Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Rumah Sakit Adisakti kembali riuh pagi ini.
Suara langkah kaki para perawat yang berlalu-lalang membawa berkas, deru roda brankar yang bergesekan di lantai keramik, bercampur dengan aroma khas obat-obatan yang memenuhi setiap sudut lorong.
Namun, di tengah kesibukan yang menegangkan itu, ada satu hal yang sudah menjadi pemandangan lumrah, bahkan hampir menjadi rutinitas harian bagi seluruh staf rumah sakit.
Kedatangan Adera.
“Nona Adera datang lagi…” bisik salah satu perawat sambil menahan tawa, matanya mengarah ke pintu masuk utama.
“Sekarang sakit apa lagi?” sahut rekanya dengan nada bercanda.
“Paling juga alasan, mau cari perhatian doang.”
Dan benar saja, gadis yang selalu menguncir rambutnya ke atas itu melangkah masuk dengan wajah ceria, namun tangannya segera memegangi dahinya dengan gaya yang sangat dramatis, seolah-olah ia adalah pasien paling menderita sedunia.
“Suster… kayaknya aku demam deh,” keluhnya dengan suara lemah, dibuat-buat.
Perawat yang berjaga mengangkat alis tak percaya.
“Demam?”
“Iya… panas sekali rasanya.” Adera mengedipkan mata polos, berusaha sekuat tenaga terlihat menyedihkan.
“Termometernya bahkan belum dipasang, Nona.” timpal perawat lain dengan senyum mengejek.
Adera langsung terkekeh, sama sekali tidak merasa malu sedikitpun.
Semua orang di sana tahu satu fakta penting: Adera tidak benar-benar sakit. Tujuan gadis itu datang hanya satu, yaitu Dokter Ezra.
Dokter muda tampan yang terkenal dingin, perfeksionis, dan sulit didekati siapa pun. Bahkan para senior sering berkata kalau Ezra lebih mirip patung es atau robot daripada manusia, karena sikapnya yang datar dan tanpa emosi.
Namun anehnya, justru itulah yang membuat Adera tergila-gila padanya.
“Dokter Ezra ada?” tanya Adera antusias, mengabaikan komentar para suster.
“Lagi visite di lantai VIP.” jawab salah satu perawat.
Mata Adera langsung berbinar-binar.
“Oke! Makasih ya, Suster!”
Belum sempat perawat itu menahan atau mengingatkan, gadis itu sudah berlari kecil menuju lift dengan semangat empat lima.
“Nona Adera! Jangan lari-lari!” teriak sang perawat.
Terlambat. Pintu lift sudah tertutup rapat, meninggalkan bayangan gadis itu yang penuh harap.
Di lantai VIP, suasana terasa lebih hening dan eksklusif. Seorang pria tinggi tegap dengan jas dokter putih yang rapi tengah memeriksa hasil rekam medis pasien. Wajahnya tampan, tegas, namun memiliki aura sedingin kutub utara.
Dokter Ezra Lukmana.
“Tekanan darahnya stabil. Obatnya lanjutkan seperti dosis sebelumnya,” ucap Ezra datar, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya.
“Baik, Dok.” jawab perawat jaga dengan hormat.
Baru saja Ezra hendak melangkah pergi meninggalkan ruangan, suara seseorang tiba-tiba terdengar nyaring memecah kesunyian lorong.
“Dokter Ezraaaa!”
Ezra bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Suara yang sudah seperti alarm pengingat masalah baginya.
Adera muncul dengan senyum lebar mengembang di wajahnya, tangan kanannya mengibas pelan, sementara tangan kirinya membawa paper bag cokelat yang terlihat menarik.
“Aku bawain kopi favorit dokter nih!”
Ezra terus berjalan tanpa minat sedikit pun, seolah tidak mendengar.
“Aku tidak suka kopi manis.”
“Aku tahu!” jawab Adera cepat, sedikit berlari mengejar langkah panjang pria itu. “Makanya aku minta less sugar! Pahit dikit tapi tetap enak, deh!”
Langkah Ezra berhenti mendadak. Namun hanya sedetik, ia kembali berjalan.
“Adera.” serunya dengan nada rendah.
“Nah, akhirnya dipanggil juga.” Gadis itu tersenyum puas, merasa baru saja memenangkan pertandingan kecil.
“Jangan datang ke rumah sakit kalau tidak benar-benar sakit.” Kata Ezra, menatap tajam.
“Tapi aku sakit!” bantah Adera ngotot, memajukan wajahnya sedikit.
Ezra menatap datar, menatap mata gadis itu lekat-lekat seolah bisa membaca isi kepalanya.
“Sakit apa?”
“Aku sakit hati karena dicuekin terus.” ungkap Adera tanpa rasa malu, suaranya sedikit merajuk.
Beberapa perawat yang kebetulan lewat langsung menahan tawa, menutup mulut dengan tangan. Sementara Ezra tetap diam tanpa ekspresi, layaknya tembok beton yang tak tertembus.
