Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkenalan yang Dibasahi Hujan dan Darah
Gadis itu segera menarik tubuhnya ke belakang, ekspresi tidak nyaman terlihat jelas di wajahnya. Ia berusaha melepaskan rangkulan Martin dengan gerakan bahu yang kaku.
“Pergi sana. Kamu bukan tipeku,” ucap gadis itu dengan suara bergetar namun tegas, lalu melangkah cepat ke depan untuk menghindar.
Tindakan itu justru memancing Martin. Ia segera meraih dan menggenggam pergelangan tangan gadis itu dengan erat, membuatnya tidak bisa lari.
“Aku tidak menerima penolakan, Sayang. Hanya sebentar, kita bicara…”
Tiba-tiba, sebuah suara tajam memotong ucapan Martin, dan sebuah sosok muncul dari balik bayangan gang.
“Dia sudah mengatakan tidak mau diganggu,” kata Roki.
Roki berdiri di hadapan Martin, tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi posturnya tegak, dan tatapannya tajam seperti sebilah pisau, tanpa rasa takut. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat gadis itu bisa menggunakan kesempatan untuk melepaskan diri dari genggaman Martin yang sedikit melonggar karena terkejut. Gadis itu segera berlari menjauh, kakinya menapak cepat di atas genangan air.
Martin menoleh ke arah Roki, wajahnya langsung masam. “Kamu siapa menggangguku saja? Apa tidak ada kerjaan mengurus urusan orang lain? Pergi sana, jangan ganggu urusanku dengan gadis itu!” serunya, nadanya menunjukkan kemarahan yang mendidih.
Martin hendak berbalik, mencari gadis itu. “Hai, gadis cantik, ayo kenalan lagi dan tukar nomor kamu…” Kalimatnya terhenti. Ia baru menyadari bahwa gadis itu sudah menghilang di balik tikungan.
“Bukannya gadis itu sudah mengatakan tidak mau?” ujar Roki, suaranya tetap tenang tapi mengandung sindiran tajam. “Kenapa kamu masih memaksa? Karena kamu, gadis itu takut dan meninggalkanmu.”
Martin menatap Roki dengan kebencian yang membara. “Apa mau kamu mengganggu urusanku? Kamu mencari masalah, ya?”
Martin yang memiliki sifat keras kepala dan pantang menyerah, memutuskan untuk mengejar. Ia melihat samar-samar gadis itu belum terlalu jauh. Martin mengejar dan berhasil meraih tangan gadis itu lagi. Genggaman kali ini jauh lebih erat.
“Aku tidak akan melukai kamu,” kata Martin, napasnya sedikit terengah, “asalkan kamu memberikan nomor kamu. Bagaimana?”
Lagi-lagi, Roki muncul. Ia menarik lengan Martin, berusaha melepaskan genggaman itu.
“Aku tidak mau! Kenapa kamu masih memaksa!” teriak gadis itu, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena ketakutan.
Gadis cantik itu, didorong oleh rasa tidak nyaman dan panik, mendorong Martin dengan sisa tenaganya, dan pada saat yang sama, Roki berhasil melepaskan genggaman Martin dari pergelangan tangan gadis itu. Begitu bebas, gadis itu langsung berlari cepat, berlindung di balik tubuh Roki untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk melarikan diri sepenuhnya.
Roki, yang merasa muak dengan perilaku Martin, berdiri tegap. Tatapan tajam Roki bertemu dengan tatapan Martin yang penuh amarah.
“Lepaskan tangannya. Dia ketakutan,” ucap Roki dengan suara yang dingin dan penuh peringatan, tangannya masih mencengkeram lengan Martin.
“Kamu lagi! Minta dihajar ternyata!” balas Martin. Ia tidak suka diganggu, apalagi dipermalukan. Martin melepaskan cengkeramannya pada lengan gadis yang sudah melarikan diri sepenuhnya, dan mengganti target amarahnya pada Roki.
“Nanti kita bicara lagi setelah urusanku dengan orang ini selesai,” gumam Martin, penuh ancaman.
Setelah melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu, Martin segera melayangkan pukulan telak ke wajah Roki. Pukulan itu mendarat keras. Roki, yang terkejut, sedikit oleng, dan terpaksa melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Martin.
Roki yang mendapatkan pukulan telak itu terjatuh ke tanah, lututnya menghantam batu tajam di pinggir genangan air. Martin, yang belum puas, langsung menerjang.
“Itu balasan karena sudah menggangguku!” teriak Martin, wajahnya memerah karena adrenalin dan amarah.
Martin memukuli Roki lagi saat ia masih berbaring tak berdaya di tanah. Roki mendapatkan pukulan bertubi-tubi di perut dan wajah. Roki mencoba melawan, tetapi pukulan Martin datang terlalu cepat. Hingga akhirnya, Roki mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa.
Dengan gerakan mendadak dan kuat, Roki mendorong Martin sekuat tenaga yang ia miliki.
Usaha Roki tidak sia-sia. Martin terdorong mundur dengan keras hingga ia tersandung dan jatuh persis di pinggiran jalan aspal.
Martin siap bangkit dan menerjang lagi, matanya fokus pada musuhnya. Namun, pandangan Roki, yang masih terbaring di tanah, tiba-tiba berubah menjadi panik.
Terdengar deru mesin yang sangat kencang. Roki melihat ke belakang Martin dan melihat sebuah mobil van hitam melaju kencang tanpa mengurangi kecepatan, langsung menuju arah Martin yang sedang mencoba bangkit.
Tanpa berpikir panjang, Roki bertindak. Dalam satu gerakan cepat dan spontan, Roki mencapai lengan Martin dan menariknya dengan sekuat tenaga, menyeret Martin dari pinggiran aspal.
