Tika, seorang wanita yang tumbuh ditengah keluarga yg tidak harmonis,sejak kecil,ia terbiasa hidup dlm kekurangan,menyaksikan Ibunya berjuang sendirian, sementara sang ayah lebih sibuk mengejar gengsi dari pada memperhatikan keluarga nya.
Demi bertahan Hidup&membantu sang Ibu,Tika bekerja sebagai penyanyi Cafe sambil menyelesaikan Pendidikan nya.
ditengah kerasnya kehidupan,hadir Dika,seorang Pria Mapan yg memberikan Perhatian&kehangatan yg selama ini ia tidak pernah rasakan,namun cinta mereka terhalang oleh kenyataan yg Rumit karena perbedaan Dunia serta status Dika yg telah memiliki keluarga.
saat hubungan mereka mulai retak,karena kesalahan pahaman dan luka yang tak kunjung sembuh,Andre,cinta pertama yg pernah meninggalkan nya kembali Hadir,dengan kesabaran dan ketulusan, andre berusaha perbaiki kesalahan masa lalu dan membuktikan bahwa cinta nya masih sama.
Antara luka,keluarga, penghianatan, harapan dan pilihan yang sulit, tika harus menentukan jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NATstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUMBUH DALAM KESUNYIAN 🩷
Langit begitu cerah saat itu,awal di tahun 90-an. Kesibukan tampak mulai terlihat di rumah. Perlahan aku membenahi tali sepatuku berulang kali,maklum,aku masih dalam tahap belajar.
Tak jauh dariku, kak Antoni,dengan penuh perhatian sedang setia duduk menunggu didekatku,ku coba mengingat bagaimana ia memberiku contoh cara mengikat tali sepatu ini, tetapi tetap saja belum bisa.
“Sini, kakak bantuin,”🙂 ujarnya,sembari membungkuk mengikatkan.
Dia adalah kakak pertamaku,waktu itu aku masih kelas 3 SD yang dikenal manja,lucu,serta ceria,ada dua kakak laki-laki di rumah yang sangat perhatian,aku sangat beruntung memiliki nya.
“Ready? Kalau sudah, yuk berangkat,” katanya sambil menggandeng erat tanganku yang mungil ini menuju mobil.
Sejak kecil,mereka berdua selalu menjadi tembok pelindungku,Saat aku jatuh dari sepeda,mereka pasti yang panik lebih dulu,Saat ada yang menggangguku,mereka datang dengan wajah marah seperti ingin menghentikan dunia.🙂
mereka juga sering memberiku hadiah.Mungkin karena aku satu-satunya anak perempuan🥰.
sedih nya,karena kudengar Kak Anton sebentar lagi akan merantau melanjutkan cita-citanya menjadi polisi.
Bayangkan bagaimana suasana rumah ku akan terasa sepi,Tak ada lagi yang mengajakku bermain,Pantas,hampir setiap malam aku mendengar percakapan papa dan mama tentang rencana mereka setelah lulus.
benar saja,saat itupun tiba,Kulihat kak Antoni mengemas barang-barangnya. Ia siap berangkat ,dan kami harus berpisah untuk sementara waktu🥺.
Hari berlalu,akupun mulai terbiasa tanpa keberadaan kak Antoni,kami hanya bertiga.
Mama, Papa, dan Kak rico,Awalnya Kak Rico sibuk sekali dengan dunianya,tetapi sekarang ia sering mengajakku ngobrol dan bermain,seperti Kak Anton dulu, Sedangkan Papa,makin hari,selain sibuk dinas juga semakin jarang di rumah.
Suatu ketika,aku sedang asyik bermain boneka,rico mendekat.
“Dek, lihat deh, bulu kakimu banyak banget. Ih… serem,nanti kalau kamu sudah besar, pasti lebat kayak monyet.”👻
Mendengar itu, aku panik, aku langsung menangis ketakutan,fikirku, kulitku akan dipenuhi bulu cokelat kehitaman, dan aku akan berubah seperti gorila.suara teriak semakin keras.😭
“Ssst… jangan nangis.
nanti Mama dengar. Diam ya, tunggu.”!
lalu ia kembali mendekat sambil membawa pencukur jenggot.
"nih kakak bersihin pakai ini, biar mulus kayak boneka Barbie,” ujarnya sembari mencukur bulu halus di kaki dan tanganku.
ekspresinya meyakinkan,kuhapus air mataku,lalu tersenyum lega. Namun tiba-tiba Mama datang,Atas kejadian itu, beliau langsung marah. Pencukur itu direbut, dan Kak Rico berlari ke kamar atas.
