NovelToon NovelToon
Universitas BERDARAH (Dendam Cempaka)

Universitas BERDARAH (Dendam Cempaka)

Status: tamat
Genre:Horor / Eksplorasi-misteri dan gaib / Horor/Misteri / Dendam Kesumat / Roh Supernatural / Tamat
Popularitas:169.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Syantik

WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!


“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.

Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.

“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.

“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.

“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.

“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.

Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.

“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.


.
.
.

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 2

“Loh!” Radit terkejut, karena di belakangnya tidak ada siapa-siapa.

“Mana? Gak ada siapa-siapa?” Lidia melotot ke arah Radit.

“Aku gak bohong, tadi dia sama aku. Aku gandeng tangannya, tapi pas kamu manggil aku tadi, aku gak sengaja lepasin tangannya,” kata Radit dengan jujur. Tapi, Lidia tidak percaya. Karena tidak ada siapapun di tempat itu, kecuali mereka berdua.

“Ka-ka-kalian ke-ke-kenapa?” tanya Farhan dengan kegagapannya. Ia, Toni dan Sarah baru saja tiba di dalam ruangan itu.

“Ini nih! Si Radit bilang, dia tadi ketemu sama orang. Tapi dari aku masuk kesini, kau gak liat siapapun selain dia,” ucap Lidia kepada ketiga temannya itu.

“Cewek apa cowok, Dit?” tanya Toni. Toni bukan serius bertanya, melainkan lebih menjerumus ke arah meledeknya.

“Cewek, dia cantik tapi mukanya pucat. Rambutnya panjang segini!” Radit menyebutkan ciri-ciri Cempaka kepada ketiga temannya itu.

“Namanya Cempaka!” sambung Radit.

“Ngaco! Mana ada cewek malam-malam di tempat kaya gini sendirian!” ujar Sarah.

“Ja-ja-jangan ribut! U-u-udah malam, ga-ga-gak baik kita disini malam-malam!” ujar Farhan. Ia berbicara fasih setelah Sarah menepuk pundaknya.

“Ya udah, ayo pulang. Mungkin cewek itu juga udah pulang duluan,” kata Radit. Ia pun berjalan meninggalkan teman-temannya. Dalam benaknya masih kebingungan, kemana Cempaka pergi. Kenapa secepat itu? Dan kenapa gadis itu tidak pamit padanya, apakah dia takut setelah mendengar suara Lidia? Sampai-sampai ia pergi begitu saja.

“Kenapa ya, kok dia pergi gitu aja? Mana cepet banget lagi.” Batin Radit. Ia terus berjalan meninggalkan teman-temannya yang masih di belakang.

“Woi! Radit, tungguin dong!” seru Lidia. Gadis tomboy itu berlari mengejar Radit yang sudah jauh dari koridor itu.

Mereka berlima pun pulang ke rumah masing-masing. Kini, Radit sudah berada di rumahnya. Baru saja ia masuk kedalam rumah, Papanya sudah memanggil dan bertanya.

“Radit, dari mana aja kamu? Kenapa sudah jam segini baru pulang?” tanya Papa Radit. Bukan bertanya, tepatnya menginterogasi.

“Dari kampus lah, Pa. Sebenernya tadi pulangnya pas sebelum magrib. Terus Radit ama temen-temen mampir dulu ke kantin, kan laper, Pa.” Jelas Radit. “Hari udah mulai gelap kan, kami mau pulang. Tapi, Radit ingat kalau buku Radit ketinggalan di kelas. Jadi, Radit balik lagi!” sambungnya.

“Oh gitu, ya udah! Sana masuk kamar, bersih-bersih terus makan. Kayaknya, Mamamu masih ada di dapur!” ujar Papa Radit yang bernama Harun.

Swosss! Angin bertiup sayup.

Papa Harun mencium bau minyak wangi. “Bunga melati,” guman Papa Harun.

“Radit tunggu!” Papa Harun menghentikan langkah Radit.

“Iya, Pa. Kenapa?” Radit menolehkan kepalanya.

“Kamu pakek parfum yang bauk bunga melati?” tanya Papa Harun.

“Enggak, Pa. Tapi tadi, Radit ketemu cewek, dari wangianya. Dia pakek parfum melati deh, soalnya ini tangan Radit masih wangi,” ucap Radit sembari mencium telapak tangannya yang masih tersisa aroma kembang melati itu.

Papa Harun hanya mengangguk. Radit pun segera masuk kedalam kamarnya.

