Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. KEBAHAGIAN KELUARGAKU
"Dinar jangan lupa bekalnya,Nak" inilah kebiasaan pagi di keluargaku, Mama yang selalu mengingatkan aku saat berangkat kuliah dengan jadwal pagi. Bekal siang lengkap telah tersedia di Box Lunch ku beserta minuman di Tumbler yang dimasukan dalam tas khusus bekal.
Aku Dinar, mahasiswa semester akhir jurusan Management Bisnis di Perguruan Tinggi Negeri di kotaku Sumatera. Selain kuliah aku juga menggeluti hobiku yang lain sebagai model. Dengan modal tubuhku yang tinggi Seratus Tujuh Puluh Dua centi dan postur yang ramping aku pernah mewakili daerahku sampai ketingkat Nasional. Alhamdulillah aku mendapat peringkat kedua lomba pakaian adat se Nusantara.
Keluargaku sangat harmonis, aku Dua bersaudara dengan adik laki-lakiku si Dut, nama kesayangan panggilan adikku yang jaraknya cukup jauh dariku, yang masih duduk di Sekolah Menengah Pertama, kelas Delapan. Nama aslinya Iqbal Saputra Rudiansyah.
Rudiansyah adalah nama Papaku yang bekerja di bidang Pajak sebagai kepala bagian. Sedangkan Mamaku dulunya seorang Perawat, namun Mama berhenti kerja sejak adikku yang kedua lahir dan memilih menjadi Ibu rumah tangga.
Kehidupan keluargaku sangat bahagia, hari ke hari keluarga kami penuh canda dan kegembiraan, Papa memang sedikit sibuk tapi waktunya untuk keluarga selalu ada, terutama saat libur dan tanggal merah datang, kami pasti menikmati pergi keluar bareng, entah itu berjalan-jalan keluar kota atau sekedar pergi makan bareng direstoran atau lesehan.
Mamaku yang bernama Bunga Fuji Yanti termasuk kategori sangat cantik waktu remajanya dan sampai sekarang kecantikan itu masih tersisa walau Mama tidak seramping dulu, yang pasti Mamaku pasti aku puji karena beliau wanita terbaikku. Dan begitu juga Papaku walau telah memasuki usia Empat Puluh tapi masih fresh dan ganteng.
Walaupun cuma Papa yang kerja sendiri, tapi kami termasuk keluarga yang berkecukupan, Mama memiliki Usaha butik Hijab dulu, tapi sekarang dijalankan oleh Adik Mama yang menjanda karena suaminya meninggal dan memiliki Tiga orang anak, Mamaku memberikan usaha butiknya untuk membantu adiknya mendapatkan penghasilan.
Moment-moment kebersamaan keluargaku, selalu diabadikan oleh Mamaku di sosial medianya. Aku juga sering mengabadikan itu, tapi hal-hal tertentu saja, seperti hari ulang tahunku atau hari pernikahan Papa dan Mamaku yang terkesan romantis.Walau sudah hampir memasuki tujuh belas tahun pernikahan Papa dengan Mama,mereka tidak pernah bertengkar hebat, paling Mama ngambek-ngambek manja, kalau Papa lupa sesuatu yang special.
Nah.. jika Mama sudah ngambek, pasti Papa cepat tanggap dengan memberi Mama bunga atau kado spesial. Aku sungguh salut dengan Papaku, perhatian dan kasih sayangnya luar biasa kepada Mama.
"Papa, Iqbal, Dinar ayo serapan dulu, ntar keburu dingin, pagi ini Mama masak nasi goreng hijau kesukaan Papaku, termasuk kami, aku dan Iqbal.
Aku berangkat kuliah tidak bareng Papa, tapi aku mengunakan mobil sendiri, Jadi cuma si Dut yang diantar Papa sampai kesekolah pulangnya nanti, ada sopir Mama yang jemput, Pak Sukri, yang kerja dengan kami sebagai sopir keluarga, Pak Sukri sekampung dengan Mamaku. Dia dan istrinya tinggal di paviliun belakang rumah kami, istri Pak Sukri membantu pekerjaan rumah dirumahku, mereka tidak memiliki anak, jadi mereka sangat sayang kepada kami berdua.
Kami telah berkumpul diruangan keluarga dimana sarapan pagi susah terhidang dan siap untuk disantap.
