Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18--Memanjakan kakak ipar seperti memanjakan istri!
Bima melangkah keluar dari Griya Antik Darmawan dengan sebuah tas ransel hitam yang melekat erat di punggungnya. Di dalam tas itu, tiga ikat uang tunai pecahan seratus ribu rupiah senilai Rp 150 juta tersusun rapi, bersanding dengan kartu VIP emas pemberian Pak Darmawan.
Senyum kepuasan tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. Hanya dengan bermodalkan tenaga pijat dan beberapa menit mengalirkan energi Mustika Hijau, dia kini menjelma menjadi jutawan baru.
Tujuan pertamanya sebelum pulang ke desa adalah pusat perbelanjaan di kota kecamatan. Bima mendatangi toko furnitur terbaik, membeli sebuah kasur pegas (spring bed) nomor satu yang paling empuk dan tebal, lengkap dengan bantal bulu angsa yang nyaman. Dia habis sekitar lima juta untuk itu.
Tidak hanya itu, Bima melangkah ke butik pakaian wanita. Mengandalkan ingatannya tentang lekuk tubuh Rasti yang luar biasa montok, Bima membelikan beberapa pasang daster sutra premium, gaun malam yang pas di badan, serta beberapa pakaian dalam berenda yang mewah.
Total habis sekitar 4 juta untuk semua pakaian Rasti yang layak pakai dan walau masih tergolong sedengan, rasti pasti tetap tampil menggoda dengan ini semua.
Setelah mengatur agar semua barang tersebut dikirim langsung ke Sukamaju menggunakan mobil pikap besok pagi, Bima segera menyewa beberapa kuli bangunan dan memesan material untuk renovasi gubuk reotnya.
Rencananya matang: gubuk itu akan dirombak total secara kilat dalam waktu beberapa hari menjadi sebuah rumah minimalis yang layak huni, kokoh, dan nyaman untuk dirinya dan sang kakak ipar.
Bukan rumah yang wah banget. Masih rumah normal biasa. Dia membangun rumah minimalis sederhana Tipe 36 permanen (dinding batako/bata, lantai keramik standar, atap baja ringan) di desa, biaya per meter perseginya berkisar antara Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta.
Dengan luas di sana yang sampai 6 x 6 meter. Total Bima keluar duit 105 juta!
Sekali belanja buat janda muda, kakak iparnya dan dirinya. Dia habis 109 juta! Tapi dia gak menyesal, rasti adalh keluarga yang dia punya. Lainnya sudah menghilang dimakan kubur.
Kakak dia meninggal, kedua orang tua meninggal. Saudara gak ada yang mau menerima, cuma mbak rasti yang dengan sabar merawatnya saat masih sakit-sakitan.
Bima tersenyum. Meski begitu rasanya aneh. Apa gini rasanya memanjakan istri? Wajahnya tiba-tiba merona. Astaga, apa yang dia pikirkan? Meski gimanapun walau sudah jadi janda, dia tetap mantan istri kakaknya!
Dia pun geleng-geleng kepala. Ada yang salah dengan pola pikir dia.
*
Sore harinya, Bima tiba kembali di Sukamaju bersama rombongan truk material dan para kuli.
Rasti yang sedang menyapu halaman seketika melongo, matanya membelalak lebar melihat tumpukan batako, semen, dan kayu jati yang mendadak diturunkan di depan rumahnya.
"D-Bima... Ini semua apa? Kamu dapat uang dari mana, Bima?!" tanya Rasti panik, tubuhnya gemetar karena takut adik iparnya melakukan perbuatan kriminal di kota.
Bima mendekat, menggenggam kedua tangan Rasti yang terasa dingin. "Tenang, Mbak. Ini uang halal. Kemarin aku berhasil mengobati seorang pengusaha kaya raya di kota yang sekarat. Dia membayar jasaku dengan sangat tinggi. Mulai hari ini, gubuk kita akan dirombak jadi rumah yang bagus. Mbak Rasti tidak perlu lagi tidur kedinginan kalau hujan."
