NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENGATAN KUMBANG EMAS

Pagi itu, Jakarta sedang tidak ramah. Langit abu-abu menggantung rendah di atas kawasan padat penduduk di pinggiran ibu kota, tempat Kayla Shaqueena tinggal. Suara bising knalpot kendaraan yang saling bersahutan, debu jalanan yang beterbangan, dan bau asap knalpot sudah menjadi menu sarapan sehari-hari bagi gadis berusia tujuh belas tahun tersebut. Di depan ruko kontrakan sempit yang merangkap sebagai tempat usaha "Shafa Laundry Kiloan", Kayla sedang sibuk mengikat karung-karung berisi pakaian bersih ke jok belakang motor bebek tuanya. Motor itu sudah sangat tua, cat birunya sudah memudar hingga memperlihatkan lapisan besi yang berkarat, dan mesinnya sering kali mengeluarkan suara batuk-batuk berat serta getaran kasar saat dinyalakan.

"Kayla, hati-hati bawa motornya! Itu jas pesanan pelanggan VIP di perumahan mewah Menteng. Jangan sampai lecek, apalagi kena cipratan air genangan di jalan! Ibu sengaja pakai pewangi paling mahal dan menyetrikanya tiga kali untuk pesanan yang satu ini!" seru ibunya, Sarah, dari dalam ruko sambil menyeka keringat di dahinya dengan selembar handuk kecil yang sudah dekil akibat uap setrika.

"Iya, Bu! Kayla tahu. Ini sudah Kayla bungkus pakai plastik dua lapis, lalu dimasukkan kantong kain, dijamin aman dari badai atau cipratan air sekotor apa pun!" sahut Kayla lantang. Ia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan sepasang lesung pipit tipis yang manis, lalu memakai helm cetolnya yang kaca depannya sudah penuh baret-baret di sana-sini hingga pandangannya agak buram.

Bagi Kayla, hidup bukanlah tentang mengejar mimpi muluk-muluk di awang-awang atau merencanakan liburan mewah. Hidup adalah tentang bagaimana cara bertahan dari hari ke hari, memastikan kepulan asap di dapur mereka tidak berhenti dan utang kontrakan tidak menumpuk. Ayahnya, Joko, hanyalah seorang mantan buruh pabrik yang kini sering sakit-sakitan karena masalah pernapasan kronis, memaksa ibunya untuk membuka usaha cuci pakaian demi menyambung hidup dan membeli obat-obatan esensial. Kayla adalah tipe gadis yang sangat realistis. Target hidupnya sederhana: lulus dari SMA negeri biasa dengan nilai yang aman, mencari beasiswa di universitas, lalu bekerja kantoran dengan gaji tetap untuk mengangkat derajat keluarganya. Ia adalah rumput liar—terbiasa tumbuh di lingkungan yang keras, gersang, mandiri, dan tidak mudah patah oleh injakan keadaan sekelilingnya.

Namun, takdir tampaknya sedang memiliki rencana lain yang agak ekstrem untuknya hari itu.

Alamat pengantaran jas mewah yang dibawa Kayla ternyata bukanlah rumah tinggal biasa di Menteng, melainkan sebuah kompleks sekolah raksasa yang luasnya hampir menyamai satu kecamatan di daerah Jakarta Selatan. **SMA Nusantara Jaya**. Begitu papan nama dari marmer hitam berpahat tinta emas murni itu tertangkap oleh matanya, Kayla sempat menghentikan motornya di tepi jalan, terpaku selama beberapa detik dengan mulut sedikit terbuka akibat rasa kagum yang bercampur ngeri.

Sekolah itu terlihat lebih mirip istana kepresidenan atau kompleks kementerian daripada tempat belajar anak-anak remaja. Gerbang besinya menjulang tinggi dengan ukiran geometris yang rumit, dijaga oleh empat orang sekuriti berbadan tegap, mengenakan seragam safari rapi, dan memiliki potongan rambut cepak mirip Paspampres. Di balik gerbang, terhampar jalan aspal mulus tanpa cacat sedikit pun yang membelah taman-taman bunga bougenville dan rumput jepang yang dirawat sempurna, menuju ke arah gedung-gedung megah bergaya arsitektur modern-klasik. Semboyan tidak tertulis dari sekolah itu sudah sangat terkenal di seluruh penjuru kota: *Jika kamu tidak kaya, kamu tidak ada.*

