Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.
Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Terbangun Di Dunia Para Dedemit
Halo Warga NovelToon! (Dan Salam Kangen Buat Pembaca Setia!)
Kenalin, ini cerita tentang Kiano, remaja super narsis abad 21 (tahun 2050) yang takdirnya mendadak apes gara-gara nyasar ke kerajaan jin Sunda kuno.
F.A.Q Singkat buat kalian:
"Thor, ini buku baru ya?" Yes! Ini cerita baru yang segar banget, penuh komedi-horor yang bakal bikin kamu merinding sekaligus ngakak.
"Buku sebelumnya apa aja, Thor?" Buku ini adalah sekuel resmi dari kelima buku sebelumnya yang rilis di Fizzo, yaitu: Magic Perfume, Golok Sakti Warisan, Telaga Darah, Salah Kamar Jadi Istri, dan Anomali 2049.
"Harus baca 5 buku itu dulu gak, Thor?" GAK HARUS KOK! Pembaca baru di Noveltoon bisa langsung enjoy baca dari Bab 1 di sini tanpa takut bingung, karena petualangan Kiano bener-bener dimulai dari nol dengan konflik yang baru!
🚫 PERINGATAN KERAS UNTUK SESAMA PENULIS 🚫
DILARANG KERAS MENYALIN ATAU MELAKUKAN PLAGIAT pada cerita ini dalam bentuk apa pun. Mari kita saling support sebagai sesama kreator dan fokus berkarya dengan imajinasi masing-masing. Be creative and respect each other!
Buat pembaca lama yang sudah setia ngikutin dinasti keluarga Alvarez dari awal sampai ke Noveltoon, makasih banyak ya! Jangan lupa pencet tombol Favorit, Like, dan Komen yang banyak biar Kiano gak kelamaan pake kolor Upin-Ipin!
Selamat membaca, gais! 🫶🔥
———
"Akhirnya kau bangun juga, Nak," ucap seorang pria berwibawa. Pakaiannya berupa jubah beludru hitam dengan sulaman benang emas khas bangsawan Sunda kuno, lengkap dengan mahkota bendo emas di kepalanya.
Pemuda di ranjang mengerjapkan matanya linglung. Dia adalah Kiano Alvarez, remaja jetset tahun 2050 yang dunianya baru saja jungkir balik.
"Waduh, di mana nih gue?" Kiano refleks bangkit. Punggungnya menabrak kepala ranjang kayu jati yang penuh ukiran mistis.
Ia menyapu pandangan ke sekitar. Kamar itu luasnya menyaingi lapangan futsal. Megah, estetik, tapi tidak ada satu pun colokan listrik, AC, atau lampu LED. Penerangannya murni dari ratusan kunang-kunang di dalam vas kaca.
"Kamu kenapa, Wirasada? Apa otak kamu sedikit geser pas pingsan tadi?" tanya wanita anggun di sebelah sang raja. Ia memakai kemben sutra dan mahkota siger perak yang berkilau, menatap Kiano dengan sorot mata khawatir seorang ibu.
Kiano makin bingung. Kepalanya mendadak pening.
"Saya di mana sih sebenarnya? Terus... Om sama Tante ini siapa? Cosplay jadi raja-ratu Pajajaran?" tanya Kiano polos.
Pria bermahkota itu langsung menepuk lengan kursi kayunya sampai berdentum. "Lancang sekali kamu, Wirasada! Berani-beraninya memanggil 'Om' dan 'Tante' pada ayahanda dan ibundamu sendiri! Kami ini orang tuamu, penguasa tertinggi Kerajaan Bunian Mandala Hyang!"
Kiano tertegun. Wirasada? Siapa pula itu? Muka gue yang ganteng mirip idol K-Pop gini dikira anak jin?
Kiano memegangi pelipisnya yang mendadak berdenyut hebat. Kilasan memori beberapa jam lalu mendadak berputar paksa di otaknya seperti proyektor rusak.
Dia ingat perintah bokapnya, Reno Alvarez. Dia ingat naik kereta cepat fusi nuklir tahun 2050. Kereta itu menembus kabut aneh, lalu berhenti di stasiun terakhir yang ternyata adalah komplek kuburan tua di tengah hutan.
Kiano menggeleng keras, berusaha mengusir pening di kepalanya, lalu menatap dua orang bermahkota di depannya.
"Aduh Om, saya emang gak kenal sama kalian berdua. Maaf-maaf aja nih ya," cerocos Kiano sambil mengangkat kedua tangannya. "Saya ini Kiano Alvarez, pemuda delapan belas tahun yang ketampanannya nyaingin idol K-Pop legendaris Jungkook BTS. Ya, bisa dibilang beda tipis lah, tapi tetep gantengan saya ke mana-mana! Saya bukan Wirasada, apalagi anak kalian!"
Prabu Raksa Buana membelalakkan matanya tidak percaya. Rahangnya mengeras.
"Bagaimana mungkin?! Kau itu anakku yang sudah hilang selama seminggu ini!" gertak Prabu Raksa Buana. "Penjaga istana menemukanmu pingsan di tanah kuburan wingit, yang merupakan stasiun jalur kereta gaib kami!"
