NovelToon NovelToon
TEMAN SEKAMAR

TEMAN SEKAMAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sejak kecil, Luna hidup terkutuk dengan kemampuan melihat hantu. Hidupnya melelahkan, sepi, dan penuh ketakutan. Hingga suatu hari, roh Nando, pengusaha muda angkuh yang koma akibat kecelakaan misterius, tiba-tiba muncul dan bersikeras tinggal di kosannya. Keanehan terjadi: saat Nando di dekatnya, roh-roh jahat menghilang. Bersama, mereka menyelidiki kecelakaan Nando yang ternyata percobaan pembunuhan. Namun, perjalanan ini justru membuka tabir kematian mengerikan orang tua Luna. Di antara teror mistis dan bahaya fisik, benih cinta tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Bayangan di Sudut Ruang

Bau anyir darah itu selalu datang lebih dulu sebelum visualnya muncul. Diikuti oleh hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang, membekukan setiap persendian.

Luna kecil, yang saat itu baru berusia tujuh tahun, meringkuk di balik pintu lemari pakaian yang sedikit terbuka. Melalui celah sempit itu, mata bulatnya yang penuh air mata menyaksikan pemandangan yang akan mengutuk sisa hidupnya. Ayah dan ibunya terkapar di lantai ruang tamu, bersimbah cairan pekat yang memantulkan cahaya redup dari lampu gantung yang bergoyang tertiup angin malam. Namun, bukan tubuh kaku mereka yang membuat pita suara Luna putus asa tanpa bisa menjerit.

Itu adalah sosok yang berjongkok di atas mereka.

Sosok itu tidak memiliki bentuk yang jelas, seperti gumpalan asap hitam pekat yang menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Tangan-tangan kurus panjang dengan kuku hitam merobek udara, dan sepasang mata merah menyala menatap tajam ke arah lemari. Tepat ke arah mata Luna. Makhluk itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi runcing yang meneteskan cairan hitam. Makhluk itu tahu Luna ada di sana. Makhluk itu melihatnya. Dan sejak malam itu, mata Luna terbuka untuk dunia yang tidak seharusnya dilihat oleh manusia yang masih bernapas.

Kring! Kring! Kring!

Luna tersentak bangun, napasnya terengah-engah seolah pasokan oksigen di kamarnya baru saja tersedot habis. Keringat dingin membasahi dahi dan piyama kausnya yang sudah pudar. Dengan tangan gemetar, ia memukul kasar jam beker murah berbentuk ayam jago di atas nakas reyot di samping tempat tidurnya. Suara nyaring yang memekakkan telinga itu akhirnya mati, menyisakan keheningan kos-kosan yang lembap di kawasan padat penduduk Jakarta Pusat.

Pukul 05.30 WIB.

Luna mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyingkirkan sisa-sisa mimpi buruk yang selalu sama selama belasan tahun terakhir. Jantungnya masih berdegup kencang, ritmenya bertalu-talu menghantam tulang rusuk. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pagi Jakarta yang sudah tercampur dengan bau knalpot dan aroma mie instan dari kamar sebelah.

"Hanya mimpi. Itu sudah berlalu," gumamnya pada diri sendiri, sebuah mantra penenang yang nyaris kehilangan sihirnya karena terlalu sering diucapkan.

Luna menurunkan kakinya ke lantai keramik yang dingin. Namun, sebelum telapak kakinya benar-benar menyentuh lantai, ekor matanya menangkap pergerakan di sudut langit-langit kamarnya. Dekat dengan kipas angin yang sudah lama rusak dan berdebu.

Seorang wanita dengan rambut kusut masai, panjang menjuntai hingga hampir menyentuh lantai, menempel terbalik di langit-langit. Wajah wanita itu tertutup rambut, tetapi Luna bisa mendengar suara tulang leher yang berderak patah saat kepala itu memutar perlahan ke arahnya. Tetesan air kehitaman jatuh dari rambut wanita itu, mengenai lantai dengan bunyi tik... tik... tik... yang ritmis dan mengganggu. Bau busuk, seperti campuran bunga melati layu dan daging busuk, seketika memenuhi ruangan empat kali empat meter tersebut.