Sepeninggalan Radit, Papa Harun melamun. Ia kembali merindukan wanita yang telah mengisi harinya saat dirinya masih remaja.

“Kemana kamu? Aku lelah mencarimu, jika nanti kau kembali. Tolong maafkan aku, karena aku sudah menikah dengan wanita lain. Dan kini, aku sudah memiliki putra,” guman Papa Harun.

“Siapa yang memiliki putra, Pa?” tanya istri Papa Harun yaitu Mama dari Radit.

“Ahh, Mama bikin kaget aja,” kata Papa Harun sembari mengusap dadanya karena terkejut.

“Mama tanya, siapa yang punya putra?” Mama Radit mengulang kembali pertanyaannya. Ia pun duduk di sofa, di samping suaminya.

“Kita yang punya putra, emang siapa lagi?” Papa Harun memandang istrinya. “Papa gak nyangka aja, waktu begitu cepat berlalu, Ma. Sekarang putra kita udah berumur 21 tahun.”

“Oh, itu.” Mama Radit manggut-manggut. “Mama juga gak nyangka, sekarang dia udah beranjak dewasa. Bahkan udah jadi mahasiswa di Universitas ternama di Kota ini,” kata Mama Radit.

Universitas Garuda, adalah Universitas ternama di Kota itu. Banyak siswa siswi dari Kota lain juga yang datang untuk menempuh pendidikan di Universitas itu.

BERSAMBUNG!

Yang mampir, boleh dong bantu like, coment, dan tekan love nya!

1
Qaisaa Nazarudin
Tuh kan Jiwanya udah di ambil oleh Cempaka..
Qaisaa Nazarudin
Jangan bilang ini ulah Cempaka yg ingin mengambil Radit utknya..
Qaisaa Nazarudin
Jangan lah,Darto melakukan semua itu karena Dipaksain oleh duo dakjal itu.
Qaisaa Nazarudin
Kejam banget Nih Cewek,kenapa gak siksa dia aja bukan anaknya??
Qaisaa Nazarudin
Setelah Cempaka Mati apakah kamu mendapatkan Harun?? Gak kan?? Yang ada kamu sudah menjadi seorang PEMBUNUH hanya karena seorang pria,bego banget jadi cewek..
Qaisaa Nazarudin
Mmg Pantes anaknya mati kayak gitu,Anaknya juga kelakuan kayak bapak nya..
Qaisaa Nazarudin
Pantesan Jony gitu kelakuannya ternyata turunan dari bapaknya..
Qaisaa Nazarudin
Makanya jangan suka ikut campur,Udah di wanti- wanti juga tapi masih aja ikut campur..
Qaisaa Nazarudin
😳😳😳😆😆😆😆Dari deg degan lamgsung ngakak dengar kejelasan Radit ke Bokap nya..🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Hadeeuuhh ini si gagap diam aja deh..Malah bilang kerjaannya hantu segala,Kamu pikir Polisi itu percaya itu kerjaan hantu,Yang ada kamu yg dikira gila..
Qaisaa Nazarudin
Oh Jony anaknya Lastri, kalau gitu pantesan mati,Kan Lastri pelaku utama nya..
Qaisaa Nazarudin
Ckk Ibra ganggu aja..harusnya Cempaka kunci pintu nya dulu baru bunuh tuh si Jony..Aelah
Qaisaa Nazarudin
Lha ini anak siapa lagi? anak Lastri? Kan Cempaka bilang satu persatu anak2 yg sudah membunuh nya akan muncul sendiri dan ngumpul dikampus Garuda itu..
Qaisaa Nazarudin
Oh ternyata nenek yg ditolong Radit waktu itu nenekmya Ibra..
Qaisaa Nazarudin
Lebih baik dipanggil JENAZAH nya Lidia,Bukan MAYAT..
Qaisaa Nazarudin
Ayah Lidia,Ayah Jony dan Ayahnya Radit di masa lalunya Cempaka,Terus Ortunya Sarah?
Qaisaa Nazarudin
Waahh makin penasaran,Apa mungkin ortunya Jony dan Ortunya Radit itu temennya Cempaka dulu sebelum kejadian?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Nama peran nya ketukar2 mulu,gak konsisten..
Qaisaa Nazarudin
Waah ceweknya pak Harun nih kayaknya? Terus kenapa bisa mati tuh cewek?
Qaisaa Nazarudin
Kok Rendi? Radit kan?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!