NovelToon NovelToon
Cinta Ibu Pengasuh

Cinta Ibu Pengasuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Teen angst / Fantasi
Popularitas:158k
Nilai: 4.9
Nama Author: Tampan

Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.

Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.

Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Meninggal Dunia

Selanjutnya..

Sampai di depan rumah, Pak Toni membayar ongkos dan langsung menuju rumah. Dia melihat anak-anaknya tengah bermain di halaman dan istrinya lagi duduk di teras.

"Ma, Bapak sudah pulang!" Intan memanggil mamanya karena melihat Pak Toni.

Tiba di halaman rumah, Intan yang baru berumur 3 tahun itu langsung memeluk kaki bapaknya.

Mengetahui itu, Pak Toni langsung mengangkat Intan lalu menggendongnya.

"Muachhh...." Pak Toni mencium pipi Intan.

"Bapak dari mana?" tanya Intan dengan manja.

"Bapak ada urusan tadi, Nak," jawab Pak Toni.

"Main-main sama Abang ya, Nak," kata Pak Toni sambil menurunkan Intan lagi.

Kemudian, Pak Toni melanjutkan langkahnya menuju rumah.

"Dari mana, Pa?" tanya istrinya dengan cetus.

"Dari rumah Pak Reno, Ma," jawab Pak Toni dengan wajah lemas lalu duduk di samping istrinya.

"Terus!" kata istrinya.

"Yah, pak Reno tidak punya uang lagi, Ma. Katanya lagi masa sulit dan langganannya pun banyak yang menunggak," balas Pak Toni jujur meniru perkataan pak Reno.

"Lalu bagaimana, Pa?" tanya istrinya lagi.

"Hahhh.., bagaimana kalau pe--perhiasan Mama kita jual? Nanti--" Pak Toni yang sambil menunduk, menghela napas, dan sedikit gugup, tiba-tiba ucapannya terpotong.

"Apaaa! Ingin menjual perhiasanku? Tidak bisa! Apa yang akan Mama pakai nanti kalau bepergian?" bentak istrinya.

"Ma, nanti kita beli lagi kalau Papa sudah dapat kerja. Papa janji," jawab Pak Toni dengan wajah memohon.

"Tidak, Pa! Sedangkan Papa kerja aja kehidupan kita seperti ini, apalagi Papa tidak kerja. Itu kalau Papa dapat kerja. Sudahlah, Pa! Kalau seperti ini terus Mama tidak tahan lagi, lebih baik kita cerai saja!" pekik istrinya.

Mendengar perkataan istrinya seperti itu, Pak Toni bagaikan disambar petir di siang bolong.

"A--apaaa...." Perkataan Pak Toni terpotong dan tiba-tiba memegang dadanya. Penyakit jantung yang dideritanya sebelumnya kumat, lalu terjatuh.

Mengetahui Pak Toni terjatuh, istrinya pun panik.

"Pa, Pa, kenapa, Pa? Tolonggg.., tolonggg...," teriak istrinya. Dia minta tolong kepada siapa saja yang mendengar.

Begitu juga dengan Andi dan Intan yang dari tadi asyik bermain di halaman rumah, begitu mengetahui bapaknya terjatuh dan mamanya minta-minta tolong, mereka pun berlari ke arah di mana bapaknya tergeletak.

"Bapak, Bapak!" pekik Andi dan Intan sambil menangis.

Para tetangga mereka pun sudah berdatangan satu per satu begitu mendengar Bu Rina minta tolong.

"Kenapa?"

"Ada apa?"

"Siapa yang meninggal?"

(Tanya para tetangganya dengan heran)

"Nak, baik-baiklah kepada Mama kalian. Jangan nakal ya, Nak," pesan Pak Toni kepada Andi dan Intan yang sudah berada disampingnya sambil menangis, lalu memberikan sebuah kalung aksesoris kepada Andi yang sering dipakainya.

"Ma, rawat dan besarkanlah mereka. Jangan pernah membentak apalagi memukul mereka dan jangan tinggalkan mereka, berjanjilah," kata Pak Toni kepada istrinya sambil merengek kesakitan dan meraih tangan istrinya lalu menggenggamnya.

"Iya, Pa. Maafkan Mama, Pa," kata istrinya dengan air mata menetes dipipinya.

Pak Toni pun menghembuskan napas terakhir dan meninggal.

Andi dan Intan menangis histeris. Dan para tetangganya juga meneteskan air mata. Betapa tidak, Pak Toni dikenal mereka selama ini adalah orang baik, suka membantu, mudah tersenyum, ramah, dan bergaul.

Para tetangganya beramai-ramai mengangkat jenazah Pak Toni dari teras ke dalam rumah.

Saat itu juga para tetangganya dan perkumpulan (STM, maksudnya) bergotong royong menyediakan tenda teratak untuk para pelayat nantinya.

Tidak hanya tetangga mereka yang datang melayat, tetapi orang-orang yang kenal dengan Pak Toni juga datang.

