Istri pilihan menceritakan tentang.
Dina Nabila, Nabila kecil selalu bahagia, selalu ada senyum, dan canda tawa yang menghiasi hari - harinya dengan dikelilingi oleh orang - orang yang menyayanginya.
Tapi, semua itu berubah semenjak sang Ayah pergi untuk selama - lamanya.
Bukan sesuatu hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan setelah di tinggal pergi untuk selama - lamanya oleh orang yang sangat sangat di cintainya yaitu Ayahnya.
"Dasar anak pembawa sial, menyesal aku pernah melahirkan mu kedunia ini."
Dia pun harus berjuang sendiri melawan dan melewati seluruh rintangan yang di depannya sudah menghadangnya. Hingga suatu ketika entah nasib baik atau buruk, dia terpilih menjadi istri seorang pemuda yang terkenal kayak raya dan cukup populer namanya di dunia bisnis.
Akankah Nabila menemukan kebahagiaan setelah menikah ?
Atau malah sebalinya, penyiksaan, caci maki dan air mata menjadi teman setianya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan harus kah berpisah adalah jalan terakhir yang harus mereka tempuh?
Simak ceritanya dalam "Istri pilihan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martina Alfarizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
...TEMAN - TEMAN BUDAYAKAN YA SEBELUM MEMBACA LIKE DULU. KARENA JUMLAH LIKE DAN KOMENTAR TIDAK SAMA. KADANG2 JUMLAH KOMENTAR LEBIH BANYAK DARI PADA LIKE....
...😊😊😊🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...MARI SALING MENDUKUNG...
...❤❤❤...
Aku sudah menyelesaikan acara ku di depan cermin. Aku pun berdiri lalu berjalan kearah Bik Asih dan duduk di sampingnya, sambil kurebahkan kepalaku di bahunya entah mengapa air mata yang sedari tadi sudah berhenti turun kini tiba - tiba kembali menetes dari kedua mata ku.
"Sudah ... sudah ... jangan menangis lagi. Hapus air matamu Nabila, air mata mu terlalu mahal untuk kamu keluarkan. Biarkan Allah yang membalas semua perlakuan mereka," ucap Bik Asih berusaha menegarkan ku. Aku pun menarik kepalaku dari bahu Bik Asih, "Nabila kuatkan Bik?"
Bik Asih pun menganggukan kepalanya seraya berucap, "Iya Non, Non Nabila kuat. Hidup kita semuanya adalah ujian dan cobaan dari sang khaliq, tapi perlu di ingat bahwa Allah menguji kita sesuai dengan kemampuan kita. Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 286 ; Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala ( dari kebijakan ) yang di usahakannya dan Ia mendapat siksa ( dari kejahatan ) yang di kerjakannya. ( Mereka berdoa ); "Ya Tuhan kami, jangan lah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah, Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang - orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, Ya Tuhan kami janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampuni kami, dan rahmati kami. Engkau lah penolong kami. Dari ayat di atas dapat dapat kita pahami bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dan ini merupakan janji Allah, jadi sesungghnya tidak mungkin Allah membebani kita dengan yang tidak kita sanggupi."
Aku pun memeluk Bik Asih. "Makasih Bik atas nasehatnya."
Sementara terhanyut dalam suasana, "Nabila ... Nabila ... Nabila ...." teriak Ibu Yeni menggelegar di seluruh penjuru isi rumah.
"Sebaiknya Non segera pergi sebelum Nyonya besar marah dan menghukum Non, Bibik tidak mau itu sampai terjadi." seraya melepas pelukan.
"Nabila pergi dulu ya Bik," ucapku seraya berdiri dan segera melangkah keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga satu persatu.
"Nabila ... Nabila ...." terik sang Ibu dengan nada geramnya.
"Ada apa Bu?" ucapku setelah tiba di bawah dan berdiri tak jauh dari Ibuku berdiri.
Ibuku pun berjalan mendekat ke arahku, "Ada apa ... Ada apa.... Nih lihat sudah jam berapa sekarang," ucap sang Ibu seraya memperlihatkan jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Kamu sudah lihat belum jam berapa sekarang? Kamu mau, Ibu mati karena kelaparan," ucapnya kemudian.
Arumi yang mendengar ada keributan dari luar kamar, dia pun segera beranjak dari tempat tidur lalu melangkah keluar kamar.
Dari depan pintu kamar Arumi yang melihat perdebatan kecil antara sang Ibu dengan sang adik, lalu diapun berjalan mendekat, "Apa sih ribut - ribut, ganggu orang lagi sitirahat saja?"
Sang Ibu pun menoleh keasal datang nya suara dengan susah payah sang Ibu meredam amarahnya saat bicara dengan anak kedua nya itu, "Eh kamu Arumi, sejak kapan kamu berdiri di sana?" tanya sang Ibu.
"Apa yang kalian ributkan? Pasti ini semua gara - gara kamu ya?" ucap Arumi seraya menatap wajah Ibunya kemudian beralih menatap wajah Nabila.
"Ayo cepat jawab?" tanya sang Kakak dengan meninggikan suara.
Sang Kakakpun berjalan mendekat, "Bisa tidak dalam sehari kamu tidak membuat keributan di rumah ini," ucap Arumi seraya mendorong tubuh ku hingga mundur kebelakang.
Bik Asih yang melihat itu dari lantai atas hanya bisa menatap pilu menyaksikan Anak majikannya di perlakukan tidak adil oleh mereka berdua. Tapi, dia bisa apa, mau menolong pun dia tidak punya keberanian untuk itu.
...❤❤❤...
...Mari saling mendukung....
...Terima kasih...
...❤❤❤...
I love you pulll😘😘💋💋
ini sekedar masukan doang thor