Sabrina Delina Arnabella yang lahir dengan nama belakang Alvarendra sejak sepuluh tahun yang lalu memutuskan hubungan antar dirinya dengan ayahnya Winata Alvarendra karena ayahnya memutuskan hubungan dan menikahi wanita yang memiliki satu anak bernama Renata Wijaya.
Besar tanpa sosok ayah dan harus menghadapi kenyataan kalau ibunya meninggal karena kecelakaan mobil semakin memperburuk mental Sabrina.
Namun sebuah kabar kalau ayahnya meninggal membalikkan seluruh kondisinya, tanpa diduga seluruh aset milik Alvarendra jatuh ketangan Sabrina.
Ancaman dan teror serta kelicikan dari Renata yang ingin merebut segalanya semakin membuat Sabrina waspada.
Bagaimanakah cara Sabrina mengatasi semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Una Rofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
" Berikan kuncinya " pinta Sabrina.
" Tidak Nona, saya yang akan mengantarkan anda pulang " tolak Zayn yang menjadi asisten dari Sabrina.
" Jangan berani membantahku, berikan kuncinya sekarang juga " desak Sabrina lagi.
" Nona dengarkan kami, sebaiknya kita yang mangantar nona pulang " ucap Kirana salah satu asisten perempuannya.
Sabrina tak mendengarkan mereka berdua, dia justru berjalan kearah mobil dibelakang dan langsung merebut kunci dari supir dan dengan cepat dia masuk kedalam mobil.
" Nona, saya mohon turun sekarang juga " pinta Kirana sambil mengetuk kaca mobil itu.
Namun Sabrina sama sekali tidak mendengarkan dan dengan gerakan cepat dia memasang seatbelt dan menjalankan mobil itu dengan sangat kencang.
" Nona!!! " teriak beberapa orang.
" Cepat masuk mobil dan kejar mobil Nona, jangan sampai kita ketinggalan jejak " Perintah Zayn.
Sementara saat itu Sabrina tengah mengendarai mobil seperti orang kesetanan, dia terus saja menambah kecepatan mobilnya. Dia beberapa kali menyalip mobil-mobil di depannya, tak memperdulikan banyak pengendara yang membunyikan klakson untuk memperingatinya.
" Mulai detik ini kalian bukan bagian dari Alvarendra lagi " kata Tuan Winata.
" Devira arnabella, mulai sekarang kamu bukan istriku lagi " lanjutnya.
" Pergi kau bukan anakku lagi, nama Alvarendra selamanya akan terhapus dari nama belakangmu "
" Sudah berapa kali aku katakan, kau bukan anakku. Anak dari wanita rendahan seperti jangan bermimpi mendapatkan kasih sayang dariku "
" Kau adalah kesalahan terbesarku "
Semakin Sabrina mengingat kata-kata itu, semakin cepat pula dia mengendarai mobilnya.
Jari-jarinya mencengkeram kuat kemudi dengan tatapan tajam kedepan.
" Lacak posisi nona, mobilnya bahkan sudah tidak terlihat " perintah Zayn.
" Aku akan menghubungi Dokter Rey, kondisi ini tak baik untuk nona. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya, tadi dia mengendarai mobil dengan sangat kencang " ucap Kirana.
" Terus hubungi ponsel Nona, siapa tahu nona sudah tenang dan membalas komunikasi dengan kita " kata Zayn sambil terus mengemudikan mobil.
Disisi lain Hendra tengah menunggu kedatangan seseorang di sebuah restoran dia memesan ruangan privat agar tidak ada yang mengetahui pertemuannya kali ini.
Setelah pemakaman Tuan Winata selesai dia langsung bergegas kemari.
ceklek
Ruangan itu terbuka dan menampakkan pegawai wanita yang mempersilahkan seseorang untuk masuk.
" Akhirnya kau datang juga " sambut Hendra.
" Maaf membuat anda menunggu " katanya.
" Saya turut berduka atas berpulangnya Tuan Winata, dan maaf saya tidak bisa hadir di pemakaman tadi " ucap laki-laki itu.
" Tidak apa, mungkin lebih baik anda tidak hadir disana " jawab Hendra.
" Seperti yang sudah kita bicarakan waktu itu dengan Tuan Winata, bahwa setelah ini anda akan menjadi bodyguard untuk nona Sabrina " ucap Hendra.
" Sudahkah anda berbicara dengan Nona Sabrina? " tanya orang itu.
" Belum, setelah pembacaan hak waris dengan pengacara selesai baru Nona Sabrina akan diberitahu '' Balas Hendra.
" Selama dua tahun ini kita selalu sembunyi-sembunyi untuk melindunginya, kini tak ada alasan lagi untuk kita sembunyi " kata Hendra.
" Tapi anda juga tidak boleh lupa semakin kita terang-terangan melindungi Nona, semakin banyak bahaya yang akan datang padanya " peringat orang itu.
" Aku sudah gagal untuk melindungi Tuan, kali ini aku pastikan tidak akan gagal untuk melindungi Nona Sabrina. Dia adalah pewaris sah dari seluruh aset milik Alvarendra " ucap Hendra.
" Setelah ini target Nyonya Renata adalah Nona Sabrina, apalagi status pernikahan yang tidak pernah terdaftar mungkin membuat Nyonya Renata melakukan berbagai cara agar pernikahan mereka menjadi sah " jelas Hendra.
Drrttt....drttt...drrttt
" Saya angkat telefon dulu " Ijin laki-laki itu.
" Apa? Kenapa kalian baru memberitahuku sekarang " katanya.
" cepat kirimkan lokasinya, aku akan segera menyusul " ucapnya.