****

Siang harinya, Pak Reno yang ada urusan dan mau berangkat, baru beberapa meter keluar dari rumah sambil menaiki motor tiba-tiba melihat seseorang yang juga langganannya lewat di jalan.

"Eh, Pak (menyebutkan namannya), mau kemana?" tanya Pak Reno.

"Baru dapat kabar, katanya pak Toni meninggal, Pak," jawab seseorang itu. Pak Reno pun sontak terkejut.

"Meninggal kenapa? Padahal baru tadi pagi dari rumah mau meminjam uang," gumam Pak Reno. Lalu dia masuk sebentar ke rumah untuk mengganti pakaiannya.

"Bu, Bu, Bapak pergi dulu ke rumah pak Toni, ya. Katanya pak Toni meninggal." Pak Reno berpamitan kepada istrinya.

Istrinya yang sedang menonton di ruang TV langsung beranjak ketika mendengar perkataan suaminya.

"Meninggal kenapa, Pak? Kan, baru tadi pagi dari rumah!" kata istrinya seolah tidak percaya.

"Tidak tahu Bu, pikiranku juga begitu tadi," jawab Pak Reno.

"Ya sudah, hati-hati ya, Pak," kata istrinya.

Pak Reno pun keluar dan menghampiri seseorang itu yang sudah beberapa meter lewat dari rumahnya.

"Mari Pak, saya bonceng. Saya juga mau ke sana," ajak Pak Reno setelah bersama dengan seseorang itu. Seseorang itu pun naik dan duduk di belakang, kemudian Pak Reno melajukan motornya.

Tidak berapa lama, Pak Reno dan yang diboncengnya pun tiba di rumah Pak Toni. Belum terlihat begitu banyak orang yang melayat.

Pak Reno masuk dan langsung menyalam Bu Rina dan anak-anaknya, lalu duduk di antara para pelayat lainnya.

"Pak, Pak Toni meninggal kenapa, ya?" tanya Pak Reno dengan berbisik kepada pelayat disampingnya.

"Serangan jantung, Pak," jawab pelayat itu.

"Ooo...." gumam Pak Reno.

Beberapa jam melayat, Pak Reno beranjak dari tempat duduknya ingin pulang, karena masih ada lagi urusannya. Dia pamit dan menyalam Bu Rina lagi sambil memberikan sebuah amplop yang sudah dipersiapkan dari rumah.

"Terima kasih, Pak," kata Bu Rina.

Pak Reno pun keluar dan langsung menghidupkan motornya, lalu melajukannya.

-----

Beberapa hari kemudian (layaknya hari orang meninggal dikebumikan), Bu Rina, kedua anaknya, dan para tetangga, juga pelayat lainnya melakukan prosesi pemakaman di sebuah TPU. Itulah akhir dari hidup Pak Toni.

-----

BERSAMBUNG..

**Tolong dibantu "Vote, Like, Komen dan Share" ya para reader yang ganteng/cantik dan baik hati, agar AUTHOR lebih semangat lagi untuk menulis. Terima kasih..**🙏🌹

1
Yuyun Arianti
Bru mulai BCA sabar yh😍
Asih Putri
kapan kelanjutan nya
Suwito Suwit
mampir sebentar,,,ternyata belum mengudara,,,
Suwito Suwit
Bu Risma,,memang berkhaRisma kok
Suwito Suwit
si Andi kapan besarnya,,,,
Suwito Suwit
aduhh,,,,kasihan banget serius,,,
🎯™ Irma Suryani 🦊⃫⃟⃤ BM√
kok belum ada kelanjutanx
🎯™ Irma Suryani 🦊⃫⃟⃤ BM√
kapan kelanjutanx Thor kok udah lama ga up?ayo Thor lanjut dong
Elly Susanti
mudah mudahan Andi bertemu Intan adiknya...Mama biarkan aja jadi apa.
Elly Susanti
untung cerita di novel kalau kenyataan mau ku cekik itu Maamnya.Lihat aja ada balasannya
Elly Susanti
kalau.aku lebih mementingkan anak dari pada orang lain.dasar Bu Rina sama Rio nga punya hati.
Yayat Sayat
seorang ibu yang ga punya hati nurani.. 😯😯😯
🎯™ Irma Suryani 🦊⃫⃟⃤ BM√
Thor kapan lg up Thor Aq menunggu kelanjutanx
Eda Sally
semangat say😍
Ama Hengky Siringo-ringo
horasss bapa,,bereng Jo di FB i,,na Hona hack do FB ni bapa i??
Tampan: Mahua huroa uda?
total 1 replies
Suryani Nst
kk lnjt dong😔😔
Suryani Nst
lanjut kk
🎯™ Irma Suryani 🦊⃫⃟⃤ BM√
mana sambunganx Thor kok belum up ya
Noah.: follback
total 1 replies
anggita
daftar like ajs
anggita
like😜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!