Abaikan. Jangan tatap matanya. Jangan tunjukkan kalau kau bisa melihatnya. Aturan pertama dan paling utama dalam hidup Luna.

Dengan raut wajah sedatar tembok, Luna berdiri, mengambil handuk yang tergantung di balik pintu, dan berjalan lurus menuju kamar mandi luar. Ia melewati tepat di bawah wanita yang tergantung di langit-langit itu. Ia bisa merasakan hawa dingin yang tidak wajar menyapu puncak kepalanya, membuat bulu kuduknya meremang hebat. Perutnya bergejolak menahan mual, tetapi langkahnya tidak melambat sedikit pun.

Menjadi Luna berarti menjadi aktris terbaik dalam panggung kehidupan yang dipenuhi penonton tak kasat mata. Begitu ia menunjukkan sedikit saja rasa takut atau kesadaran, mereka akan tahu. Dan jika mereka tahu kau bisa melihat mereka, mereka tidak akan pernah melepaskanmu.

Hiruk pikuk pagi di Jakarta selalu menjadi pelarian yang ironis bagi Luna. Trotoar yang retak, suara klakson motor yang saling bersahutan, tukang bubur ayam yang sibuk melayani pembeli, hingga asap tebal dari bus TransJakarta—semua kekacauan dunia manusia itu terasa jauh lebih menenangkan daripada keheningan dunia roh.

Mengenakan seragam polo biru minimarketnya, Luna berjalan menunduk menyusuri trotoar. Sesekali ia menaikkan masker hitamnya. Bukan hanya untuk menghindari polusi, tetapi untuk menyembunyikan komat-kamit bibirnya saat ia merapalkan doa.

Bagi orang biasa, jalanan ini sekadar rute berangkat kerja. Bagi Luna, ini adalah medan perang mental.

Di halte bus, ia melihat seorang pria paruh baya berjas rapi sedang membaca koran. Di atas bahu pria itu, bertengger sosok anak kecil berkulit pucat pasi, tanpa bola mata, yang sedang mengunyah sesuatu yang tampak seperti daging mentah. Darah segar menetes ke kerah kemeja putih pria itu, tetapi pria itu hanya mengusap tengkuknya, mengira itu hanya keringat. Di perempatan lampu merah, Luna harus memutar langkahnya agak jauh untuk menghindari seorang wanita berkebaya kuno yang berdiri mematung di tengah jalan, wajahnya hancur separuh. Kendaraan-kendaraan menembus tubuh wanita itu tanpa henti, setiap kali hal itu terjadi, wanita itu akan menjerit pilu dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Luna.

"Pagi, Lun!"

Sebuah tepukan kencang di punggung hampir membuat jantung Luna copot dari tempatnya. Ia berbalik dan menemukan wajah ceria Kala, sahabat sekaligus rekan kerjanya di minimarket. Rambut Kala diikat cepol berantakan, dan ia membawa dua gelas es kopi susu gula aren di tangannya.

"Astaga, Kala. Kau mau membunuhku, ya?" keluh Luna, mengusap dadanya pelan sambil memaksakan senyum tipis.

Kala tertawa lepas, memperlihatkan lesung pipinya. "Habisnya kamu jalan nunduk terus kayak lagi nyari koin receh. Nih, kopi buat amunisi hari ini. Aku tahu semalam kamu pasti kurang tidur lagi. Kantung matamu sudah menyaingi panda di Taman Safari."

Luna menerima gelas plastik dingin itu dengan rasa syukur yang mendalam. Kala adalah satu-satunya manusia di dunia ini yang membuatnya merasa normal. Kala tahu tentang "kondisi" Luna. Awalnya Kala mengira Luna hanya menderita halusinasi akibat trauma masa kecil, tetapi setelah beberapa kejadian di mana Luna menyelamatkannya dari "bahaya tak kasat mata", Kala percaya sepenuhnya. Hebatnya, Kala tidak pernah menjauh. Gadis itu justru menjadi pelindung Luna di dunia nyata.

