Mikayla benci rumah barunya. Ia benci Hesti, ibu tiri tegas yang dianggapnya menghancurkan keluarga lamanya. Demi membalas dendam, Kayla nekat masuk ke pergaulan bebas bersama Gavin, mengabaikan peringatan Arka.
Namun, saat bahaya mengintai, bukan ibu kandungnya yang datang menyelamatkan, melainkan Hesti—ibu tiri yang selama ini ia lawan habis-habisan. Di sela perang dingin dan tingkah bucin kocak ayahnya pada Hesti, sebuah rahasia besar masa lalu siap terbongkar. Siapa korban dan siapa pelaku sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Buruk dan Benteng yang Kokoh
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan palu yang menggema di dalam ruangan ber-AC itu mendadak menjelma menjadi monster yang siap mencabik-cabik ketenangan tidurnya. Suara berat sang hakim terdengar begitu dingin, memutus mata rantai kebahagiaan masa kecilnya dalam satu tarikan napas.
"Dengan ini, Majelis Hakim memutuskan bahwa hak asuh untuk saudari Mikayla jatuh kepada Bapak Hendra, selaku ayah kandungnya."
"Gak! Kayla mau sama Mommy! Kayla enggak mau sama Papih! Lepasin Kayla! Mommy, ikut Kayla, Mom!"
Kayla menjerit. Suaranya melengking tinggi, membelah keheningan malam yang sunyi. Ia menggapai-gapai udara kosong, mencoba meraih ujung baju wanita yang selalu dipanggilnya 'Mommy' itu, yang perlahan berjalan menjauh tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
"Mommy...!"
Kayla tersentak bangun. Napasnya memburu, sementara keringat dingin membasahi pelipis dan tengkuknya. Jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dada, seolah baru saja berlari maraton sejauh belasan kilometer. Kamar tidurnya masih sama—gelap, sepi, dan hanya diterangi oleh lampu jalan yang menembus celah gorden.
"Pyuuhh..." Kayla mengembuskan napas panjang yang terasa berat. Ia mengusap wajahnya pelan dengan kedua telapak tangan, mencoba mengusir sisa-sisa kengerian dari alam bawah sadarnya.
Ia melirik jam dinding digital di atas meja belajarnya. Angka merah menunjukkan pukul 05.45 pagi. Kayla mendengkus pelan, menyibak selimut tebal yang membungkus tubuhnya, lalu duduk di tepi ranjang.
"Padahal udah tiga tahun berlalu, tapi kenapa gue masih aja mimpiin kejadian itu terus sih?" gumam Kayla lirih pada kesunyian kamar. Tiga tahun adalah waktu yang lama bagi orang lain, tapi bagi Kayla, luka dari ketukan palu sidang itu masih basah, masih terasa perih setiap kali ia memejamkan mata. Di kepalanya, sang ayah adalah sosok antagonis egois yang dengan sengaja merancang skenario agar dia terpisah dari sang ibu kandung.
Tok.. tok.. tok..
Suara ketukan pintu kayu kamarnya membuyarkan lamunan Kayla. Suara ketukan yang teratur, disusul oleh suara berat yang sangat familier di telinganya.
"Kayla? Kamu udah bangun, sayang? Itu di bawah Arka udah nungguin kamu dari tadi," panggil Pak Hendra dari balik pintu. Nada suaranya terdengar sangat hati-hati, seolah takut salah bicara dan memicu ledakan emosi anak gadisnya.
Kayla menatap nanar ke arah pintu. Rasa sesak di dadanya kembali naik ke permukaan setiap kali mendengar suara sang ayah. "Iya," jawab Kayla singkat, nyaris tanpa ekspresi.
Tanpa menunggu balasan lagi dari ayahnya, Kayla segera menyambar selembar handuk dan melangkah masuk ke kamar mandi. Air hangat yang menyiram tubuhnya sama sekali tidak mampu menghangatkan hatinya yang telanjur membeku oleh prasangka.
Tiga puluh menit kemudian, Kayla sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya. Ia menyisir rambut panjangnya, mengikatnya asal menjadi model kuncir kuda, lalu menyampirkan tas ransel hitamnya di bahu sebelah kanan.
Saat melangkah turun ke lantai bawah, aroma gurih nasi goreng mentega langsung menyapa indra penciumannya. Aroma yang biasanya membangkitkan selera, namun di rumah ini, semua hal yang dibuat oleh ayahnya selalu terasa hambar di lidah Kayla.
Di meja makan, Pak Hendra sedang duduk sambil melipat koran paginya. Di atas meja sudah tersaji dua piring nasi goreng yang masih mengepulkan uap hangat, lengkap dengan telur mata sapi di atasnya. Sementara itu, di kursi ruang tamu yang terletak tak jauh dari meja makan, seorang cowok berambut rapi dengan seragam yang sama dengannya sedang duduk sambil asyik memainkan ponsel.