Meski membentak, sang Prabu sebenarnya menyimpan ragu di dalam hati. Wajah pemuda di depannya ini memang kembar identik dengan anaknya, Wirasada. Namun, pakaiannya sangat aneh. Terakhir kali pamit, Wirasada memakai jubah sutra kerajaan, bukan kaus oversized dan celana kargo futuristik berbahan serat karbon seperti ini.
"Ya, benar apa kata ayahandamu, Nak," sela Nyi Ratu Inten Dewata dengan nada khawatir. Ia mengusap pundak suaminya agar meredakan amarah. "Ibu juga heran melihatmu. Sepertinya otakmu benar-benar geser setelah pingsan."
Nyi Ratu Inten mendekat, menatap Kiano lekat-lekat dari ujung rambut sampai kaki.
"Sebenarnya kamu dari mana saja seminggu ini, Wirasada? Kenapa pakaianmu berubah aneh menjadi seperti pakaian kaum manusia di dunia fana? Apa kamu kemarin tersesat ke dunia manusia?" tanya sang Ratu bertubi-tubi.
Kiano melongo, mendadak teringat sesuatu. Hah? Seminggu? Padahal gue baru naik kereta tadi sore! Fix, teori relativitas waktu di dunia jin beneran nyata! Gue gak bisa diem terus di sini. Gue harus kabur!
"Wah, fiks ini mah kalian lagi nge-prank saya, ya? Ini beneran gak lucu, Om, Tante! Kamera tersembunyinya di mana, sih? Di dalem vas kunang-kunang itu?" Kiano menunjuk-nunjuk heboh.
Tanpa aba-aba, Kiano langsung melompat turun dari ranjang emasnya.
"Saya mau balik ke Jakarta Barat sekarang. Rumah saya di cluster elite, kasihan Papi saya pusing sendirian jagain dedek bayi. Punten ya, Om, Tante..." Kiano membungkuk-bungkuk sesopan mungkin ala anak sekolahan, lalu ngacir melewati Raja dan Ratu begitu saja.
Namun, baru tiga langkah berjalan, Kiano mendadak ngerem mendadak sampai sandalnya berdecit. Di depannya hanya ada pintu kayu raksasa setinggi pohon kelapa tanpa knop pintu otomatis.
Kiano berbalik sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Eh... anu, Om. Kalian bisa kasih tahu gak jalan keluar ke arah tol Jakarta Barat? Soalnya kompas hologram di jam tangan saya muter-muter kayak gasing. Sinyal 6G di sini ampas banget, GPS saya gak mendeteksi pangkalan ojek piring terbang satu pun."
Mendengar racauan aneh itu, Prabu Raksa Buana dan Nyi Ratu Inten serentak bangkit dari kursi mereka. Aura mistis berwibawa langsung menekan seisi ruangan.
"Kau tidak akan bisa kembali ke tempat asalmu!" ucap Prabu Raksa Buana dengan nada absolut yang tidak menerima bantahan.
Sebenarnya, sang Prabu mulai sadar kalau remaja narsis di depannya ini bukanlah Wirasada. Tapi persetan! Prabu tidak punya pilihan lain. Kursi pangeran mahkota tidak boleh kosong, dan Wirasada adalah putra semata wayangnya yang kabur entah ke mana. Mumpung ada tiruan lokal yang wajahnya kembar identik, pakai saja yang ada!
"Kau adalah anak kami mulai detik ini!" tegas Prabu Raksa Buana lagi. "Aku tidak peduli siapa dirimu yang sebenarnya di dunia fana. Yang pasti, karena sekarang kau sudah berada di sini, kita akan melanjutkan sesi blind date mencari kandidat jodoh untukmu. Bulan depan kau harus naik takhta menggantikanku!"
Kiano tersentak. Jantungnya serasa copot lalu pindah ke ginjal.
Waduh! Kayaknya gue mulai paham kenapa anak asli mereka nekat kabur dari istana! Ternyata mau ditumbalkan jadi beban keluarga berkedok nikah muda! batin Kiano menjerit histeris.
"Eh, bentar, bentar! Kalem dong, Om! Tolong ditarik dulu napasnya, dihembuskan perlahan!"
Kiano gelagapan sambil memperagakan gerakan senam yoga. "Saya ini masih delapan belas tahun, Om! Masih kelas tiga SMA! Jangankan kawin, megang duit kas kelas aja saya sering korupsi buat beli kuota! Papi Reno juga belum ngebolehin saya pacaran serius sebelum punya saham sendiri!"
"Sudah cukup!" bentak Prabu Raksa Buana. Suaranya menggelegar, membuat vas-vas berisi kunang-kunang di sudut ruangan bergetar hebat.
"Kami tidak mau mendengar alasan apa pun lagi! Mau usia kamu delapan belas tahun atau seratus tahun, saya tidak peduli! Saya kasih waktu satu jam. Kamu harus bersiap menjalani kencan buta itu. Para dayang akan membantumu bersiap-siap!"
Prabu menoleh tegas pada istrinya. "Ayo Adinda kita keluar, biarkan dia merenung di sini."
Nyi Ratu Inten mengangguk anggun. "Baik, Kakanda."
"Eh, eh, tapi saya—" Belum sempat Kiano mangap lebih lebar, pasangan suami istri bermahkota itu sudah menghilang menembus pintu kayu raksasa seperti hologram rusak.
"Buset dah! Main hilang-hilangan aja kayak gebetan di-ghosting!"