Mendengar penjelasan Bima yang penuh wibawa, air mata Rasti menetes karena haru. Dia tidak menyangka pemuda yang dulu selalu dihina sebagai ampas desa, kini menjelma menjadi pelindungnya yang begitu luar biasa.
"Tapi, Bima... kalau rumah ini dibongkar total sekarang, malam ini kita tidur di mana?" tanya Rasti bingung, melirik ke arah dinding bambu gubuk mereka yang mulai dirobohkan oleh para pekerja.
Bima tersenyum penuh arti, tatapannya turun sekilas menatap dada Rasti yang membusung di balik kaos ketatnya. "Mbak tenang saja. Kita akan menginap di hotel terbaik di kota kecamatan malam ini. Anggap saja kita sedang berlibur."
Dia melakukan lewa hotel untuk beberapa hari total habis dua juta termasuk biaya maka di sana. Rasti terlihat berbinar-binar layaknya anak kecil saat makan di sana.
Bima yang melihat itu terkekeh geli.
*
Malam harinya, suasana berganti drastis. Kamar tipe Deluxe di hotel berbintang kota kecamatan terasa begitu mewah dan sejuk berkat pendingin ruangan. Cahaya lampu temaram berwarna kuning redup memberikan kesan romantis dan intim yang kental di antara mereka berdua.
Rasti baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya yang masih menyisakan kehangatan setelah mandi dibalut oleh salah satu gaun tidur sutra berwarna merah marun pilihan Bima. Gaun itu melekat dengan pas, memperlihatkan siluet tubuhnya yang anggun dan feminin. Aroma segar sabun hotel bercampur dengan keharuman alami tubuh Rasti langsung memenuhi seisi ruangan yang sunyi itu.
Bima yang sedang duduk di tepi ranjang berukuran King Size seketika menelan ludah, mencoba menenangkan debaran dadanya yang mendadak berpacu lebih cepat. Melalui mata terawangannya, dia bisa melihat aliran darah Rasti yang berdenyut halus, pertanda kakak iparnya itu sedang didera rasa gugup yang luar biasa.
"Mbak... cantik banget malam ini," puji Bima jujur dengan suara basnya yang bergetar rendah.
Pipi Rasti seketika merona merah padam. Dia berjalan perlahan mendekati ranjang, jemari kakinya melangkah ragu di atas karpet tebal. "Bima... baju pilihanmu ini agak terlalu pas di badan. Mbak merasa sedikit canggung..." cicitnya malu-malu, sembari duduk di tepi ranjang yang empuk.
"Gak kok, Mbak. Itu sangat cocok untuk Mbak Rasti," ujar Bima sembari berdiri mendekat. Jarak di antara mereka terkikis, hingga Rasti bisa merasakan aura perlindungan yang hangat dari tubuh tegap Bima.
"Sini, Mbak. Sesuai kataku kemarin, Mbak butuh terapi lanjutan agar sisa-sisa energi negatif dari santet itu benar-benar bersih dan tidak kembali lagi."
Langkah ini diambil Bima bukan karena ingin mencari kesempatan. Melalui indra keenamnya, Bima tahu dukun yang menyerang Rasti masih gigih mengirimkan sisa-sisa energi buruknya secara berkala dari jauh. Jika benteng imun Rasti melemah, kondisi kesehatannya bisa kembali ambruk.
Kehadiran Bima yang begitu dominan dan berwibawa membuat Rasti merasa sepenuhnya aman.
Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur spring bed yang empuk, membiarkan ketegangan di pundaknya perlahan mengendur.
"Kalau begitu, lakukan saja apa yang terbaik untuk pengobatan ini, Bima. Mbak percaya sama kamu," ucap Rasti lirih.
Bima memosisikan dirinya di tepi ranjang, bersiap menyalurkan energi Mustika Hijau melalui telapak tangannya. Hawa magis yang menenangkan sekaligus memulihkan saraf mulai mengalir dari ujung jemarinya.
"Mbak, saya mulai ya," bisik Bima.
Telapak tangan hangat Bima mendarat di atas permukaan perut Rasti, lalu perlahan bergerak naik ke arah tulang rusuk untuk melancarkan aliran darah yang tersumbat.
malam itu sesi trapi resmi dimulai
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