" Ada apa? " tanya Hendra.
" Nona Sabrina mengendarai mobilnya sendiri, beberapa asistennya mengejar namun mereka kehilangan jejak " jelas orang itu.
" Jika tidak segera dihentikan Nona akan menjadi tidak terkendali " lanjutnya.
" Kalau begitu biarkan aku ikut " ujar Hendra.
Sabrina terus saja memacu mobilnya dengan sangat kencang, dia bahkan tak mengindahkan handphonenya yang terus saja berdering sejak tadi.
" Lokasi Nona sudah terlacak, cepat kita susul Nona sekarang juga " kata Kirana.
" Kecepatan mobilnya terus bertambah " lanjutnya.
" Kita harus cepat menghentikan Nona sebelum semuanya menjadi tidak terkendali " kata Zayn.
" Astaga kenapa kita bisa lupa? Kita bisa menghubungi nona lewat radio yang kita pasang di setiap mobil " ucap Kirana.
Dengan cepat meraka segera menghubungkan jaringan itu.
" Tersambung " tutur Kinara.
" Nona apa anda mendengar kami? " tanya Kinara.
Dari mobilnya Sabrina dapat mendengar suara itu, namun dia sama sekali tak menghiraukannya.
" Nona saya mohon, pelankan laju mobil anda. kendalikan diri anda nona, anda bisa melukai diri anda dan orang lain " ucap Kinara lagi.
" Nona kami mohon kendalikan diri anda " Zayn turut membujuk Sabrina.
Tiiiinnnnnnnn
" Nona!!!! " teriak Zayn dan Kinara secara bersamaan.
" Nona kendalikan diri anda nona, jangan gegabah. Pelankan laju mobil anda secara perlahan, kami yakin anda bisa melawan itu. Atur nafas anda biarkan diri anda tenang jangan biarkan emosi menguasai diri anda nona " kata Kinara memberi arahan.
" Nona sama sekali tidak mendengarkan kita, bukanya semakin pelan nona justru menambah kecepatan mobilnya " ucap Kinara sedikit frustasi.
" Nona, ingatlah masih banyak hal yang harus anda balas untuk membalas kehidupan anda selam sepuluh tahun ini " ujar Zayn.
" Jangan biarkan semuanya sia-sia, kendalikan diri anda jangan biarkan kata-kata itu mempengaruhi diri anda " lanjut Zayn.
Sabrina mendengar jelas perkataan dua asistennya itu, dengan perlahan dia mulai menenangkan dirinya.
" Laju mobilnya perlahan menurun " kata Hendra.
" Benar, ini adalah kondisi terparah nona selama mengendarai mobil sendiri. Aku tidak tahu mengapa asistennya membiarkan nona mengendarai mobil sendiri " ujar laki-laki itu.
" Mereka pasti sudah mencegah, tapi kita tahu bagaimana sifat nona selama ini " timpal Hendra.
Hendra tersenyum samar mengingat bagaimana sifat Sabrina selama ini, gadis yang dulunya sangat ceria kini berubah menjadi gadis dingin yang tak tersentuh sedikitpun.
" Syukurlah, laju mobilnya perlahan normal kembali " Kinara langsung bernafas lega.
Sabrina menghembuskan pelan nafasnya seiring dengan itu laju mobilnya terus mengalami penurunan. Tangan yang tadinya mencengkeram kuat setir mobil perlahan merenggang dengan sendirinya, sadar dengan apa yang dia lakukan Sabrina lalu meminggirkan mobil yang dikendarainya lalu berhenti di pinggir jalan.
" Nona berhenti, ayo kita cepat susul dia " kata Kirana yang melihat dari tab yang dia pegang kalau Sabrina mengehentikan mobilnya.
Setelah berhenti sejenak Sabrina mengusap kasar wajahnya sebelum melakukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Aku rasa Nona sudah jauh lebih tenang " kata Hendra.
" Kita tetap harus memastikannya sendiri, di lihat dari jalan yang Nona lalui sepertinya aku tahu dia akan pergi kemana " balas orang itu.
" Nona mau pergi kemana? " tanya Hendra.
" Selama dua tahun aku mengikutinya, nona akan pergi ke suatu tempat saat hati dan pikirannya sedang kacau " balasnya.
Tak berselang lama Sabrina menghentikan mobilnya di suatu tempat yang cukup tenang dan hening, ia lalu berjalan menuju sebuah jembatan kayu yang dihias dengan lampu-lampu dengan pemandangan indah di depannya.
Dia lalu berdiri di ujung jembatan kayu itu, matanya menatap lurus kedepan. Tak memperdulikan hawa dingin yang menerpa kulitnya Sabrina masih menikmati momen kesendiriannya.
Kemudian selang tiga puluh menit mobil yang dikemudikan oleh Zayn tiba disana, dengan cepat mereka berdua keluar.
Zayn dan Kirana langsung saja mengecek mobil yang dikendarai Sabrina tadi. Mereka membuka pintu mobil itu dan tak mendapati Sabrina disana hanya ada tasnya saja.
" Bawa mobilnya, dan mungkin nona akan mendapatkan keluhan karena mengendarai mobil secara ugal-ugalan kalian tolong urus itu dan jangan sampai ada yang tahu kalau nonalah yang mengemudikan mobilnya " titah Zayn pada beberapa orang yang juga telah tiba Diana.
" Baik tuan " ucap perwakilan orang itu.
" Tunggu sebentar aku akan mengambil mantel, setelah itu kita susul nona disana " Dari kejauhan Kinara dapat melihat Sabrina tengah berdiri di ujung jembatan kayu itu.
next semngt sukses selalu