"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Suasana di luar masih gelap gulita. Suara jangkrik sesekali masih terdengar di sela-sela rintik gerimis yang membasahi genting tanah liat rumah sederhana itu. Rumah ini adalah saksi bisu masa kecil Arumi, sebuah bangunan tua peninggalan almarhum orang tuanya. Sebagai anak tunggal dari orang tua perantau, Arumi tidak memiliki sanak saudara di kota ini. Baginya, rumah ini adalah satu-satunya pelindung, sekaligus tempat di mana ia kini harus bertaruh nyawa demi kewarasan.
Pukul empat subuh. Alarm dari ponsel retaknya berbunyi nyaring. Dengan gerakan refleks yang sudah terlatih selama sepuluh tahun, tangan Arumi mematikan alarm itu sebelum suaranya mengusik tidur lelap sang suami, Pras.
Arumi mengusap wajahnya yang kusam. Di bawah temaram lampu bohlam kuning, garis-garis kelelahan terlihat jelas di wajahnya yang sebenarnya cantik alami meski tanpa sentuhan bedak mahal. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa energi yang belum sepenuhnya terisi, lalu beranjak dari tempat tidur.
Tujuan pertamanya adalah dapur. Di sana, tumpukan piring kotor bekas makan malam Pras tadi malam sudah menanti. Pras adalah tipe pria yang tidak akan menyentuh spons cuci piring meski hanya untuk gelas kopinya sendiri. Arumi mulai menyalakan kompor, menjerang air, lalu tangannya dengan lincah mencuci piring dengan gerakan senyap agar tidak menimbulkan denting yang berisik.
Sambil menunggu air mendidih, Arumi beralih ke mesin cuci tua yang terletak di sudut belakang. Ia memasukkan seragam sekolah si Kakak yang kelas 6 SD dan si Adik yang kelas 2 SD. Tak lupa, kemeja kerja Pras yang harus tampak rapi dan wangi setiap hari.
"Dua puluh menit," gumam Arumi pelan pada dirinya sendiri, menghitung sisa waktu sebelum ia harus menyiapkan sarapan.
Saat mesin cuci menderu pelan, Arumi kembali ke meja dapur. Ia mulai mengupas bawang, memotong sayur, dan menggoreng lauk untuk bekal kedua jagoannya. Tangannya bergerak seperti mesin yang sudah diprogram. Di sela-sela menunggu masakan matang, jemarinya tidak tinggal diam. Ia mengambil ponsel, membuka aplikasi catatan, dan mulai mengetik beberapa paragraf untuk bab terbaru novelnya.
Bagi Arumi, waktu subuh adalah emas. Saat dunia masih tidur, ia harus mencicil kata demi kata. Setiap kalimat yang ia ketik adalah butiran rupiah yang akan menyambung napas pendaftaran SMP si Kakak bulan depan.
"Arumi! Kopi mana?"
Suara berat dan serak itu memecah kesunyian. Pras berdiri di ambang pintu dapur dengan mata setengah terpejam, masih mengenakan kaus oblong putih yang rapi. Ia tidak melihat tumpukan setrikaan di pojok ruang tamu, ia tidak melihat keringat di dahi istrinya, yang ia lihat hanyalah meja yang belum menyajikan kopi hitam kesukaannya.
"Sebentar, Mas. Ini lagi tanggung goreng ayam buat bekal anak-anak," jawab Arumi tanpa menoleh.
Pras mendengus, ia menarik kursi meja makan dengan kasar. "Biasanya juga sudah siap. Kamu itu kelamaan main HP terus, nulis-nulis nggak jelas itu cuma buang waktu kalau kerjaan rumah jadi terbengkalai."
Dada Arumi berdenyut nyeri. "Nulis nggak jelas?." batinnya. Uang dari tulisan nggak jelas itulah yang kemarin membayar cicilan motor Pras yang sudah menunggak, karena Pras beralasan uangnya habis untuk membantu biaya pengobatan adiknya di kampung.
"Ini Mas kopinya," Arumi meletakkan cangkir kopi dengan lembut. Ia tidak ingin berdebat di pagi hari. Berdebat hanya akan membuang energinya yang sangat berharga.
"Sarapan apa kita?" tanya Pras sambil menyeruput kopi.