Kayla mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir rasa minder yang tiba-tiba merayap di dadanya bagai semut dingin. Ia memajukan motor bebeknya mendekati pos penjagaan, menimbulkan suara deru mesin yang bising dan kepulan asap tipis yang langsung membuat para penjaga mengernyitkan dahi dengan tatapan merendahkan. Setelah melewati perdebatan yang cukup sengit dengan komandan sekuriti yang menatap jengkel ke arah motor rongsokan miliknya, dan setelah menunjukkan nota resmi laundry serta kartu identitas, Kayla akhirnya diizinkan masuk ke area parkir dalam hanya untuk mengantarkan jas milik salah satu guru senior yang menjadi pelanggan tetap ibunya sejak zaman kuliah dulu.

Saat Kayla melangkah menyusuri koridor utama sekolah, atmosfer di dalam gedung terasa sangat aneh. Lantainya terbuat dari marmer mengilat impor yang bisa memantulkan bayangan wajah dengan sangat jernih, dan dindingnya dihiasi oleh lukisan-lukisan seni berharga mahal serta piala-piala emas dalam lemari kaca. Namun, suasana sangat sepi. Padahal, jika Kayla melihat jam tangan digitalnya yang murah, saat ini seharusnya adalah waktu istirahat pertama. Biasanya, koridor sekolah mana pun akan dipenuhi anak-anak yang berlarian ke kantin atau sekadar mengobrol berisik di depan kelas.

Ke mana semua orang?

Rasa penasaran membawa langkah kaki Kayla mengikuti gaung suara riuh yang lamat-lamat terdengar dari arah pusat gedung. Ketika ia berbelok di sebuah selasar luas yang disangga oleh pilar-pilar beton raksasa, ia mendapati dirinya berada di lantai dua, menghadap langsung ke arah *atrium* tengah—sebuah area terbuka berlantai luas yang dikelilingi oleh ruang-ruang kelas berlantai tiga. Di bawah sana, ratusan murid berseragam rapi sedang berkerumun membentuk lingkaran besar yang sangat rapat, menciptakan dinding manusia yang tak menyisakan celah sama sekali.

Didorong oleh rasa ingin tahu yang mendesak, Kayla berjalan mendekati pembatas balkon lantai dua yang terbuat dari besi tempa, lalu melongok ke bawah. Pemandangan di bawah sana seketika membuat darahnya berdesir dingin dan lambungnya terasa melilit karena rasa muak yang mendalam.

Di tengah-tengah lingkaran manusia itu, seorang siswa laki-laki dengan seragam yang sudah robek-robek di bagian bahu dan dipenuhi noda hitam sedang bersimpuh di atas lantai marmer. Tubuhnya bergetar hebat, kepalanya menunduk nyaris menyentuh lantai, dan air mata bercampur peluh mengalir deras di pipinya yang memerah akibat tamparan atau hantaman benda tumpul. Di depan loker besi milik siswa tersebut, menempel sebuah kartu berwarna merah darah yang sangat mencolok dengan tulisan huruf emas timbul yang tegas dan tajam: **E4**.

"Tolong... maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja menyenggol mobilmu di parkiran tadi pagi. Pandanganku agak kabur karena tidak sempat sarapan... Aku bersumpah aku tidak sengaja..." rintih siswa malang itu, suaranya parau, putus-putus, dan dipenuhi oleh ketakutan yang teramat sangat seolah-olah ia sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa yang memegang kendali atas hidupnya.

Di hadapan siswa yang sedang menangis itu, berdiri empat pemuda dengan seragam yang sedikit dimodifikasi dari standar sekolah—menunjukkan hak istimewa mutlak yang mereka miliki atas seluruh aturan yayasan sekolah. Di posisi paling depan, berdiri seorang cowok dengan tinggi hampir 185 cm. Rambutnya hitam lebat dan memiliki ikal alami yang tebal, ditata dengan potongan modern yang sangat rapi, membingkai wajah tampannya yang memiliki garis rahang tegas dan hidung bangir. Namun, ketampanan yang bak model majalah fashion itu tertutup rapat oleh tatapan matanya yang begitu dingin, angkuh, setengah mengantuk namun tajam, dan dipenuhi oleh kejengkelan yang mendalam. Dialah **Alvaro Pramudya**, pemimpin dari *The Elite Four* (E4) sekaligus pewaris tunggal dari Pramudya Group, konglomerat terbesar yang memegang kendali atas berbagai lini bisnis vital di negeri ini.