“Kamu apain adik kamu,Rico?! Apa-apaan sih!"🤬
seketika kulihat, wajah kak Rico tampak menyebalkan, seolah puas mengerjaiku.
yah Begitulah suasana di rumah.Kalau tidak dijahili, pasti diajak bertengkar karena hal sepele. Sangat bertolak belakang dengan sikap Kak Antoni yang hangat.
Tiga tahun berlalu. Lagi-lagi rumah ini terasa sepi. Kak rico mengikuti jejak Papa masuk pendidikan militer.
Sementara aku, Papa menyuruhku melanjutkan sekolah di asrama yang letaknya jauh dari kota,entahlah,😢Rasanya seperti dibuang,Mana mungkin aku bisa jauh dari Papa dan Mama? Bagaimana jika aku kesepian?
Berkali-kali aku menggunakan jurus menangis sebagai bentuk penolakan,aku berharap Papa mengurungkan niatnya. Tapi tetap saja,aku dipaksa,Perjalanan itu amat melelahkan. Kami masuk ke pedalaman.selain jaraknya jauh, tempat itu juga minim penerangan.
Pukul satu dini hari, akhirnya aku tiba di sebuah desa,Inikah asrama tempat aku akan tinggal selama tiga tahun ke depan?Jauh dari hiruk pikuk kota. Aku belum mengerti apa-apa. Aku belum tahu rasanya jauh dari orang tua. Ah sudahlah, aku tak mau ambil pusing,dan Kami pun beristirahat.
Pagi itu, suasana tampak berbeda.Udara sejuk, suara burung berkicau riang,Cahaya matahari menyelinap di sela-sela bangunan kayu sederhana.
Lantai keramik bercampur tanah, atap genting terlihat langsung dengan kerangka kayu yang kokoh. Tak ada AC, tak ada kipas angin. Kesejukan tempat ini berasal dari udara desa yang masih murni.
Kulihat Mama sibuk merapikan pakaianku,Saat menyadari aku terbangun,beliau menghampiri sambil tersenyum lebar.
“Ayo sayang, mandi dulu.”
mama mengantarku ke pintu belakang,Di sana ada sebuah sumur,medan jalan yang sedikit licin. Untungnya aku pernah merasakan suasana seperti ini di rumah nenek.Hanya saja, aku ragu,apakah aku bisa menimba air sendiri?
tiba tiba,pandanganku tertuju pada pohon bambu menjulang tinggi di samping kamar mandi.Aku langsung membayangkan, bagaimana jika malam-malam aku ingin buang air? 😩
“Tika! Kok bengong? Sini nak,
Lihat Mama cara menimba air. Ingat ya, lantainya licin, harus hati-hati,” ujar Mama sambil menjelaskan.
Tiba-tiba saja,seorang pria muda berparas tampan menghampiri dengan sopan.
"Maaf tante,Biar saya bantu."Seketika ia mengambil ember dari tangan Mama.
“Terima kasih, Nak,” balas Mama tersenyum.
Aku hanya diam, tak terlalu menghiraukan.
Gesturnya tampak dewasa, kelihatannya baik. Apakah dia warga disini? batinku.
“Kami baru tiba semalam dari Jakarta. kebetulan anak saya akan sekolah di sini,Mas juga siswa di sini?”
tanya Mama,dan Pria itu mengangguk.
"Saya Abi, Tante. Selamat datang di sekolah asrama ini. Semoga adik betah.”
Mama tampak lega.
“Saya titip Tika ya, Nak Abi. Terima kasih sudah membantu.”
“Sama-sama, Tante. Airnya sudah penuh. Saya permisi dulu.”
Ia berlalu dari pandangan.
tiba saatnya Papa dan Mama pamit. Wajahku mulai kehilangan gairah. Ini bukan liburan di rumah nenek,ini kenyataan. Aku harus belajar mandiri. Keputusan Papa sudah bulat menempatkanku di sini. Aku memeluk Mama sambil menangis.
Dari kejauhan, Abi memperhatikanku. Mobil Papa perlahan menghilang dari pandangan.
Sepi…🥺
Aku bingung harus memulai dari mana. Akhirnya, aku masuk ke kamar dan mulai belajar beradaptasi dengan keadaan serta lingkungan sekitar.
sementara diperjalanan,
'Pa… Tika masih terlalu kecil tinggal di sana.Papa tahu, kan? Dia harus tidur beralaskan tikar,Kamar mandinya licin, minim cahaya, mandi harus menimba air dari sumur. Bagaimana kalau malam-malam dia ingin pipis?”
ujar Mama cemas.