"Nasi goreng dan ayam goreng, Mas."
"Nggak ada sambal bajak? Mas kan sudah bilang, kalau pagi itu enaknya pakai sambal yang segar."
Arumi terdiam. Ia ingat kemarin ia meminta uang belanja tambahan karena harga cabai sedang naik, tapi Pras hanya menjawab, "Pakai uang kamu dulu, Mas lagi ada keperluan mendadak buat kirim ke Ibu."
"Cabainya habis, Mas. Belum sempat beli," jawab Arumi lirih.
"Ya sudah, besok-besok jangan lupa. Oh ya, nanti si Adik pulangnya agak telat, ada tambahan pelajaran. Kamu jemput jam satu, terus langsung jemput si Kakak jam dua. Jangan sampai telat, kasihan mereka kepanasan di gerbang."
Pras bicara seolah jadwal Arumi adalah lembaran kosong yang bisa ia isi sesuka hati. Ia tidak peduli bahwa antara jam satu dan jam dua, Arumi harus mengirimkan draf bab harian sebanyak 2000 kata ke editornya agar bonus bulanan tidak hangus.
"Mas nggak bisa jemput salah satu? Aku ada target nulis siang ini," Arumi mencoba memberanikan diri.
Pras menatap Arumi dengan tatapan merendahkan. "Mas kan kerja, Rum. Cari uang buat rumah ini. Kamu kan cuma di rumah, ngetik-ngetik gitu kan bisa kapan saja. Masa jemput anak saja perhitungan sama suami sendiri?"
Kerja? Arumi ingin tertawa getir. Pras memang berangkat ke kantor dengan pakaian rapi, tapi separuh gaji Pras lari ke keluarga besarnya. Sisanya hanya cukup untuk bensin dan makan siang Pras sendiri. Semua beban operasional rumah peninggalan orang tua Arumi ini mulai dari listrik, air, hingga biaya sekolah dua anak laki-laki mereka jatuh ke pundak Arumi yang hanya di rumah.
Pukul enam lewat lima belas. Kedua anaknya mulai terbangun. Rumah yang tadinya sunyi kini riuh dengan suara si Adik yang mencari kaus kakinya dan si Kakak yang menanyakan tugas sekolahnya.
"Ibu, sepatu Kakak sudah jebol bagian depannya," adu si Kakak saat mereka sedang sarapan.
Arumi menatap sepatu itu. Hatinya mencelos. "Sabar ya, Kak. Nanti sore Ibu belikan yang baru."
"Mas, bisa minta uang buat sepatu Kakak? Sudah benar-benar nggak layak pakai," tanya Arumi pada Pras yang sedang asyik memoles sepatunya sendiri hingga mengkilap.
Pras tidak menoleh. "Pakai uang kamu dulu, Rum. Mas beneran lagi kosong. Kemarin adikku minta dibantu bayar semesteran, kasihan kalau dia sampai cuti kuliah."
Arumi mengepalkan tangan di balik daster batiknya. Adikmu kasihan, tapi anakmu sendiri sepatunya jebol tidak kamu pedulikan? Tanpa kata lagi, Arumi kembali ke dapur. Ia membungkus bekal anak-anak dengan gerakan cepat. Setelah Pras berangkat kerja dengan motor mengkilap dan wangi parfum mahal, Arumi segera mengeluarkan motor matic tuanya.
Ia membonceng kedua anaknya. Si Adik di depan, si Kakak di belakang. Di sepanjang jalan menuju sekolah, pikiran Arumi tidak tenang. Ia harus segera pulang, mengurus cucian yang baru beres, menyapu, mengepel, lalu duduk di depan laptop. Ia harus mengejar 2000 kata sebelum jam satu siang.
Setiap putaran roda motornya terasa berat, seberat beban yang ia panggul sendirian. Di kota ini, ia tidak punya siapa-siapa untuk mengadu. Ia hanya punya kedua anaknya, rumah tua ini, dan barisan kata yang harus ia ubah menjadi uang demi menjaga martabat keluarga yang suaminya sendiri lupakan.
Sepuluh tahun. Arumi bertanya-tanya, sampai kapan pakai uang kamu dulu akan menjadi kalimat penutup di setiap percakapan mereka?
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