NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak Baru di Balik Sangkar Emas

Ketukan palu hakim dua hari lalu masih menyisakan gaung kebebasan yang murni di dalam dada Aisha. Untuk pertama kalinya dalam satu tahun terakhir, Aisha bisa melangkah keluar ke taman paviliun tanpa harus merasa dibayangi oleh ketakutan bahwa Taufik atau ibunya akan muncul dari balik semak-semak untuk merebut kebahagiaannya.

Pagi itu, udara Jakarta Selatan terasa begitu bersih setelah diguyur hujan semalaman. Di atas hamparan rumput hijau panti, Kael dan Fatih diletakkan berdampingan di atas matras bermain yang tebal.

Kedua bayi yang kini telah memasuki usia empat bulan itu tampak begitu aktif. Kael, dengan mata elangnya yang khas, berulang kali mencoba meraih jemari Fatih, sementara Fatih meresponsnya dengan tendangan kaki mungilnya yang lincah dan tawa renyah yang menggemaskan.

Aisha duduk di tepi matras, memperhatikan interaksi kedua nyawa mungil itu dengan binar kebahagiaan yang seutuhnya. Di sampingnya, Bi Asih sedang menuangkan teh melati hangat ke dalam cangkir porselen.

"Nak Aisha... rasanya seperti mimpi melihat semua badai ini berlalu," ucap Bi Asih dengan mata yang berkaca-kaca haru.

"Mansion ini sudah lama sekali kehilangan suaranya sejak kepergian Nyonya mendiang. Tapi sekarang, karena ada Nak Aisha dan Fatih, rumah ini kembali hidup."

Aisha tersenyum teduh, jemarinya mengusap pipi gembul Kael yang sedang sibuk mengulum mainan gigitannya.

"Semua ini karena kebaikan Adrian, Bi. Jika bukan karena keberaniannya lusa di ruang sidang, mungkin saya masih menjadi buronan ketakutan dari masa lalu saya sendiri."

Sore harinya, sebuah mobil sedan mewah berwarna perak memasuki pelataran mansion. Namun, kali ini yang turun bukan Hendra atau rekan bisnis Adrian, melainkan seorang wanita paruh baya dengan pakaian batik sutra yang sangat bersahaja, memancarkan aura keibuan yang sangat tenang.

Wanita itu adalah Dokter Amara, dokter spesialis anak pribadi keluarga Arkan yang dulu merekomendasikan Aisha sebagai ibu susu untuk Kael.

Dokter Amara melangkah menuju paviliun dengan senyum hangat, langsung memeriksa kondisi fisik Kael dan Fatih secara berkala.

Setelah selesai melakukan pengukuran berat badan dan memeriksa refleks kedua bayi, ia menatap Aisha dengan pandangan penuh kekaguman.

"Luar biasa, Aisha," puji Dokter Amara sembari mencatat hasil pemeriksaan di tablet digitalnya.

"Tumbuh kembang Kael dan Fatih sangat sempurna. Berat badan mereka berada di kurva ideal teratas, dan ikatan emosional di antara keduanya sangat kuat. Kualitas ASI dan ketulusan perawatanmu benar-benar menjadi mukjizat untuk Kael yang dulunya sempat kritis."

Aisha menundukkan kepalanya, merasa tersanjung.

"Ini sudah menjadi kewajiban saya, Dok. Kael sudah seperti anak saya sendiri."

Dokter Amara tersenyum penuh arti, melirik ke arah pintu paviliun tempat Adrian ternyata sudah berdiri sejak beberapa menit lalu, memperhatikan mereka dalam diam.

"Adrian," sapa Dokter Amara, berdiri dari tempat duduknya. "Cucumu... maksudku putramu, tumbuh dengan sangat baik. Dan kurasa, kamu juga terlihat jauh lebih sehat dan tidak sekaku beberapa bulan lalu."

Adrian melangkah masuk, menyalami dokter senior yang sudah dianggapnya seperti bibi sendiri itu.

"Terima kasih, Tante Amara. Semua ini berkat rekomendasi awal dari Tante."

Setelah Dokter Amara pamit undur diri diantar oleh Hendra, keheningan yang intim kembali menguasai paviliun. Adrian berjalan mendekati sofa tempat Aisha duduk, lalu menurunkan tubuhnya untuk duduk tepat di samping wanita itu.

Pakaian kerjanya yang rapi memberikan aroma maskulin yang khas, menenangkan ruang napas Aisha dalam seketika.

Adrian menatap lekat-lekat wajah Aisha yang kini tampak jauh lebih segar dan memancarkan kecantikan alami yang matang.

Adrian mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Aisha yang kali ini tidak lagi terasa dingin oleh ketakutan.

"Aisha," panggil Adrian, suaranya bariton rendah, sarat akan getaran emosi yang murni.

"Iya, Adrian?"

"Persidangan kemarin telah memutus semua ikatan masa lalumu dengan legal," ucap Adrian, matanya mengunci manik mata bulat jernih milik Aisha.

"Valerie dan ibuku tidak akan pernah bisa melangkah ke area rumah ini lagi. Tapi... aku tidak ingin kamu tinggal di paviliun ini selamanya."

Jantung Aisha mendadak berdegup kencang. Ketakutan lama seketika merayap tipis. "Maksud Anda...?"

Adrian tersenyum tipis, meremas lembut jemari Aisha untuk meredakan kegelisahannya. "Maksudku, besok aku meminta pelayan untuk memindahkan seluruh barang-barangmu dan Fatih ke gedung utama. Kamar di sebelah kamarku di lantai dua sudah disiapkan dengan fasilitas yang sama persis dengan kamar Kael."

Adrian memajukan tubuhnya, memperkecil jarak hingga Aisha bisa merasakan hembusan napas hangatnya yang teratur.

"Aku tidak ingin wanita yang memegang hatiku dan merawat anakku harus tinggal di paviliun belakang seolah-olah dia adalah rahasia yang harus disembunyikan. Di rumah ini, di Arkan Group, dan di depan dunia... aku ingin kamu berada di tempat yang paling tinggi, tepat di sisiku."

Mendengar pernyataan yang begitu berani dan penuh komitmen mutlak dari sang CEO dingin, air mata haru kembali menetes di pipi Aisha.

Dinding kasta yang semula ia takuti kini telah diruntuhkan sepenuhnya oleh cinta dan ketegasan seorang pria yang siap menjadi pelindung abadinya.

Aisha mengangguk perlahan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Adrian yang kokoh, merasakan detak jantung pria itu yang kini berdetak selaras dengan detak jantungnya sendiri.

Babak baru kehidupan mereka di dalam gedung utama mansion Arkan telah resmi dimulai, membawa janji masa depan yang cerah bagi kedua bayi dan cinta mereka yang kini tumbuh tanpa sekat lagi.

---

Bersambung~

1
Erna Riyanto
anak Aisha cewe apa cowo yaa...
Erna Riyanto
kok aneh ..sdh diusir .. diceraikan...skrg dicari lagi...pik..topik
Erna Riyanto
hp baru disediakan pihak Adrian..kok BS si topik kirim pesan ke nomer aisa...
Anonim
😍😍😍
Anonim
🤭🤭🤭
Anonim
😭😭😭
Anonim
😭😭
Anonim
Mantap
Anonim
❤️❤️
Anonim
Aku suka 😍😍
Anonim
❤️❤️
Anonim
😍😍
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!