Arka, sahabat lama sekaligus ketua kelas di sekolahnya, langsung mendongak begitu mendengar derap langkah sepatu Kayla yang menuruni tangga. Cowok itu menyimpan ponselnya ke dalam saku celana, lalu berdiri.
"Lama banget lo, Kay. Kebiasaan deh. Untung gue jemputnya kepagian, kalau enggak, kita udah dikunciin sama Pak satpam di depan gerbang," omel Arka blak-blakan. Arka memang seperti itu—tiada hari tanpa mengomeli kecerobohan Kayla, tapi dia juga orang pertama yang selalu ada setiap kali Kayla butuh bantuan.
Kayla hanya memutar bola matanya malas, mengabaikan omelan sahabatnya itu. Ia berjalan terus melewati meja makan tanpa ada niat sedikit pun untuk melirik makanan yang sudah disiapkan.
"Kayla, sarapan dulu, Nak. Itu Papa sudah buatin nasi goreng kesukaan kamu. Dimakan sedikit ya, biar di sekolah enggak lemas," panggil Pak Hendra, berdiri dari kursinya dengan tatapan penuh harap.
"Gak lapar. Kayla berangkat," jawab Kayla singkat dan dingin. Langkah kakinya sama sekali tidak melambat, langsung berjalan lurus menuju pintu depan tanpa berpamitan atau menyalami tangan ayahnya.
Melihat sikap keras kepala Kayla, Arka menghela napas panjang. Ia menatap Pak Hendra dengan perasaan tidak enak. Sebagai orang luar, Arka sering merasa sedih melihat bagaimana Pak Hendra selalu berusaha mengambil hati Kayla, sementara Kayla terus-menerus memasang tembok pertahanan yang tinggi.
"Om, Arka pamit ya. Nanti Arka pastiin Kayla sarapan sebelum masuk kelas kok, Om," ucap Arka sopan, mencoba menenangkan hati pria paruh baya di hadapannya.
Mendengar kalimat perhatian dari Arka, senyum tipis yang tampak lelah terukir di wajah Pak Hendra. Ia menepuk bahu Arka pelan. "Ya, Arka. Makasih banyak ya. Om titip Kayla, tolong jagain dia di sekolah."
"Siap, Om. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arka segera berlari kecil menyusul Kayla yang ternyata sudah berdiri di samping sepeda motor matic miliknya yang terparkir di halaman rumah. Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah cemberut yang kentara sekali.
"Arkaa... cepetan ah! Lama banget sih lo di dalam!" teriak Kayla kesal, menyuarakan ketidaksabarannya.
Arka menggeleng-gelengkan kepala, lalu menghampiri Kayla dan menyodorkan sebuah helm cadangan berwarna merah ke arah gadis itu. Kayla menerimanya dengan sentakan kasar sebelum memakainya ke kepala.
Arka naik ke atas motor, menyalakan mesin, namun tidak langsung menarik gas. Ia menatap Kayla dari kaca spion dengan dahi berkerut.
"Lo... masih gini aja sama bokap lo? Gak baik, Kay. Gimanapun juga, beliau itu ayah lo, satu-satunya orang tua yang ngurusin lo sekarang," ucap Arka, memulai khotbah paginya dengan suara yang sengaja diturunkan agar tidak memancing kemarahan Kayla yang sedang sensitif.
Mendengar khotbah itu, rahang Kayla mengencang. Ia menatap tajam bagian belakang kepala Arka dengan tatapan menusuk.
"Suka-suka gue! Jangan ikut campur urusan keluarga gue deh, Ka. Tugas lo di sini cuma jemput gue sekolah, bukan jadi penasihat spiritual gue," jawab Kayla ketus, nadanya meninggi menunjukkan penolakan mutlak.
Arka hanya bisa menghela napas pasrah, tahu betul kalau mendebat Kayla di saat emosinya sedang tidak stabil seperti ini hanya akan berakhir sia-sia. Ia memasukkan gigi motor, lalu menarik gas perlahan, membawa motornya membelah jalanan pagi yang mulai ramai.
Di dalam hatinya, Arka hanya bisa berharap agar kerasnya hati Kayla suatu saat nanti bisa melunak. Namun, baik Arka maupun Kayla tidak ada yang tahu, bahwa di rumah sepi yang baru saja mereka tinggalkan, sebuah takdir baru sedang bersiap mengubah segalanya. Pak Hendra sudah memantapkan hati untuk membawa sosok wanita baru ke dalam rumah ini—seorang wanita bernama Hesti, yang akan memicu badai konflik yang jauh lebih besar di kehidupan Mikayla.