuhnya perlahan terus menurun, sedikit demi sedikit.

​Alden memejamkan mata singkat, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum kembali menegakkan tubuhnya di depan cermin.

​“Jangan sekarang…” bisiknya lirih pada dirinya sendiri.

“Setidaknya jangan sampai tubuh ini tumbang sebelum berjumpa dengannya..."

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!