"Assalamualaikum" Meta sahabatku dari SMP muncul dari pintu depan.Meta juga seorang model sama denganku, segala prestasi juga sudah diraihnya. Kami juga satu kampus tapi beda jurusan Meta jurusan Akutansi semester terakhir, tapi walau beda jurusan kami tetap selalu bersama,Meta sering main kerumahku begitu juga sebaliknya,bahkan sering juga menginap dirumahku. Dulu Meta magangnya dikantor Papaku, aku yang minta Papa terima Meta Magang disana, kenapa jauh-jauh kalau Papa bisa nolong Meta, demi penyelesaian skripsinya.
Orangtua Meta sudah meninggal dari umur Delapan tahun karena kecelakaan dan kini dia tinggal dengan Neneknya yang menerima pensiun dari kakeknya sebagai Tentara. Dan penghasilan model Meta bisa membantu perekonomian Neneknya juga, buktinya Meta bisa beli Mobil sendiri dari keringatnya.
"Eee Meta, apa kabar" Sapa Mamaku kepada Meta.
"Baik Tante" Meta tersenyum saat melihat kami sedang berkumpul.
"Ikut sarapan sekalian Met" Mama mengajak Meta sarapan.
"Makasih Tante Meta sudah sarapan tadi, Meta mau ngantar ini pesanan dari Nenek"
"Oh iya Tante kemarin ketemu Nenek kamu, pesan lepat Pocinya, Poci Nenek kamu enak sekali dari dulu sampai sekarang.
"Iya Tante, Makasih" Nenek memang gitu apa yang di buat pasti enak.
"Eeee Met, kita bareng aja ya, kamu kuliah pagi juga hari ini ?"
"Iya Di, kamu bareng aku aja, kebetulan cuma satu mata kuliah aku hari ini.
"Sama, udah kamu bareng aku aja" Meta menawarkan Dinar bersamanya.
"Hahahah ok ....naik mobil baru" Meta membeli mobil yang dipakainya sekarang baru Dua bulan, Meta sudah bisa membawa mobil dari SMA sebenarnya, tapi karena belum punya mobil dia sering nebeng dengan aku dulunya.
Kini impiannya terwujud bisa beli mobil baru, sesuai keinginannya.
"Ayo Met, kita berangkat ntar macet lagi, bisa terlambat kita"
"Ayo, Meta berangkat dulu ya Tante..Om, Iqbal"
"Iya hati-hati kalian jangan ngebut" Mama selalu mengingatkan aku jika aku sudah mau berangkat, itu hal setiap hari aku dengar jika mau pergi kemana-mana dengan mobil atau motor, karena Mama orangnya memiliki rasa cemas yang tinggi dan protektif kepada kami anak-anaknya. Apalagi soal makan tidak boleh sembarang, mungkin karena latar belakang Mama berasal dari Perawat jadi terbawa sampai kerumah.
Aku dan Meta pun berangkat ke kampus, kebetulan kampusku lebih dulu dari Meta yang berada di gerbang utama Universitas. Saat kami berangkat tadi. Papa juga berangkat dengan si Dut kesekolah tapi kami beda jalur.
Sesampainya dikampus aku diturunkan Meta digerbang jurusanku.
"Makasih Ya Met"
"Ntar kamu kontek Aku ya jam berapa pulang biar bisa aku jemput"
"Siap bidadari,Hahaha" Aku selalu mencandai Meta dengan panggilan bidadari karena dia memang cantik dan anggun banget mirip artis India Sri Devi gitu serba imut. Artis kawakan di India, mungkin waktu Mamanya Meta hamil sering nonton film India sampai Meta pun mirip dengan artis tersebut. Kulitnya putih bersih tingginya lebih dariku Seratus Tujuh Puluh Lima centi.
Sementara dirumah setelah kami semua berangkat dari kegiatan masing-masing, Mama mengerjakan pekerjaan rumah beres-beres dibantu istri Pak Sukri, Bik Ani. Mama suka kali nyemil apalagi kalau sudah nonton drama di televisi kadang sampai nangis dan nyemil, Hahahha Mamaku kadang lucu. Kesukaannya Lepat Poci buatan Nenek Meta, sekali Dua hari Meta ngantar pesanan Mama untuk nyemil.
Pas pulang pasti semua lepat Pocinya habis, aku tidak begitu suka tapi bukan berarti tidak mau, karena sebagai model aku harus mengurangi yang manis-manis karena kata orang aku sudah manis😅. Saat kami pulang siang pasti Mama sudah masak terutama kalau buat si Dut, pulang sekolah segera makan, walau sudah bawa bekal dari rumah, Dut pasti lapar lagi nyampe dirumah.