Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1: Kembali ke Tahun 2014
BAB 1: Kembali ke Tahun 2014
Bunyi klik dari tetikus dan ketukan papan tik menjadi satu-satunya melodi latar yang menemani Velix Purnama sore itu. Di layar monitor komputer kantornya yang terletak di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, barisan angka di lembar kerja Excel seolah menari-nari, membuat matanya yang lelah makin perih.
Velix melirik jam di sudut kanan bawah layar. Pukul 17.05 WIB. Hari Jumat, tanggal 29 Mei 2026.
Bagi sebagian besar karyawan, Jumat sore adalah gerbang menuju kebebasan akhir pekan. Namun bagi Velix yang kini berusia 26 tahun, akhir bulan berarti satu hal: dompet yang sekarat. Sebagai staf administrasi biasa dengan gaji pas-pasan di ibu kota, bertahan hidup hingga hari gajian berikutnya adalah seni tersendiri.
Sambil merapikan kemeja kerjanya yang kusut, Velix menghela napas panjang. Satu-satunya hal yang menjaga kewarasannya di tengah kerasnya hidup di Jakarta adalah sepak bola. Dia adalah seorang fanboy garis keras Manchester City. Setiap akhir pekan, Velix rela begadang demi menyaksikan tim kesayangannya bertanding lewat layar kaca.
Dulu, saat masih kecil, Velix punya mimpi besar untuk menjadi pesepak bola profesional dan merumput di Etihad Stadium. Namun, realitas hidup menamparnya terlalu cepat. Dia tidak punya bakat alami, fisiknya biasa saja, dan orang tuanya tidak punya biaya untuk memasukkannya ke akademi formal. Mimpi itu akhirnya terkubur, digantikan oleh tumpukan berkas kantor yang membosankan.
Setelah mematikan komputer, Velix berjalan menuju parkiran basement. Dia menyalakan motor bebek tuanya yang sudah mengeluarkan suara batuk-batuk, lalu membelah kemacetan gila jalanan Jakarta.
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya ketika Velix sampai di daerah pinggiran Jakarta Timur. Saat tertahan di lampu merah dekat sebuah pasar swalayan tua, pandangan Velix tertuju pada sudut trotoar yang remang-remang. Seorang kakek tua berpakaian lusuh sedang duduk bersandar, memegangi perutnya dengan wajah pucat berpeluh. Di depannya ada sebuah mangkuk plastik kosong.
Lampu hijau akan menyala dalam tiga puluh detik. Velix meraba saku celana kainnya. Di sana hanya tersisa satu lembar uang dua puluh ribu rupiah—uang terakhirnya sebelum gajian hari Senin depan. Jika uang ini diberikan, malam ini dia terpaksa harus berpuasa atau mengais sisa mi instan di kosan.
Namun, ketenangan mental Velix sebagai pria dewasa membuatnya berpikir dengan jernih. 'Aku masih punya tempat berteduh malam ini. Kakek ini mungkin belum makan seharian.'
Tanpa ragu, Velix meminggirkan motornya. Dia menghampiri sang kakek, berjongkok, dan mengulurkan uang dua puluh ribu tersebut dengan senyuman hangat. "Ini, Kek. Buat beli nasi padang di seberang sana."
Kakek itu mendongak. Matanya yang rabun tampak berkaca-kaca saat menerima uang itu dengan tangan yang gemetar. "Terima kasih, Nak... Semoga kebaikanmu dibalas oleh alam semesta."
Saat Velix hendak berdiri untuk kembali ke motornya, sang kakek tiba-tiba menahan pergelangan tangannya. Genggaman kakek itu terasa sedingin es, namun sangat kuat. Dari balik bajunya yang robek, sang kakek mengeluarkan sebuah batu pipih berwarna hitam keabu-abuan. Ukurannya setelapak tangan, permukaannya terasa sangat halus dengan pola guratan unik yang samar di tengahnya.
"Kakek tidak punya apa-apa untuk membalasmu. Ambil batu ini sebagai kenang-kenangan. Ini batu keberuntungan," bisik kakek itu dengan suara serak namun penuh penekanan.
Merasa tidak enak jika harus menolak niat baik orang tua, Velix menerima batu itu. "Ah... iya, Kek. Terima kasih banyak." Velix memasukkan batu pipih yang terasa agak berat itu ke dalam saku celananya, lalu kembali memacu motor bebeknya membelah malam.
Namun, takdir malam itu punya rencana lain.
