Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Jejak Tubuh Kutub Es
Tekanan dari sosok berjubah hitam itu masih menempel di pundak kedua penjaga.
Yang satu masih kaku menahan lutut yang gemetar, yang satu lagi lari masuk dengan panik.
Nggak sampai dua menit, seorang pria tua gemuk dengan jubah sutra biru bergegas keluar. Di dadanya ada lencana kuali perak dengan dua garis emas, Alkemis Tingkat 2. Di Kota Awan Merah, lencana itu sama berharganya dengan jabatan Kepala Keluarga.
Gu Yuan, seorang Penilai Utama Paviliun Seratus Herbal.
Awalnya, mukanya sangat kesal karena diganggu tengah malam. Tapi begitu ia merasakan sisa tekanan Kekuatan Jiwa di udara, rasa kesal itu langsung menghilang seketika dan menjadi rasa hormat.
"Mo-mohon maaf senior atas kebodohan bawahan saya," katanya sambil membungkuk dalam. "Saya Gu Yuan, Penilai Utama Paviliun Seratus Herbal. Kalau Senior ada sesuatu yang mau di bicarakan, mari kita bicara di Ruang VIP lantai atas."
Lin Xuan cuma mengangguk pelan. Ia mengikuti Gu Yuan menaiki tangga kayu ke ruangan yang sudah disediakan.
Begitu mereka masuk dan pintu tertutup, Gu Yuan mempersilahkan Lin Xuan untuk duduk.
"Senior, penjaga saya bilang Senior membawa obat yang sangat luar biasa. Boleh kah senior memperlihatkan nya?"
Lin Xuan tidak basa-basi. Ia merogoh jubahnya, dan menaruh botol giok kecil di atas meja kaca, menyodorkan nya ke Gu Yuan.
"Buka sendiri."
Gu Yuan tersenyum. Ia membuka penutup botol Giok itu.
Begitu terlepas, aroma manis pekat meledak memenuhi ruangan.
Mata Gu Yuan langsung terbelalak. Cuma dari menghirup aromanya saja, Qi di tubuhnya yang mandek bertahun-tahun tiba-tiba bergejolak.
Tangannya gemetar waktu ia menuangkan pil itu ke tangannya.
Sebuah pil putih bersih seukuran kelereng, dan dihiasi sembilan garis melingkar sempurna di permukaannya.
Trang!
Botol Giok di tangannya jatuh.
"S-Sembilan Cincin?!"
Gu Yuan langsung merogoh cincin penyimpanannya, mengeluarkan kaca pembesar spiritual dan mendekatkan matanya ke kaca itu.
"Nggak ada residu racun... kemurnian hampir sempurna... Ya ampun..."
Gu Yuan menelan ludahnya susah payah. Ia menatap sosok berjubah hitam di depannya seperti melihat dewa.
Monster tua dari benua atas mana yang menyasar ke kota kecil ini?!
"Sebutkan harganya," potong Lin Xuan. Suaranya sengaja ia buat serak dan tua.
Gu Yuan langsung membungkuk lebih rendah lagi.
"Senior, Pil Pengumpul Qi biasa cuma sepuluh koin tembaga. Tapi yang Sembilan Cincin ini... ini nggak ada harganya. Pil ini bisa membuat kultivator Tingkat 9 menembus tingkat selanjutnya tanpa risiko. Maka dengan itu, Paviliun kami berani beli seribu Batu Roh!"
Seribu Batu Roh. Cukup buat menghidupi seluruh Keluarga Lin dua tahun.
Lin Xuan tetap tenang.
"Aku tidak membutuhkan uang sebanyak itu. Aku membutuhkan barang."
"Barang? Tentu, Senior. Sebutkan saja barangnya."
"Satu Teras Es Binatang Tingkat 3. Satu Teratai Salju Seratus Tahun. Sisanya boleh sama Batu Roh."
Gu Yuan kaget. "Teras Es dan Teratai Salju? Itu material Yin ekstrim, Senior. Apakah senior Mau membuat penawar api?"
Suhu ruangan langsung turun drastis. Lin Xuan melepaskan sedikit Kekuatan Jiwanya.
"Paviliun Seratus Herbal suka ikut campur urusan pelanggannya?"
"T-tidak. Maaf saya lancang, Senior. Ampuni saya!" Gu Yuan sampai menampar mulutnya sendiri dengan pelan. "Kebetulan untuk bahan itu ada, Senior. Teras Ular Es Tingkat 3 sama Teratai Salju Seratus Tahun di gudang VIP. Nilai semuanya lima ratus Batu Roh. Saya akan ambilkan sekarang sama lima ratus Batu Roh kembaliannya!"
Kurang dari lima belas menit, transaksi selesai. Lin Xuan dapat kantong penyimpanan kecil berisi material dan tumpukan Batu Roh yang bersinar.
Langkah pertama untuk menaklukan Api Surgawi Teratai Bumi Terdalam, selesai.
Ia bangkit, dan Gu Yuan mengantar Lin Xuan seperti pelayan paling patuh.
