NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Sunyi

Mobil hitam memasuki pekarangan rumah sederhana. Tak ada yang istimewa, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak ada senyum, tawa dan ucapan selamat. Semua terasa biasa saja.

Bayi itu menggeliat dalam gendongan ibunya. Tangannya sedikit gemetar saat mengusap dahi dan hidung malaikat kecilnya. Semua rasa membuncah dalam dada. Bahagia, lega, takut dan khawatir seolah berebut memenuhi ruang kalbunya.

"Mbak Arista, kita sudah sampai. Ayo..turun" sebuah suara mengagetkannya. Arista menatap gamang pada pintu yang masih tertutup rapat. Seolah kedatangannya tak pernah di harapkan.

Helaan nafas panjang dan hembusannya seolah mewakili kepedihan hatinya. Kecewa.

Anggukan pelan dan senyum tipisnya menandakan kalau dia merespon suara di sampingnya. Usapan lembut di punggung seolah ingin memberi kekuatan dan penghiburan.

Tapi pada kenyataannya kesedihan menghinggapi hatinya. Sekuat apa pun dia menahan air matanya agar tak keluar, nyatanya dia hanya perempuan biasa, yang hatinya masih berdarah jika tergores.

" Berikan saja bayi itu pada adikmu. Biar dia yang merawatnya." sebuah suara di ujung telepon dengan penuh penekanan.

" Tapi mas...apa salahnya dia ada di antara kita. Dia lahir dari rahimku, darah dagingmu. Enteng dan tega sekali kamu berkata seperti itu" dengan suara serak karena menahan tangis Arista mendebat Pramono, suaminya.

" Terserah. Aku di rumah ibu dan tidak akan pulang kalau anak itu masih ada di rumah" ancam Pramono.

Arista tersentak dengan ucapan suaminya. Sekujur tubuhnya lemas, tangan kiri meremas bajunya. Tubuhnya melorot ke lantai, tangisnya tertahan. Untuk sesaat dia tak bisa mencerna , tatapannya kosong.

Perlahan pandangannya beralih ke arah ranjang kecil di samping ranjangnya. Dengan tubuh lemah dia bangkit ,berjalan mendekati putranya yang sedang terlelap.

" Nak.. maafin ibu yang lemah ini. Ibu menyayangimu, demi apa pun ibu menyayangimu. Tapi nak...ada seseorang yang tidak menginginkanmu, yang sampai detik ini tak mau menatapmu walaupun sesaat. Dia yang seharusnya menjadi pelindungmu, dia yang seharusnya menggendong dan mendekapmu penuh kehangatan. Tapi untuk melihatmu saja dia enggan, seolah kamu adalah aib untuknya".

Arista tergugu, bahunya terguncang. Menumpahkan semua kegundahan hatinya. Dengan gerakan kasar dia mengusap air matanya dengan lengan kanannya. Pandangannya beralih ke arah pintu, dengan perasaan cemas, tapi sudut bibir kanan tertarik sedikit ke atas.

Tatapannya dingin. Perlahan di usapnya ubun-ubun putranya, beralih ke dahi , mengelus pipinya dengan lembut, pelan dia menekan bibir mungil itu dengan telunjuknya. Senyum tipis terbit di kedua bibir Arista. Perlahan tangan itu turun ke arah leher malaikat kecilnya. Seolah ada yang menggerakkan tangan kirinya merah guling bayi di dekat lenganya. Guling kecil itu terangkat , mata Arista terpejam.

" Ma..maaf, nak. Ibu hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu."

Ceklek..

Suara pintu ruang rawat terbuka.

" Arista apa yang kamu lakukan. Jangan bertindak bodoh."bentak sebuah suara. Dengan berlari suara itu mendekat ke arah Arista. Sesaat guling itu masih menggantung di udara. Dengan gerakan cepat di raihnya bayi itu dan menggendongnya sedikit menjauh dari tubuh Arista.

Arista melempar guling yang ada di tangan kirinya, menutup mulut dengan ke dua tangannya. Dia mundur beberapa langkah, tatapannya nanar ke arah ranjang bayi di depannya.

Tubuhnya luruh ke lantai seolah tulang dan sendinya tak mampu menopang beban hidupnya. Tubuh dan ke dua tangan bergetar hebat.

"A..apa yang aku lakukan barusan. Mana anakku..mana." Kepala Arista celingukan ke sana ke mari, melihat bayinya tak lagi ada di ranjangnya.

Arista menunduk dan meremas rambutnya, dia menangis sejadi-jadinya. Seolah dengan tangisnya segala beban dan sesak yang menghimpit dadanya sedikit terobati.

Bayi itu menggeliat di dalam gendongan, tatapan iba dan haru terlihat dari sepasang mata yang menggendong bayi Arista.