Mendengar itu, Papa hanya tersenyum santai, mencoba menenangkan Mama.
“Percayalah, Ma. Ini pembelajaran hidup buat Tika. Kelak saat dia dewasa, dia akan menjadi lebih matang,” jawab Papa tenang.
Waktu berlalu,Aku mulai bisa berbaur di tempat ini. Jam belajar sekolah pun tiba.ternyata Kak Abi merupakan siswa terbaik di sini.
Ia juga mengajar diluar jam kelas pada salah satu mata pelajaran diasrama,aku menyadari,hampir semua perempuan asrama mengaguminya. Wajar saja,ia bukan hanya tampan, tetapi juga disegani, ramah, dan sopan.
Jam belajar usai, aku merapikan buku-buku ke dalam tas dan berjalan kembali menuju kamar. Tiba-tiba, Imran salah satu siswa laki-laki di kelasku menungguku di tikungan jalan.
“Tik,bentar lagi kan libur sekolah. Mudik bareng yuk. Oh iya,nih ada cokelat buat lo,”
katanya sambil tersenyum lebar.
😧Aku hanya diam dengan tatapan bingung. Tak lama kemudian,Abi muncul di belakangku.
“Ini jam istirahat siang. Kenapa kamu ada di sini, Imran?” sapa Abi dengan suara tenang namun tegas.🤨
Imran langsung gugup.
“Ng… anu, Kak. Tadi cuma kebetulan lewat. Tik, gua pergi dulu ya.”
Ia pun segera berlalu. tiba tiba Kak Abi berdiri di hadapanku dan tersenyum hangat.
“Masuklah. Jangan lupa makan siang, lalu tidur. Jaga kesehatanmu.”
Aku merasa ia memang sering memberi perhatian. Setiap hendak masuk kelas, bahkan saat menuju sumur, ia selalu menampakkan diri. Kebiasaan itu kadang terasa aneh, tapi juga menyenangkan, karena aku merasa Aman.😊
Di asrama, aku berkenalan dengan teman sebayaku bernama Risma. Ternyata, ia tinggal disini sejak kelas 4 SD.dia bercerita kalau dulu sering rindu orang tua, kesepian, dan dianggap anak kecil yang manja oleh kakak kelas.
Dari kisah hidupnya, aku merasa sedikit lebih kuat. Jika aku berada di posisinya, mungkin aku sudah menangis setiap hari.
Sore hari, saat hendak mandi. Lagi-lagi aku bertemu Kak Abi. Seperti biasa, ia membantuku mengisi air ke dalam bak mandi sambil tersenyum ramah. Sejujurnya, aku masih canggung dan bingung harus bersikap bagaimana.
“Ng… harus ya,kita sering ketemu di kamar mandi?” tanyaku membuka percakapan😮💨
“Karena hanya di sini tempat yang aman. Dan hanya saya yang tahu celah untuk bisa bertemu kamu,” jawab Abi.
Masuk akal,karena memang Di asrama ini, peraturanya sangat ketat.Laki-laki dan perempuan dilarang bertemu, apalagi pacaran. Kewajiban siswa hanya satu"belajar.!
lama kemudian, datang kakak kelas bernama Retno,ketua asrama perempuan yang terkenal galak.
“Kalian ngapain di sini?” tanyanya ketus.😠
"saya mau mandi, Kak,” jawabku sambil mengambil handuk.
“alasan!!. Kamu anak baru, tapi sudah tebar pesona.
"Tadi siang Imran dihukum berjemur karena ketahuan nulis surat cinta buat kamu! Ini sekolah, bukan tempat pacaran. Sekarang kamu malah berani godain kak Abi.”😠
Tatapannya sinis. Abi tak menggubris. Ia berhenti menimba air, lalu menggandeng tanganku.
“Tika urusan saya, dan saya yang bertanggung jawab. Ayo, Tik, ikut saya!
Tanganku mendadak dingin. Anehnya, aku merasa terlindungi.
jujur, Hari itu,dia terlihat sangat keren ☺️tiba tiba saja, kak abi mengantar ku ke kamar mandi khusus guru,tempatnya lebih bersih dan nyaman, tanpa harus menimba air.
Sejak saat itu, aku mulai menemukan kenyamanan di sini. Salah satunya karena keberadaan Kak Abi yang membuatku merasa aman.
Meski konsekuensinya, aku sering mendapat sindiran dari para penghuni asrama,Untunglah ada Risma sahabat satu-satunya yang selalu menjadi tempatku bercerita.
