NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tahun 1984

Aroma sangit herbal merebus udara.

Sumarni membuka mata. Napasnya tersengal pelan. Langit-langit kamar tidak menampakkan lampu kristal apartemen mewahnya di pusat Sudirman, melainkan kelambu kusam putih tulang yang bergoyang ditiup angin layu. Punggungnya menekan kerasnya kasur kapuk tipis. Hawa dingin merayap tanpa ampun dari lantai tegel abu-abu, menusuk pori-pori kulitnya yang berpeluh.

Lidahnya masih terasa pahit. Pekat dan amis. Seolah tubuh rapuh ini belum selesai mengingat kematian pemilik sebelumnya.

Kilasan memori asing menghantam otaknya tanpa permisi. Tahun 1984. Rumah besar berbau malam batik. Status hina sebagai istri kedua pemilik Pabrik yang dibeli murah untuk satu tujuan: melahirkan anak laki-laki. Lalu, ingatan terakhir yang paling jelas, tubuh ini kejang-kejang di atas lantai, meregang nyawa usai menenggak mangkuk pertama jamu godok semalam.

Perempuan desa yang asli sudah mati. Cangkang kosong ini sekarang diisi oleh jiwa lain. Jiwa seorang mantan CEO yang terbiasa hidup di ujung tanduk, melibas lawan bisnis tanpa belas kasihan.

Suara langkah kaki menggesek lantai mendekat. Pelan, berirama, terukur.

"Sudah bangun, Dik Marni?"

Suara itu mengalun halus. Manis bagai gula jawa, tapi membawa aura sedingin es.

Seorang perempuan paruh baya berdiri anggun di samping dipan. Kebaya kutubaru motif bunga kerinyuh membalut tubuh sintalnya dengan sempurna. Sanggulnya tertata rapi tanpa sehelai rambut pun yang berani keluar dari tempatnya. Bibir berpoles gincu merah bata itu melengkung membentuk senyum keibuan.

Di kedua tangannya bertengger sebuah nampan kayu. Di atasnya, semangkuk keramik putih motif ayam jago mengepulkan uap hitam.

Sulastri. Istri pertama. Nyonya besar di rumah ini.

"Syukurlah kalau kamu sudah sadar." Sulastri meletakkan nampan itu di atas meja kayu kecil di sebelah ranjang. Dia duduk di tepi dipan. Jemarinya yang lentik dan berhias cincin emas besar terulur, menyapu keringat di dahi Sumarni dengan kelembutan yang memuakkan.

"Mas Harjono sampai khawatir semalaman. Katanya kamu tiba-tiba pingsan." Sulastri berdecak pelan, penuh simpati palsu. "Makanya, tubuh itu dijaga. Orang desa memang sering kaget kalau baru pindah ke rumah besar begini. Masuk angin pasti."

Bohong.

Sumarni tidak membalas. Matanya menatap lurus ke wajah perempuan di depannya. Di kehidupan lamanya, dia memimpin rapat dewan direksi yang isinya para serigala berjas mahal. Dia hafal betul anatomi kemunafikan.

Senyum Sulastri terlalu simetris. Suaranya terlalu diatur. Orang yang tulus menolong tidak akan mengunci tatapannya dengan kewaspadaan setajam itu. Tatapan perempuan itu bukan tatapan istri baik-baik. Itu tatapan predator yang takut wilayahnya direbut.

"Mbakyu sudah buatkan jamu godok lagi untukmu." Sulastri mengambil mangkuk dari atas meja. Sendok perak kecil mengaduk cairan hitam pekat di dalamnya, menerbangkan aroma busuk yang memancing rasa mual di perut Sumarni. "Ayo, diminum mumpung hangat."

Ini racun.

Sumarni tahu itu bahkan sebelum mangkuk menyentuh bibirnya.

Otak strategisnya berputar cepat. Fisiknya saat ini lumpuh akibat sisa toksin semalam. Jari-jarinya kaku tersembunyi di balik selimut batik parang. Jantungnya berdebar keras, memompa darah yang terasa berat. Jika dia memberontak sekarang secara membabi buta, tenaganya pasti kalah. Dia butuh momentum.

"Kenapa diam saja, Dik?" Nada suara Sulastri masih mendayu-dayu. Tidak ada tanda-tanda kemarahan. Dia memainkan perannya sebagai kakak madu yang penuh kasih sayang dengan luar biasa sempurna.

"Mbakyu tahu rasanya pahit. Tapi jamu ini resep rahasia keluarga. Biar rahimmu kuat." Sulastri mendekatkan bibir mangkuk ke wajah Sumarni. Uap panasnya menerpa dagu. "Biar Mas Harjono lekas dapat ahli waris laki-laki. Kamu kan dibawa ke sini untuk itu."

Kata-kata itu dirancang untuk merendahkan. Mengingatkan status Sumarni yang tak lebih dari sekadar mesin pencetak anak.

Sumarni menutup rapat bibirnya. Napasnya ditarik perlahan melalui hidung. Mengumpulkan sisa oksigen ke dalam paru-paru.

Melihat respons kaku itu, senyum Sulastri melebar. Ada kilat kepuasan di matanya, menyangka gadis desa ini masih terlalu bodoh dan ketakutan.