Alvaro terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang pendek, kering, dan terdengar sangat merendahkan, membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya merinding seketika.

"Maaf?" Alvaro memiringkan kepalanya sedikit, menatap siswa di bawahnya seolah-olah sedang melihat seekor serangga kecil kotor yang mengganggu jalan setapaknya. "Kalau semua kesalahan di dunia ini bisa selesai hanya dengan kata maaf, untuk apa ada polisi? Untuk apa ada hukum dan penjara? Kamu tahu berapa harga bemper mobil sport yang kamu gores pakai tas bututmu itu? Bahkan jika seluruh keluargamu menjual organ tubuh mereka ke pasar gelap, kalian tidak akan pernah mampu membayar biaya cat ulangnya."

Di belakang Alvaro, **Rafael Mahardika** hanya tersenyum tipis, bersandar pada pilar marmer sambil memainkan ponsel pintarnya yang berlapis casing titanium berharga ratusan juta rupiah dengan jemarinya yang lentik—menunjukkan ketidakpedulian seorang seniman berdarah biru yang terbiasa melihat keindahan, bukan kekacauan kaum bawah. Di sisi lain, **Galang Saputra** bersedekap dengan ekspresi wajah bosan, sesekali mengunyah permen karet dengan gaya santai dan angkuh khas anak keluarga pemilik korporasi keamanan terbesar di Asia Tenggara.

Hanya **Devan Narendra** yang tampak benar-benar berada di dunianya sendiri; cowok berwajah melankolis dengan sorot mata teduh itu bersandar di tiang yang terletak agak jauh dari kerumunan, mengenakan *headphone* nirkabel besar di telinganya dengan mata terpejam rapat, seolah-olah seluruh drama jika penindasan di depannya hanyalah polusi suara yang tidak layak mendapatkan perhatian atau energinya sedikit pun.

"Sikat dia," perintah Alvaro pendek, tanpa mengubah ekspresi wajahnya yang datar.

Kata-kata Alvaro bagaikan sebuah komando suci bagi kawanan serigala yang kelaparan. Dalam sekejap, murid-murid lain yang berada di sekeliling lingkaran mulai bergerak serempak dengan wajah penuh gairah jahat. Mereka mengambil telur-telur busuk yang entah sejak kapan sudah mereka siapkan, kantong plastik berisi tepung terigu, dan sampah-sampah sisa makanan dari kantin. *Prak! Byuur!* Dalam hitungan detik, siswa yang bersimpuh itu sudah dihujani oleh kotoran. Mereka tertawa-tawa dengan riang, bersorak-sorai, dan memotret kejadian itu seolah-olah tindakan penindasan kejam ini adalah sebuah tontonan sirkus yang legal dan menyenangkan.

Kayla yang menyaksikan hal itu dari lantai dua merasakan dadanya bergemuruh hebat, seperti ada singa yang mengamuk di dalam jantungnya. Jantungnya berdetak kencang karena rasa muak yang tak tertahankan. Di lingkungan tempat tinggalnya yang miskin, jika ada tetangga yang kesusahan atau berbuat salah, semua orang akan bertindak membantu atau minimal menegur dengan cara yang manusiawi. Namun di sini, di tempat yang katanya diisi oleh anak-anak dari kasta tertinggi, terpelajar, dan paling beradab di Indonesia, mereka berperilaku lebih buruk daripada monster tanpa empati.

Kayla melirik jas yang ada di pelukannya, lalu melirik siswa yang mulai menangis histeris di bawah sana di tengah hujan tepung. Persetan dengan aturan sekolah orang kaya, pikirnya.

"HENTIKAN RELEMAN INI, BODOH!!!"

Teriakan Kayla membelah keriuhan di atrium bawah. Suaranya yang melengking, nyaring, dan penuh dengan vibrasi amarah murni bergema kuat di seluruh langit-langit marmer gedung sekolah, seketika memutus paksa semua aktivitas pelemparan dan gelak tawa yang ada.

Ratusan pasang mata serentak mendongak ke atas, menatap ke arah balkon lantai dua dengan tatapan terkejut yang luar biasa.

---

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!