Tahun berlalu,kok cepat sekali, aku harus menerima kenyataan,Kak Abi harus pergi,😢 ia lulus dengan nilai terbaik dan melanjutkan pendidikan nya ke universitas.
Malam ini menjadi waktu yang tepat bagi Abi menemuiku. di Kelas sepi, kami bisa leluasa berbicara empat mata. Aku tahu, ia ingin pamit, tapi Wajahku murung.😟
Ia menarik bangku dan mempersilahkanku duduk.
“Kok nangis?” tanyanya lembut.
“Kalau Kak Abi pergi, aku sendirian. Nggak ada yang lindungi aku lg, Sedangkan Aku masih lama nunggu kelulusan.?” isakku.😭
Abi menyibakkan rambutku dan mengusap air mataku.
“Kamu nggak sendirian. Kakak akan selalu nengok kamu. Tugas kamu belajar yang rajin, bikin bangga Papa dan Mama. Ingat, terima nasihat baik meski dari orang yang kamu benci.”!☺
Aku menangis dalam pelukannya.
Aku tahu ini tak mudah. Di usia yang masih labil, aku sering merasa kehilangan arah.Sensitif, mudah sedih, bahkan pernah mencoba kabur dari asrama.Namun rasa takut selalu membawaku kembali diam di kamar, dan belajar bertahan.
_________________________________________________
"ABI JADI ORANG SUCSES"
_________________________________________________
Waktu pun berlalu,Aku lulus dan kembali ke Jakarta melanjutkan sekolah di tingkat SMU.
Bahagia rasanya bisa berkumpul lagi dengan Papa dan Mama.yah Aku merindukan rumah,masakan Mama,kamar tidurku,juga hiruk pikuk kota jakarta.😎
“Ma, besok Tika nginep di rumah Cindy ya. Dia ulang tahun lho, acaranya sampai malam,” pintaku.
“Bilang dulu ke Papa,” ujar Mama lembut dan Aku sedikit kesal.
“Kenapa sih harus izin Papa terus?”
mama menarik nafas panjang,
"sayang,dari dulu kita tahu. Peraturan rumah ini Papa yang buat,dan harus ditaati,sekarang kamu istirahat ya,mama mau kembali ke dapur".
aku tau maksud mama baik,tapi aku bosan dirumah,apalagi,akhir akhir ini,aku mulai melihat banyak kejanggalan dirumah ini,😕pertengkaran kecil yang terus berulang,suara Papa yang tinggi,Mama yang sering diam, mogok makan,dan melamun kosong.
siang itu,saat aku baru saja pulang sekolah,mendapati ruang tamu berantakan.Vas bunga pecah,Mama berdiri di pojok dengan wajah ketakutan,dan sejak kak Antoni menikah,ia jarang pulang,tapi sekali dia datang,kondisinya saat itu sedang tidak baik baik saja,kulihat Kak Antoni mulai marah, tragedi itu terjadi,emosinya tertuju ke papa.
“Papa nggak pernah sadar kalau Papa yang bikin Mama jadi seperti ini!” teriaknya.😡
“DIAM KAMU!” bentak Papa.😡
seketika aku memeluk Mama,menahannya agar masuk kamar,Aku tak ingin Mama kembali dirawat di rumah sakit.
aku mulai sadar , ada luka lama yang tak pernah sembuh di rumah ini,aku menggenggam tangannya,lalu membujuknya masuk kamar,tapi Mama menolak.
“Berapa tahun Papa tidak menafkahi Mama?! 😡Papa lebih mementingkan adik-adik Papa di kampung,mereka menggerogoti uang Papa,sementara kita di rumah ini tidak pernah Papa pedulikan?!” teriak Kak Antoni dengan suara keras.
“Udah, Kak. Cukup! 🥺Bisa nggak sih ngerti perasaan Mama?!” isakku memberanikan diri menyela pertengkaran itu.
Sejenak hening,lalu ,ku bereskan pecahan beling yang berserakan,dan berusaha menenangkan Mama yang saat itu masih tampak gugup.
Aku tau, ini bukan pertengkaran hebat pertama kalinya.Aku hanya tidak ingin melihat Mama kembali dirawat di rumah sakit karena mogok makan,Mengingat itu saja,hatiku sudah terasa sakit.Belum lagi bayangan kedua tangan Mama yang pernah diikat pihak rumah sakit karena berontak saat penyakitnya kambuh.
Maafin aku, Ma,batinku sambil mengusap air mataku sendiri.🥺
Waktu berlalu.Aku sadar,dulu aku masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa yang sebenarnya terjadi di rumah ini,sekali lagi aku bertahan demi Mama.
- Bersambung -