Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1_kejujuran yang sakit
"Vara, ada sesuatu yang ingin aku katakan," ucap Arsenio saat melangkah masuk ke dalam kamar. Suaranya terdengar berat, menyiratkan ketegangan yang tertahan.
"Sesuatu apa, Mas?" tanya Elvara. Wajahnya berkerut bingung, dengan kedua alis yang saling bertaut rapat menatap sang suami.
Arsenio menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa keberanian.
Sesaat kemudian, dia mengembuskannya secara kasar, lalu melemparkan tatapan mata yang begitu tajam dan dingin lurus ke netra Elvara.
"Vara, aku menghamili Celine," ucap Arsenio lantang. Kalimat itu meluncur tanpa beban, seketika menghantam dada Elvara.
"Ulangi lagi, Mas. Sepertinya aku salah mendengar," kata Elvara. Wajahnya mendadak pias, matanya membelalak sempurna karena syok yang luar biasa.
"Kamu tidak salah dengar, Vara. Aku memang benar-benar menghamili Celine," sahut Arsenio datar.
Tidak ada guratan penyesalan di wajahnya; pria itu justru tampak begitu tenang seolah baru saja menyampaikan berita cuaca.
Elvara mengembuskan napas panjang yang gemetar. Dia memaksakan sebuah senyuman pahit di bibirnya yang mulai pias, sementara tangan kanannya meremas dada kirinya dengan kuat.
Dadanya mendadak terasa begitu sesak dan dihantam rasa nyeri yang hebat.
"Mas, kamu bercanda, 'kan?" tanya Elvara dengan suara yang mulai serak dan bergetar. Dia masih mencoba tersenyum di tengah air mata yang mulai menggenang dan siap tumpah di pelupuk matanya.
"Aku tidak sedang bercanda, Elvara. Aku memang menghamili Celine," jawab Arsenio tegas, menatap istrinya tanpa ada keraguan maupun rasa bersalah sedikit pun.
Seketika, pertahanan Elvara runtuh. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi. Bibirnya bergetar hebat, sementara dadanya terasa semakin sesak.
Enam tahun pernikahan yang selama ini ia jaga dengan penuh cinta dan kesabaran seolah hancur hanya dalam satu pengakuan.
Ia menatap Arsenio dengan tatapan terluka, seakan tidak mengenali pria yang berdiri di hadapannya lagi.
"Apa salahku, Mas?" tanya Elvara dengan suara yang mulai gemetar hebat. Pertahanannya runtuh, air matanya mulai menetes satu demi satu membasahi pipi. "Apa karena aku belum bisa memberikan keturunan untukmu, akhirnya kamu memilih jalan seperti ini, ha?!" teriak Elvara, suaranya melengking tinggi, menumpahkan segala rasa sakit yang menyumbat dadanya.
"B-bukan begitu, Elvara. A-aku, aku hanya khilaf," jawab Arsenio terbata-bata. Nyalinya mendadak ciut, wajahnya menegang gugup melihat ledakan amarah sang istri.
"Khilaf?" ulang Elvara, menyunggingkan senyum getir yang menyayat hati. "Itu bukan khilaf namanya, Mas! Itu memang sengaja kamu lakukan!" lanjut Elvara dengan nada yang masih meninggi, menolak menerima alasan klasik itu.
"Elvara, aku benar-benar meminta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu," ucap Arsenio dengan raut wajah penuh penyesalan yang terlambat.
Dia melangkah maju, mencoba mendekat untuk meraih dan menenangkan sang istri.
"Jangan mendekat!" seru Elvara tajam. Tatapan matanya yang penuh kilatan amarah dan kekecewaan membuat langkah kaki Arsenio langsung terhenti seketika.
"Elvara" panggil Arsenio lirih, menatap istrinya dengan pandangan memohon.
Elvara kembali tersenyum sinis di sela tangisnya. Kali ini, dadanya benar-benar terasa remuk redam, menyisakan rasa sakit yang teramat dalam.
"Enam tahun pernikahan kita, Mas. Aku mengira semuanya akan baik-baik saja di balik ucapan manismu yang bilang, 'Tidak apa-apa, kita akan berusaha lagi.' Dan ternyata, ini jawaban dari semua kesabaranmu itu, Mas?!" tutur Elvara dengan suara yang bergetar hebat, sementara air matanya mengalir semakin deras, menganak sungai di wajahnya yang kian pias.
"Elvara, aku benar-benar minta maaf," ucap Arsenio dengan raut wajah penuh penyesalan yang terlambat. Dia melangkah maju, menjulurkan tangannya mencoba mendekat untuk meraih dan menenangkan sang istri.