"Dok...apa yang terjadi" bidan yang membantu proses Arista melahirkan terlihat gugup memasuki ruang rawat.

"Tolong kamu gendong bayi ini sebentar. Saya mau memeriksa keadaan ibunya dulu."

Bidan itu mengangguk dan mengambil alih bayi Arista ke dalam gendongannya. Tatapannya beralih ke arah ibu bayi, untuk sesaat bidan itu tertegun. Benaknya mulai menebak-nebak kemungkinan peristiwa yang baru saja terjadi. Bidan itu menatap bayi dalam gendongan dan mendekapnya erat

Bidan itu sedikit mengerti permasalahan yang di hadapi dari ibu bayi tersebut.

" Ayah macam apa yang begitu bodoh tak mau menerima bayi ini." batin bidan itu.

Di tatapnya bayi yang berselimut biru dalam dekapannya. Kulit putih,hidung mancung dan bibir yang tipis tersenyum. Bidan itu tanpa sadar ikut tersenyum gemas.

Isak tangis masih terdengar lirih.

"Menangislah..jika itu membuat hatimu lega. Tapi ingat.. bayimu membutuhkan kasih sayangmu bukan air matamu." seseorang yang di panggil dokter mendekati Arista dan berjongkok di sampingnya.

Perlahan kepala Arista terangkat, kesedihan terpancar di kedua bola matanya. Dengan tergugu dia kembali menangis sambil memeluk orang di sampingnya.

Untuk beberapa saat ruangan itu sepi, tak ada yang bersuara, hanya sedu sedan yang masih terdengar lirih.

" Bangunlah. Sedih..marah boleh, dan itu sangat wajar karena kita manusia yang mempunyai hati. Tapi sedih dan amarahmu jangan sampai menghilangkan akal sehatmu, karena hanya akan menyisakan penyesalan di kemudian hari." dokter itu membimbing Arista dan mendudukkannya di ranjang pasien.

Arista terdiam. Tatapannya kosong, untuk saat ini dia merasa entah.

"Dokter Mirna , bagaimana kalau bayi Bu Arista untuk sementara waktu saya bawa ke ruangan kita" kata bidan yang sedari tadi mendekap bayi tersebut.

Dokter yang bernama Mirna mengangguk setuju.

" Untuk kebaikan ibu dan bayinya, silahkan bidan Sarah bawa bayi Bu Arista ke ruangan kita. Hati-hati dan jangan lupa berikan susu formula sepertinya dia haus."

Bidan yang ternyata bernama Sarah mengangguk senang. Dia gembira bukan main di beri kesempatan untuk membawa bayi itu bersamanya.

Entah kenapa timbul rasa sayang dan rasa ingin melindungi. Berawal dari rasa kasihan saat dia mendengar sedikit perdebatan antara suami dan Bu Arista yang secara tak sengaja dia dengar, saat Bu Arista menerima telepon dari suaminya.

"Jadi penasaran seperti apa tampang suami Bu Arista." Sarah mendengus kesal sambil melangkah ke arah ruangan yang dia tempati bersama dokter Mirna.

"Sekarang istirahatlah, tenangkan hati dan pikiranmu. Istighfar .Berdoa dan mintalah pada Allah. Libatkan dia dalam semua urusanmu"

" Terima kasih,Mir. Mungkin kalau tadi kamu nggak masuk ke ruangan ini, entah apa yang akan terjadi dengan anakku. Aku yakin, aku akan menyesal seumur hidupku" lirih suara Arista.

"Semua sudah takdir yang Maha kuasa. Aku tahu masalah yang menimpamu amat berat. Tapi percayalah setiap masalah pasti Allah sudah siapkan skenario yang terbaik"

"Bahkan dia tidak mau pulang ke rumah, kalau anak itu masih bersamaku." Arista kembali terisak saat mendengar ancaman dari suaminya.

Mirna mengepalkan ke dua tangannya, dia tak habis pikir dengan kelakuan suami sahabatnya, Arista.

Dan sore ini , saat kaki melangkah ke pintu rumahnya hanya kesunyian yang menyambutnya.

"Ternyata bukan hanya ancaman mas Pramono, mbak. Dia benar-benar tidak menyambut kita. Dasar suami tidak bertanggung jawab" dengus Anisa adik Arista.

Arista tersenyum gamang. Bayi dalam gendongannya menggeliat , membuka matanya dan tersenyum ke arah Arista seolah memberi semangat.

Arista ikut tersenyum gemas.

Arista melangkah pasti memasuki rumahnya , mulai saat ini dia akan mulai belajar menghadapi kesunyian yang mungkin tak akan pernah bertepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!