“Adera, aku sibuk.” kata Ezra lagi, mencoba mengakhiri percakapan.
“Kalau sibuk, aku temenin. Aku bisa bantu bawa berkas lho!” tawar Adera manis.
“Aku bekerja.”
“Aku bisa diem kok! Beneran deh, bisanya kayak patung!” janji Adera sambil menutup mulutnya rapat-rapat, menahan diri agar tidak berisik.
“Kamu tidak pernah diam.” sahut Ezra kesal, napasnya terhembus kasar.
Adera malah tertawa kecil, sama sekali tidak tersinggung dengan sikap dingin pria itu.
Sejujurnya, dia sendiri tidak tahu sejak kapan dirinya bisa jadi se-gila ini mengejar seseorang. Mungkin sejak hari itu… Hari ketika dirinya hampir tenggelam di pantai saat acara keluarga. Saat semua orang panik berteriak, Ezra datang menolongnya tanpa ragu sedikit pun. Pria itu menarik tubuhnya dari air laut yang dingin, memeluknya erat agar ia tetap sadar, lalu memanggil namanya berkali-kali dengan wajah yang begitu khawatir.
Dan sejak saat itu… hati Adera tidak pernah kembali normal.
“Aku serius suka sama kamu, Dok,” ucap Adera tiba-tiba. Suaranya turun menjadi lebih lembut, menghilangkan nada bercandanya.
Ezra menghela napas panjang, terlihat sangat lelah.
“Kamu hanya kagum, Der. Bukan cinta.”
“Kalau cuma kagum, harusnya aku udah nyerah dari dua tahun lalu!” jawab Adera tegas, mencoba membuktikan isi hatinya.
Untuk pertama kalinya, Ezra terdiam. Pria itu menatap wajah gadis di hadapannya, namun hanya sedetik kemudian ia kembali memasang tembok tinggi dan dingin di wajahnya.
“Pulanglah.” kata Ezra singkat.
“Kalau aku nolak?” tantang Adera, sedikit memberanikan diri.
“Aku suruh satpam nganter keluar.”
Adera langsung cemberut, wajahnya berubah murung seperti anak kecil yang baru saja permennya direbut.
Di saat yang sama, sebuah tawa kecil terdengar dari arah belakang mereka. Seorang pria keluar dari ruang dokter, melipat tangan di dada sambil menyaksikan interaksi keduanya dengan geli.
Denial. Kakak kandung Adera sekaligus sahabat dekat Ezra.
“Lo masih aja setegas batu es sama adik gue?” tanyanya santai.
Ezra menatap malas.
“Adik lo mengganggu operasional rumah sakit.”
“Gangguin hati lo juga gak?” goda Denial, mencoba mencari celah.
“Tidak.” jawab Ezra singkat, padat, dan jelas.
Denial tertawa kecil, jelas sekali dia tidak percaya dengan jawaban sahabatnya itu.
“Padahal cinta Adera tulus banget, Za. Gue sebagai kakaknya bisa lihat itu.”
Ezra diam, memilih tak menjawab. Ia takut salah bicara, atau malah memberi harapan palsu pada gadis yang terlalu ceria ini.
Sementara Adera langsung berdiri di samping kakaknya dengan penuh semangat dan harap.
“Tuh kan! Kak Denial aja dukung aku!” seru Adera bangga.
Namun jawaban Ezra tetap sama. Dingin. Tegas. Menusuk hati.
“Adera masih terlalu kekanak-kanakan.”
Senyum di wajah Adera perlahan memudar, seakan ada jarum yang menusuk perlahan. Meski begitu, gadis itu tetap berusaha tersenyum tipis, menahan perasaan kecewa agar tidak terlihat.
“Yaudah… berarti aku tinggal tumbuh dewasa aja, kan? Tapi setelah itu kita bisa pacaran kan?” tanya Adera dengan keberanian tingkat dewa, meski suaranya sedikit bergetar.
“Adera? Jangan ganggu Ezra lagi. Ayo kita ke kantin, temani Kakak makan.” Denial mencoba mencairkan suasana yang mulai canggung, lalu menunjuk paper bag di tangan adiknya. “Oh iya, apa yang kamu bawa ini?”
“Ehh jangan-jangan, ini tuh khusus buat Dokter Ezra seorang.” Adera menoleh lagi, wajahnya kembali memelas. “Emm Dok, setidaknya terima dong kopinya… please?”
Ezra terdiam selama beberapa detik, udara seketika terasa tegang. Denial pun berusaha membela adik kesayangannya.
“Baiklah, Za. Ambil aja. Kasihan, biarkan adikku yang gila cinta ini bisa tenang dan pulang.” kata Denial.
“Nih Dok…” Adera menyodorkan paper bag itu dengan wajah berseri-seri lagi, seolah lupa kalau baru saja ditolak mentah-mentah.
Dengan berat hati dan wajah datarnya, akhirnya Ezra meraih paper bag berisi kopi hangat itu dari tangan Adera.