"Apa maafmu bisa memulihkan semuanya, Mas?!" teriak Elvara dengan suara melengking tinggi.
Tangisnya pecah seketika, wajahnya memerah padam dengan air mata yang benar-benar tumpah tak terbendung lagi hingga membasahi seluruh pipinya.
Arsenio seketika bungkam, lidahnya mendadak kelu dengan tatapan mata yang terkejut melihat ledakan emosi sang istri.
Ini adalah pertama kalinya selama enam tahun pernikahan mereka dia melihat wajah Elvara begitu murka dan mendengar suaranya meninggi seperti itu.
"Selama bertahun-tahun, aku sudah berusaha mati-matian untuk melakukan segalanya! Mulai dari berobat, program kehamilan, bahkan kelas privat khusus agar bisa hamil! T-tapi, bagaimana bisa kamu semudah itu mengatakan bahwa kamu khilaf, Mas?!" teriak Elvara di sela isak tangisnya yang kian histeris, membuat napasnya naik-turun memburu memendam rasa sesak yang luar biasa.
Elvara menatap Arsenio dengan pandangan mata yang menyipit penuh penghinaan.
"Dan lagi, harusnya kamu sadar, Mas! Selama aku melakukan semua perjuangan itu, sepeser pun kamu tidak pernah mengeluarkan uang! Semuanya, semuanya murni menggunakan uang tabungan yang diberikan oleh orang tuaku!" teriak Elvara lagi, dadanya bergemuruh hebat sementara air matanya terus mengalir tanpa henti.
Arsenio benar-benar terpaku dengan wajah pias dan hanya bisa terdiam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata istrinya karena apa yang diucapkan oleh Elvara adalah kebenaran yang mutlak.
Selama ini, dia memang tidak mengeluarkan modal sepeser pun untuk mendukung usaha Elvara mendapatkan keturunan.
Elvara menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengatur rongga dadanya yang terasa bergemuruh hebat.
Dengan kasar, dia menghapus air mata yang membanjiri pipinya, mencoba mencari sisa-sisa ketegasan di wajahnya yang mulai layu di hadapan pria yang telah mengkhianatinya.
"Dan kamu, kamu juga telah melupakan usahaku yang membuatmu bisa menjadi CEO di perusahaan besar sekarang, Mas," ucap Elvara dengan nada suara yang masih bergetar hebat, namun kini raut wajahnya berubah menjadi dingin dan tatapannya menusuk tajam.
Raut wajah Arsenio langsung berubah tegang, merasa tersudut.
"Elvara, kenapa kamu malah membahas masalah itu?" tanya Arsenio dengan nada yang mendadak tidak terima, alisnya bertaut rapat menyiratkan harga dirinya yang mulai merasa terusik.
"Kenapa? Ada masalah?" sahut Elvara cepat. Sorot matanya yang semula penuh kesedihan, kini mengeras, menatap tajam langsung ke bola mata Arsenio tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
"Kita sekarang sedang tidak membahas hal itu, Elvara!" jawab Arsenio dengan raut panik yang tertahan, matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri berusaha keras mengalihkan pembicaraan yang mulai menyudutkan posisinya.
"Tapi aku mau membahasnya, Mas! Aku mau agar kamu selalu ingat bagaimana perjuanganku meyakinkan keluargaku, membujuk mereka agar percaya bahwa kamu mampu memimpin perusahaan besar milik keluargaku!" tutur Elvara. Suaranya yang semula melengking tinggi mendadak turun menjadi bisikan yang bergetar hebat, menahan rona perih yang kian mengoyak dadanya.
Kedua sudut bibirnya dipaksa terangkat, menyunggingkan senyuman pahit yang amat menyedihkan sebuah senyum keputusasaan yang kontras dengan matanya yang merah dan sembap.
Elvara menatap Arsenio lekat-lekat, membiarkan air matanya jatuh bebas tanpa berniat menghapusnya lagi.
Wajahnya yang semula tegang kini tampak layu, menyiratkan kehancuran seorang istri yang dikhianati setelah memberikan segalanya.
"Dan ternyata, pengkhianatan menjijikkan ini balasan yang aku terima darimu, Mas?" tanyanya lirih. Tatapan matanya yang sayu namun tajam menghunjam langsung ke manik mata Arsenio, membuat setiap kata yang keluar dari bibirnya yang bergetar terasa begitu menusuk, dingin, dan penuh dengan penekanan rasa kecewa yang teramat dalam.