Di sebuah persimpangan jalan yang agak gelap, sebuah mobil SUV hitam tiba-tiba kehilangan kendali dari arah berlawanan. Mobil itu melaju kencang, oleng, dan langsung menghantam motor Velix dari samping dengan keras.
BRAAAKKK!
Tubuh Velix terpental beberapa meter ke aspal jalanan. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya dalam sekejap. Pandangannya langsung mengabur dan menggelap dengan cepat. Di bawah remang lampu jalanan, darah segar mengalir deras dari kepalanya, membasahi sekujur tubuh, merembes masuk ke dalam saku celananya tempat batu pipih itu berada.
Saat darah hangat Velix menyentuh permukaan batu hitam tersebut, guratan unik di atas batu tiba-tiba memancarkan cahaya biru safir yang sangat terang.
[Darah Tuan Rumah Terdeteksi...]
[Keselarasan Jiwa: 100%]
[Mengaktifkan GOAT Blueprint System...]
[Kondisi Tubuh Tuan Rumah: Rusak Parah (Kematian). Memulai Prosedur Retrogresi Waktu ke Titik Optimal...]
Kesadaran Velix benar-benar padam. Dunia di sekitarnya menjadi sunyi senyap.
"Velix! Bangun! Sudah jam berapa ini? Kamu lupa hari ini ada ujian praktik olahraga di sekolah? Cepat mandi!"
Suara teriakan melengking yang sangat familier memecah keheningan.
Velix tersentak. Matanya terbuka lebar, dan dia langsung terduduk di atas kasur dengan napas yang terengah-engah seperti orang yang baru saja lolos dari maut. Tangan kanannya dengan panik meraba kepala, dada, dan kakinya.
Tidak ada darah. Tidak ada tulang yang patah. Tidak ada rasa sakit akibat hantaman mobil SUV.
Velix memandangi sekelilingnya dengan kebingungan yang luar biasa. Ini bukan kamar kosannya yang sempit dan berbau lembap di Jakarta Selatan. Ini adalah kamar masa kecilnya. Di dinding bercat putih kusam itu, tertempel poster usang Manchester City era tahun 2012, tepat saat mereka pertama kali menjuarai Premier League lewat gol dramatis Sergio Agüero.
Dia melihat kedua tangannya. Kecil, kurus, bersih, dan tidak ada kapalan bekas mengetik komputer berjam-jam.
Velix bergegas melompat dari tempat tidur dan berdiri di depan cermin lemari pakaiannya. Wajah di dalam cermin itu adalah wajahnya saat masih remaja. Pipinya belum tirus karena stres kerjaan, dan dia mengenakan celana pendek biru khas seragam sekolah.
"Aku... kembali?" bisik Velix. Suaranya terdengar lebih cempreng khas remaja yang baru puber.
Mentalitas pria 26 tahun di dalam dirinya mencoba memproses situasi gila ini dengan tenang. Dia menarik napas dalam-dalam, menstabilkan detak jantungnya, lalu melirik kalender dinding yang tergantung di dekat pintu.
Oktober 2014.
Dia benar-benar kembali ke usia 14 tahun, saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
Sebelum Velix sempat merenungkan fenomena ini lebih jauh, sebuah cahaya biru terang tiba-tiba memancar tepat di depan matanya. Cahaya itu memadat, membentuk sebuah layar hologram semi-transparan yang melayang di udara.
[Selamat Datang di GOAT Blueprint System.]
[Tuan Rumah: Velix Purnama]
[Kondisi Fisik: Amatir (Tanpa Bakat)]
[System Points (SP): 0]
[Misi Harian Pertama Telah Tersedia: Lari 5 KM dan Lakukan Juggling Bola 100 Kali.]
[Hadiah Misi: +0.1 Stamina, +0.1 Ball Control, & 2 System Points (SP).]
[Apakah Anda siap memulai perjalanan menjadi Pesepak Bola Terbaik di Dunia?]
Velix menatap layar hologram itu tanpa berkedip. Sebagai pria dewasa yang sudah kenyang membaca komik dan novel di sela-sela jam kerjanya dulu, dia tahu persis apa ini. Ini adalah kesempatannya. Pintu gerbang menuju takdir baru yang pernah dia kubur dalam-dalam.
Perlahan, ketenangan sedingin es di wajahnya mencair, digantikan oleh senyuman lebar yang penuh antusiasme. Gairah masa mudanya yang sempat padam kini berkobar kembali dengan hebat.
"Latihan harian, ya?" Velix mengepalkan tangannya erat-erat, matanya berkilat penuh tekad. "Mari kita mulai dari nol."