Pas mereka turun ke lantai satu, langkah Lin Xuan terhenti.
Di sudut aula yang biasanya sepi, udaranya dingin sampai lantai marmer berembun es.
Disana berdiri dua orang. Satu kakek berotot dengan pedang besar di punggungnya, auranya jauh di atas Kondensasi Qi. Di sebelahnya, seorang gadis duduk dengan jubah bulu putih tebal. Wajahnya memakai cadar tipis, tapi matanya biru jernih dan keliatan menahan rasa sakit.
Di depan mereka, Pemimpin Paviliun sedang membungkuk keringetan.
"Nona Yue'er, maaf, Pil Yang Emas Tingkat 4 memang kosong saat ini. "
"Udah, Paman Qin," suara gadis itu merdu tapi lemah. Ia batuk pelan, dan dari bibirnya keluar serpihan kristal es kecil jatuh ke lantai. "Kalau nggak ada, kita cari di tempat lain saja..."
"Nggak bisa, Nona." Paman Qin mencengkeram kerah Pemimpin Paviliun "Panggil Pemimpin Paviliun pusat kalian sekarang. Kalau nona saya kenapa-kenapa malam ini, saya akan meratakan paviliun ini!"
Gu Yuan yang melihag dari tangga langsung pucat. "Astaga... Nona Su dari Ibukota... penyakitnya kumat lagi."
Mata Lin Xuan di balik tudung menyipit. Ia tidak perlu memeriksa. Cuma dari uap es napasnya dan energi Yin yang mengamuk di sekitarnya, ia langsung mengetahui.
Tubuh Yin Kutub Kutukan Es. Tubuh yang lahir Satu dari sejuta orang. Kalau dibiarkan, energi Yin-nya bakal membekukan jantungnya sendiri sebelum dia berumur dua puluh tahun. Kalau dilatih dan tau caranya, ia bisa menjadi kultivator yang tak terkalahkan. bahkan di benua atas sekalipun.
Melihat Paman Qin mau membunuh pemimpin Paviliun yang tidak bersalah, Lin Xuan dan Gu Yuan turun menghampiri. Suara serak Lin Xuan memecah ketegangan.
"Kalau malam ini dia meminum Pil Yang Emas Tingkat 4, dia tidak akan melihat lagi matahari besok."
Satu aula langsung terdiam.
Paman Qin melepaskan pemimpin Paviliun itu dan menoleh. Aura membunuhnya seketika meledak, dan mengarah langsung ke Lin Xuan.
"Siapa kau?! Berani mengutuk Nona saya?!"
Gu Yuan panik dan langsung lari ke depan Lin Xuan. "Tuan Qin, tahan emosinya. Beliau adalah Grandmaster Alkemis."
Gadis bernama Su Yue'er itu mengangkat pandangannya. Matanya yang kebiruan menatap bayangan hitam di balik tudungnya.
Lin Xuan tidak peduli sama aura membunuh itu. Ia tetap tenang.
"Es di tubuhnya bukan penyakit. Itu adalah garis darah," katanya datar. "Pil Yang Emas itu api buas. Kalau memasukan api buas itu ke pembuluh darah yang rapuh karena es, bukannya mencair, malah itu akan meledak dari dalam, dan meridiannya akan hancur. Itu adalah hukum dasar."
Mata Su Yue'er melebar. Semua tabib elit di Ibukota menyuruhnya untuk meminum pil api paling kuat buat melawan dinginnya, dan setiap meminum itu rasanya malah semakin sakit. Cuma orang ini yang ngomong kebalikannya.
"Lalu... saya harus gimana, Senior?" Suaranya bergetar.
"Butuh dilebur, bukan dilawan," jawab Lin Xuan singkat. "Tiga bulan. Itu batasmu sekarang. Kalau dalam tiga bulan kau ketemu alkemis yang punya Api Surgawi dan bisa bikin Pil Yang Sejati tanpa merusak energi Yin-mu, kau pasti bisa hidup."
"Api Surgawi?!" Paman Qin tersentak. Itu kan cuman mitos!
Lin Xuan tidak menunggu jawaban. Ia berbalik dan berjalan ke pintu keluar. Ia sengaja berbicara seperti itu. Gadis dengan latar belakang kuat dan tubuh yang unik, ini bakal berguna untuknya suatu saat nanti.
"Tunggu, Senior." Su Yue'er mencoba berdiri, tapi kakinya masih lemas. "Boleh aku tau nama Senior?"
Lin Xuan berhenti di ambang pintu. Jubah hitamnya berkibar kena angin malam.
"Panggil aku... Xuan."
Sosok itu melesat dan hilang ke gelapan, meninggal kan keheningan bagi Su Yue'er, Paman Qin, pemimpin Paviliun dan Gu Yuan yang masih bengong antara kagum dan bingung.
Dengan material di tangan, waktunya ke Pegunungan Abu Kematian.
Api Surgawi Teratai Bumi Terdalam, Kaisar Pil datang menjemputmu.