Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Aku menatap lantai marmer rumah sakit dengan pandangan mendung. Kutahan napas sejenak, merasakan sesak yang teramat sangat di dada. Hidup ini rasanya tidak adil. Bayangkan saja, baru tiga jam yang lalu aku resmi menyandang status sebagai istri orang. Sialnya, alih-alih menjadi ratu di hatinya, aku justru langsung menyandang gelar sebagai istri kedua.
Kulirik pria yang berdiri sekitar lima meter di sebelahku. Seorang pria matang berusia 40 tahun. Harus kuakui, walau umurnya sudah berkepala empat, aura ketampanan dan kewibawaannya tidak pernah pudar. Namun, saat dia menyadari aku sedang memperhatikannya, dia langsung berbalik dan menghujamku dengan tatapan super tajam. Setajam silet.
Gila, aku salah apa? Sinis banget tatapannya, rutukku dalam hati, menunduk ngeri.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang berirama dari dalam ruangan memecah keheningan. Fokus kami langsung teralih ke bangsal Bu Laila—istri pertama Pak Jalal. Jantungku serasa berhenti berdetak saat melihat tubuh rentanya tiba-tiba kejang dengan napas yang tersengal-sengal. Hingga akhirnya, dalam satu hentakan lirih, tubuh kurus itu diam, tak lagi bergerak.
Ya Allah... ini kali pertamanya aku melihat seseorang mengembuskan napas terakhir tepat di depan mataku, bisikku gemetar, diliputi rasa takut yang luar biasa.
Pintu ruang rawat terbuka. Dokter keluar dengan wajah lesu dan menggelengkan kepala, menyampaikan kabar duka bahwa Bu Laila telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.
Pak Jalal terdiam. Tubuhnya mendadak lemas, kehilangan tumpuan hingga hampir luruh ke lantai. Melihat itu, naluriku bergerak sendiri. Aku melangkah maju, berniat mendekat untuk memapah tubuhnya yang goyah.
Namun, belum sempat tanganku menyentuh lengannya, Pak Jalal langsung menghempaskanku dengan kasar. Dia menatapku penuh kebencian.
"Mau apa kamu?!" desisnya tajam. "Jangan pernah berpikir karena istri saya sudah tiada, kamu bisa seenaknya menyentuh saya! Puas kamu sekarang? Puas melihat dia sudah tidak ada, agar kamu bisa menjadi satu-satunya istri saya?!"
Aku tersentak mundur, shock. Tuduhan itu bagai godam yang menghantam dadaku. Belum sempat aku membela diri, sebuah suara melengking penuh histeria terdengar dari arah belakangku.
"Apa? Umi sudah meninggal? Dan kamu, Yas... menjadi istri Abiku?!"
Itu Zulaikha. Sahabat dekatku, sekaligus putri kandung Pak Jalal dan almarhumah Bu Laila. Dia berdiri di sana dengan mata membelalak tak percaya.
Lidahku kelu. Bibirku bergetar pelan dan mataku mulai memanas. Sebelum sempat aku mengeluarkan satu kata pun, sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
PLAK!
Wajahku terlempar ke samping. Rasa panas dan perih langsung menjalar di pipiku.
"Tega kamu, Yas! Di saat Umiku lagi sekarat, kamu malah merenggut kebahagiaannya! Padahal aku percaya sekali sama kamu!" Zulaikha memaki di antara tangisnya yang pecah. Air matanya berlinang deras. "Ternyata kamu sama saja dengan perempuan murahan di luar sana. Dasar pelakor! Jalang!"
Pertahananku runtuh. Air mataku mengalir deras tak terbendung. "Zulaikha... Aku... aku tidak seperti itu!" ucapku terbata-bata, mencoba menggapai tangannya.
"TIDAK SEPERTI ITU GIMANA? HAH?!" teriak Zulaikha meradang. "Kamu menikah dengan Abiku hanya karena menginginkan hartanya, kan? Untuk membiayai kehidupan keluargamu yang miskin!"
Isak tangisku semakin sesenggukan. Dengan sisa harapan yang ada, aku beralih menatap Pak Jalal. Berharap pria itu mau membuka suara dan menjelaskan kebenaran yang sesungguhnya kepada putrinya. Namun nihil. Pak Jalal justru memalingkan wajah, membiarkan aku menjadi satu-satunya samsat kemarahan di sana.
"Memang dasar perempuan gatal!" caci Zulaikha lagi, suaranya menggema di koridor rumah sakit yang sepi. "Kenapa kamu tidak jual diri saja sekalian? Kenapa harus merebut Abiku dari Umi sampai Umi meninggal? Apa kedua orang tuamu tidak pernah mengajarkan mana benar dan mana salah? Atau memang kelakuan rendahan orang tuamu menurun kepadamu?!"
Mendengar kalimat terakhirnya, ada sesuatu yang patah sekaligus terbakar di dalam dadaku. Darahku berdesir panas. Sebutan jalang dan pelakor masih bisa kutahan, tapi tidak jika mereka sudah berani menghina Ayah dan Ibuku!
"CUKUP, ZULAIKHA!" teriakku lantang, memotong kalimatnya.
Amarahku meledak. Dengan napas yang memburu memburu dan air mata yang masih mengalir deras, kutatap matanya lekat-lekat. "Kamu boleh menghinaku! Kamu boleh mengataiku sepuasmu! Tapi jangan pernah bawa-bawa kedua orang tuaku yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini!"
Zulaikha tersentak, begitu pula Pak Jalal yang langsung menoleh ke arahku dengan raut terkejut.
"Asal kamu tahu, aku menikahi Abimu karena kemauan Umi kamu sendiri! Dia yang memaksaku!" bentakku, menunjuk ke arah ruang rawat. "Sebenarnya aku pun tidak sudi menikah dengan Abimu. Apa aku sejelek itu sampai harus mengemis cinta pada orang tua yang hampir bau tanah, hah?! Aku masih sadar, Zulaikha!"
Kuusap air mataku dengan kasar, lalu menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menghina.
"Kalau memang kamu tidak sudi aku menikah dengan Abimu, dan Abimu sendiri pun tidak sudi bersamaku... bagus! Aku akan pergi dari sini! Aku akan meninggalkan kalian, dan aku tidak peduli lagi dengan wasiat Umi kamu! Memangnya kalian pikir kalian siapa?!"
Aku melangkah mendekati Zulaikha, membuat gadis berhijab itu sedikit mundur karena syok melihatku seberani ini.
"Pertama Umi kamu yang menekanku, kedua Abimu yang menghinaku, dan sekarang kamu! Jangan karena keluarga kalian berjasa memberikan pekerjaan di perusahaan kalian, kalian bisa seenaknya menginjak-injak harga diriku!" sergapku tajam.
"Aku akan pergi, Zulaikha. Kalau dipikir-pikir, aku pun sangat tidak sudi menjadi istri Abimu. Walaupun dia berduit, semiskin-miskinnya aku, aku bukan perempuan matre yang menjual diri!"
Aku tersenyum sinis, menatap Zulaikha dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Aku memang tidak memakai hijab lebar sepertimu. Tapi setidaknya... kata-kataku tidak pernah sekasar mulutmu, wahai Nona Muda keluarga Jalal."
Setelah menumpahkan kalimat berapi-api itu, aku langsung berbalik. Langkah kakiku kuhentakkan kuat-kuat, meninggalkan mereka berdua yang terpaku dan membisu di koridor rumah sakit. Aku pergi, dan aku tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi.