NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Angin pagi berhembus pelan, membawa kesejukan yang menyelimuti seluruh pelosok desa.

28 Mei 2020. Kicauan burung pipit di dahan pepohonan bersahutan, seolah merayakan hari libur.

Di luar sana, jalanan gang sempit dan area pertokoan mulai hidup. Beberapa warga berjalan santai menenteng kantong belanjaan, sementara di sudut lain, para pemuda setempat sibuk bergotong royong membersihkan selokan.

Namun, keramaian dan hangatnya pagi itu tak mampu menembus dinding sebuah kamar yang tirainya tertutup rapat.

"System eror, tidak dapat merespons. Harap mulai ulang!"

Suara mekanis dari speaker komputer itu mengalun monoton, meminta para pemain untuk melakukan restart, memecah keheningan kamar yang minim cahaya.

"Sial! Kenapa tiba-tiba jadi eror gini?"

Brak!

Sebuah hantaman keras mendarat di atas meja kayu. Takahiro mengusap kasar rambutnya yang memiliki gradasi warna hitam dan putih. Mata merah delimanya menatap tajam ke arah layar monitor, memancarkan kilat kekesalan.

Ia mendecak lidah. Ini bukan sekadar koneksi internet yang terputus. Jendela peringatan yang terus berkedip itu adalah bug lawas dari sistem yang tak pernah sudi diperbaiki oleh pihak pengembang.

Tangan Takahiro sempat menari di atas keyboard, mencoba mencari berbagai celah perintah untuk mengatasi masalah. Nihil. Jendela peringatan itu menolak hilang, terus mengejeknya di tengah layar.

Menyerah, ia menyingkir dari meja, membiarkan monitor itu tetap menyala memancarkan cahaya redup.

"Membosankan!" gerutunya.

Ia membiarkan tubuhnya terhempas bebas ke atas kasur. Tangannya terentang lebar, sementara kedua kakinya menggantung lemas di tepi ranjang. Bagi Takahiro, hari libur tanpa melakukan grinding di game favoritnya terasa hampa.

Ia bukan tipe pemuda yang suka keluyuran, dunianya hanya sebatas empat sudut kamar ini dan permainan di dalam layarnya.

Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Perlahan, seiring dengan dengung CPU di sudut ruangan, kelopak matanya yang sayu mulai terasa berat. Ia pun memejamkan mata, membiarkan kesadarannya tenggelam perlahan ke dalam pekatnya alam mimpi.

***

Waktu merangkak tanpa terasa. Pukul 15:47. Garis cahaya matahari sore yang berwarna jingga pekat menyusup masuk melalui celah ventilasi, membelah debu yang menari di udara kamar. Pemuda itu masih terlelap dalam tidurnya.

Di lantai bawah, sang ibu mulai kehabisan kesabaran. Beberapa kali panggilannya dari arah dapur tak kunjung mendapat sahutan. Sambil mengelap tangan, wanita paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk naik ke atas.

Langkahnya sengaja dibuat santai menapaki satu per satu anak tangga kayu. Namun, tepat saat kakinya memijak anak tangga teratas, langkahnya terhenti. Alisnya bertaut. Dari balik pintu kamar Takahiro yang tertutup rapat, telinganya menangkap suara samar—suara cekikikan dua orang gadis muda.

Rasa penasaran menahan langkahnya. Sang ibu menahan napas, berjinjit mendekati pintu agar tak menimbulkan suara. Alih-alih langsung menekan kenop, ia menempelkan telinganya ke daun pintu, mencoba menangkap obrolan itu.

Namun, semakin lama ia pasang telinga, suara itu justru semakin memudar, lalu perlahan lenyap menjadi senyap.

Pikirannya mulai merajut skenario liar. Anaknya? Membawa dua perempuan ke dalam kamar tanpa sepengetahuannya?

Tak mau membuang waktu dengan asumsi, tangannya langsung mencengkeram tuas gagang pintu, menekannya, dan mendorongnya ke dalam dengan dorongan keras.

Cklek!

Pintu mengayun terbuka lebar. Udara pengap kamar menyambutnya. Matanya menyapu cepat seluruh sudut ruangan.

Kosong. Tak ada siapa-siapa di sana selain putranya yang masih mendengkur di atas kasur, ditemani layar monitor komputer yang masih memancarkan cahaya.

Sang ibu mematung di ambang pintu, terheran-heran. Ia sangat yakin dengan apa yang didengarnya tadi. Ia coba melongok ke balik lemari dan sudut-sudut lain, namun hasilnya tetap nihil. Ruangan itu hanya berisi anaknya.

Enggan membiarkan dirinya terseret ke dalam rasa penasaran yang lebih jauh, ia menepis pikiran tentang suara anomali tersebut. Fokusnya kembali ke tujuan awal. Ia melangkah mendekati sisi ranjang untuk membangunkan putra tunggalnya.

"Takahiro... bangun, Nak." Ia duduk di tepi kasur, menepuk paha kanan anaknya dengan ritme lembut agar Takahiro tak terkejut. "Hari sudah mulai sore."

Pemuda itu hanya diam, napasnya masih teratur, sama sekali tak merespons.

"Ibu sudah berapa kali bilang sama kamu. Sebelum tidur, biasakan matikan komputermu terlebih dahulu biar nggak boros listrik."

Sambil mengomel, pandangannya tanpa sengaja jatuh ke layar monitor. Jendela peringatan sistem itu masih ada, berkedip tak beraturan. Namun kali ini layar itu mengalami glitch—distorsi gambar yang patah-patah.

Di tengah kekacauan piksel tersebut, menampakkan siluet wujud tiga karakter: satu pemuda dan dua perempuan.

Ia menelan ludah. Buru-buru ia menata akal sehatnya, meyakinkan diri untuk tetap berpikir positif. Ia mensugesti otaknya bahwa suara tawa perempuan tadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan karakter game yang sedang berkedip aneh di kamar anaknya.

"Takahiro!" Nada suaranya mulai naik.

Tetap tak bergeming. Takahiro tertidur pulas seolah tak bernyawa.

Batas kesabaran sang ibu akhirnya menguap habis. Napasnya mulai memburu. Matanya bergerak liar memindai meja belajar yang berantakan, mencari sesuatu—apa saja—yang bisa ia gunakan untuk membangunkan kebo satu ini.

Tatapannya terkunci pada sebuah botol air mineral yang bertengger di dekat keyboard. Tanpa pikir panjang, tangannya langsung menyambar botol yang isinya masih lebih dari setengah itu. Ia membuka tutupnya, mencondongkan tubuh ke arah wajah putranya yang terlelap, lalu...

Byurr!

Guyuran air mendarat telak di wajah Takahiro.

Hantaman air yang tiba-tiba itu membuat Takahiro terkesiap. Ia terlontar duduk dengan napas tertahan dan mata membelalak lebar.

"Hujan!!"

Dengan gelagapan, ia mengusap kasar wajahnya yang basah kuyup. Begitu pandangannya kembali fokus dan kesadarannya terkumpul, hal pertama yang ia lihat bukanlah atap yang bocor.

Di hadapannya, menjulang sosok sang ibu yang menatap tajam dengan ekspresi wajah ketus, dan kedua tangan yang bersedekap angkuh di depan dada.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!