WARNING!
NO BOOM LIKE! HARGAI KARYA ORANG!
“Permisi! Maaf saya mengganggu, kenapa kamu malam-malam sendirian disini?” tanya Radit.
Wanita itu berhenti bernyanyi, ia sedikit mengangkat kepalanya. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan Radit.
“Hey, Mbak. Kenapa diam saja? Kenapa mbak berada di kelas ini sendirian? Apakah mbak tidak takut?” tanya Radit.
“Saya gak bisa pulang!” sahut wanita itu dengan suara pelan.
“Kenapa?” tanya Radit. Wanita itu hanya menggeleng pelan.
“Saya antar, ya!” tawar Radit. Wanita itu menjawab lagi dengan anggukan kepala.
Radit segera mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut tangan Radit yang hangat. Radit terkejut setelah meyentuh tangan wanita itu, tangan yang begitu dingin.
“Kenapa tangannya begitu dingin? Apakah dia sakit?” batin Radit.
.
.
.
Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila ada kesamaan tempat dan nama tokoh. Itu semua hanya kebetulan semata. Dan karya ini hasil imajinasi saya sendiri, bukan PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Syantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2
“Loh!” Radit terkejut, karena di belakangnya tidak ada siapa-siapa.
“Mana? Gak ada siapa-siapa?” Lidia melotot ke arah Radit.
“Aku gak bohong, tadi dia sama aku. Aku gandeng tangannya, tapi pas kamu manggil aku tadi, aku gak sengaja lepasin tangannya,” kata Radit dengan jujur. Tapi, Lidia tidak percaya. Karena tidak ada siapapun di tempat itu, kecuali mereka berdua.
“Ka-ka-kalian ke-ke-kenapa?” tanya Farhan dengan kegagapannya. Ia, Toni dan Sarah baru saja tiba di dalam ruangan itu.
“Ini nih! Si Radit bilang, dia tadi ketemu sama orang. Tapi dari aku masuk kesini, kau gak liat siapapun selain dia,” ucap Lidia kepada ketiga temannya itu.
“Cewek apa cowok, Dit?” tanya Toni. Toni bukan serius bertanya, melainkan lebih menjerumus ke arah meledeknya.
“Cewek, dia cantik tapi mukanya pucat. Rambutnya panjang segini!” Radit menyebutkan ciri-ciri Cempaka kepada ketiga temannya itu.
“Namanya Cempaka!” sambung Radit.
“Ngaco! Mana ada cewek malam-malam di tempat kaya gini sendirian!” ujar Sarah.
“Ja-ja-jangan ribut! U-u-udah malam, ga-ga-gak baik kita disini malam-malam!” ujar Farhan. Ia berbicara fasih setelah Sarah menepuk pundaknya.
“Ya udah, ayo pulang. Mungkin cewek itu juga udah pulang duluan,” kata Radit. Ia pun berjalan meninggalkan teman-temannya. Dalam benaknya masih kebingungan, kemana Cempaka pergi. Kenapa secepat itu? Dan kenapa gadis itu tidak pamit padanya, apakah dia takut setelah mendengar suara Lidia? Sampai-sampai ia pergi begitu saja.
“Kenapa ya, kok dia pergi gitu aja? Mana cepet banget lagi.” Batin Radit. Ia terus berjalan meninggalkan teman-temannya yang masih di belakang.
“Woi! Radit, tungguin dong!” seru Lidia. Gadis tomboy itu berlari mengejar Radit yang sudah jauh dari koridor itu.
Mereka berlima pun pulang ke rumah masing-masing. Kini, Radit sudah berada di rumahnya. Baru saja ia masuk kedalam rumah, Papanya sudah memanggil dan bertanya.
“Radit, dari mana aja kamu? Kenapa sudah jam segini baru pulang?” tanya Papa Radit. Bukan bertanya, tepatnya menginterogasi.
“Dari kampus lah, Pa. Sebenernya tadi pulangnya pas sebelum magrib. Terus Radit ama temen-temen mampir dulu ke kantin, kan laper, Pa.” Jelas Radit. “Hari udah mulai gelap kan, kami mau pulang. Tapi, Radit ingat kalau buku Radit ketinggalan di kelas. Jadi, Radit balik lagi!” sambungnya.
“Oh gitu, ya udah! Sana masuk kamar, bersih-bersih terus makan. Kayaknya, Mamamu masih ada di dapur!” ujar Papa Radit yang bernama Harun.
Swosss! Angin bertiup sayup.
Papa Harun mencium bau minyak wangi. “Bunga melati,” guman Papa Harun.
“Radit tunggu!” Papa Harun menghentikan langkah Radit.
“Iya, Pa. Kenapa?” Radit menolehkan kepalanya.
“Kamu pakek parfum yang bauk bunga melati?” tanya Papa Harun.
“Enggak, Pa. Tapi tadi, Radit ketemu cewek, dari wangianya. Dia pakek parfum melati deh, soalnya ini tangan Radit masih wangi,” ucap Radit sembari mencium telapak tangannya yang masih tersisa aroma kembang melati itu.
Papa Harun hanya mengangguk. Radit pun segera masuk kedalam kamarnya.
Sepeninggalan Radit, Papa Harun melamun. Ia kembali merindukan wanita yang telah mengisi harinya saat dirinya masih remaja.
“Kemana kamu? Aku lelah mencarimu, jika nanti kau kembali. Tolong maafkan aku, karena aku sudah menikah dengan wanita lain. Dan kini, aku sudah memiliki putra,” guman Papa Harun.
“Siapa yang memiliki putra, Pa?” tanya istri Papa Harun yaitu Mama dari Radit.
“Ahh, Mama bikin kaget aja,” kata Papa Harun sembari mengusap dadanya karena terkejut.
“Mama tanya, siapa yang punya putra?” Mama Radit mengulang kembali pertanyaannya. Ia pun duduk di sofa, di samping suaminya.
“Kita yang punya putra, emang siapa lagi?” Papa Harun memandang istrinya. “Papa gak nyangka aja, waktu begitu cepat berlalu, Ma. Sekarang putra kita udah berumur 21 tahun.”
“Oh, itu.” Mama Radit manggut-manggut. “Mama juga gak nyangka, sekarang dia udah beranjak dewasa. Bahkan udah jadi mahasiswa di Universitas ternama di Kota ini,” kata Mama Radit.
Universitas Garuda, adalah Universitas ternama di Kota itu. Banyak siswa siswi dari Kota lain juga yang datang untuk menempuh pendidikan di Universitas itu.
BERSAMBUNG!
Yang mampir, boleh dong bantu like, coment, dan tekan love nya!
terbongkar dech persembunyian x
walau telat sih 🥺
maaf bukannya sok tau hanya menyampaikan sja mungkin endingnya beda ya kn. saya harap seeprti itu