"Terima kasih. Aku benar-benar membutuhkannya," ucap Luna, menyeruput kopinya lambat-lambat. Rasa manis dan pahit kafein sedikit mengusir rasa mual akibat pemandangan di halte tadi.

Mereka berdua masuk ke dalam minimarket, disambut oleh hembusan dingin AC dan denting bel otomatis.

"Hari ini jadwal kita berdua full shift," keluh Kala sambil mulai memakai celemek kerjanya. "Bos bilang hari ini ada inspeksi dari pusat, jadi display barang harus rapi sempurna. Kamu urus rak camilan dan minuman, aku bagian kasir dan kosmetik, ya."

Luna mengangguk patuh. Pekerjaan fisik seperti ini membantunya mengalihkan pikiran. Ia mulai menyusun deretan botol teh manis dan susu kotak di dalam lemari pendingin kaca. Mengelap embun yang menempel di pintu kaca, memastikan semuanya simetris.

Jam-jam pertama berlalu dengan aman. Minimarket ramai oleh pekerja kantoran dan anak sekolah yang mencari sarapan instan. Namun, ketika jam menunjukkan pukul sebelas siang dan suasana mulai sepi, udara di dalam toko mendadak berubah. Suhu dari mesin pendingin seolah bocor hingga ke tengah ruangan.

Luna, yang sedang merapikan rak mi instan di lorong paling belakang, menghentikan gerakannya. Rambut halus di tengkuknya berdiri tegak. Instingnya berteriak keras. Perlahan, ia melirik ke arah cermin cembung yang dipasang di sudut langit-langit ruangan untuk memantau pencurian.

Di pantulan cermin itu, di lorong minuman yang baru saja ia rapikan, berdiri seorang pria.

Pria itu mengenakan jas hujan plastik berwarna kuning yang lusuh dan robek di beberapa bagian. Padahal di luar cuaca sangat cerah dan terik. Air kotor, bau lumpur, dan amis sungai menetes dari jas hujan itu, menggenang di lantai keramik yang putih bersih. Pria itu berdiri kaku, menghadap ke deretan botol susu.

Luna menelan ludah yang terasa kasar di tenggorokan. Ia menatap ke arah meja kasir, Kala sedang sibuk menghitung uang receh dan tidak menyadari kehadiran sosok itu. Pria berjas hujan kuning itu mulai menoleh. Lambat, sangat lambat. Gerakannya patah-patah, diiringi suara gemeretak tulang yang memuakkan. Wajah pria itu membengkak kebiruan, kulitnya terkelupas seperti terlalu lama berendam di dalam air. Mata pria itu putih seluruhnya, tanpa pupil, dan rahang bawahnya tergantung miring secara tidak wajar.

Jangan bereaksi. Dia hanya bayangan masa lalu. Dia tidak bisa menyentuhmu. Luna membalikkan badan, memunggungi sosok itu, dan mulai kembali menyusun tumpukan mi instan dengan tangan yang bergetar hebat. Ia bisa mendengar suara langkah kaki basah yang menyeret di lantai. Srak... srak... plap... plap... Langkah itu mendekat. Semakin dekat. Bau lumpur sungai dan daging busuk menusuk hidung Luna hingga matanya berair.

Udara di belakang lehernya terasa sedingin es. Sosok itu kini berdiri tepat di belakangnya. Luna bisa mendengar suara napas berlendir, seperti paru-paru yang dipenuhi air.

“Toloong... dingiiiinn...” Suara serak dan berair berbisik tepat di telinga kanan Luna.

Tangan Luna kaku memegang sebungkus mi goreng. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa asin darah. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh sisa kewarasannya untuk tidak menjerit. Aku tidak melihatmu. Aku tidak mendengarmu.