"Jangan manja, Dik Marni." Tangan kiri Sulastri yang bebas kini menyentuh rahang Sumarni. Awalnya hanya elusan lembut. Namun sedetik kemudian, jari-jari itu menekan kuat.

Kuku-kuku bercat merah gelap menusuk kulit pipi pucat Sumarni. Rasa sakit menjalar cepat.

"Kamu harus cepat sembuh. Siapa yang mau mengurus Dimas kalau kamu sakit-sakitan begini? Mas Harjono tidak suka perempuan lemah." Suara Sulastri turun satu oktaf. Kelembutannya masih ada, tapi kini bercampur racun ancaman yang mematikan. Sopan, elegan, namun siap mencekik.

"Biar Mbakyu suapi."

Sulastri menyorongkan mangkuk itu lebih dekat. Memaksa ujung keramiknya menabrak bibir bawah Sumarni yang terkatup rapat.

"Buka mulutmu."

Bukan lagi bujukan. Itu perintah mutlak seorang nyonya rumah.

Cairan hitam mendidih tumpah sedikit. Menetes melewati dagu Sumarni, membakar kulit lehernya. Perih. Panas.

Adrenalin meledak di dalam dada Sumarni. Rasa sakit itu menjadi katalis yang membangunkan setiap sel saraf di tubuh rapuhnya.

Lumpuh ini hanya ilusi sisa racun. Dia menolak mati di kamar pengap ini. Dia menolak takluk pada perempuan yang menggunakan kepalsuan sebagai senjata.

Mata Sumarni menajam. Dingin. Kosong dari rasa takut.

Perubahan raut wajah itu tertangkap oleh Sulastri. Untuk sepersekian detik, ada keraguan melintas di mata istri pertama itu. Gadis desa ini seharusnya menangis memohon ampun, bukan menatapnya seolah sedang menghakimi seekor serangga.

"Keras kepala—" desis Sulastri, akhirnya melepaskan topeng ramahnya. Tekanan kukunya di rahang Sumarni makin dalam. Mangkuk di tangan kanannya didorong paksa ke depan.

Tepat di saat itu, lengan kanan Sumarni melesat dari balik selimut.

Tenaga yang dia kerahkan bukan berasal dari otot tubuh yang kurang gizi ini, melainkan dari sisa amarah jiwa modern yang tidak sudi diinjak-injak.

Tangan Sumarni menghantam pergelangan tangan Sulastri dengan telak.

Prang!

Mangkuk keramik bermotif ayam jago itu terlempar ke udara. Menabrak lantai tegel abu-abu dan hancur berkeping-keping. Cairan hitam pekat berbau sangit memercik ke segala arah, menodai ujung kain kebaya mahal milik Sulastri.

Keheningan mutlak menyergap kamar itu. Hanya suara tetesan jamu yang merembes di sela-sela tegel yang terdengar.

Sulastri mematung. Matanya membelalak lebar, menatap noda hitam di kebayanya, lalu beralih ke wajah perempuan di atas ranjang. Rahangnya jatuh. Tidak percaya. Gadis yang semalam sekarat itu baru saja memukul tangannya.

Sumarni menggunakan siku kirinya untuk menopang tubuh. Susah payah, dia mendorong punggungnya menjauhi kasur hingga duduk tegak bersandar pada kepala dipan. Napasnya memburu, dadanya naik turun, tapi postur tubuhnya memancarkan dominasi absolut.

Dia mengangkat tangannya. Menghapus kasar sisa jamu panas yang menetes di lehernya, lalu menatap lurus ke dalam pupil mata Sulastri yang gemetar.

Tatapan itu mengunci sang nyonya rumah. Bukan tatapan gadis desa yang tak berdaya. Itu tatapan seorang penguasa yang baru saja menemukan mangsa pertamanya.

Napas Sulastri tertahan di tenggorokan. Kakinya mundur selangkah tanpa sadar.

Permainan baru saja dimulai.

1
𝐀⃝🥀Weny
cemburu ni ye😂
sukensri hardiati
untuk ukuran pengusaha harjono ni sukses....untuk ukuran suami..?...payaaah...
sukensri hardiati
harjono ni pengusaha batik sekaligus rokok ya....?
𝐀⃝🥀Weny
perlahan² harjono mulai menyukai Sumarni😁 lanjut lagi thor
gina altira
lanjutt
gina altira
Diracun lagiii
Titi Liana
menarik
gina altira
Wah Sulastri bikin fitnah kayaknya
gina altira
hati" Sumarni
gina altira
Lanjuttt thorrr
𝐀⃝🥀Weny
lanjut thor
Anne Soraya
lanjut
Dwi Agustina
Semangat semangat💪💪💪
gina altira
seruu, ceritanya berbeda nih ada sistem nya
𝐀⃝🥀Weny
lanjut up thor
𝐀⃝🥀Weny
tambah up lagi thor😂
irena
harusnya emasnya nanti tersimpan di tasnya Sulastri.. pas saat menuduh si Marni jadi senjata makan tuan.. klo perlu pas ada suaminya.. supaya kelakuan Sulastri ketahuan selama ini suka menindas
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
gina altira
ada" aja
gina altira
Harjono begoo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!