Kedua orang itu terjatuh bersamaan di tengah trotoar pejalan kaki, sesaat sebelum mobil van itu melesat melewati tempat Martin jatuh tadi. Angin kencang dari laju mobil menerpa wajah mereka.
Martin yang terkejut dan tidak menyadari bahaya yang baru saja lewat itu, refleks memukul Roki lagi.
“Kenapa kamu mendorongku?! Apa maumu!” raungnya.
Tiba-tiba, gadis cantik yang tadi melarikan diri, kembali ke tempat mereka berdua. Ia pasti menyaksikan detik-detik menegangkan saat mobil itu melintas. Wajah gadis itu tegang dan shock.
“Hentikan! Kamu harusnya berterima kasih karena dia telah menolong kamu dari kecelakaan yang akan membawa kamu ke rumah sakit!” teriak gadis itu, suaranya dipenuhi amarah bercampur kekhawatiran.
Martin yang mendengar suara itu, menghentikan pukulannya, bingung. “Apa maksud kamu? Berterima kasih kepada orang ini yang telah mendorongku dan menarikku?” ucap Martin sambil menunjuk ke arah Roki dengan kasar.
Gadis itu maju beberapa langkah, napasnya tersengal. “Apa kamu tidak tahu kalau dia telah menolong kamu dari mobil yang melaju kencang dari arah belakang kamu saat kamu terjatuh?! Jika dia tidak menarik kamu, mungkin saja kamu sudah terluka parah atau mati!” jelas gadis itu, suaranya merendah, menunjukkan kelelahan emosional.
Martin menatap Roki dengan tatapan bingung yang luar biasa. Semua amarahnya seketika meredup, digantikan oleh kesadaran yang dingin.
Roki yang terbaring, mengusap sudut bibirnya yang berdarah. “Tadi... ada... mobil yang melaju dari arah sana dengan kecepatan tinggi,” ucap Roki, suaranya lemah sambil menunjuk ke arah jalan. “Mobil tadi melaju sangat kencang, makanya aku menarik tangan kamu agar terhindar dari kecelakaan.”
Martin hanya terdiam. Ia merasakan dingin menyelimuti tubuhnya, membayangkan dirinya terlindas. Ia bangkit dari tubuh Roki dan berdiri. Setelah diam sesaat, Martin mengulurkan tangan kanannya kepada Roki.
Roki membalas uluran tangan Martin.
“Maaf telah memukul kamu… dan terima kasih telah menolongku,” ucap Martin, memalingkan wajahnya karena malu, tidak sanggup menatap mata Roki.
Roki, yang menerima uluran tangan Martin, tersenyum tulus meskipun wajahnya memar. “Tidak apa-apa. Kamu baik saja, itu yang terpenting.” Ia memaafkan Martin dan menerima ucapan terima kasihnya.
Gadis itu, yang melihat mereka berbaikan, menghela napas lega dan segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, seolah ia baru saja menyelesaikan tugasnya.
Saat mereka berdua berdiri, mencoba menenangkan napas dan detak jantung, tiba-tiba perhatian beralih ke gerbang sekolah di kejauhan. Sekelompok siswa berkumpul. Mereka melihat Izam dan seorang kakak kelas yang tampak hampir bertengkar karena masalah kecil. Kerumunan mulai terbentuk, tetapi suara nyaring bel masuk segera berbunyi, membatalkan pertikaian itu. Kerumunan bubar, semua berjalan tergesa-gesa memasuki ruang kelas masing-masing.
Roki dan Martin, yang sama-sama terluka, berjalan bersama menuju ruang kesehatan. Di jalan yang sama-sama mereka susuri, mereka mulai mengobrol satu sama lain. Sebuah perkenalan yang diawali dengan pukulan dan penyelamatan nyawa.
Sampai di ruang kesehatan, mereka berdua duduk. Tiba-tiba, suara pintu berbunyi. Di balik pintu muncul sosok laki-laki tampan. Wajahnya terdapat luka memar karena pukulan, sama seperti Roki. Laki-laki itu berambut hitam agak gondrong dengan tubuh agak tinggi itu adalah Izam.
Martin dan Roki yang melihatnya, terdiam. Izam keluar dari ruang kesehatan dan berjalan melewati mereka.
“Bukannya itu orang yang tadi pagi di gerbang yang dipukul oleh kakak kelas?” ucap Martin, melirik ke arah Roki.
“Iya, itu betul,” ucap Roki dengan singkat, sambil menahan sakit saat perawat mengoleskan antiseptik di lukanya.
Martin merasakan suasana hati Roki yang tiba-tiba berubah dingin. “Kenapa kamu? Apa masih marah padaku?” kata Martin sambil memegang bahu Roki.
“Tidak,” ucap Roki singkat, menghindari tatapan Martin.
“Kalau tidak marah, kenapa kamu mengabaikanku?” tanya Martin.
Roki hanya terdiam, tidak menjawab Martin. Martin, yang sifat keras kepalanya sudah kembali dan tidak suka diacuhkan, langsung menarik tangan Roki dengan keras.
“Aduh! Sakit tahu tidak! Apa kamu bodoh!” teriak Roki, wajahnya meringis kesakitan.
“Makanya jangan mengabaikanku,” kata Martin, matanya menyiratkan bahwa ia mulai melihat Roki sebagai seseorang yang menarik perhatiannya, meskipun lewat cara yang paling kasar.
Mereka pun beradu mulut lagi, di tengah keheningan ruang kesehatan, dengan luka di wajah, dan sebuah persahabatan yang baru lahir dari kecelakaan.