Tiba-tiba, suara lonceng pintu berbunyi.

"Selamat siang, selamat datang!" seru Kala dengan ceria dari depan.

Seketika, hawa dingin itu menguap. Bau amis lumpur menghilang, digantikan oleh aroma roti dari microwave. Luna membuka matanya dan menoleh ke belakang. Lorong itu kosong. Lantai keramik putih itu bersih tak berbekas. Luna mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan, tubuhnya merosot bersandar pada rak minimarket. Keringat dingin membasahi punggungnya. Satu lagi perjumpaan yang hampir membuatnya gila.

"Berapa lama lagi aku harus hidup seperti ini?" bisiknya lirih, suaranya sarat akan keputusasaan yang tak berujung.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖......

...Jangan lupa bantu like komen share dan Rate ya ❣️...

...****************...

1
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Ikut terharu banget 😭😭juga bahagia, Luna pulih dan Nando udah siuman.
Smoga di pertemuan mereka nanti ada benih2 cinta yang tumbuh diantara mereka. 😄😃😍😍

Tp kynya Lupa bakal minder deh sm Nando, krena Nando kan CEO ky raya sementara dia hnya bekerja di minimarket.😟😞😞
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
syukurlah Nando ingat, walupun tipis tipis
Ai Emy Ningrum: jabatan yg sangat krusial 😽😽😽 sampe2 melekat ,ga didunia nyata dan dunia gaib jg itu yg terngiang 😙😗
total 3 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
yaaah Luna sendirian, gimana pulangnya weh /Shy//Slight/
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Lg dong Thor, 😭🤗🤗tanggung bngt.
nayla tsaqif
Nando punya keluarga gk thorr,,??
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Sangat menarik dan menghibur, tidak membosankan smoga tidak cpt tamat. 😃
Smangat buat author nya ya, smoga ceritanya smakin seru dn penuh kejutan ya. ☺
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut kan thor
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Allhamdulillah akhirnya Luna tidak kesulitan melawan dukun itu, sya kira dukun itu sulit dikalahkan, scara td sangat sombongnya pd Luna, akhirnya mampus juga iblis itu. 😠😠

Smoga Nando akn mengingat perjuangan mreka ber 2 ya😭😭😫, smoga pas siuman orang pertama diingat adalah Luna.
nayla tsaqif
Ayo nando,, cepat sadar dan temukan luna,,! Ato pk tarjo balik lg, untuk nolongin luna,, 😭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Syukur deh Nando kembali.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
lanjut Thor.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤩🤩🤭🤭😆😆Ke nya bakal tumbuh nih benih2 ❤❤💘💘💘diantara mereka.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Apa kh yg mmbunuh orangtua Luna adalah dukun yg sama yg dipakai oleh Bara ya.
Apa kh masalah mereka terhubung 1 sm lain ya? 🤔
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Teka teki nya mulai terkuak 1 per 1.
Ayo Luna semangat, bakar aja buhul itu lun.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Musuh dlm selimut ini namanya, tega bener ya teman ko jahat banget, mungkin ingin mngambil posisi Nando mungkin.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Jelas kan nanti ya thor, sebabnya Nando jd dtakuti oleh MEREKA. 😃😃😆😆
Suka skli baca yg horor tp ada juga komedi nya,karena Nando yg narsis dan arogan ini. 🤣🤣
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Sakita perut q lihat kelakuan Nando, ke lg nonton drakor aja. 🤭🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Mereka berdua saling mmbutuhkan, mungkin juga kalian jodoh. 😆🤭
🥀🥀Anggita.🥀🥀
🤣🤣🤣🤣Udah sadar bukan manusia lg, baru diemm, td cerewet bngt. 🤣🤣🤣hadeh.
🥀🥀Anggita.🥀🥀
Biasanya arogan diawal, tp bucin diakhir, 😆😆semakin mnarik thor.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!